
_______________________________________
"Jadi, ada perlu apa kau ingin bertemu denganku ?"
Alice dan Elena menepuk jidat mereka masing-masing setelah mendengar ucapan Reynal yang dingin dihadapan Putra Mahkota Aland.
Ya, Aland ingin bertemu dengan teman laki-laki Elena dan Alice, siapa lagi kalau bukan Reynal.
Awalnya Elena dan Alice ragu untuk mempertemukan Aland dengan Reynal. Karena sifat Aland yang terkenal sebagai Putra Mahkota ramah, dan baik kepada siapapun, meskipun orang yang baru ditemuinya.
Berbeda dengan Reynal. Dingin, datar kepada orang yang belum pernah ditemuinya. Dan terlalu blak-blakan, tak suka basa-basi. Selalu langsung bertindak sesukanya.
Tapi yang lebih mengkhawatirkannya lagi dari sosok Reynal adalah ketika ia dibuat marah. Takkan segan-segan mengerang dengan sadis, tak peduli orang itu anggota Kerajaan atau keluarga Kerajaan.
Elena membawa Aland ke tempat penginapannya, dan menunggu Alice yang sedang memanggil Reynal. Elena dan Aland menunggunya di lantai atas penginapan mereka seperti biasanya sambil menerima teh yang dibawakan oleh pelayan di tempat itu.
Dan sekarang Aland telah duduk berhadapan dengan Reynal setelah dipertemukan oleh Elena dan Alice.
"Aku hanya penasaran dengan teman laki-laki calon istriku." jawab Aland ramah.
"Hanya itu ?" sahut Reynal datar.
"Wah... Aku suka sekali dengan gaya bicaramu yang tak suka basa-basi." jawab Aland.
Jujur Aland baru pertama kali bertemu laki-laki seperti Reynal yang basa-basi. Dan bebicara ke intinya. Tidak seperti orang-orang atau Putra Mahkota dari Kerajaan lainnya yang selalu berbicara entah kemana dulu.
Dan Alan juga bisa merasakan lagi aura yang hebat dari sosok Reynal setelah kejadian kemarin.
"Kalau tak perlu yang dibicarakan, aku ingin kembali ke kamarku." ucap Reynal.
"Ayolah, jangan terburu-buru, setidaknya kita berkenalan dan berteman." balas Aland.
Reynal tak menjawab, ia hanya diam menatap datar ke arah Aland.
"Aku ingin kau datang besok acara ulang tahunku." kata Aland.
"Aku tak akan datang." jawab Reynal cepat.
"Astaga, kau langsung menjawab dan langsung menolak." kata Aland.
"Aku tau tipemu, kau tak suka tempat yang ramai. Aku akan menyiapkan tempat khusus nantinya." lanjutnya.
"Kau tau pun itu pasti diberitahu oleh calon istrimu." jawab Reyanl sambil menatap ke arah Elena.
Aland menyengir kuda. "Kau benar."
Reynal menghela nafasnya, lalu ia mengangguk kepalanya. "Baiklah, aku akan datang besok."
__ADS_1
Elena dan Alice terkejut. Segitu mudahnya Aland mengajak Reynal untuk datang.
"Ini yang aku mau. Kita bisa berteman. Kau jangan khawatir, kita bertiga akan selalu ada untukmu kalau kau jadi pusat perhatian nantinya." ucap Aland.
"Baiklah. Kita berteman. Dan Aku tak peduli menjadi pusat perhatian di acara ulang tahunmu besok. Yang terpenting aku datang dan makan sepuasnya di acara ulang tahunmu. Jadi jangan salahkan aku kalau semua hidangannya kuhabiskan." jawab Reynal tersenyum.
Aland pun ikut tersenyum.
"Kau tenang, semua telah dipersiapkan."
Lalu Aland mengulur tangannya. "Kita berteman."
Reynal menatap tangan Aland. Lalu ia tersenyum, dan membalas uluran tangannya laki-laki yang di depannya. "Baiklah kita berteman."
"Namaku Aland Von Arlie." ucap Aland memperkenalkan dirinya.
"Aku Reynal Poetra Wan." jawab Reynal.
"Senang berkenalan denganmu Yang Putra Mahkota." lanjutnya setelah bersalaman dengan Aland.
"Ayolah, jangan memanggilku seperti itu cukup memanggil namaku saja." jawab Aland.
