Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 147 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Hari sudah sore, laki-laki itu masih nyaman dengan tempat penginapan yang sewa. Dengan koin emas asal dunianya, ia akhirnya bisa menyewa sebuah kamar. Hal yang tak terduga 1 koin emas miliknya, sama saja ia menyewa 3 bulan.


Reynal masih nyaman dengan kasur kamar sewanya. Kini ia tengah tiduran setelah makan siang. Tempat penginapan yang ia tempat, ternyata menyediakan tempat makan di lantai paling atas.Dan yang membuatnya kaget, ternyata ada beberapa elf yang bekerja menjadi pelayan.


Reynal masih sibuk dengan tidurnya, lalu pikirannya tertuju ke Alice. Hari sudah sore, ia bahkan belum memberitahu Alice kalau dirinya telah menyewa penginapan. Jarak jauh tapi tak masalah baginya. Tak merasa enak, lebih baik ia harus berpamitan dengan gadis itu.


Reynal bangun dari tidurnya. Setelah selesai berberes, ia naik ke lantai paling atas. Bangunan yang menyediakan kamar sewa, memiliki 5 lantai. Kamarnya sewanya berada di lantai 3, dan lantai paling atas adalah tempat makan.


Sesuai dugaan, seperti awal dia akan makan siang di lantai paling atas. Banyak sekali pengunjung yang menatapnya, bahkan seorang petugas dan elf pun juga menatapnya. Mungkin karena ia orang asing.


Setelah berada dilantai atas, ia berjalan ke tepi bangunan. Dari bangunan yang tinggi itu, ia menarik nafas, lalu melepasnya. Setelah itu, ia langsung melompat tinggi. Seketika pengunjung.. Tidak, semua orang terkejut melihat aksinya.


Reynal melompat tinggi, dan ia mengeluarkan Api Birunya dari kedua tangannya dan kedua kakinya. Dengan aksi begitu, membuatnya ia terbang di udara dengan kecepatan tinggi.


Ya, ia akan terbang dengan cara itu ke rumah Alice. Untuk menghemat waktu, jika ia terbang, jika berjalan kaki atau lari, tetap saja, banyak penjalan kaki, itu membuatnya membuang-buang waktu.


.....


Disisi Lain.


Di teras rumah sederhana, terlihat 2 gadis tengah menikmati teh hangat mereka. Salah satu gadis itu, tengah memikirkan sosok Reynal yang belum juga pulang ke rumah.


Tunggu, Reynal siapanya ? Reynal adalah orang asing yang menumpang menginap di rumahnya. Kenapa memiliki rasa khawatir ? Biarlah kalau laki-laki itu tak pulang, justru itu lebih baik.


"Kak Alice sedang memikirkan laki-laki asing itu ?" tanya Elena.


"Aku hanya merasa kasihan, soalnya dia tak memiliki siapapun disini." balas Alice.


"Kau tak merasa kasian begitu padanya, kak. Lagian dia bukan orang lemah, buktinya dia bisa bertarung dengan mudah saat melawan sekelompok Goblin, dan bahkan ia bisa menangkis semua serangan kakakku." kata Elena, Alice hanya diam.


Elena meminum tehnya, setelah itu ia meletakan kembali cangkirnya di meja. Lalu ia menatap Alice dengan serius. "Mungkin sekarang dia terlihat baik, tapi kita tak kalau dia nanti bisa saja menjadi jahat dan mencelakai kita, kak."


"Entahlah, tapi ada benarnya juga, aku harus berjaga-jaga dengannya. Karena dia orang asing dan kita barua saling mengenal." jawab Alice.


Tanpa mereka sadari, ada seorang laki-laki berdiri di dekat mereka. Ia hanya tersenyum. Lalu berjalan mendekati 2 gadis itu. "Benar, aku memang orang asing, ada benarnya kalau kalian berjaga-jaga denganku."


Alice dan Elena terbelalak. Lalu kepala mereka menoleh. Reynal sudah berdiri di dekat mereka. Seketika Alice berdiri.


"Reynal, kau memang orang asing, tapi aku tau, kau takkan berbuat jahat." ucap Alice tiba-tiba.


Reynal tersenyum. "Tak perlu berfikir baik tentangku. Aku kesini cuma mau berpamitan, aku telah menemukan penginapan yang pas untukku."

__ADS_1


"Baguslah, kalau begitu. Kau tak perlu menumpang disini." bukan Alice yang menjawab, Elena yang menjawab.


Reynal menatap tajam ke arah Elena. Dari awal pertemuan hingga sekarang, gadis itu benar-benar membencinya hanya karena dia orang asing.


Elena dengan berani ia membalas tatapan Reynal. "Kau kira aku takut padamu, hanya karena kejadian dihutan ?"


