
Kerajaan Xie.
Saat ini Reyhan dan Xiu Juan membaringkan tubuhnya di rumput. Menikmati indahnya langit yang cerah.
"Apa kau bisa menebak ? Apa yang sedang dilakukan KunLi saat ini ?" tanya Xiu Juan sambil menatap ke arah langit.
"Entahlah, seperti dia harus butuh perjuangan, kakakku ini hatinya dingin sama laki-laki, kecuali kepada ayah, dan aku. Itu pun saat aku membawa tubuh ini pulang, Kak Lin Wei mulai hangat kepadaku." jawab Reyhan menjelaskan.
"Tapi sepertinya sekarang ia mungkin mulai menerima KunLi, karena ia menangis saat KunLi terluka dan tertidur saat perang." lanjutnya.
Xiu Juan tertawa, Reyhan pun ikut tertawa. Lalu mereka berdua terdiam, suasana menjadi hening.
.
.
"Aku tak percaya, aku telah kembali ke kehidupan pertamaku, dan lebih tak percaya lagi, aku bertemu laki-laki yang kucintai." balas Xiu Juan tanpa menoleh kepalanya.
Reyhan menoleh kepalanya dan tersenyum sambil melihat Xiu Juan yang masih menatap langit. "Meski aku berasal dari dari dunia modern ?"
Xiu Juan ikut menoleh kepalanya dan tersenyum indah melihat Reyhan yang sedang melihatnya. "Aku akan tetap mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." balas Reyhan.
Reyhan pun bangun, dan berdiri, lalu ia mengajak Xiu Juan ikut berdiri. Reyhan memegang kedua tangan gadis itu. "Maafkan aku yang tak menyadari waktu di dunia modern kau telah menyukaiku. Sebenarnya waktu itu aku juga mulai menyukaimu, tapi aku tau diri, karena kau tau sendiri, bukankah kau tau di kehidupan keduamu, aku sudah berstatus duda. Dan aku masih trauma kembali merasakan cinta."
"Aku tak peduli, yang terpenting sekarang kita bisa bersama, bahkan kita kembali muda." jawab Xiu Juan tersenyum.
Reyhan ikut tersenyum dan sedikit tertawa kecil. Lalu ia menari tubuh Xiu Juan dan memeluknya. Xiu Juan pun membalas pelukan Reyhan.
__ADS_1
Saat si tengah-tengah mereka berpelukkan, tiba-tiba terdengar suara menggelegar dilangit. Seketika disusul gempa kecil, dan hanya sebentar. Reyhan memeluk erat Xiu Juan. Semua orang yang ada di dalam dan diluar istana pun ikut panik seketika.
"Suara petir dari mana itu ?" tanya Reyhan.
"Aku pun tak tau, tapi sepertinya petir itu sangat besar, karena kita tak melihat petir itu, tapi kita mendengarnya dan mendengar getaran tanah." Xiu Juan yang masih memeluk erat tubuh Reyhan.
.
.
.
.....
Disisi Lain.
"Hahahahahaha...."
.
.
.
Flashback.
Jauh beberapa kilometer dari gunung itu ada sebuah desa kecil, tempatnya masyarakat biasa yang tinggal disana.
__ADS_1
Awalnya Jian Heeng memang ingin mengasingkan diri di tempat desa itu. Ia mencari tinggal disana, kepala desa menawarkan sebuah rumah yang terbuat dari batang pohon kepada Jian Heeng. Jian Heeng pun menerima tawarannya, dengan koin emas yang ia bawa, ia membeli rumah itu. Meski rumah itu terlihat sangat kecil, setidaknya bisa menjadi tempat persembunyiannya. Entah sampai kapan Jian Heeng harus mengasingkan diri, karena ia sudah dicap sebagai buronan di Negara Barat.
Tapi beruntungnya di desa itu tidak ada yang mengenali dirinya, justru rakyat disana mengira ia adalah prajurit yang telah pensiun, karena penampilannya yang memakai zirah. Jian Heeng harus benar-benar bisa hidup susah di desa itu. Tak mungkin ia terus-terusan mengandalkan koinnya yang sudah menipis. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pekerja biasa seperti rakyat di desa itu. Pekerja biasa, seperti berburu, menebang pohon, dan berkebun.
