
Malam harinya, semua anggota keluarga datang ke restoran milik keluarga besar Aditama, mereka mengadakan makan malam keluarga bersama disana untuk merayakan ulang tahun mendiang Opa Aditya besok.
Elina tengah duduk dimeja rias sedang memasang sebuah anting, dirinya sudah lengkap dengan dress warna hitam dibawah lutut dan lengan tipis hitam senada yang dipadukan dengan kulitnya yang putih bersih terlihat begitu kontras, rambutnya yang ia cepol menyisakan sedikit didepan telinga untuk menutupi pipi cubbynya dan riasan tipis yang Ia pakai diwajahnya.
(Abaika rambutnya ya gaes, karna milik Elina panjang dan saat ini dicepol).
sementara Alvano memakai jaz hitam senada dengan istrinya yaitu hitam, kemeja putih, celana hitam dan dasi hitam putih kotak-kotak membuatnya terlihat tampan dan berkharisma.
Alvano masuk kedalam kamarnya menghampirinya yang belum juga selesai, Ia berdiri dibelakang Elina dan merebut anting istrinya itu lalu memasangkannya perlahan ketelinga istrinya, sementara Elina hanya tersenyum mendapat perlakuan tersebut dari Alvano.
"Selesai. Ada lagi sayang?"tanya Alvano dibalas gelengan oleh Elina.
"Baiklah ayo"ucap Alvano melingkarkan lengan kekarnya dipinggang istrinya, namun saat menoleh pada Elina, dia melihat ada yang kurang dan melepas rangkulannya kemudian berjalan kembali ke meja rias mengambil sesuatu disana.
"Ngapain mas, udah mau telat ini?"tanya Elina sambil melirik jam tangan miliknya.
"Sebentar sayang, ada yang kurang"jawab Alvano kembali menghampiri Elina dan melingkarkan sebuah kalung berlian kecil dileher putihnya.
"Dah, cantik banget deh"puji Alvano lalu mengecup pipi istrinya.
"Makasih sayangku"jawab Elina membalas kecupan Alvano dibibirnya membuat sang empu tersenyum senang.
"Yuk jalan"ajak Alvano diangguki oleh Elina dan mereka. pergi ketempat tujuan.
mereka turun kelantai bawah dengan mesra bahkan bi Mirna dan bi Asih menganga melihat tuan dan nona mereka begitu tampan dan cantik.
"Ya allah, tuan teh kasep pisan...aduhh.. hati Asih berdebar melihat ketampanan tuan Al,pengin terbang aja rasanya bibi teh lihat tuan Al..."ucap bi Asih sambil memegang dada kirinya sambil tersenyum menatap Alvano.
"Ho'oh... neng El juga cantiknya minta ampun... bikin hati Mirna adem lihatnya. Cocok banget mereka"balas bi Mirna sambil menopang wajahnya menggunakan kedua tangannya yang bertumpu pada meja dapur menatap keduanya.
Elina menoleh menatap mereka berdua yang masih asik menatap Ia dan suaminya, Alvano hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bi Asih dan bi Mirna yang terus melamun menatap keduanya. Tak lama mang Trisno/Tris datang dia tukang kebun dirumah Alvano membawa segelas cangkir yang jelas isinya adalah kopi.
"Eh.. tuan, nona. Sudah mau berangkat?"tanya mang Tris sambil membukukan badannya sedikit.
"Iya mang, tolong sadarkan itu bibi berdua. Mereka terus melamun lihatin kita terus"jawab Elina menunjuk bi Asih dan bi Marni yang masih ditempatnya dengan posisi sama.
"Baik non, silahkan tuan dan non pergi saya. Bukan maksud saya mengusir, tapi saya hanya takut jika tuan dan non akan telat keacara itu"ucap mang Tris dengan menggaruk pelipisnya dan menunduk merasa tak enak.
"Tidak masalah mang,kami pergi dulu. Ouh iya, tolong sadarkan mereka ya mang, takut kerasukan nanti"jawab Alvano terkekeh menatap bi Asih dan bi Mirna yang masih melamun sambil tersenyum manis pada mereka.
