Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 73


__ADS_3

Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.


Terimakasih.


_______________________________________


KunLi Wong kebingungan untuk pulang, karena ia datang menggunakan sihir perpindahan tempat milik Reyhan. Putri Mahkota Lin Wei mengernyit heran melihan KunLi hanya diam. Lalu ia mencoba mendekati KunLi Wong. Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat cahaya portal muncul di depan.


Keluarlah Reyhan dari Cahaya portal itu. Disusul oleh Raja Wan dan beberapa pengawal Raja yang juga keluar dari cahaya portal perpindahan tempat. Raja Wan terkejut melihat KunLi Wong ada di kawasan istanannya, bahkan berduaan bersama Lin Wei di taman sekitaran istana. Lalu ia berjalan mendekati KunLi Wong dan Putrinya, disusul Reyhan di belakangnya.


"Salam Yang Mulia Raja Wan." KunLi Wong memberi salam kepada Raja Wan yang berjalan ke arahnya.


Raja Wan tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Kapan kau ada disini Putra Mahkota KunLi Wong ?"


"Aku yang membuatnya ada kesini ayah." Reyhan 'lah yang menjawab, dan sedang berdiri belakang Raja Wan.


Raja Wan mengangguk-angguk kepalanya, seolah ia paham. Raja Wan menduga pasti Reyhan menggunakan sihir perpindahannya kepada KunLi Wong untuk bertemu dengan Putrinya, Lin Wei. Merasa tak ada hal yang penting untuk dibicarakan, Raja pamit untuk meninggalkan tempat itu. Tinggallah Reyhan, KunLi Wong, dan Lin Wei di taman.


"Apa kau merasakan suara petir dilangit ?" tanya Reyhan kepada KunLi Wong tiba-tiba.


"Ya, aku juga mendengarnya MasBro, bahkan ada gempanya juga." jawab KunLi Wong.


"Aku merasakan seperti tidak ada yang beres." kata Reyhan serius.


"Aku pun juga merasakan seperti itu." balas KunLi Wong.


"Owh iya, aku ingin menyampaikan sesuatu tentang pertemuan para Raja tadi." ucap Reyhan.


KunLi Wong mengangkat alis sebelahnya. "Kau mengikuti pertemuan itu ?"


Reyhan mengangguk kepalanya. "Ya, aku dan Xiu mengikuti rapat pertemuan tadi setelah kejadian suara petir."


"Apa yang dibahas ?" tanya KunLi Wong.


Reyhan pun menceritakan semuanya, dari pembahasan membangun pertahanan di perbatasan Negara Barat dan membubarkan anggota Ksatria Negara Barat. KunLi Wong pun mengangguk-angguk kepalanya seakan ia mengerti.


Tak ingin berlama-lama, Reyhan menggunakan sihir perpindahan tempat untuk mengantar KunLi Wong pulang kembali ke Kerajaannya. Setelah itu Lin Wei dan Reyhan pergi ke kediaman mereka masing-masing.

__ADS_1


Sebenarnya Reyhan sedang memikirkan beberapa waktu yang lalu saat pertemuan. Tak hanya Reyhan saja, disisi lain Raja Wan juga memikirkan apa yang Reyhan pikirkan. Mereka berdua memikirkan tentang perang yang sebenarnya akan datang terjadi, tapi entah kapan.


.


.


Flashback.


Kerajaan Xie.


Di ruang pertemuan, para Raja telah selesai rapatnya. Mereka saling berpamitan, Reyhan berdiri dari duduknya, Xiu Juan pun ikut berdiri, ia khawatir kondisi Reyhan. Karena setelah ini pasti Reyhan akan menggunakan sihir perpindahan tempat. Saat Reyhan akan memulai sihirnya,tiiba-tiba salah satu pengawal datang, dan memberitahukan ada seseorang peramal yang ingin menemui sang Raja Xie.


Tak hanya Raja Xie saja, ke-6 Raja pun mengizinkan peramal itu masuk. Tak selang lama kemudian, seorang laki-laki paruh mengenakan jubah hijau gelap masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Setelah mempersilahkan masuk, peramal itu berlutut dan memulai berbicara.


"Akan terjadi perang besar."


Seisi ruangan itu terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa ? Bukankan perang besar telah berakhir ?


"Apa maksudmu ? Perang sudah berakhir, Kerajaan Kai telah berlutut oleh Putra Mahkota Wan." ucap Raja Xie yang masih penuh kebingungan.


