Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Ekstra Part 04


__ADS_3

Alvano menjalankan mobilnya menuju sebuah rumah dimana pesta digelar dengan mewah, Elina bingung dan takut membuat kesalahan karna dibawa ketempat seperti itu oleh Alvano, bosnya sendiri. Merasa tak nyaman dan insecure yang Elina rasakan saat ini berdiri sebelahan dengan Alvano


"Ayo masuk!"ajak Alvano dengan meningkatkan tangan Elina dilengannya,namun merasa Elina yang diam saja membuat Alvano menatapnya


"Ada apa?, Ayo masuk!"tanya Alvano menarik pelan tangan Elina sokongannya pelan


"Tu-tuan"panggil Elina membuat Alvano menatap matanya dalam, dapat Al lihat jika ada rasa tak nyaman dan takut disana


"Hai, lihat aku"pinta Alvano dengan mengangkat dagu Elina menatapnya


"Jangan takut, jangan khawatir oke. Ada aku disini bersamamu, tenanglah dan buatlah rasa nyaman dihakimi bersamaku. Ah ya satu lagi, jangan panggil tuan atau bos, panggil saja Al atau Vano"jelas Alvano dengan mengelus punggung tangan Elina


"Tapi tuan?, saya..."ucapan Elina terpotong saat telunjuk Alvano menempel dibibirnya


"Sssttt... diamlah, jangan takut!, ada aku disampingmu dan tetap tenang jangan terlihat tertekan oke, mereka bisa mengira aku menculik dirimu nanti"ucap Alvano sedikit bercanda


"Ihh,.. aku hanya merasa seperti ada yang mengawasi kita sedari tadi, saat kita melajukan mobil dari rumahku saja aku melihat mobil lain dari jarak agak jauh mengikuti kita tuan. Aku hanya takut jika mereka akan mencelakai dirimu"jelas Elina menatap Alvano khawatir


"Kau khawatir padaku?"tanya Alvano dengan senyum menggoda


"Ya jelas aku mengkhawatirkanmu karna aku.. "ucapan Elina terputus saat hampir keceplosan tentang perasaannya


'Astaga!,hampir saja aku keceplosan tentang perasaanmu sendiri. Kenapa juga aku harus suka dengan bos ku ini saat pertama kali melihatnya?' batin Elina menatap kearah lain


"Aku apa?"tanya Alvano melangkah maju membuat Elina memundurkan langkahnya


"Aku... aku...Lebih baik sekarang kita masuk tuan"ucap Elina mengalihkan pembicaraan mereka dengan menarik tangan Alvano masuk


saat mereka masuk, mereka disambut oleh asisten pemilik acara yang merupakan teman Alvano saat kuliah dulu, mereka saling berpelukkan melepas rindu setelah 5 tahun tak bertemu karna kerjaan


"Alvano...gimana kabar lo bro?"tanya Handrik dengan memeluk Alvano


"Gue baik, lo sama Kalian gimana?"tanya Alvano dengan menatap sang pemilik acara yang sedang menyambut para tamu


"Kita baik, sangat baik"balas Handrik lalu matanya menatap Elina disamping Alvano


"Al!, dia?"tanya Handrik menunjuk Elina dengan matanya


"Ah dia, kenalkan dia Lina, pacar gue"balas Alvano membuat Handrik mendelik


"Serius lo?, gila seorang Alvano yang selama ini gak pernah pacaran, apalagi pacaran tersentuh sama cewek aja enggak sekarang udah gandeng cewek aja, mana cantik lagi"celetuk Handrik dengan menatap Elina dari atas sampai bawah


"Jaga mata lo itu, mau gue congkel hah!"ucap Alvano galak membuat Handrik terkekeh


"Galak bener mba pawangnya, pasti selalu disimpen ini dirumah"goda Handrik mendapat pukulan dikepalanya oleh Alvano


"Sembarangan kalo ngomong, dia cuma pacar belum jadi bini. Dosa gila aja lo"balas Alvano membuat Elina terkekeh


"Sudahlah, kenapa kalian jadi ribut begini, lebih baik kita ke sana, temui temanmu lalu kita pulang"ucap Elina dibalas anggukan kepala dan senyum tampan oleh Alvano

__ADS_1


'Astaghfirullah, pangeran dari mana ini?, kenapa ada lelaki setampan dan semanis dia didunia ini?' batin Elina menatap Alvano yang sedang tersenyum dan cemberut bersama teman-temannya, menggemas sekali menurut Elina