"Siap Tuan, hati-hati"cicit mang Tris diacungi jempol oleh Alvano.
setelah kepergian Alvano dan Elina yang Tenang menghampiri kedua bibi disana dengan mengayunkan tangannya kedepan wajah mereka, tapi sama sekali mereka tak bergeming palah semakin tersenyum.
"Bi... bi Asih!!.."panggil mang Tris sambil menggoyangkan sedikit pundak bi Asih lalu bergantian pada bi Mirna.
"Astaga, mereka sama sekali gak dengar omongan saya. Bagaimana ya? Ahah! saya punya ide"gumam mang Tris lalu melangkah menuju dapur dan mengambil baskom steanlis juga centong nasi, kemudian dia bawa menghadap kedua bibi disana.
1...
2....
3...
Tang... tang... tang...
__ADS_1
"Kebakaran bi!!!...kebakaran!!!...."teriak mang Tris berhasil membuat mereka terkejut dan lari mengambil kain yang dibasahkan sementara bi Asih mengambil ember kecil berisi air.
"Mana kebakaran?!!...mana apinya mang?!!"tanya mereka heboh berlari kesana kemari menjadi yang terbakar, sementara mang Tris hanya tertawa hingga lemas melihat kedua bibi itu tertipu olehnya.
"Bhahahahaha... ketipu kalian.... Hahaha..."tawa mang Tris membuat keduanya kesal dan bi Mirna melemparkan kain basah tadi pada mang Tris dan tepat mengenai wajahnya, sementara bi Asih kembali membawa embernya dan justru melemparkan tomat dan masuk kedalam mulut mang Tris yang akan mengomel tadi.
"Rasain tuh, makan tuh tomat busuk"mang Tris langsung mencuci mulutnya saat mendengar kata tomat busuk, sementara bi Mirna dan bi Asih terus menggerutu sebal pada mang Tris.
"Untung gak mati saya gara-gara tomat busuk"gumam mang Tris mengusap dadanya.
****
Alvano dan Elina. kini telah sampai direstoran yang dibooking oleh Ayah Tama untuk acara ulang tahun mendiang Opa Aditya, terlihat mobil keluarganya sudah berbaris rapi diparkiran restoran termasuk mobil Adam ada disana
mereka turun dari mobil lalu masuk kedalam restoran yang terlihat sepi, disana mereka berdua dituntun oleh manajer restorannya langsung untuk masuk menuju tempat yang sudah disiapkan oleh mereka.
sampainya ditempat yang disiapkan, mereka masuk dan melihat kelurganya tengah duduk bersama sambil berbincang dibangku masing-masing.
"Assalamualaikum"salam Alvano dan Elina bersamaan.
"Waalaikumsalam"balas mereka semua yang mengalihkan tatapan mereka menatap keduanya.
"Om Al...."teriak kedua anak kecil menghampiri Alvano yang langsung berjongkok dan memeluknya.
"Hai sayangnya Om"balas Alvano membalas pelukan mereka.
"Om Al sama tante El kok lama sih? kan kata Mommy jam 7 malam, kenapa Om sama tente datengnya jam 8 malam?"pertanyaan polos salah satu anak kecil berambut keriting yang usianya sekitar 6 tahun itu membuat semuanya tertawa.
"Maafkan Om sama tente ya sayang, kita kehendak macet dijalan tadi. Jadinya kita telat deh"jawab Alvano diangguki oleh kedua bocah itu.
"Sayang, sini dulu nak. Kasihan Om sama Tante capek, biarin mereka duduk dulu ya"ucap seorang wanita yang merupakan adik Azam, ya dia Alika dan anak kecil berambut keriting tersebut adalah anak bungsunya.
"Dinda, kemari sayang. Biarkan tante dan Om duduk sayang, kasihan mereka baru sampai. Duduk sini"perintah Kirana istri Adam, ya dia melahirkan kembali putri bungsunya tak beda jauh umurnya dengan Nathali hanya beda 1 tahun saja.
"Siap Mami"jawab Dinda lalu berlari menghampiri Kirana.
Alvano bangkit dan menuntun istrinya duduk dibangku samping kedua orang dituanya, sementara dia duduk disampingnya dan samping Opanya lalu acarapun siap dimulai.
sebuah nasi kuning tumpeng cukup besar dibawa oleh beberapa pelayan menuju tengah meja makan mereka, mereka hanya sekedar tasyakuran ulang tahun mendiang Opa Aditya dan besok harinya adalah acara bersama anak yatim piatu dan anak pondok pesantren dirumah utama untuk mendoakan mendiang Opa Aditya.
