
_______________________________________
Hari sudah pagi.
Terlihat ada 5 orang yang sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. 2 orang kusir menyiapkan kereta kudanya. Sedangkan Alice dan Elena tengah pergi ke untuk mandi. Dan Reynal entah pergi kemana setelah membantu 2 kusir itu membereskan barang-barang.
Kebetulan di dekat mereka ada air terjun dan sungai jernih sekaligus segar, mereka memanfaatkannya untuk mandi. Sekiranya aman melihat sekitar, tak ada orang, Alice dan Elena pun segera mandi.
Mereka melepaskan pakaian mereka. Hanya 1 kain saja yang menutupi area tubuh mereka. Hampir lama mereka mandi. Elena yang sudah lebih dulu selesai, ia segera memakai pakaiannya, lalu pergi melompat melewati dinding tanah setelah berpamitan kepada Alice.
Alice masih betah dengan mandinya. Ia sangat menikmati air sungai itu, ditambah air terjun yang tengah menghujani dirinya, ia memenjam kedua matanya. Indra pendengarannya menangkap suara yang mendekatinya ia pun langsung membuka matanya dan segara menyudahi mandinya.
Di waktu bersamaan, disisi lain ada seorang yang selesai mandi. Ia sudah mengenakan pakaiannya. Sebelum kembali ke rombongannya, ia berjalan mengikuti arus sungai itu berasal.
Setelah mengikutinya, Ia melihat air terjun yang indah. Lalu pandangannya perpindah ke arah gadis yang tengah mandi dan disaat itu juga sedang akan mengambil pakaiannya. Dan akhirnya pandangan mereka saling bertemu.
Alice dan Reynal pun akhirnya saling memandang. Laki-laki itu manatap wajah cantik Alice yang basah. Meski tubuh indah milik Alice sudah tertutup kain yang menutupi dari batas atas dada sampai paha, tapi ia terlalu fokus melihat wajah cantik milik gadis itu.
Mereka saling berpandangan. Dan akhirnya tersadar.
Sedangkan Alice, pikirannya kacau. Ia melihat laki-laki yang beru temuinya belakangan ini kini tengah berani melihat dirinya yang sedang mandi. Mukanya merah semerah kepiting rebus. Entah marah, dan malu. Ia langsung memunculkan busur panahnya.
"Kubunuh kau !!!" Alice berteriak sambil melepaskan anak-anak panahnya ke arah Reynal.
"Tunggu, aku benar-benar tak aku kau ada disini." Reynal segera melompat menjauh.
Hafas Alice naik turun. Ia segera mamakai pakaiannya. Sesuadah itu ia segera berjalan kembali ke rombongannya dengan amarah di pikiran kepada Reynal. "Aku akan memberinya pelajaran."
Semua telah menunggu Alice. Semua melihat Alice yang sudah kembali, tapi semua heran melihat raut wajah Alice yang seperti menahan marah. Semua tertuju saat Alice berjalan ke arah Reynal, dan langsung menarik kerah pakaian laki-laki itu.
"Berani-beraninya kau..." ucap Alice fapi terpotong langsung oleh Reynal.
"Sungguh aku tak tau, aku pun tak melihat apapun."
__ADS_1
Reynal memegang kedua tangannya Alice agar melepaskan kerah pakaiannya. Alice masih menahan tangannya, rasa ingin memberi pukulan di wajah tampan milik laki-laki yang lebih muda 2 tahun darinya.
Reyhan pun berhasil membuat kedua tangannya Alice melepas kerah pakaiannya. Ia memegang kedua lengan tangan gadis itu "Tenanglah, aku sungguh tak tau kau ada disana, dan juga aku tak melihat apapun."
"Lalu kenapa kau menatapku begitu lama." ucap Alice yang masih marah dan mencoba memberi perlawanan untuk melepaskan lengannya dari genggaman Reynal.
"Itu Karena wajahmu cantik." ucap Reynal spontan.
Dan seketika Alice diam. Reynal merasa Aloce sudah tenang dan tak melawan lagi, ia melepaskan kedua lengan gadis itu. Terlhat wajah gadis itu merona.
"Dasar mesum !!" ucap Alice, sambil membalikkan tubuhnya, dan berjalan menuju kereta kuda.
Alice segera masuk ke dalam ke kereta kuda. Di dalam sudah ada Elena yang menunggunya. "Kenapa kau lama sekali, kak ?"