Reynal tersenyum dan mengiyakan ucapan Aland. Elena dan Alice tak habis pikir kepada Reynal. Dengan mudahnya menerima pertemanan.
Aland dan Reynal berbagi cerita. Aland pun mengetahui asal Reynal berasal. Setelah Reynal menceritakannya. Sebenarnya Aland tau dari Elena. Tapi ia ingin mendengarnya langsunh dari Reynal.
.....
Hari sudah sore, dan langit akan gelap.
Aland dan Reynal menyudahi percakapan mereka. Elena dan Alice hanya diam dan hanya mendengar saja.
Baru kali ini mereka berdua melihat Reynal yang terbuka sepenuhnya kepada lawan bicaranya. Meski Alice dan Elena sudah dekat dengan Reynal, tapi Reynal belum terbuka sepenuhnya kepada mereka.
Aland pun mengundurkan diri. Elena pun mengantarnya kembali ke istana. Lagian Elena akan menginap di istana. Keluarga Kerajaan Arlie telah menyiapkan kamar inap untuknya. Alice tetap tinggal di penginapannya.
"Kau tidak ikut dengan menginap mereka berdua ?" tanya Reynal yang sudah di depan pintu kamar.
"Tidak, lagian aku juga harus membereskan semua barang-barangku dan Putri Elena." jawab Alice yang baru saja membuka pintu kamarnya.
"Baiklah, sampai besok." kata Reynal sambil tersenyum. Lalu ia masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya.
Alice terdiam. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Melihat Reynal memberinya senyuman. Padahal biasanya Reynal selalu tersenyum. Tapi kali ini senyumannya berbeda dari biasanya.
.....
Keesokan Harinya.
__ADS_1
Hari telah pagi mendekati siang.
Semua telah siap. Alice telah siap untuk acara yang ia datangi. Ia keluar dari kamar, tak lupa menutupnya kembali dan menguncinya.
Ia melihat Reynal yang sudah siap di depan kamarnya. "Kau siap ?"
Alice mengangguk kepalanya.
Reynal segera memegang dan menggenggam tangannya Alice. Dan itu membuat Alice membeku.
Wsst !!
.....
Di Istana Kerajaan Arlie.
Di sebuah aula yang besar dan luas.
Semua hidangan, dan kursi-kursi dan sebagainya telah disiapkan.
Para tamu undangan satu-bersatu masuk ke dalam. Banyak sekali tamu undangan yang datang ke acara ulang tahun Putra Mahkota Aland.
Aland dan Elena tengah duduk di kursi dan meja bundar khusus mereka berdua. Di meja lain, ada juga Putra Mahkota dan Putri Mahkota lainnya. Dan tak lupa ada pangeran.
Bahkan Putra Mahkota Delbert Dorothy pun duduk terpisah, ia memilih bergabung dengan teman dekatnya saja. Dan para Raja dan Permaisuri duduk di tempat khusus bagian mereka.
Di meja bundar yang khusus untuk Aland, terlihat ada 2 kursi kosong. Para teman-temannya bingung. "Untuk siapa kursi kosong itu ?" itulah isi pertanyaan di dalam kepala mereka.
Acara dimulai. Meskipun para tamu undangan masih belum semuanya datang. Dan bagi yang sudah datang tinggal menikmati hidangan yang ada. Tak lama kemudian terlihat sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan masuk ke ruang aula itu.
Mereka diantar oleh salah satu pengawal menuju meja yang khusus mereka berdua. Semua pandangan tertuju kepada mereka berdua tepatnya kepada laki-laki yang asing. Delbert terbelalak melihatnya. Hatinya memanas.
Elena sudah menebak setelah melihat kakak laki-lakinya yang terkejut melihat gadis pujaannya berjalan bersamaan dengan laki-laki lain.
Aland pun berdiri dari duduknya dan menghampiri teman barunya. Elena pun hanya berdiri saja.
"Selamat datang temanku."
Reynal tersenyum melihat Aland menyambutnya. Ia tak peduli banyak pandangan yang memandang dirinya.
"Terimakasih." jawab Reynal.
"Ayo, aku telah menyiapkan tempat khusus untuk kita berempat." kata Aland.
"Berempat ?"
Aland mengerut dahinya.
__ADS_1
"Ada yang salah ? Aku, Elena, Alice, dan kau Reynal."