"Baiklah sebelum kita memotong nasi kuning tumpeng ini, mari kita berdo'a terlebih dahulu dan berdo'a untuk Opa Aditya diakhirat sana, semoga beliau mendapatkan ketenangan dan jalan terbaik menuju surganya Allah SWT. Amin"ucap Ayah Tama memimpin acara malam ini setelah melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 24.00 malam.
"Amin"jawab mereka serempak.
"Berdo'a. Mulai"aba-aba Ayah Tama lalu semuanya menunduk untuk berdo'a bersama.
"Berdoa. Selesai"lanjutnya setelah selesai berdo'a beliau memotong ujung nasi kuning tumpeng tersebut dan meletakkannya diatas piring lalu memberikannya pada putranya Azam.
Ya karna Azam memiliki wajah yang sama persis dengan Opa Aditya ketika masih muda, sementara dengan Alvano juga Elvina hanya beda dibagian mata dan hidungnya saja yang telihat lebih sipit dan mancung.
"Papi adalah duplikat Opa buyut, bahkan setiap bentuk wajah kalian tak ada yang berbeda satupun, semuanya sama persis dari tahi lalat diatas mata kanan sekalipun"ucap Elvina melihat foto Opa buyutnya di ponselnya dengan menatap Papinya bergantian.
"Ya Papi tau itu El"jawab Azam kembali memakan nasi kuningnya yang Ayahnya berikan.
makan malam terus berlanjut hingga pukul 01.40 malam mereka kembali kerumah masing-masing, hanya makan malam bersama keluarga untuk merayakan ulang tahun Opa buyutnya membuat Alvano senang, ya meski dia hanya mengenal Opa buyutnya hingga usia 10 tahun saja.
"Happy Birthday Opa, Al berharap Opa bahagia disurga sana bersama Oma Irena istri tercinta Opa hingga akhirat sana" batin Alvano saat mengendarai mobilnya menuju jalan pulang.
Alvano melirik kesamping dan melihat istrinya yang sudah tertidur dengan jasnya sebagai selimut, meski sedikit dan tak semua namun bisa memberikan kehangatan sementara pada istrinya.
__ADS_1
Senyumnya mengembang saat Elina menggeliet dan bergeser memeluk lengan kekarnya untuk dijadikan bantal, telapak tangannya memegang tangan Elina lalu mengusapnya lembut.
"Sebentar lagi kita sampai sayang, sabar sebentar ya cantik"bisik Alvano lalu membelokkan mobilnya kekiri memasuki perumahan rumahnya.
sampainya didepan rumah, Alvano membunyikan klakson dan pintu gerbang terbuka dengan otomatis, Alvano masuk kehalaman rumahnya dan disambut oleh Ben beserta anak buahnya.
"Ben, tolong pegang pintu mobilku"perintah Alvano yang sudah membuka pintu mobil sampingnya dimana tempat Elina berada, dan Ben langsung memegangnya.
Alvano menggendong Elina keluar dari mobil dan membawanya masuk, Ia memberikan kunci mobilnya pada Ben untuk diparkiran digarasi.
Alvano masuk kedalam kamarnya sambil menggendong Elina dengan perlahan. Jam 2 pagi, pantas saja istrinya begitu nyenyak tidurnya apalagi setelah tadi makan lumayan banyak dan pastinya lelah. Ia rebahan Elina ke atas ranjangnya dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah merebahkan Elina, Ia melangkah menuju walk in closet untuk mengambil baju tidurnya juga istrinya, lalu Ia mengantikan baju istrinya dengan perlahan tanpa menggangu tidur nyenyaknya, selesai diganti Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya sampai dada, lalu dia mengecup dahinya lembut sebelum Ia berganti baju dengan baju tidur.
Alvano kembali menuju ranjang setelah berganti pakaian, Ia merebahkan dirinya disamping istrinya dan memeluknya sehingga wajah Elina menabrak dada bidangnya dengan pelan.
