
_______________________________________
Entah apa yang harus Reynal lakukan.
Kini ia menjadi pusat perhatian. Tapi ia tak ingin ambil pusing. Ia tetap fokus dengan hidangan yang ada di mejanya.
Kini Reynal tengah duduk di kursi khusus untuknya. Dia 1 meja dengan Aland, Elena, dan Alice. Mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak ? Baru kali ini mereka melihat Aland dekat dengan orang asing bagi mereka.
Elena tetap menjaga sikapnya. Ia tetap menikmati hidangan yang ada. Sedangkan Alice, ia juga fokus dengan hidangannya, awalnya bingung, apa yang harus ia lakukan ? Karena ia hanyalah pengawal pribadi Elena.
Aland juga menikmati makanannya. Tak hanya itu, ia juga mengajak Reynal mengobrol. Dan Reynal menganggapinya sewajarnya saja, karena ia sudah jadi pusat perhatian.
Tapi setidaknya, selama belum pulang kembali ke dunia asalnya, ia memiliki teman untuk menemani kesendiriannya. Di meja lain, Raja Arlie tersenyum melihat kebahagian putranya bersama calon istrinya, dan teman barunya.
Disisi Lainnya.
Delbert, ia diam duduk di tempatnya. Ia menatap dingin ke arah Reynal sambil meremas gelas yang ia genggam. Delbert, hatinya terasa sesak dan panas. Benar-benar tak terima melihat gadis pujaannya dekat dengan laki-laki selain dirinya.
.....
Acara masih berjalan, dan hari masih siang. Acara selanjutnya adalah pertunjukan semua para Putri. Semua putri bersemangat untuk menampilkan bakat mereka masing-masing.
Satu-persatu para putri menampilakan bakat mereka. Ada yang menari, bernyanyi, berpuisi, dan lainya. Mereka bersemangat menarik perhatian para Putra Mahkota, dan Pangeran.
Elena telah selesai menujukan bakat menari pedangnya. Selama dalam penampilannya Elena, banyak yang terpesona. Tak hanya terpesona kecantikannya, tapi tarian pedangannya yang hebat.
"Penampilanmu sangat sangat hebat." puji Aland, setelah Elena kembali duduk di sampingnya.
"Terimakasih." jawab Elena tersenyum. Lalu ia menatap Alice. "Kak Alice, kau tak ingin menunjukan bakatmu ?"
"Tidak, bagaimanapun, aku hanyalah pengawal pribadimu Putri Elena." jawab Alice dengan cepat.
"Tapi kau kan bisa bernyanyi, suaramu pun sangat indah." kata Elena.
"Tidak Putri Elena. Walau kau merayuku dengan memberiku pujian, aku tetap menolaknya." jawab Alice.
Aland pun berbicara kepada Elena.
"Sudahlah, kalau dia ingin bernyanyi, aku tidak melarangnya. Tapi kalau dia menolak, kita tidak boleh memaksanya, dia pasti punya alasan tertentu."
Elena menghela nafasnya, dan mengangguk kepalanya. "Baiklah. Maafkan aku kak Alice, aku telah memaksamu"
Alice tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Tak masalah."
Acara masih berlanjut. Ternyata tak hanya para Putri yang menunjukan bakatnya. Ternyata ada beberapa Pangeran menampilkan antraksi sihirnya.
Tiba-tiba Alice berdiri dari duduknya. Reynal yang duduk di sampingnya, yang tadinya melihat pertunjukan, pandangannya beralih ke arah Alice. Begitu juga Aland dan Elena menatap Alice.
"Kau kenapa ?" tanya Elana.
"Aku ingin ke kamar mandi." jawab Alice.
"Perlu kuantar ?" Reynal memberi tawaran.
__ADS_1
Seketika ucapan Reynal membuat Aland dan Elena terkejut, lalu tersenyum.
Alice merasa malu. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Baiklah." sahut Reynal.
Alice berjalan perlahan ke belakang. Ia pergi ke kamar mandi. Meski Alice sudah tau letak dimana kamar mandi, karena sebelumnya ia juga pernah kesana saat ia menemani Elena.
Letak kamar mandi cukup jauh. Beberapa saat kemudian ia telah sampai. Alice pun masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata tanpa ia sadari ada seorang yang mengikutinya diam-diam.
Alice keluar dari kamar mandi.
Ia bernafas lega karena telah membuang air kecil. Tak lupa ia telah mencuci tangannya. Ia pun segera kembali ke aula.
Saat di tengah-tengah jalannya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Alice terkejut. Ternyata yang menariknya adalah Delbert. "Putra Mahkota Delbert ? Kau akan membawaku kemana ?"