"Ah ya Julian, kenalkan gadis disebelah Alvano. Dia tunangan Alvano"ucap Handrik yang tau jika bosnya ini memang mata keranjang, maka dari itu dia menyatakan Elina adalah tunangan Alvano, Karna Kalian tidak akan mengambil tunangan apalagi istri orang kecuali jika dia tau jika Elina hanya bawahan Alvano


'Yah, gagal gue dapetin bidadari Alvano, kenapa juga harus udah tunangan sih?, apalagi Alvano keluarga Mafia, mati gue kalo sampai merebut tunangannya' batin Julian menatap Elina sendu dengan memaksakan senyumnya


"Ouh bagus dong, gue kira Al belok karna gak mau deket sama cewek, tapi pikiran gue salah. Sekali dapet cantiknya mengalahkan bidadari dong"ucap Julian membuat Elina blussing, melihat wajah Elina memerah karna ucapan Julian, entah kenapa Alvano tak suka melihat itu


Alvano sengaja menarik Elina menjauh dari teman-temannya dan membawanya ke tempat makanan, Elina menatap banyak sekali makanan disana, rasa laparnya mulai terasa


"Al, boleh aku ambil ini?"tanya Elina dengan menunjuk piring berisi kue


"Hmm.. ambillah"balas Alvano menatap wajah Elina yang tersenyum senang


Elina mengambil piring kue tersebut dan memakannya, saat sedang asik memperhatikan Elina makan, sebuah kejadian terjadi membuat Alvano mendorong Elina hingga terjatuh bersamanya


"Al, Tuan Muda!!"teriak teman-temannya dan Dion melihat kejadian itu, dengan segera mereka menghampiri Alvano dan Elina


"Kalian gak papa kan?, ada yang kena panah gak tadi?"tanya Julian khawatir


"Kita gak papa kok, kamu gak papa kan Lin?"tanya Alvano menatap Elina yang terlihat syok


"Sudah, tenanglah ada aku disini, semuanya sudah aman kok, tenang ya"bisik Alvano pada Elina yang kini dipelukkannya


"Kita pulang saja Tuan Muda, situasi mulai tak aman sekarang"ucap Asisten Dion dibalas anggukan kepala oleh Alvano


"Akhh.."ringis Alvano saat lengannya tak sengaja tersenggol oleh Elina


"Kamu berdarah?, kenapa gak bilang kalo kamu luka?, pasti karna panah tadi kan?, pasti sakit kan?, Kenapa gak bilang kalo sakit sih?, lihat kan darahnya keluar kaya gini, kenapa dibiarin aja nanti kalo infeksi gimana?, aku gak suka lihat kamu kaya gini!,aku gak mau kamu terluka kaya gini. Maaf.. maafin aku, ini salah aku, aku.."ucapan Elina terpotong saat tiba-tiba Alvano membawanya kepelukkannya


"Ssstttt.. sudahlah, aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil , nanti juga sembuh"balas Alvano melepas pelukkannya


"Hanya luka kecil kamu bilang, ini itu luka panjang meskipun gak dalam, tapi ini bisa infeksi juga. Jangan bikin aku takut Al, aku takut kamu kenapa-kenapa, aku gak mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu Al"tangis Elina dengan melepas jas Alvano dan darah segar mengucur deras dari sana


Alvano yang mendengar pengakuan Elina barusan membulatkan matanya, dan tentu saja hatinya senang dan bahagia, tapi apa dia tidak salah dengar tadi atas apa yang Elina ucapkan


"Kau bilang apa tadi?, aku tidak salah dengar kan?"tanya Alvano kembali memastikannya


Elina menatap wajah Alvano dengan wajah basah karna air mata, hidung yang merah, kedua pipinya hingga telinga ikut memerah karna menangis


"Mari Tuan Muda, Nona sebaiknya kita pindah dari sini, karna disini sudah tidak aman. Tuan Julian dan Tuan Handrik, kami permisi pamit"ucap Asisten Dion dengan menuntun Alvano


"Silahkan, berhati-hatilah. Al besok aku akan kerumahmu"ucap Julian hanya diangguki oleh Alvano


Alvano dibawa kesebuah rumah sakit terdekat untuk mengobati lengannya yang terluka ditemani oleh Elina, sebenarnya Elina ingin pulang karna dia sangat tidak suka dengan bau obat-obatan, tapi Alvano melarangnya dengan alasan sudah malam


"Biar saya pulang dengan taksi saja tuan"ucap Elina mencoba lepas dari genggaman Alvano yang saat ini sedang disuntik


"Jangan pergi, temani saya sebentar ya. Please!"balas Alvano memejamkan matanya saat jarum tersebut menembus kulitnya