"Maaf yang Mulia, perang yang sebenarnya akan terjadi."


"Hamba mengatakan ini, karena hamba telah meramal setelah mendengar suara petir besar dilangit."


"Jadi, itu ramalanmu yang kau lihat ?" tanya Raja Jun.


"Benar, itulah ramalan yang hamba lihat." jawab peramal itu.


"Lalu kapan itu akan terjadi ?" tanya Raja Wong.


"Hamba belum bisa melihat jelas, kapan itu akan terjadi. Entah besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Hamba pun juga melihat sosok yang berbahaya dalam wujud manusia akan menimbulkan perang besar itu. Tapi hamba ragu untuk mengatakan sosok ini yang hamba lihat di dalam ramalan."


"Katakan !!" Reyhan yang meminta dengan tegas, karena telalu kelamaan bercakap-cakap ala bahasa yang telalu bertele-tele.


"Sang iblis telah bangun."


"Iblis ?" sahut semua orang terkejut yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Semua terkejut mendengar kata 'iblis'. Seketika 1 ruangan itu teringat sesuatu tentang cerita yang sudah sangat lama melegenda yang hampir dilupakan. Ya, iblis kuno. Itulah isi pikiran mereka. Yang katanya di dalam cerita telah dikalahkan oleh seorang pahlawan ratus-ratusan yang lalu.


Yang katanya itu adalah kisah lama, maka semua orang yang baru mendengarnya tak mudah percaya begitu saja. Karena selama hidup mereka tak pernah melihat iblis manapun yang berkeliaran. Hanya ada beberapa orang yang percaya, itupun bagi yang sudah lekat dengan kepercayaan leluhur-leluhurnya.


Flashback end.


.


.


Kini Reyhan telah sampai di kediamannya. Lalu ia masuk kamar dan menutupi pintunya. Ia melepas jubah merahnya, dan langsung membanting tubuhnya di kasurnya dan tertidur lelap karena hari ini staminanya lagi-lagi terkuras banyak, hanya untuk menggunakan 1 jenis sihirnya.


Tak terasa hari sudah gelap malam. Reyhan bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ada suara pelayan mengetok pintu kamarnya dan memberitahukan sudah waktunya makan malam. Reyhan pun mengiyakannya. Ia melepas pakaiannya dan pergi untuk mandi membersihkan dirinya.


Setelah selesai, ia mamakai hanfu hitamnya. Saat akan keluar, tiba-tiba pandangannya buram. Ia mencoba duduk perlahan di tepi kasurnya. Sesuai dugaan, ia melihat darah setelah ia mengelapnya dengan tangannya. Reyhan hanya tersenyum simpul saja melihat itu.


"Sekuat apapun dari semua kekuatannya, pasti memiliki kekurangan. Ibaratkan jika ada musuh yang kuat, pasti ada kelemahannya."


Gumannya, lalu Reyhan mencoba perlahan berdiri, dan berjalan keluar dari Kediamannya. Sesuai keahliannya seperti waktu ia menjadi bodyguard di kehidupan sebelumnya, ia masih bisa berakting kalau dirinya baik-baik saja.


Reyhan tak ingin membuat keluarga menghawatirkannya. Setidaknya, kekuatannya bisa cukup membatu dirinya, dan orang-orang sekitarnya. Jiwa prajuritnya masih melekat pada dirinya. Ia tak peduli sebesar apapun rintangan di depan, ia akan tetap maju.


.


.


.


Hari terus berjalan. Tak terasa sudah 3 bulan terlewati. Semua Kerajaan berjalan tanpa ada masalah, bukan dari para Raja, tapi para Putra Mahkota, Pangeran dan lainnya bisa memerankan perannya dengan baik. Bahkan Reyhan pun sudah bisa menerima perannya sebagai Putra Mahkota.


.


.


.....


Disisi Lain.

__ADS_1


Seorang laki-laki berjubah hitam dan mengenakan topeng tengah berjalan di hutan Negara Tengah, tepatnya di perbatasan Kerajaan Dong dan Kerajaan Kai. Laki-laki itu adalah Jian Heeng. Ia telah menemukan sebuah batu yang setinggi lututnya dan tertanam di tanah.


Batu itu sebesar tubuhnya dan lapisan batu itu terdapat ukiran tulisan kuno. Kini Jian Heeng tengah berdiri di depan batu itu. Dirinya tersenyum, karena ia tak menyangka pada dunia yang ia tinggali selama ini, ternyata telah menyimpan rahasia.


__ADS_2