Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 188 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Dengan terpaksa, Reynal mencium bibir Alice secara tiba-tiba. Dan Alice pun terkejut tak main. Hati Reynal senang karena berhasil membuat wajah Alice berekspresi akibat ulahnya.


Hmm...!! Hmm.. !!


Cepat-cepat Alice mendorong Reynal agar melepaskan ciumannya. Namun, laki-laki itu malah semakin erat memeluknya dan menarik kepalanya agar tak melepas ciumannya.


Reynal *****4*, namun Alice tak membalasnya, ia menutup rapat mulutnya. Reynal pun mengigit bibir Alice, akhirnya mulut Alice terbuka.


Reynal semakin memperdalam ciumannya. Alice yang awalnya berontal, akhirnya luluh, ia pun membalas ciuman laki-laki itu. Dalam hati Reynal tersenyum senang, akhirnya Alice tak melawannya.


Beberapa saat kemudian, mereka saling melepaskan ciuman mereka. Bersamaan saling mengambil nafas mereka yang hampir kehabisan.


Alice menatap datar Reynal. Reynal menempelkan keningnya dengan kening Alice. Reynal memenjam kedua matanya "Aku mencintaimu. Teteplah bersamaku."


"Ras dan dunia kita berbeda." jawab Alice datar.


"Dunia kita memang berbeda, tapi tentang Ras, aku tidak peduli, kau hanyalah manusia setengah vampir. Bukankah kakek buyutmu dulu menikah dengan dengan manusia ?" ucap Reynal membuka kedua matanya.


Reynal memundurkan kepalanya, kening mereka pun tidak lagi saling menmpel. Reynal menatap lembut Alice.


"Lepaskan aku." ucap Alice masih datar.


"Kemana Alice yang kukenal ?" tanya Reynal.


"Reynal, lepaskan !" ucap Alice yang memulai tegas.


Perlahan Reynal melepas pelukannya. Namun ia cepat-cepat menggenggam lengan tangan Alice, Karena ia tak ingin Alice pergi darinya.


"Lepaskan !!" ucap Alice tegas.


Akhirnya Reynal melepaskan genggamannya. Perlahan Alice terbang mundur, ia membalikkan tubuhnya, dan pergi meninggalkan Reynal dengan cepat.


Reynal yang ditinggal, perlahan ia turun, dan menginjakan kedua kakinya di tanah. Ia pun duduk di permukaan tanah. Sedih rasanya. Namun perlahan ia tersenyum menyeringai.


Meski hati sedih, ia telah berhasil meninggalkan tanda di lengan Alice. Ya, Reynal membuat tanda di lengan Alice saat ia menggenggam lengannya tadi.


"Baiklah, lebih baik aku mencari hewan buruan untuk kumakan, karena yang pura-pura bahagia juga butuh tenaga."


.....


Sementara disisi Alice.

__ADS_1


Ia terbang cepat, entah kemana ia harus pergi. Air matanya terus keluar. Ia menangis, karena ia lebih memilih pergi dari Reynal.


Sebenarnya ia tak menginginkannya. Karena ia manusia setengah Ras vampir, ia memilih pergi. Karena dalam cerita di dunianya, Ras vampir dibenci semua Ras.


Maka dari itu, Alice lebih baik pergi jauh, dan menyendiri itu lebih baik. Karena ia tidak akan bertemu Ras-Ras yang membencinya. Dengan ia sendiri, maka semua akan damai.


Sudah hampir lama ia terbang. Lalu ia melihat sungai yang mengalir. Ia pun turun mendekati sungai itu. Alice berdiri di tepi sungai.


Ia melihat sebuah batu besar di tepi sungai. Lalu Alice mendekatinya. Ia pun menduduki batu besar itu. Ia manatap ke arah air yang mengalir di depannya.


Pikirannya mengingat-ngingat lagi semua masa lalunya sebelum kedua orang tuanya menyegel ingatan dan kekuatannya. Ia teringat saat usianya menginjak 11 tahun.


Dimana dirinya mengetahui identitas dirinya. Karena ia mendorong seorang bandit yang mencoba mengganggunya saat di hutan. Alice mendorong bandit itu hingga terdorong dan mati di tempat.


Disitulah Alice menyadari keanehan pada dirinya. Lalu ia bercerita kepada kedua orang tuanya. Ternyata dirinya manusia setengah vampir, dan ternyata ibunya juga setengah vampir seperti dirinya.


Akhirnya Alice mengerti, dirinya adalah anak hasil perkawinan ayahnya yang manusia, dan ibunya yang setengah vampir. Jadi saat ia dilahirkan, maka ia juga memiliki darah vampir di dalam tubuhnya.


