
Pagi hari yang seharusnya memancarkan cahaya matahari, tapi seakan langitpun tak ingin memperlihatkan keceriaannya pagi ini. Awan hitam menggumpal dilangit seperti menunjukkan kesedihannya yang akan tumpah.Kondisi Nataza sudah mulai membaik sejak semalam dia muntah hingga membuat Azam tak tega dan harus bolak balik menggendong Nataza ke kamar mandi
Saat ini Azam duduk ditepi ranjang menatap Nataza yang masih memejamkan matanya sehabis minum obat, saat sedang mengusap dahi Nataza yang sudah turun panasnya, Azam terkejut karna kedua anaknya menangis bersamaan di dalam box bayi lalu dia menghampirinya dan menggendongnya
"Cup..cup..cup.., hai anak Papi kenapa hmm,kok nangis barengan gini?,laper ya nak ya?"tanya Azam dengan menimang kedua anaknya lalu membawanya keluar dari kamar
"Bund..!!.Bunda..!!"panggil Azam kepada Bunda Ayu yang ada di dalam kamarnya
"Kenapa Zam?,ini mereka kenapa kok nangis gini?"tanya Bunda Ayu yang terkejut melihat kedua cucunya menangis bersamaan
"Kayaknya haus deh Bund, stok susu di kulkas yang kemarin di perah sama Aza masih gak Bund?, soalnya Azam baru aja tidur karna semalem kepalanya sakit lagi. Cup...cup..sayang!!sebentar nak!!"ucap Azam dengan meniman Alvano yang masih menangis kencang
"Sebentar Bunda cek dulu ya, Ayah tolong gendong Elvina ya?"ucap Bunda Ayu memberikan Elvina kepada Ayah Tama yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Sini cucu Opa, kenapa sayang?,laper ya?"ucap Ayah Tama menggendong Elvina yang masih saja menangis
"Aza belum bangun Zam?"tanya Ayah Tama kepada Azam yang asik menghibur Alvano dengan bunga dan yang lainnya
"Belum yah, dari semalem dia gak tidur karna kepalanya sakit terus, aku juga baru bisa tidur jam 2 pagi,itu pun kebangun lagi saat Aza muntah-muntah di kamar mandi,tapi suhu tubuhnya udah turun kok"jelas Azam
"Ya Allah, kapan Aza bisa sembuh ys, kasihan dia, Al dan El juga, mereka juga butuh Maminya"gumam Ayah Tama menatap Elvina yang tidur mungkin lelah karna menangis
__ADS_1
"Aku juga gak tau yah,aku hanya takut aja kalo Aza nyembunyiin penyakit lain dari kita atau dokter Widia yang kurang teliti"balas Azam menatap ke arah tangga melihat Nataza keluar dari kamar,dengan terburu-buru Azam menghampiri Nataza
"Kamu kok keluar sih?"tanya Azam dengan menghentikan lengan Nataza yang hendak turun dari tangga
"Aku mau nenangin anak-anak mas, Aku mau ke dapur juga ambil makanan, aku laper"jawab Nataza, astaghfirullah Azam sampai lupa jika Istrinya belum sarapan
"Ya udah lewat lift aja, jangan lewat tangga, kamu masih belum sembuh total untuk turun lewat tangga"ajak Azam dengan menuntun Nataza pergi ke arah lift
"Al,mau sama Mami sayang?"tanya Nataza lalu menggendong Alvano, baru saja akan melangkah kepalanya sudah mulai nyeri, Azam yang menyadari itu langsung menahannya agar tak jatuh menimpa meja
"Kamu kenapa?,kepalanya sakit lagi?"tanya Azam dengan mendudukan Nataza di sofa ruang keluarga
"Gak papa mas, udah gak sakit kok. Tadi cuma agak pusing aja"jawab Nataza dengane menampilkan senyum manisnya
