Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 81


__ADS_3

"Kau terlalu banyak bicara." ucap Reyhan menatap dingin ke Jian Heeng.


"Aku heran, kenapa kau masih saja tenang disaat-saat terakhirmu ?" tanya Jian Heeng sambil mengernyit dahinya.


"Karena aku sudah lelah, aku ingin segera istirahat." jawab Reyhan yang masih berlutut.


Jian Heeng perlahan melangkahkan kakinya ke arah Reyhan. Hasrat membunuhnya semakin jadi, ia sudah tak sabar ingin membunuh Reyhan. Jian Heeng masih menggenggam pedangnya, seketika pedangnya mengerluarkan api hitam.


"Kau ingin istirahat 'kah ? Biar aku yang mengistirahatkanmu." ucap Jian Heeng yang sudah berdiri di hadapan Reyhan yang masih berlutut.


Lalu ia mengangkat pedangnya ke atas. Jian Heeng berniat menebas leher Reyhan. Dada Jian Heeng naik turun, ia terlihat seperti kehabisan oksigen. Hasrat membunuhnya semakin menjadi, ia sudah tidak sabar. Reyhan hanya memandang dengan wajah datarnya ke arah Jian Heeng.


"Selamat tinggal." ucap Jian Heeng, lalu ia mengayunkan pedangnya.


.


.


.


BUGH !!


Reyhan terkejut tiba-tiba, ada seseorang datang dengan kecepatan kilat di depannya dan langsung menendang kuat ke Jian Heeng hingga terdorong jauh.


"Hey...!! Aku takkan membiarkanmu mati, karena kau adalah rivalku."


Seorang laki-laki tengah berdiri membelakanginya, setelah menendang Jian Heeng. Reyhan mengernyit heran. "Rival ?? Siapa orang ini ?"


Reyhan terbelalak melihat orang itu, tidak asing baginya karena ia pernah bertarung dengannya.


"Jiazhen Kai ?"


Reyhan terkejut melihat sosok yang pernah ia lawan. Putra Mahkota Kerajaan Kai dari Negara Tengah datang menolongnya ?


Putra Mahkota Jiazhen Kai terkekeh melihat Reyhan yang sedang terkejut melihatnya. "Kau sudah mau menyerah melawan iblis pengacau ini ?"


Reyhan menghela nafasnya. "Aku sudah lelah, staminaku sudah terkuras banyak. Aku ingin istirahat dengan tenang."


"Aku takkan membiarkanmu mati lebih dulu, karena aku telah mengakuimu sebagai rivalku." ucap Jiazhen Kai tegas.

__ADS_1


Reyhan tersenyum sinis. "Sejak kapan kita rival, bukankah kau yang jelas-jelas kalah dariku."


"Perlu kau ketahui Putra Mahkota Kerajaan Wan. Kau adalah orang pertama yang telah mengalahkanku. Dan dari situlah aku mengakuimu kau adalah rivalku."


"Tapi tetap saja kau kalah dariku." balas Reyhan tersenyum mengejek.


Reyhan dan Jiazhen Kai terus berdebat. Jiazhen Kai terus mengatakan bahwa dirinya adalah rivalnya Reyhan. Sedangkan Reyhan ia terus mengejek dan menganggap Jiazhen Kai sudah kalah darinya.


.


.


"Apakah pembicaraan kalian berdua telah selesai ?"


Reyhan dan Jiazhen Kai berhenti berdebat. Lalu mereka berdua menoleh kepalanya ke arah sumber suara tersebut. Ternyata Jian Heeng telah berada di berdiri di depan mereka berdua dengan jarak 10 meteran.


Dalam pikiran Jiazhen Kai, ia terkejut melihat Jian Heeng berdiri tanpa luka. Padahal ia telah menendang kuat ke Jian Heeng dengan tendangan hebat miliknya.


"Aku tak menyangka, ternyata Putra Mahkota dari Negara Tengah, Kerajaan Kai bisa datang kemari." ucap Jian Heeng tersenyum menyeringai.


"Ya, aku datang kemari karena aku harus membunuhmu. Kau sudah mengacaukan Kerajaan ayahku. Bahkan kau juga mengacaukan Kerajaan-Kerajaan di Negara lainnya." jawab Jiazhen Kai.


Jadi Jiazhen Kai berniat datang ke Kerajaan Wan sendirian. Ia berniat menemui Raja Kerajaan Wan secara damai, karena ia ingin melaporkan bahwa salah satu putra Raja Wan telah berbuat kekacauan di 4 Negara.


Dari awal Jian Heeng melihat para pengawal penjaga perbatasan Negara telah tewas. Ia sudah menduga kalau sang iblis telah masuk le Negara Barat. Tak disangka, saat ia baru memasuki wilayah terbuka kawasan Kerajaan Wan, ia melihat orang yang pernah mengalahkannya tengah berlutut di depan sang iblis.


