Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 154 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Benar saja, Elena pergi ke hutan sendiri. Memang dasarnya ia menyukai berpetualang dan mengalahkan monster-moster yang muncul di depannya. Sekaligus mengasah kemampuannya.


Di tempat lain.


Alice yang baru saja pergi keluar dari istana. Ia terlihat tergesa-gesa. Sebelumnya keluar dari istana, ia meminta izin kepada Raja Dorothy dan Permaisuri Ella untuk menyusul Elena yang tiba-tiba seenaknya pergi hutan.


Raja Dorothy yang sudah tau sikap Putrinya memberi izin kepada Alice untuk menyusul Putrinya. Sedangkan Permaisuri Ella hanya bisa menghela nafasnya, ia tak habis pikir, sifat Putri tidak mencerminkan seorang wanita.


Kembali Disisi Alice, ia pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengganti perlengkapannya. Karena tak mungkin ia menggunakan perlengkapannya yang sekarang.


Biasanya ia menggunakan Busur Sihirnya. Hanya menarik benang busur panahnya, seketika anak panah pun muncul. Tapi kini kondisinya berbeda. Ia mengganti busurnya dengan busur manual, karena batas busur sihirnya telah mencapai batasnya.


Seperti diketahui, kalau dia telah berlebihan menggunakan busur sihirnya saat dipertandingan. Alice juga tak lupa mengganti pakaiannya. Perlengkapan busur dan anak panahnya telah siap. Ia pun berangkat meninggalkan rumah. Ia harus bergegas berangkat.


Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari dan melompat. Alice tengah berada di kota Kerajaan. Kini Dia meloncat-loncat dari atap ke atap bangunan yang ia lewati. Setelah melewati bagunan rumah dan toko, ia melewati pintu gerbang perbatasan kawasan. Ia pun mulai memasuki hutan.


"Dia selalu saja tidak bisa membuatku bernafas lega."


.....


Hari sudah sore.


Alice belum menemukan Elena.


Rasa khawatir yang dirasakan Alice karena belum menemukan gadis itu. Alice memutuskan untuk istirahat. Dia merasa lelah.


Padahal baru saja mengikuti acara sebelumnya selama 2 hari, dan itu cukup menguras tenaganya. Dan kini ia kesal kepada Elena, bisa-bisanya acara baru selesai, gadis itu pergi. Itu membuatnya tak bisa istirahat dengan tenang.


Tiba-tiba muncullah seekor ular besar. Alice terkejut, ia segera menjaga jarak. Ular itu dengan cepat menggerakkan ekornya untuk menyerang. Alice pun melompat tinggi. Ia pun segera mengeluarkan busur panahnya.



banyak anak panah yang diluncurkan oleh gadis itu menyerang ular tersebut. Ular besarnya dihujani ratusan anak panah. Tapi ternyata kulit ular itu cukup keras.


"Sial kulitnya sangat keras sekali. Andai aku tak berlebihan saat pertandingan memakai busur sihirku, aku pasti sekarang mambawanya."


Stamina Alice sudah sedikit, ia memilih untuk pergi melarikan diri. Ia melompat tinggi. Ia meloncat dari pohon ke pohon. Tapi ular itu dengan cepat mengikutinya.


"Ular dengan seukuran itu, bisa bergerak dengan cepat."

__ADS_1


"Aku tak bisa berlari terus-terusan begini."


Alice sudah tak kuat lagi. Tenaganya tak kuat membawa tubuhnya lagi untuk meloncat. Kesadarannya mulai memudar. Sedangkan ular besar yang mengejarnya, terlihat senang, karena mangsanya sudah kelelahan.


Akhirnya, saat Alice baru menginjak tangkai pohon, kesadarannya menghilang. Sudah tak kuat, tubuh Alice pun terjatuh ke dari pohon. Di bawah, si ular maju sambil membuka lebar-lebar mulutnya.


Tiba-tiba, terlihat gerakan kilat menuju ke arah Alice yang akan jatuh ke bawah.


Wsst !!


Tubuh Alice seketika menghilang.


Si Ular bingung, kemana mangsanya yang tiba-tiba menghilang. Seharusnya sudah jatuh ke dalam mulutnya. Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya datang mendekati Ular itu.


DUAR !!