"Maaffin aku mas kalo aku pernah sembunyiin sakit aku dari kamu,bahkan semua keluarga pun gak ada yang tau. Rasanya aku hanya beban disini, aku gak pantes untuk hidup dan jadi istri kamu. Benar kata Debora kalo aku hanya pembawa sial untuk kamu, aku gak pantes hidup bahkan jadi istri kamu, aku.."ucapan Nataza terpotong saat suara gelas pecah dari belakang mereka membuat Ayah Tama dan keduanya menoleh
"Kamu mau membenarkan ucapan wanita gila itu, kamu dengan mudahnya menerima semua omongan wanita gila itu. Dia yang gak pantes hidup dengan putraku, dia yang pembawa sial seperti Mamanya, dia yang seharusnya menerima yang saat ini kamu rasakan. Bunda gak suka dan gak akan pernah suka saat kamu membandingan diri kamu dengan dia"ucap Bunda Ayu lalu pergi ke kamarnya
" Bund..Akhh..."rintihnya dengan memegang kepalanya yang sakit kembali dan itu berhasil membuat Bunda Ayu kembali padanya
"Kamu gak papa sayang?"tanya Azam dan Bunda Ayu bersamaan
__ADS_1
"Gak papa Bund, Mas.Tadi cuma nyeri sedikit kok"jawab Nataza
"Beneran,kita kembali ke kamar ya?"ajak Azam dan di angguki oleh Nataza
"Hati-hati nak, ayo Yah kita bawa Al dan El ke kamar mereka"ajak Bunda Ayu
Di kamar Azam merebahkan Nataza miring untuk menyusui kedua anaknya bergantian, sedari tadi Alvano tak berhenti menangis sementara Elvina dia yang sudah tidur bangun kembali karna suara gelas jatuh yang Bunda Ayu buat
"Setelah mereka tidur, kamu sarapan ya lalu minum obat trus istirahat lagi ok, jangan keluar kamar tanpa seizin aku"ucap Azam dengan mengelus kepala Nataza yang menyusui Alvano dan di angguki olehnya
****
Ditempat lain, yaitu kota New York,dimana sekarang sepasang pengantin baru yang baru saja selesai melakukan malam pertama dan bersiap untuk tidur karna sudah sangat mengantuk, mereka tak memikirkan untuk mandi yang penting mereka bisa mendapatkan kehangatan. Adam memeluk Istrinya yang baru saja memejamkan matanya karna lelah tentunya,tiba-tiba pikirannya melayang memikirkan adiknya yang saat ini masih sakit
Kirana yang menyadari jika suaminya tengah memikirkan sesuatu dan terlihat melamun, dia menyentuh rahang tegas Adam hingga Adam menatapnya dengan senyum tampannya
"Kamu kenapa mas?,kok ngelamun gitu?, ada yang mengganjal di hati dan pikiran kamu?"tanya Kirana dangan mengusap pipi Adam, dan Adam dia memejamkan matanya merasakan usapan di wajahnya
"Aku kepikiran Zaza Babe, apa dia udah sembuh atau belum?, aku khawatir dengan keadaan dia"jawab Adam lirih dengan menatap Istrinya sendu
"Aku yakin dek Aza baik-baik aja kok, dia perempuan hebat dan perempuan yang spesial. Dia bisa tegar dalam menghadapi kehidupannya meskipun penuh dengan luka, aku tau jika dia juga wonder women untuk keluarnya. Allah selalu ada untuk umatnya mas, dia pasti selalu dalam lindungan Allah, disana ada Azam suaminya,ada mertuanya, ada adik ipar yang begitu sayang sama dia. Jadi mas jangan sedih dan jangan khawatir sama dek Aza, dia pasti baik-baik aja selama dia dalam keluarga yang benar-benar sayang dan cinta sama dia"jelas Kirana dengan senyum cantiknya
__ADS_1
"Iya Babe, makasih banyak udah hadir di hidup aku dan memberikan semua kasih sayang dan cinta yang gak pernah aku dapatkan selama hidup aku. Makasih juga karna kamu udah mau terima semua kekuarangan dan kelebihan,aku banyak-banyak terimakasih karna mau menerima adik aku"ucap Adam lalu mencium bibir Kirana
"Terimakasih kembali mas"jawab Kirana lalu memeluk Adam