
Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.
Terimakasih.
_______________________________________
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu mengikuti Reyhan masuk ke dalam hutan Angker. Mereka berdua mengekori Reyhan dari belakang. Selama perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka bertiga. Beberapa lama kemudian, terlihat rumah kecil yang terbuat dari batang pohon. Putri An Niu dan Putri Zhu Niu terkagum rumah kecil itu. Hanya melihat saja mereka berdua merasa damai melihatnya.
Reyhan mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah di dalam, Putri An Niu dan Putri Zhu Niu melihat-lihat sekeliling yang ada di dalam rumah itu. Kecil tapi nyaman dirasa. Di dalam ada kursi dan meja yang terbuat dari kayu, semua serba terbuat dari kayu. Reyhan pun duduk di salah satu kursi itu dan ia bersandar, ia pun mempersilahkan kedua adiknya juga ikut untuk duduk.
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu duduk di kursi panjang kayu buatan Reyhan. Rumah itu memang buatan Reyhan yang dirakit dari batang-batang pohon, semua kursi dan meja juga terbuat dari batang pohon. Reyhan sengaja membuat rumah itu sesuai gambarannya dan sama persis bentuk rumahnya waktu di kehidupan sebelumnya.
"Jadi, kalian datang mencariku ?" tanya Reyhan menatap Putri An Niu dan Putri Zhu Niu bergantian.
"Kita mencari kakak, karena kita semua rindu denganmu, Kak." jawab Putri An Niu.
"Kakak, ayo ikut kita pulang, ke-3 ibunda kita, kakak Lin Wei dan adik Jing Mi juga sangat merindukanmu." ucap Putri Zhu Niu.
"Hanya kalian ber-7 ? Bagaimana dengan ayah dan kakakmu Jian Heeng ?" tanya Reyhan dingin.
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu mendadak diam. Mereka berduajuga tidak tau sebenarnya Raja Wan dan Pangeran Jian Heeng merindukan Reyhan atau tidak.
Reyhan menatap kedua adik kembarnya, ia sudah menduga. Terutama Pangeran Jian Heeng. Saudara laki-lakinya jelas-jelas membenci dirinya, jadi tidak mungkin jika seorang Pangeran Jian Heeng tidak membenci dirinya.
"Sudah kuduga, kedua orang itu takkan peduli keadaanku." ucap Reyhan.
"Tidak kakak, pasti ayah dan kakak Jian Heeng juga merindukanmu." jawab Putri An Niu.
Putri Zhu Niu mengangguk-angguk kepalanya. "Benar, pasti ayah dan kakak Jian Heeng merindukanmu "
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu tak tau mereka berkata berbohong atau tidak jika Raja Wan dan Pangeran Jian Heeng entah benar-benar peduli dengan Reyhan. Karena mereka berdua kurang pasti hubungan Reyhan dengan Raja Wan dan Pangeran Jian Heeng masih baik atau tidak.
Reyhan menghela nafasnya. "Baiklah, kakak akan ikut kalian pulang."
"Benarkah." sahut Putri An Niu dan Putri Zhu Niu bersamaan.
Reyhan tidak menjawab, ia hanya mengangguk kepalanya. Putri An Niu dan Putri Zhu Niu senang, akhirnya Reyhan mau ikut pulang bersamanya.
"Kakak akan ikut kalian pulang, tapi besok." ucap Reyhan tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, yang penting kakak mau pulang, itu saja sudah membuat kami senang." jawab Putri Zhu Niu dan Putri An Niu juga mengiyakan.
"Baiklah, malam ini kalian menginap disini, kakak akan membuat masakan yang enak untuk kita bertiga." kata Reyhan.
"Iya kak, kita mau." jawab Putri An Niu dan Putri Zhu Niu bersamaan.
_____
Disisi Lain, di Kerajaan Wan. Raja Wan berada di ruang kerjanya, ia terlihat tidak bersemangat mengerjakan laporan-laporan tentang Kerajaannya. Semenjak kepergian kedua Putri kembarnya. Raja Wan membayangkan jika terjadi sesuatu menimpa kepada Putri An Niu dan Putri Zhu Niu.
"Bagaimana jika mereka tidak menemukan Rey Hann."
"Apa aku harus ikut mencarinya ?"
"Tapi mencari kemana ?"
Raja Wan tak bisa melakukan apapun, ia percaya bahwa kedua Putri kembarnya tidak lemah. Tapi, bagaimana jika ada bandit yang lebih kuat dari mereka berdua ?
"Baiklah, aku harus turun tangan. Aku tak ingin kehilangan kedua Putri kembarku, dan aku juga ingin Putraku Rey Hann kembali pulang."
Raja Wan bertekat. Raja Wan menyuruh pengawal pribadinya untuk segera memanggil beberapa prajurit elitnya. Tak lama kemudian pengawal pribadinya kembali dan membawa 5 prajurit elit.