.


.


Jiazhen Kai masih berdiri tegak dan menatap tajam ke arah Jian Heeng. Lalu ia menoleh kepalanya melihat Reyhan yang masih berlutut. Lalu ia mengulurkan tangannya. Reyhan yang melihat itu, hanya menatap Jiazhen Kai dan mengernyit heran.


"Untuk kali ini, ayo kita bertarung bersama, karena musuh kita jenis orang yang sama." ajak Jiazhen Kai.


Reyhan terdiam dan menatap dingin ke arah Jiazhen Kai. Lalu ia menerima uluran tanganya, dan berdiri. "Baiklah."


Reyhan menatap Jian Heeng dengan tatapan dingin. Kini ia berdiri di samping Jiazhen Kai. Ia menarik 2 pedangnya dari cahaya portalnya. Begitu juga dengan Jiazhen, ja menarik pedang dari sarungnya.


Tanpa aba-aba. Mereka berdua berlari bersamaan ke arah Jian Heeng. Kini 2 lawan 1, mungkin bagi yang melihat pertarungan itu tidak adil. Tapi tetap saja, sudah ber-2 melawan Jian Heeng, masih saja tak sebanding.

__ADS_1


Reyhan dan Jiazhen Kai bertarung dengan kompak. Meski dulunya pernah menjadi musuh, kini terpaksa berkerja sama demi melawan musuh yang sama dan musuh mereka berdua sangat kuat, ditambah musuhnya memiliki Kekuatan sang iblis.


.


.


.


Reyhan tak bisa terus-terusan mengeluarkan cahaya portalnya, karena kondisi staminanya dan Jiazhen Kai mengerti akan hal itu. Jian Heeng dan Reyhan terus terkena sayatan ayunan pedangnya Jian Heeng. Jiazhen Kai selalu mencoba menyerang tendangan Anginnya. Tapi selalu saja, Jian bisa menghindar.


Saat ada celah, ia menendang lagi dengan tendangan mautnya, tendang petir. Tendangan Petirnya mengenainya. Jiazhen Kai awalnya tersenyum bangga. Tapi perlahan-lahan senyumannya memudar. Jian Heeng masih bisa berdiri. Luka-lukanya tertutup dan kembali sembuh.


Tentu saja Reyhan yang melihat itu terkejut, dipikirannya andai saja staminanya masih cukup, ia tentu saja bisa menggunakan regenerasinya. Reyhan kembali berlutut, staminanya sudah benar-benar hampir mencapai titiknya. Lalu ia memenjam kedua matanya, ia mencoba menenangkan pikirannya.


Disisi Jiazhen Kai, kali ini ia maju sendiri, ia berlari dengan kecepatan kilat, dan saat akan menendang lagi dengan tendangan Petirnya, Jian Heeng bisa menghindar cepat, dan langsung menendang balik ke Jiazhen Kai hingga terdorong jauh ke belakang. Jian Heeng kembali berlari cepat ke arah targetnya.


Disisi Reyhan yang belum sempat membuka matanya, tiba-tiba wajahnya seperti dicengkram erat. Kaget tak main, seketika ia membuka matanya. Terlihat Jian Heeng mencengkram wajahnya. Kedua tangan Reyhan memegang lengan Jian Heeng, ia mencoba melepas cengkraman itu.


Reyhan menyerangnya dengan pedang dan tombaknya yang keluar dari cahaya portalnya ke arah Jian Heeng. Tapi tetap saja, tubuh Jian Heeng beregenerasi dengan cepat. Tiba-tiba Reyhan merasa tubuhnya melemah, ia marasa kekuatan menghilang. Dengan pandangan sayunya, ia melihat Jian Heeng tersenyum menyeringai padanya.


"Kekuatanmu telah kuhilangkan..... Hahahahaha." ucap Jian Heeng sambil tertawa. Seketika pandangan Reyhan menggelap.


.


.


.


Reyhan membuka matanya, kini ia tengah berada padang rumput yang luas, sudah tidak asing baginya. Lalu Ia melihat seorang di depannha, dan yang tak asing. "Raja Gil ?"


Orang yang Reyhan lihat adalah sang Raja Pahlawan, Raja Gil, yang telah memberinya kekuatan.


"Kau sangat lemah !! Percuma kuberikan kekuatanku padamu !!" ucap Raja Gil dengan tatapan tajam.


Reyhan memilih diam, dan tak menjawab.


Raja Gil menghela nafasnya. "Sepertinya sudah waktunya aku harus menarik kembali kekuatanku."


Setelah berkata seperti itu,

__ADS_1


wujud Raja Gil memudar menjadi debu berterbangan, dan menghilang dari pandangannya.


__ADS_2