Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 74


__ADS_3

Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.


Terimakasih.


_______________________________________


"Aku tak menyangka, ternyata di dunia ini telah menyimpan rahasia." ucap Jian Heeng sambil menatap batu kuno dihadapannya. "Tapi kenapa kau memberitahuku ?" lanjutnya.


"Karena kau adalah tempat tinggalku, jadi mau tak mau, inilah kebenaran yang ada di dunia ini."


Saat ini Jian Heeng berada hutan Negara Tengah. Ia tengah berbicara dengan kekuatannya di pikirannya. Ternyata di dunia yang ia tinggali telah menyimpan rahasia, yang dimana sebagian kekuatan sang iblis telah di segel dalam sebuah batu yang ada dihadapannya.


"Jadi harus 'ku apakan batu ini ?" tanya Jian Heeng.


"Cukup kau hancurkan saja."


Jian Heeng menarik pedangnya. Dan saat akan mengayunkan pedangnya ke arah batu itu, kekuatannya berbicara lagi.


"Tapi, jika kau hancurkan batu itu, tak hanya sebagianku yang akan keluar, tapi juga ada kekuatan sang pahlawan yang juga tersegel di dalam batu itu."


Jian Heeng menurunkan pedangnya. "Kenapa sebagianmu bisa tersegel di dalam batu itu bersama kekuatan pahlawan ?"


"Sang iblis terdalulu, dikalahkan oleh sang pahlawan. Saat sang iblis bertarung dengan pahlawan, sebagian kecilku berhasil tersegel dimana saat pertama kau menemukanku di gunung kembar. Tinggallah sebagian besarku yang belum tersegel. Sang pahlawan terpaksa menggunakan tubuhnya untuk menyegelku. Sang pahlawan pergi jauh menuju Negara tengah ini untuk menyegel sebgaianku disini. Saat akan memindahkan sebagianku ke dalam batu itu, sang pahlawan pun juga ikut menyegel kekuatannya di dalam batu itu."


"Kenapa pahlawan itu juga menyegel kekuatannya ?" tanya Jian Heeng.


"Karena sudah tak ada lagi iblis yang mengacaukan seluruh Negeri ini. Jadi menurutnya tugas pahlawan sudah selesai dan tak dibutuhkan lagi. Karena keadaan dunia sudah damai."


"Begitu ?"


"Tak hanya itu, jika ada yang berniat menghancurkan batu ini, maka sang pahlawan baru akan terlahir, karena kekuatannya sudah ikut lepas bersama sebagianku."


Jian Heeng tersenyum mengejek. "Apa kai meremehkanku, tubuh yang dulu kau tempati, mungkin terlalu lemah sehingga ia kalah."

__ADS_1


"Hahahaha..., mungkin seperti itu, karena aku pun juga memikirkan hal yang sama, percuma memiliki Kekuatan besar tapi sang pemilik terlalu lemah."


Jian Heeng pun kembali mengangkat pedangnya dan menganyunkan pedangnya ke arah batu itu.


Batu itu terbelah seketika. Jian Heeng kembali memasukan pedangnya ke dalam sarungnya. Keluarlah hebusan angin yang menyebar. Muncullah dua cahaya hitam dan putih berbentuk bola dan berputar-putar di udara.


Cahaya hitam terbang ke arah Jian Heeng dan masuk kedalam tubuhnya. Sedangkan cahaya putih itu dengan cepar terbang tinggi ke langit dan entah pergi kemana. Jian Heeng merasa ada peningkatan di dalam dirinya.


"Sebagianku telah kembali !! Hahaha... Jadi kita bisa bersenang-senang."


"Tunggu kemana cahaya putih itu pergi ?" tanya Jian Heeng.


"Cahaya itu pasti mencari sang pemiliknya. Tapi biarkan, karena sang pemiliknya telah lama tiada hahahaha..."


Jian Heeng kembali meneruskan perjalanan. Entah mana. Yang ia akan datangi. Tapi setelah beberapa jauh dari tempatnya pergi, tiba-tiba ia merasa gejolak di dari dalam dirinya. Nafasnya memburu seakan marasa haus dan lapar. Tapi bukan haus minuman dan lapar akan makanan. Jian Heeng masih tak mengerti, apa yabg terjadi pada tubuhnya.


Sebelumnya ia tak pernah merasakan rasa aneh itu sebelum mendapat sebagian kekuatan Reyhan iblisnya. Lalu ia berlutut, dan memukul-pukul tanah. Lalu ia berdiri dan menghajar batang pohon yang ada di dekatnya. Jian Heeng kini menggeliat di tanah seperti cacing kepanasan.