Reynal masih menatap Elena, ia perlahan maju. Elena yang tak mau kalah juga maju. Mereka berdua kini saling berhadapan tepat depan muka.


"Kau itu hanya orang asing, yang hanya pura-pura tidak tau apa-apa." ucap Elena.


Hati rasanya panas. Reynal tersenyum ingin sekali memukul wajah cantik gadis itu. Tapi dia hanyalah seorang gadis, jadi buat apa ia melakukan kekerasa padanya.


Reynal berbalik badannya. Ia akan pergi. Tapi langkah kakinya terhenti karena mendengar ucapan Elena.


"Dasar orang asing. Dari dunia lain. Hahahaha, mengakui dirinya seorang Pangeran ? Mungkin itu hanyalah khayalanmu. Secara Kau sendiri disini. Mungkin kau memang sakit."


Alice terbelalak. "Elena, jaga ucapanmu."


"Biarkan saja, kalau dia memang bukan Pange...."


BUGH !!


Alice melongo. "Eh ?"


Reynal tiba-tiba di depan Elena, dan langsung memukul wajah gadis itu.


Elena menatap Reynal, seketika ia melebar matanya, tak hanya dia, Alice pun juga. Reynal mengeluarkan pedang merah darah di tangannya.


"Tunggu, hentikan !!" ucap Alice menghalangi Reynal.


JLEB !!


Alice terlambat. Tubuh Elena tertusuk pedang milik Reynal. Alice tak dapat menggerakkan kakinya. Terasa kaku.


Tubuh Elena jatuh di tanah, ia tergeletak tak berdaya, tapi ia masih mempertahankan kesadarannya. Dan Reynal berdiri di atasnya.


JLEB !! JLEB !! JLEB !!


Reynal menusuk tubuh Elena dengan pedangnya. Elena sudah memohon ampun, tapi tak didengar oleh laki-laki itu. Reynal terlihat tak peduli jika dicap pengecut karena menyiksa seorang gadis.


Reynal menarik pedangnya yang tertusuk di tubuh gadis itu. Elena masih bisa mempertahankan kesadarannya. Ia tak menyangka akan dibunuh hal sadis seperti saat ini. Benar, kata-kata orang, diamnya orang sabar pasti menakutkan jika marah.


Elena melihat laki-laki itu yang sedang mengarahkan pedangnya ke tepat di depan wajahnya. Wajah dingin dan sorot mata milik laki-laki benar-benar menakutkan. Baru kali ini ia melihat tatapan niat membunuh yang sebenarnya.

__ADS_1


Elena mulai kehilangan kesadarannya. Ingin sekali meminta maaf karena tak bisa menjaga ucapannya. Tapi mau bagaimana lagi. Darahnya sudah keluar banyak dari tubuhnya. Dan akhirnya, ia menutup matanya.


.


.


.


.


.


.


.....


Hari sudah pagi.


Terlihat seorang gadis tengah tidur. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya. Tampat yanh tak asing baginya.


"Kau sudah bangun ?"


Gadis mendengar suara. Lalu ia menoleh, ia melihat teman perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya. Dengan perlahan ia bangun, untuk duduk dan bersandar di ranjang.


"Bagaimana keadaanmu ?" tanya Alice khawatir.


"Aku baik-baik saja, kak" Elena memenjam matanya. Lalu membuka matanya lagi. "Aku bermimpi buruk."


"Mimpi buruk ?" sahut Alice bertanya.


"Ya, aku dibunuh oleh seorang laki-laki asing, kak." jawab Elena.


Alice menghela nafasnya. "Maksudmu Reynal ?"


Elena terbelalak. "Jadi laki-laki asing itu beneran ada ? Aku kira itu hanya mimpi."


"Tidak mimpi, itu kenyataan, kemarin setelah kau kehilangan kesadaranmu. Reynal menyembuhkanmu."


"Hah ??" sahut Elena.


Jadi benar, dia tidak mimpi, ternyata kemarin Reynal menyiksanya. Tubuhnya ditusuk-tusuk oleh laki-laki itu. Benar-benar tak punya rasa kasihan.


Tapi yang benar saja, dia disembuhkan oleh laki-laki yang telah menyiksanya. Kenapa tidak dibiarkan mati saja ?

__ADS_1


"Kau pasti berfikir, kenapa dia menyembuhkanmu." tebak Alice, dan Elena mengangguk kepalanya.


"Bukan aku yang memintanya. Aku yang melihatmu seperti itu, tak bisa berbuat apa-apa, aku takut padanya. Tapi yang ada, dia menyembuhkanmu. Dan setelah itu, ia pergi."


__ADS_2