Alice menjadi takut, karena Ras vampir telah musnah saat perang dulu karena dibenci. Hingga akhirnya kedua orang tuanya menyegel kekuatan dan ingatannya, namun nyawa mereka yang menjadi taruhannya.


Dan sekarang Alice memilih untuk hidup sendiri. Untuk apa ia hidup berinteraksi, semua mahluk yang akan ditemuinya tentu saja membencinya.


Alice menunduk, lalu memeluk kedua lututnya. Ia pun menangis terisak. Ia tsk bisa menahan untuk menangis atas kesediahan. Ditambah ia semakin sedih karena ia memilih pergi meninggalkan kekasihnya.


Alice terkejut melihatnya.


Laki-laki yang merupakan kekasihnya, kini berdiri dihadapannya. Padahal beberapa lama yang lalu ia pergi meninggalkannya.


"Aku sudah memberi tanda padamu, jadi ketika kau hilang, aku bisa berteleport dan langsung menemukanmu." ucap Reynal menjelaskan.


Reynal pun ikut duduk di tanah. Ia manatap Alice yang ternyata sedang menangis sendirian.


"Aku takkan membiarkanmu sendiri." ucap Reynal.


Alice diam, ia tak menjawab, namun air matanya masih saja keluar.


"Alice, kau tidak sendiri, aku akan selalu bersamamu, dan menemanimu." ucap Reynal lagi.


Lalu Reynal menggenggam kedua tangan Alice. Ia pun menatap dalam-dalam gadis pujaannya. "Kau memang memiliki hak untuk sendiri. Tapi kau punya hak untuk bahagia."


"Aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkanmu sendirian." ucap Reynal.


Jujur Reynal tak bisa berkata-kata apa-apa, ia hanya bisa mengatakan apa yang ia pikirkan, ia memilih langsung apa adanya.

__ADS_1


Alice terdiam, ia tak menjawab. Reynal melihatnya menghela nafasnya. Perlahan ia melepas genggamannya dan berdiri.


"Jika lebih memilih untuk sendiri. Maka aku takkan memaksamu, karena kau memiliki hak itu." ucap Reynal.


Reynal membalikkan tubuhnya. Hatinya sedihlah sudah. Reynal kembali bersuara, tanpa menoleh kepalanya. "Tapi kau harus tau. Seperti yang kukatakan tadi, Kau juga memiliki hak untuk bahagia."


Grepp !!


Reynal terbelalak. Ada tangan melingkari perutnya. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke belakang dan melirik. Alice memeluknya dari belakang.


Reynal tersenyum. Ia mengelus lembut kedua punggung tangan Alice. Perlahan ia memegang dan melepaskan pelukan Alice.


Reynal membalikkan tubuhnya dan menatap gadis pujaannya. Alice menangkis terisak. Tak ada sikap datar ataupun dingin. Reynal tersenyum, inilah sifat Alice yang ia kenal.


"Jadi apa pilihanmu ?" tanya Reynal.


"A-aku, ingin bahagia bersamamu." jawab Alice yang tengah terisak.


Reynal membuka kedua tangannya. Alice pun melangkah maju. Pada akhirnya mereka saling berpelukkan.


.....


Hari telah sore.


Disisi Lain Reynal tengah duduk di kursi kayu dan bersantai di belakang rumah sambil menikmati teh buatan Putrinya. Ia tak sendiri, ia tengah menatap saudara yang baru saja sadar dan membuka kedua matanya.


"Kau sudah sadar rupanya." ucap Reynal setelah mensruput teh hangatnya.


Jian Heeng perlahan mengumpulkan kesadarannya. Ia terbelalak melihat Reyhan yang ada didepannya. Ia pun tersenyum. "Wah..., lihatlah, saudara laki-lakiku, yang sekarang tengah bersantai."


"Kau mau teh ?" tanya Reyhan.


"Ck, aku tak mau teh-mu." jawab Jian Heeng.


"Astaga, ini teh buatan Putriku." balas Reyhan tak terima.


Jiang Heeng memutar bola matanya. "Sampai kapan aku terus kau mengikatku seperti ini ?"


"Aku akan melepasmu, jika aku berhasil menemukan cara membunuh sosok iblis yang ada didalam tubuhmu." jawab Reyhan.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja ?"


"Karena ayah dan ketiga bunda kita memintaku untuk tidak membuatmu mati. Mau tak mau aku menurutinya, maka aku akan terus menahanmu. Jika aku masih tak menemukan cara menghilangkan sosok iblismu, maka terpaksa kau menjadi tahanan seumur hidupmu." jawab Reyhan.

__ADS_1


Kebencian Jian Heeng kepada Reyhan semakin besar. Padahal ia sudah bersenang-senang bebas kesana kemari bermain banyak jalang, dan membunuh yang menghalangi kesenangannya.


__ADS_2