_____
Sedangkan disisi lain, Pangeran Jian Heeng dia sibuk melatih dirinya. Pangeran Jian Heeng tidak peduli akan keadaan suasana istana yang sedang merasa kehilangan atas kepergian Reyhan, dan Putri kembar An Niu dan Zhu Niu.
Suasana sedih yang dirasakan ketiga ibundanya, Ayahnya, Putri Mahkota Lin Wei, dan Putri Jing Mi, ia tak paduli akan hal itu. Kini ia memiliki ambisi bukan hanya untuk mengambil posisi Putra Mahkota, tapi juga ingin mengambil posisi pemimpin anggota Ksatria Negara Barat.
_____
Keesokan Harinya, pagi hari, kini Reyhan dan kedua adik kembarnya bersiap-siap untuk pergi. Tak lupa seperti biasa Reyhan memakai jubah merahnya. Putri An Niu dan Putri Zhu Niu melihat Reyhan dengan serius.
"Ada apa ?" tanya Reyhan.
"Perasaan dari setahun yang lalu, penampilan kakak tidak berubah, pasti selalu memakai jubah warna merah." ucap Putri An Niu.
"Benar, apa jubah kakak tidak pernah dicuci ?" tanya Putri Zhu Niu.
"Tak usah dipikirkan. Tapi kakakmu ini tetap tampan kan ?"
__ADS_1
"Soal dicuci atau tidak, kalau sudah waktunya ganti, tinggal buang saja, karena aku punya perelengkapan tak terbatas."
Ucao Reyhan dengan percaya diri dan sedikit angkuh di depan kedua adik kembarnya. Sedangkan Putri An Niu dan Putri Zhu Niu yabg mendengarkan kata-kata Reyhan hanya bisa mendengus kesal. Tak ingin berlama-lama Putri An Niu dan Putri Zhu Niu segera mengajak Reyhan untuk pergi.
_____
Mereka bertiga tengah dalam perjalanan di dalam hutan. Mereka bertiga sudah keluar dari hutan angker. Karena dari awal Putri An Niu dan Putri Zhu Niu membawa kuda mereka masing-masing, akhirnya Reyhan dan Putri Zhu Niu berkendara 1 kuda. Sedangkan Putri An Niu sendirian mengendarai kudanya.
Putri An Niu cemburu melihat Putri Zhu Niu memegang erat tubuh Reyhan dari belakang. Putri An Niu memasang wajah kesal saat melihat Putri Zhu Niu memasang wajah kemenangan, karena bisa 1 kuda dengan kakaknya yang tampan itu. Putri An Niu ingin sekali bisa berada di posisi Putri Zhu Niu.
_____
Sudah hampir setengah hari mereka berjalan. Awalnya perjalanan mereka tenang, tak ada gangguan. Tapi tiba-tiba datanglah sekelompok bandit yang berjumlah 4 orang menghalangi jalan mereka.
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu terkejut melihat kelompok bandit itu yang ternyata pernah mereka temui sebelumnya. Ke-4 bandit yang pernah mereka berdua hadapi sebelumnya.
"Wah, ternyata kita bertemu lagi." ucap bandit1.
"Tapi, kini mereka berdua bersama laki-laki berjubah merah itu." ucap bandit4.
Benar, ke-4 bandit yang pernah ditemui dan dihadapi oleh Putri An Niu dan Putri Zhu Niu. Reyhan pun turun dari kudanya, Putri An Niu dan Putri Zhu Niu juga ikut turun, lalu segera berdiri di samping kanan kiri Reyhan.
"Apa kalian pernah bertemu mereka ?" tanya Reyhan kepada kedua adik kembarnya, dan dijawab dengan anggukkan kepala mereka berdua.
"2 hari yang lalu, kami mengahadapi mereka saat kami mencari dirimu kak." ucap Putri An Niu.
"Kemampuan mereka sangat hebat. Kami sampai kewalahan menghadapi mereka. Tapi mereka melarikan diri ketika Putra Mahkota KunLi Wong datang menolong kami." ucap Putri Zhu Niu, dan Reyhan hanya mengangguk-angguk kepalanya.
"Sekarang kita tidak perlu khawatir, karena wilayah ini adalah kekuasaan kami. Jadi kami bisa melakukan sesuka kami, dan membunuh kalian disini." Bandit1 mengatakan seperti itu, karena wilayahnya adalah wilayahnya dan teman-temannya.
Tidak seperti sebelumnya mereka melarikan diri, karena saat mereka merampok bukan di wilayah mereka, tepatnya wilayah sebelumnya masih masuk di wilayah Kerajaan.
"Kalian diam saja, aku sendiri yang akan menghadapi mereka semua." ucap Reyhan tanpa mengalih pandangannya ke kedua adik kembarnya. Matanya tetap menatap ke arah ke-4 bandit yang ada di depannya.
Putri An Niu dan Putri Zhu Niu hanya diam tak menjawab apapun. Reyhan melepas jubah merahnya sembarang, ia pun melangkah maju, dan muncullah satu cahaya portalnya.
Tangan Reyhan mendekati cahaya portal itu dan menarik sebuah pedang.
__ADS_1