Ular itu meledak lenyap setelah terkena bola Api biru yang datang menyerangnya. Perlahan sosok itu turun dari pohon. Dialah yang membuat bola Api biru untuk membunuh ular besar tadi.


Tak hanya itu, sosok itu tengah menggendong tubuh Alice yang sudah kelelahan. Alice pun membuka matanya, ia melihat-lihat dan menanjamkan penglihatannya. Seketika dadanya terasa berdebar-debar.


Lalu Alice melebar kedua matanya. "Reynal ?"


Ya, sosok itu adalah Reynal.


"Kenapa kau ada disini ?" tanya Reynal.


"A-aku hanya mencari Putri Elena." jawab Alice gugup plus takut.


"Oh, gadis itu." sahut Reynal santai.


Alice menatap laki-laki itu. "Lalu juga kenapa ada disini ?'


"Aku hanya ingin menghilangkan rasa bosanku." jawab Reynal, lalu perlahan ia mulai dudul di salah satu batu besar.


"Kalau begitu, aku akan pergi, melanjutkan mencari Putri Elena." ucap Alice, lalu ia berdiri. Plus ia gugup berada di dekat Reynal.


"Baiklah, ayo." ucap Reynal yang juga berdiri.


"Eh ?" sahut Alice terbelalak.


"Kenapa ? Bukankah kau mencari Elena, aku juga ingin meminta maaf padanya." jawab Reynal.

__ADS_1


"Maaf untuk ?" sahut Alice.


"Kejadian sebelumnya. Kau pasti ingat 'kan ?" ucap Reynal, Alice spontan mengangguk kepalanya, ia paham kejadian apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


Alice dan Reynal pun berjalan. Mereka saling besampingan.


"Dan aku juga minta maaf kepadamu." ucap Reynal tiba-tiba.


"Minta maaf ? Padaku ? Untuk apa ?" tanya Alice.


"Karena kejadian yang waktu itu membuatmu ketakutan." jawab Reynal.


O-ohh, i-iya tak apa-apa, sebelum kau minta maaf, aku sudah memaafkanmu." balas Alice.


Langit Sore sudah perlahan mengubah warnanya. Elena masih belum ditemukan. Alice dan Reynal memilih untuk berhenti dan beristirahat.


Reynal menggunakan sihir Apinya. untuk membuat Api unggun. Ya, Reynal dan Alice memutuskan untuk bermalam di hutan. Mereka mengumpulkan daun pohon pisang yang banyak untuk tempat mereka duduk. Elena masih saja ditemukan Terlihat jelas di wajah Alice, ia terlihat gelisah.


"Tak perlu khawatir, aku tau, dia pasti baik-baik saja." ucap Reynal yang menyadari kekhawatiran pada gadis itu.


"Kenapa kau mengatakan itu ?" tanya Alice, ia tak terima karena Reynal mengatakan padanya untuk tidak khawatir.


"Karena dia bukanlah gadis lemah, buktinya, dia berani menantangku sebelum aku membuatnya terluka parah." jawab Reynal santai.


Alice tak menjawab, kata-kata Reynal ada benarnya. Elana bukanlah gadis yang lemah, hanya saja gadis yang ceroboh. Selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan resiko.


Alice mulai mengantuk, Reynal menyadarinya, karena terlihat gadis itu menguap dan kedua matanya sedikit berair.


"Kamu tidurlah. Biar aku yang berjaga." ucap Reynal.


Alice menatap Reynal dengan tajam. Reynal menghela nafasnya. "Aku tidak akan macam-macam padamu."


Akhirnya Alice perlahan merebahkan tubuhnya di daun pohon pisang yang sudah ia siapkan sebelumnya. Lalu ia sedikit melirik ke arah Reynal yang menatapnya.


Ya, laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Kanapa kau melihatku ?" tanya Alice sinis.


Reynal menjadi salah tinkah, ia langsung membuang mukanya. "Tidak."


"Kau melihatku." sahut Alice.


"Tidak." balas Reynal.

__ADS_1


"Laki-laki mesum." balas Alice.


"Tidak." ucap Reynal, ia pun berdiri, dan melangkah sedikit menjauh dari Alice. Ia pun membuang pikirannya yang entah kemana.


__ADS_2