"Apa yang terjadi pada tubuhku ?" tanya Jian Heeng kepada kekuatan iblisnya di dalam pikirannya.


"Apa hubungannya dengan apa yang kualami sekarang ini ?" tanya Jian Heeng yang masih menggeliat di tanah.


"Itulah hasratmu untuk sekarang ini. Kau harus membunuh untuk memenuhi hasratmu !!"


"Siapa yang harus kubunuh.. ? agghrrhh !!"


"Siapapun !! 1 mayat dalam sehari pun itu sudah cukup memenuhi hasratmu."


Aaggrrhhhh !!!!


Jian Heeng berteriak keras. Lalu ia berdiri dan melompat tinggi, ke arah salah satu Kerajaan terdekat, Kerajaan Kai. Ia berlari-lari dan melompat dari pohon ke pohon. Setekah masuk ke hutan kawasan Kerajaan Kai, tak di duga melihat sekelompok orang yang berjumlah 5, yang sedang bertenda disana.


Bandit. Kelompok itu adalah kelompok bandit yang sedang menunggu korban entah siapa yang akan lewat nantinya. Jian Heeng semakin cepat berlari dna mendekat. Tanpa basa-basi ia langsung menusuk dada salah satu bandit itu dengan pedangnya. Tepat di jantungnya. Tentu saja, tindakan Jian Heeng membuat 4 bandit lainnya terkejut tak main.

__ADS_1


"Hey..!! siapa kau ?!?!" tanya salah satu dari mereka.


Jian Heeng tidak menjawab, ia malah menari-narikan pedangnya ke samping kanan dan kiri. Lalu ia menjilat darah yang menempel di pedangnya. "Nikmat rasanya... Hasrat terpenuhi... Tapi aku ingin yang lainnya."


4 bandit itu bergidik ngeri melihat Jian Heeng. Mereka mulai menarik pedang-pedangnya, dan menyerang Jian Heeng. Jian Heeng tertawa, lalu ia bergerak cepat untuk menyerang 4 bandit itu.


Dan tak butuh waktu lama Jian Heeng berhasil membunuh ke-4 bandit itu. Jian Heeng tertawa keras, ia merasa puas, dan menikmati apa yang ia lakukan. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanannya.


"Ternyata membunuh itu sangat menyenangkan. Hahahaha...."


.


.


.


.....


Disisi Lain.


Di Kerajaan Xie. Reyhan tengah mengunjungi kekasihnya, Xiu Juan. Reyhan mengajak Xiu Juan jalan-jalan di kota Kerajaan Xie setelah mendapat izin dari Raja Xie. Mereka berdua menulusuri kota, melihat-lihat pedagang kecil di pinggir jalan. Mereka berdua menjadi pusat perhatian masyarakat.


Bagaimana tidak ? Kali ini mereka ber-2 tak menyamar menjadi rakyat biasa. Xiu Juan memekai pakaian hanfu warna ungu, seperti biasa keseharian di dalam istana, Xiu Juan sangat menyukai warna ungu. Sedangkan Reyhan, ia mengenakan hanfu hitamnnya, dan tak lupa ia tetap setia mengenakan jubah merahnya.


Semua orang-orang di kota memberi salam sopan kepada Xiu Juan dan Reyhan. Hanya Xiu Juan yang tersenyum, dan Reyhan ? Ia hanya memasang wajah datarnya. Xiu Juan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap kekasihnya.


Sebelum mereka keluar jalan-jalan, Raja Xie memberikan pengawal, tapi Xiu Juan menolak keras, akhirnya Raja Xie mengalah. Mereka mencoba makanan kecil yang berjualan di pinggir jalan. Tak hanya satu, dua, tiga pedagang penjual makanan kecil mereka membelinya dan memakannya. Mereka berdua menikmati jalan-jalan mereka.


Tanpa disadari Xiu Juan, ada pengawal bayangkan yang atas perintah Raja Xie, untuk mengawasi Putrinya. Namanya seorang ayah, pasti sangat menghawatirkan putrinya, meski putrinya adalah Putri Kerajaan yang hebat. Dan Reyhan yang mengetahuibya, ia memilih diam, Karena tak ingin merusak suasana hati Xiu Juan.


.


.

__ADS_1


Di tengah-tengah suasana kota Kerajaan Xie damai, tentram seperti biasa, tiba-tiba ada hembusan angin yang lewat menyelimuti wilayah itu. Semua orang terdiam sejenak setelah angin itu lewat. Semua saling berpandangan dan bertanya-tanya.


__ADS_2