Delbert tak menjawab. Ia terus menarik tangan Alice. Yang fokus melihat jalan yang ia lewati. Alice berusaha tenang, tak mungkin ia melawan karena Delbert adalah Putra Mahkota dari Kerajaan tempat ia tinggal.
Jadi mau tak mau Alice harus bersikap baik.
.....
Alice telah dibawa ke suatu tempat.
Tempat itu ternyata sebuah kebun belakang istana Kerajaan Arlie. Delbert membawa Alice ke tempat itu. Kini mereka berdua.
Alice bingung.
Delbert menatap tajam ke Alice. "Kau jangan dekat-dekat dengannya ?"
Alice mengerut dahinya. "Dengannya ? Siapa ?"
"Laki-laki asing itu." jawab Delbert dingin.
"Laki-laki asing ?" guman Alice.
Ia pun teringat. "Maksud Putra Mahkota, Reynal ?"
"JANGAN SEBUT NAMANYA DI HADAPANKU !!" Delbert membentak.
Alice terkejut. Baru kali ini ia melihat Delbert marah padanya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Delber membentaknya.
Delbert pun tersadar. "Maafkan aku."
"Aku minta jangan dekat-dekat dengannya." lanjutnya.
"Kenapa ? Apa dia punya salah ?" sahut Alice bertanya.
"Karena aku tak suka kau dekat-dekat dengannya." jawab Delbert.
"Maaf Putra Mahkota, kenapa bisa kau berbicara begitu ? Dan maaf, aku dekat dengan siapapun itulah hakku, Putra Mahkota." jawab Alice sopan.
Delbert terdiam, ia tak bisa menjawab. Tak mungkin ia mengatakan kalau dirinya cemburu. Padahal ia dengan Alice tidak ada hubungan lebih.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan Delbert dan Alice.
"Apa kalian sudah selesai berbicaranya ?"
Terdengar suara yang muncul di tengah-tengah mereka berdua.
"Suara ini." batin Alice.
Alice membalikan tubuhnya, dan Delbert menatap ke arah sumber suara yang menggangu baginya.
"Reynal ?" guman Alice.
"Kenapa kau kemari ?" lanjutnya.
Reynal mendekat sambil tersenyum. "Kau tau ? Kau terlalu lama untuk pergi ke kamar mandi. Jadi aku menyusulmu."
"Kau Sejak kapan kau disini ?" sahut Alice bertanya.
Reynal telah berada di hadapan Alice. "Ya, semenjak kau ditarik oleh dia." jawab Reynal dengan menunjuk ke arah Delbert dengan dagunya.
Alice hanya diam. Ia tak berani menghalangi 2 laki-laki itu. Hawa yang ia rasakan saat ini mencengkram. Reynal menarik pelan Alice agar berdiri di belakangnya.
Delbert tak terima mslihat Reynal sangat dekat dengan Alice, ia pun berbicara. "Kau mengganggu waktu kami berdua."
"Aku tidak mengganggu, aku hanya berjaga supaya tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan." jawab Reynal santai.
Delbert merasa tak terima.
"Kau mengatakan itu seakan kau menilaiku yang tidak-tidak."
Reynal memutar bola matanya. "Kau bahkan membentaknya hanya karena dia menyebutkan namaku."
"Bahkan kau menyuruhnya untuk jangan dekat-dekat denganku." lanjutnya, Reynal tak habis pikir kepada Delbert.
Reynal tahu kalau Delbert menyukai Alice. Tapi baginya, ia tak suka melihat cara Delbert yang kasar.
"Aku memerintahkannya karena aku adalah Putra Mahkota." jawab Delbert.
"Hanya bergelar Putra Mahkota saja, kau sudah besar kepala." kata Reynal tanpa dosa. Seketika Alice terbelalak kaget. Ia pun segera maju dari belakang tubuhnya Reynal.
"Diam kau !! Beraninya kau menghinaku. Kerajaan ayahku bisa saja memberi kau hukuman mati." Delbert memberi ancaman.
"Aku tak takut." sahut Reynal santai.
Alice yang sudah berdiri di samping Reynal. Ia mulai khawatir. "Reynal sudah, jangan diteruskan kita harus kembali."
Reynal tak menjawab. Ia menatap ke arah Alice dalam-dalam. ia pun memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut. Alice semakin salah tingkah sekaligus bingung.
"Lepaskan tanganmu darinya." ucap Delbert tak terima melihat Reynal menyentuh kedua pundak Alice.
Reynal tak menggubrisnya. Ia tetap memegang kedua pundak Alice. Ia telah siap, ia takkan menahannya lagi. "Alice Aku Mencintaimu."
Cup.
__ADS_1