Beberapa hari kemudian ia mencoba berjalan ke hutan dan ingin melewati batas yang dekat di sekitaran gunung dengan awan hitam, karena penasaran. Ada seorang warga desa melarangnya, karena belum ada yang berani melewati perbatasan dengan asalan disana pernah ada tempat iblis yang tinggal di dalam gunung itu. Jian Heeng pun penasaran, akhirnya warga desa itu menceritakan kisah yang dipercayakan dari leluhur-leluhurnya.
Diceritakan iblis kuno yang kuat itu telah mati dibunuh oleh sang pahlawan. Walau iblis itu mati, tapi tidak untuk kekuatannya. Kekuatannya hidup, tapi tak berbentuk dan membutuhkan inang untuk menjadikannya tempat tinggal. Kekuatan itu akan terus mencari tubuh salah satu manusia manapun yang ada didekatnya. Jika sampai kekuatan itu telah masuk ke tubuh manusia, maka sang iblis kembali lahir. Sang pahlawan pun mengorbankan kekuatannya untuk menyegel kekuatan itu ke dalam sebuah batu.
Dan akhirnya tak ada yang berani mencoba memasuki hutan yang ada di gunung itu. Yang dikhawatirkan, jika tanpa sengaja batu itu pecah, kekuatan itu keluar dan langsung masuk ke dalam tubuh manusia. Karena bentuk batu itu menurut cerita bulat seperti bola, dan letak batu itu entah dimana karena batu itu sebesar batu krikil. Jadi tak ada yang berani masuk, karena takut jika batu itu tanpa disengaja terinjak dan pecah.
Hingga sekarang, semua rakyat di desa menjaga kepercayaan leluhur-leluhurnya. Meski itu hanya cerita yang dipercayakan leluhurnya di desa yang ia tinggal. Jian Heeng merasa tertarik. Setelah desa telah gelap malam, ia keluar dari rumahnya. Dengan zirah yang sudah ia kenakan, ia pun dengan diam-diam keluar dari wilayah desa itu, dan masuk kehutan hingga mencapai perbatasan. Dengan modal pedang, sihirnya dan keberanian, tanpa raga ia melewati batas hutan itu.
.
.
.
Jian Heeng sudah di dalam hutan gunung kembar. Ia terus mencari-cari, terkadang ia merasa lapar, maka ia mengambil buah-buahan, dan terkadang ia menemukan hewan ayam hutan atau kelinci hutan, lalu ia buru dan dimakan untuk menghilangkan rasa laparnya. Tanpa menyerah, entah kenapa rasa penasaran dengan batu itu. Ia terus mencari dan mencari, hingga ia menemukan sebuah gubuk yang sudah tak terawat, ia pun tinggal disana.
Sudah 2 bulan Jian Heeng tinggal di dalam sana, Terkadang di dalam hutan itu, Jian Heeng harus bertarung dengan hewan spiritual di dalam sana yang tiba-tiba datang menyerangnya. Tak menyerah, ka terus mencari, dan akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Batu hitam kecil bulat seperti bola, dan sebesar batu krikil. Batu itu menyala-nyala merah darah. Kini batunya telah ia genggam. Tiba-tiba pikirannya tertuju ke Kerajaan.
"Aku sudah tak tertarik menjadi Putra Mahkota dan aku sudah tidak peduli siapa yang menjadi pewaris Kerajaan."
"Aku akan menjadi yang terkuat, dan menguasi semua Kerajaan yang ada di dunia ini."
.
.
__ADS_1
Jian Heeng membawa batu itu ke dalam gubuknya. Ia genggam, lalu menatapnya dengan senyuman jahat. Terlintas pikirannya tertuju seorang yang ia benci. Lalu ia melempar ke atas udara, dengan cepat ia menarik pedangnya, dan mengahancurkan batu itu.