"Tidak apa-apa." jawab Alice cepat.
Elena mengerut dahinya. Sedangkan Alice, pikirannya masih tak karuan. Tiba-tiba pikirannya teringat saat Reynal mengatakan kalau dirinya cantik.
Seketika ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Elena yang duduk di depannya ia melihat keanehan pada Alice. "Kak Alice, kau baik-baik saja ?"
Elenaa tidak menjawab, ia hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Sementara Reynal hanya bisa diam setelah dikatai oleh gadis yang umurnya 2 tahun diatasnya itu. Lalu ia menghela nafasnya. Ia berjalan mendekati kereta kuda. Lalu ia duduk luar dibagian belakang. Sedangkan 2 kusir duduk di luar dibagian depan untuk mengendalikan kudanya.
Kereta kuda itu berjalan. Tiba-tiba Alice memikirkan Reynal, ia merasa gelisah, karena Reynal tidak masuk kedalam. Apa ia akan berpisah dengannya. Lalu ia mencoba mengintip keluar melalui jendela yang ada di belakang tubuhnya.
Alice bernafas lega, karena melihat Reynal yang tengah duduk santai di luar bagian belakang kereta kuda sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya. "Tunggu, kenapa aku mengkhawatirkannya ?" lalu ia menepis pikirannya.
Elena menatap Alice. Ia dari tadi melihat tingkah aneh pada diri gadis yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya itu. "Kakak kenapa ?"
"Tidak apa-apa, aku hanya melihat laki-laki itu, ternyata ia duduk di luar belakang kereta kuda ini." jawab Alice dengan tenang.
"Laki-laki itu masih mengikuti kita ?" tanya Elena.l, dan Alice mengangguk kepalanya.
__ADS_1
"Dasar orang aneh. Kenapa tidak pulang saja ke rumahnya." ucap Elena.
"Tapi bukankah dia sudah bilang pada kita, kalau dia tak mengetahui apapun yang ada disekitarnya. Baginya semuanya asing." balas Alice.
"Mungkin dia pura-pura. Bisa saja dia adalah orang yang berbahaya" jawab Elena yang teringat kehebatan Reynal saat mengalahakan sekelompok goblin sebelumnya.
"Tapi aku bisa melihat lejujurannya." jawab Alice.
"Dan aku tak suka kehadirannya." Elena yang tal mau kalah. Alice hanya menghela nafasnya.
.....
Hari sudah siang.
Setelah sekian lama kereta kuda berjalan akhirnya mereka telah sampai di dalam perkotaan Kerajaan Dorothy.
Kereta kuda yang dinaikan Elena dan Alice terus berjalan menuju istana Kerajaan. Akhirnya mereka telah sampai, salah satu kusir membuka pintu kereta kuda.
Elena dan Alice segera turun. Kedatangan mereka disambut oleh Permaisuri beserta pelayannya. Elena berlari memeluk ibunya. Mereka saling berpelukan.
Ella, nama Permaisuri Kerajaan Dorothy itu. Ia mengelus lembut kepala Putrinya. Karena sudah seminggu mereka tak bertemu.
"Ibu, dimana kakak dan ayah ?" tanya Elena, karena tak melihat ayah dan kakak laki-lakinya."
"Mereka sibuk sedang di ruang mereka. Seperti kau tak tau saja kalau tugas Raja dan Putra Mahkota itu tidaklah ringan." jawab Permaisuri Ella.
"Lalu kemana Alice, seharusnya ia bersamamu 'kan ?" tanya Permaisuri Ella.
Elena tersadar, mereka melepaskan pelukan mereka. "Kenapa kak Alice ?"
Elena segera mencari Alice. Belum melangkahkan kakinya, ia dan Permaisuri Ella mendengar 2 orang saling berbicara.
Lalu mereka berdua segera berjalan mendekatinya, yang ternyata berada di belakang kereta kuda. Elena melihat Alice sedang berbicara dengan Reynal. Sedangkan Ella mengerut dahinya, karena tak mengenal sosok laki-laki itu.
__ADS_1
Reynal terlihat sedang memijit dahinya dan memenjamkan kedua matanya, seakan ia tengah kebingungan. "Apa mataku tidak salah melihat saat berada di kota tadi ? Ada manusia yang memiliki telinga yang lancip"
"Tidak, kau tidak salah lihat, mereka adalah manusia dari Ras Elf." jawab Alice.