Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 152 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


"PERTARUNGAN YANG MULIA PUTRA MAHKOTA DELBERT DENGAN PEMUDA BERNAMA REYNAL, DIMULAI !!"


Setelah Kasim berteriak, semua penonton bersorak keras melihat kedua laki-laki itu menarik pedangnya.



"Ku kira, kau tidak datang, karena takut." ucap Delbert tersenyum mengejek.


Reynal tak menjawab, ia hanya diam dengan wajah datarnya. Delbert mulai mengarah pedangnya ke arah Reynal.


"Kau hanya pergi untuk mengganti pakaianmu ? Ya, kalau dilihat zirahmu lumayan bagus. Tapi entahlah, zirahmu itu bisa menahan seranganku." ucap Delbert.



Reynal masih diam.


"Kenapa kau menutupi kepalamu ? Apa kai takut kepalamu terkena seranganku. Tapi percuma saja kain yang menutupi kepalamu sangat mudah rusak saat terkena serangan apapun." ucap Delbert lagi, Reynal masih diam.


"Apa kau takut sampai-sampai tak bisa berbicara ?" tanya Delbert mengejek, dan Reynal masih saja diam.


Delbert mulai maju.


Ia berlari, lalu melompat ke arah Reynal, dan mengayunkan pedangnya.


Tiang !!


Reynal menangkinya. Delbert yang masih semangat, ia kembali mengayunkan pedangnya lagi.


Tiang !!


Lagi-lagi Reynal menangkisnya.


BUGH !!


Delbert terdorong kebelakang setelah tubuhnya menerima tendangan dari lawannya.


Tak terima, Delbert maju lagi, sedangkan lawannya pun juga maju.


Semua penonton semakin bersorak hebat melihat kedua laki-laki itu saling menyerang.


Tang !! Ting !! Tang !! Ting !!


Tang !! Ting !! Tang !! Ting !!


Saling menyerang dan menangkis.


Telihat Delbert, tak ingin kalah begitu juga dengan Reynal. Para penonton tegang melihat mereka.


Delbert melompat tinggi ke atas, ia mengeluarkan semburan Api dari mulutnya. "Semburan Api !!"


Woossss...


Reynal menghindar. Tak seperti lawannya, tanpa merapal dan menyebutkan nama serangan sihirnya, ia langsung mengeluarkan Api birunya dari tangannya.


Semua penonton terkejut. Karena baru pertama kali melihat seorang menggunakan sihir tanpa merepal. Ya, karena di dunia asal Reynal, tak perlu merapal atau menyebutkan nama serangan sihirnya.


Disisi kursi penonton khusus, Alice. Ia sudah tau dengan sihir milik Reynal, kadang ia mencoba tanpa merapal, tapi selalu gagal.

__ADS_1


Elena yang duduk di sebelah Alice, ia juga terdiam, melihat aksi Reynal dan kakak laki-lakinya. Dalam hatinya ia berdoa semoga kakak tidak mengalami hal pahit seperti dirinya saat mengahadapi laki-laki asing itu, walaupun kalah.


.....


Kembali kesisi arena pertarungan.


Reynal masih saja terlihat santai menghadapi Delbert.


Sedangkan Delbert, ia berusaha santai seperti lawannya. Tak diduga, ternyata lawannya di luar perkiraannya.


Reynal terlihat lihai dalam menyerang, menangkis, dan menghindar. Bisa dikatakan di dunia modern, profesional.


Nafas Delbert naik turun.


Tak ada pilihan lain, Delbert merapal sihir, dan muncullah ratusan bola Api di udara. Lalu ia mengarahkannya ke Reynal.


Reynal yang kedua matanya melebar, ia segera menggunakan sihir Apinya. Tapi sayang, Delbert lebih dulu melancarkan serangannya.


Delbert menghujani Reynal dengan serangan bola Api miliknya.


Boom..!! Boom..!! Boom.. !!


Boom..!! Boom..!! Boom.. !!


.


.


.


DUAR..!! DUAR..!! DUAR..!!


Serangan sihir Api milik Delbert telah selesai. Arena pertarungan dipenuhi dengan debu akibat ledakan barusan.


Delbert terlihat puas setelah melepaskan serangan pamungkasnya. Tak ada tanda-tanda dari lawannya.


Mungkin lawannya pingsan. Tidak, tepatnya mati. Itulah dipikirannya Delbert. Baginya Reynal adalah penghalangnya untuk mendapatkan hati Alice.


Jika dia disalahkan, dia tinggal mengatakan kalau dirinya terpaksa demi melindungi dirinya karena terdesak, dan akhirnya ia terpaksa menggunakan serangan pamungkasnya.