"Sweet dream my wife. Sweet dream my boy"bisik Alvano sambil mengecup pucuk kepala Elina dan tangannya mengelus pelan perut Elina yang mulai terlihat, lalu dia ikut memejamkan matanya menyusul istrinya kealam mimpi
*****
Pagi harinya, tidur Alvano terganggu karna mendengar suara orang muntah didalam kamar mandi, Ia melirik kesebelahnya dan tak melihat Elina disana.
dengan segera dia turun dari ranjang menghampiri istrinya yang sedang mengalami morning sickness, Ia melihat Elina yang tengah berjongkok didepan kloset mengeluarkan semua isi perutnya, Ia segera memijit tengkuk Elina dengan pelan.
"Udah hmm?"tanya Alvano khawatir sambil menghapus keringat dipelipis Elina setelah dia selesai mengeluarkan semua isi perutnya, kini Elina terduduk dilantai kamar mandi bersandar pada dada bidang suaminya.
Elina hanya mengangguk sebagai jawaban, dia sudah sangat lemas bahkan wajahnya berubah pucat dengan kondisi tubuh yang dingin. Alvano langsung menggendong Elina kembali kedalam kamarnya dan mendudukannya diranjang dengan bersandar disandaran ranjang.
Ia melangkah menghampiri laci nakas mengambil ponselnya dan menghubungi bi Asih supaya membuatkan jahe hangat untuk Elina dan membawanya sekalian kekamar mereka, setelahnya dia menatap Elina yang memejamkan matanya dengan tangan mengusap perutnya
"Kenapa? masih mual hmm?, kita kerumah sakit ya kalo masih mual, biar dikasih obat anti mual buat kamu, obatnya habis sayang. Kerumah sakit aja ya?"tanya Alvano dibalas gelengan oleh Elina
"Gak usah mas, udah gak mual lagi kok"jawab Elina namun terlihat jelas jika dia menahan mual
Tok... tok..tok...
"Tuan.. ini Mirna antar jahe anget punya non Elina"teriak bi Mirna didepan kamar mereka
"Iya Mirna, sebentar"jawab Alvano setengah teriak lalu melangkah membukakan pintu kamarnya dan melihat Mirna tengah tersenyum padanya sambil memegang nampan
"Ini tuan jahe angetnya"ucap bi Mirna menyodorkan nampan tersebut
"Makasih banyak Mirna, kamu boleh kembali"ujar Alvano setelah mengambil gelas berisi jahe hangat tersebut
"Baik Tuan. Permisi"pamit bi Mirna lalu pergi kembali ke dapur
setelah menutup pintu, Alvano menghampiri Elina yang pergi kembali kekamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya, dia meletakkan gelas tersebut diatas nakas dan menghampiri Elina dan membantunya dengan memijit tengkuknya
selesai dari kamar mandi, Alvano mendudukan kembali Elina diranjang dengan bersandar disandaran ranjang lalu menyerahkan jahe hangat tadi pada Elina
"Pelan-pelan"ucap Alvano sambil membantu Elina meminum jahe hangatnya
"Udah?"tanya Alvano dibalas anggukan oleh Elina, Ia meletakkan gelas tersebut diatas nakas dan membantu Elina untuk merebahkan dirinya istirahat
"Bobo lagi ya, nanti aku bangunin kalo sarapannya udah jadi"perintah Alvano diangguki kembali oleh Elina sebagai jawaban karna saking lepasnya, bahkan wajahnya sudah benar-benar pucat
Pandangan Alvano beralih pada perut Elina dibalik selimut tebalnya, dia menurunkan selimut tersebut sampai pinggang. Tangan kekarnya terulur untuk menyentuh dan mengusap lembut perut istrinya. Ia menunduk lalu mengecupnya pelan dan beralih pada dahi juga bibir Elina lembut dan pelan
"Anak Ayah. Jangan nakal lagi ya nak, kasihan Bunda sakit sayang, Bunda gak bisa makan apapun karna kamu selalu menolaknya. Anak Ayah kan baik, jadi kamu gak boleh nakal oke"bisik Alvano didepan perut Elina lalu mengecupnya kembali dengan pelan, tanpa Ia sadari Elina mendengar semua yang Alvano katakan membuatnya tersenyum bahagia namun tipis
__ADS_1