__ADS_1


"Maaf Nona, Tuan Muda trauma dengan jarum. Jadi tolong tetaplah tinggal disini temani Nona"ucap Asisten Dion membuat Elina penasaran


"Trauma?, trauma kenapa?"tanya Elina


"Anda bisa tanyakan nanti kepada Tuan Muda sendiri Nona. saya tidak bisa menjelaskan"balas Asisten Dion


"Hmm.. baiklah"balas Elina menatap Alvano yang sudah terlelap karna obat bius


tak lama, datang Azam bersama keluarganya membuat Elina takut dan gugup sekarang, apakah dia yang akan disalahkan karna celakanya Alvano saat bersamanya


"Sayang!, bangun nak. Ini Mami sayang, jangan bikin Mami takut sayang, bangun Al"tangis Nataza memeluk Alvano


"Maaf Nyonya, kondisi Tuan Muda sudah baik-baik saja, hanya menunggu beliau sadar saja karna obat bius dan lukanya baru saja dijahit"ucap Asisten Dion membuat Azam mengangguk dan Nataza menangis menatap putra sulungnya


"Kenapa cucuku bisa seperti ini?"tanya Ayah Tama menatap Asisten Dion dan Elina bergantian


"Tadi saat diacara tersebut, ada seseorang yang sengaja melesatkan panah kearah Nona Elina, namun Tuan Muda yang melihat itu langsung mendorong Nona Elina hingga mereka terjatuh, tapi sebelum mereka terjatuh panah tersebut sempat menggores Tuan Muda hingga Tuan Muda disini sekarang"jelas Asisten Dion lalu pandangan mereka menatap Elina


"M-maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu jika ada orang yang sengaja mengincar saya, sekali saya minta maaf atas semua yang terjadi pada Alvano"ucap Elina dengan menunduk, namun yang dia dapatkan dari Nataza membuat dia terkejut, ya Nataza memeluknya erat


"Ini bukan salahmu nak, ini sudah takdir Allah yang membuat Al berakhir disini. Jangan salahkan dirimu sendiri ya. karna ini bukan salahmu"jelas Nataza dengan memeluk Elina


"Terimakasih Nyonya, sekali saya minta maaf atas kejadian ini ,Nyonya, Tuan"ucap Elina dibalas tepukan pelan oleh Azam dengan senyum mengembang


"Tidak masalah, dia laki-laki bukan, anggap saja sebagai latihan ketahanan dan kekuatan tubuhnya"balas Azam membuat yang lain terkekeh


"Nama kakak siapa?"tanya Aiden yang memang sedikit playboy


"Elina Pamela Jordan, panggil saja Elina"balas Elina menatap bocah 17 tahun itu


"Nama yang cantik seperti orangnya"celetuk Aiden membuat Elina terkekeh


"Dasar, gak bisa lihat cewek bening sedikit aja, kak Elina itu gebetan Kak Al, jadi jangan ganggu dia apa lagi sampe rebut dari kak Al kalo gak mau singa ngamuk"ucap Nasyla


"Bocil diem aja deh, jangan banyak bicara. Mending makan es krim aja sana"usir Aiden lalu duduk disamping Elina


"Ishh.. aku bukan bocil ya?, aku itu udah SMA, jadi jangan panggil bocil"balas Nasyla


"Sudahlah, kalian ini. Kak Al masih belum bangun tapi kalian ribut, Emm... Elina maafkan adik-adikku ya?"ucap Elvina


"Tidak masalah, aku justru senang kalau ramai seperti ini. Kau?"balas Elina dengan menatap wajah Elvina dan Alvano bergantian


"Aku saudara kembarnya kak Al, dan kau?"tanya Elvina


"Aku temannya Al, Emm.. lebih tepatnya karyawan dikantornya Al"balas Elina


"Kebetulan yang menarik ya, nama awal kita sama yaitu El dan kita sama-sama dekat dengan kak Al"ucap Elvina dan dibalas anggukan canggung oleh Elina


"Kak Al suka padamu jika kau tak menyadarinya"bisik Elvina lalu melangkah keluar ruangan mengikuti orang tuanya

__ADS_1


"Hah!, Gak mungkin kan?, Apa aku yang salah dengar"gumam Elina bingung sambil menggosok telinganya


"Kau tidak salah dengar dan itu semua mungkin terjadi, aku memang suka padamu"ucap Alvano yang ternyata sudah sadar sedari tadi dan Elina terkejut mendapati Alvano sadar dan pastinya mendengar apa yang Elina ucapkan


__ADS_2