Memang dari awal ia melihat Alice dan Reynal, ia tak suka. Padahal ia sudah mengenal Alice, tapi mengapa ada orang baru datang dan begitu dekat dengan gadis pujaannya.


Para Raja dan Permaisuri, hanya diam menonton, tai dalam hatinya, tak menyangka pertandingan yang mereka tontonkan seperti itu.


Terutama pada Raja Dorothy, dan Permaisuri Ella. Mereka berdua juga tak menyangka melihat Putranya bertindak berlebihan di hari ulang tahunnya.


Debu masih menyelimuti arena pertarungan. Tiba-tiba debu-debu itu menghindar dan menghilang dari arena pertarungan.


Terlihat seorang laki-laki yang masih berdiri, dengan kedua tangannya memegang pedangnya. Alice yang awalnya terlihat gelisah, kini tersenyum lega melihat Reynal baik-baik saja.


Tapi tunggu !!


Pedang yang dipegang Reynal bercahaya. Tak hanya Alice yang terkejut, semua para penonton pun tak kalah terkejutnya.


Delbert yang tadinya tersenyum puas, kini senyumannya memudar. Ia mengira laki-laki itu akan mati. Tapi nyatanya, laki-laki itu terlihat baik-baik saja.


"Apa kau sudah selesai ?"


__ADS_1


Reynal mulai berbicara, dengan kuda-kudanya dan kedua tangannya yang memegang pedangnya yang sudah bercahaya.


Wsst !!


Reynal menghilang.


Semua terkejut. Apa maskudnya ? Kenapa laki-laki asing itu tiba-tiba menghilang ? Apa karena takut kalah maka laki-laki itu hilang melarikan diri ?


Semua masih bertanya-tanya atas hilangnya laki-laki itu. Delbert tersenyum miring, ia mengira Reynal melarikan diri. Ia memasukan kembali pedangnya ke sarungnya.


Disisi Alice, di kursi penontonnya, ia lihat kesana kemari. Ia mencari keberadaan Reynal yang menghilang tiba-tiba.


DUAR !!


Terjadilah ledakan yang cukup besar.


Delbert terpental dan jatuh akibat ledakan yang tiba-tiba muncul itu.


Semua dibikin terkejut karena ledakan itu. Bagaimana tidak ? Ledakan itu tiba-tiba muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Padahal tidak ada pergerakan kedua peserta.


Delbert segera berdiri dari jatuhnya.


Ia melihat Reynal yang tengah berdiri, sambil tersenyum menyeringai padanya. Delbert tak percaya, kalau tadi ia melihat laki-laki itu menghilang, dan tiba-tiba muncul setelah terjadi ledakan.


Reynal memasukan pedangnya ke sarungnya. Ia berjalan ke arah Delbert. Delbert yang yang tak ingin kalah ia juga maju dan menarik pedangnya. Mereka berdua berlari.


BUGH !!


Satu pukulan terkena wajah Delbert.


BUGH !!


Satu tendangan Reynal menghantam tubuh laki-laki itu.


BUGH !! BUGH !!


Reynal kembali memberi pukulan di perut dan wajah Putra Mahkota itu.


Delbert semakin emosi. Harga dirinya terinjak-injak. Di hari ulang tahunnya seharusnya dirinya yang bersinar.


Ia mengira laki-laki asing itu tak pandai bertarung. Namun kini kenyataannya dirinya yang salah menilai lelaki yang bernama Reynal. Ternyata lebih hebat darinya.


Delbert melayangkan pedangnya.


Namjn Reynal menghindar.


BUGH !!


Pipi kanannya terkena pukulan.


BUGH !!


Pipinya terkena pukulan lagi, tapi pipi yang di sebelah kiri. Delbert terjatuh geletak di tanah. Ia pun bangun dan duduk.


Dari kursi penonton, Elena gelisah yang melihat kakak laki-lakinya seperti itu, tapi ia hanya bisa diam.


Disisi Delbert, ia perlahan bangun berdiri dari duduknya. Tubuhnya benar-benar sakit. Ia harus bisa bertahan. Ia merasa tak ingin kalah, walau lawannya lebih hebat darinya.


Reynal yang tadinya tersenyum menyeringai, dengan perlahan senyumannya memudar, ia kembali dengan wajah datarnya. Ya, meski ia benci dengan laki-laki itu, tapi ia tak ingin berbuat lebih seperti apa yang ia lakukan kepada Elena.

__ADS_1


Lalu Reynal mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aku menyerah."


__ADS_2