
Nataza datang ke kantor Azam, dia disambut dengan ramah oleh para pegawai yang dulu adalah teman kerjanya atau teman lemburnya saat masih bekerja menjadi sekertaris dikantor itu selama 1 ½ tahun. Nataza masuk kedalam lift dan disana terdapat beberapa pria yang mungkin adalah karyawan Azam. Nataza tetap bersikap ramah meski sedikit tak nyaman dengan dorongan dari orang dibalakangnya
Ya meski usianya 44 tahun, tapi dilihat dari wajah dan postur tubuhnya tetap seperti seorang mahasiswa, tak jarang orang memanggilnya dengan sebutan kak. Tapi berbeda ketika bersama Alvano atau pergi bersama Alvano pasti akan dipanggil ibu, karna Alvano memanggilnya Mami dan kadang ada yang mengira mereka adalah pacaran
Tok... tok... tok...
mendengar suara ketukan pintu membuat atensi Azam pada leptop beralih kepintu ruangannya. Azam melirik jam tangannya dan tersenyum, dia tau siapa yang datang kali ini
"Masuk"ucap Azam meminta seseorang itu masuk, dan orang itu mendorong pintu ruangan Azam dan menyembuhkan kepalanya melihat sekeliling ruangan Azam
"Mau sampai kapan kau menjadi pengintai seperti itu honey? "tanya Azam dengan senyum menawan diwajahnya melihat sang istri tercinta datang membawa rantang makan siang untuk mereka tentunya
"Kau tau kalo aku yang datang mas?"ucap Nataza berbalik bertanya pada Azam yang kini menatapnya dengan senyum
"Aku sudah tau saat kau masih dinsekitan hone,aku dapat merasakan itu. Jadi mana mungkin aku tak tau jika istri cantikku ini datang hmm?"balas Azam dengan melangkah menghampiri Nataza yang duduk disofa
Azam mendekati Nataza dan memindahkan Nataza kepangkuannya dan sedikit ******* bibir istrinya, lalu tatapan mereka menyatu dalam dan terkekeh bersama. Azam baru menyadari hari ini istrinya sangat cantik dengan gaun dibawah lutut dengan warna kesukaan istrinya biru langit
"Kau sangat cantik hone hari ini. Aku begitu terpikat padamu hari ini honey" ucap Azam dengan mengecup pipi Nataza lama
"Mau makan siang sekarang hone?"lanjutnya dengan menatap wajah Nataza yang tengah tersenyum padanya
"Boleh, aku udah laper dari tadi"balas Nataza dengan berpindah duduk disamping Azam, namun dicegah oleh Azam
"Duduk saja dipangkuan ku honey, aku ingin memelukmu dan mencium bau khas tubuhmu ini yang begitu menyeruak segar"ucap Azam membuat Nataza blussing
"Masak apa siang ini?"lanjut Azam dengan mengecup pipi Nataza yang merah
"Makanan kesukaan kamu, ada sup rawon, nasi goreng resep korea dan panna cotta" balas Nataza dengan senyum mengebang
(Sup Rawon)
(Nasi goreng resep korea)
(Panna Cotta)
"Maaf ya mas, aku gak bikin ayam pedes, soalnya aku belum ke pasar buat beli cabe"lanjut Nataza dengan menundukkan kepalanya
"Gak papa kok, ini aja udah cukup banget buat aku. Ini tuh tetap jadi makanan terenak meski gak ada ayam pedes kesukaan aku. Beli cabenya 1 karung sekalian yah?, biar gak kehabisan kaya gini"ucap Azam membuat Nataza terkekeh
__ADS_1
"Iya...iya... nanti beli cabe yang banyak khusus buat ayam pedes spesial untuk kamu"balas Nataza dan mendapat kecupan dari Azam
"Oke sekarang makan, tapi suapin ya? "manja Azam dengan menyembunyikan wajahnya didada Nataza
"Utututu... bayi gede, gak inget anak udah pada gede, masih aja minta disuapin"ejek Nataza membuat Azam cemberut
"Ya gak papa, masa iya anak terus yang dimana. Suami kamu juga butuh dimana sama kamu apalagi butuh suapan hangat dari kamu"balas Azam dan mencuri ciuman dipipi Nataza
"Iya masku yang manjanya melebihi Nasyla sama Aiden"ucap Nataza membuat Azam terkekeh lalu membuka kembali mulutnya untuk disuapi kembali
Setalah selesai makan. Azam kembali mengerjakan berkas kantornya yang belum selesai, sementara Nataza sudah pulang sedari tadi untuk pergi bersama Azam nanti sore, entah kemana dia tidak tau. Azam sebegitu fokusnya terhadap berkas dan laptop. Tanpa dia sadari sudah pukul 4 sore, saatnya dia pulang dan menutup laptopnya, namun matanya melihat sebuah secarik kertas di sudut laptopnya dan dia hanya terkekeh melihat pesanan istrinya
Azam mengendarai mobilnya pulang, tepat ditipu jalan penjual martabak, dia segera turun dan membeli pesanan istrinya tadi pagi yaitu martabak keju, setelah pesenannya jadi. Azam segera menjalankan mobilnya pulang kerumahnya
sampainya dirumah, dia tak melihat Nataza di ruang tamu atau keluarga, bahkan dapur pun tak terlihat sama sekali, dan anak-anak juga belum pulang dari kantor dan yang sudah pulang sekolah tak terlihat
"Bi, semua orang pada kemana? "tanya Azam kepada Bi Ani yang sedang membersihkan meja dapur
"Eh aden, Non Aza ada dikamarnya bersama non Nasyla dan Non Elvina. Sementara den Alba sama den Aiden lagi keluar beli sesuatu gitu, saya kurang tau"ucap bi Ani membuat Azam mengangguk
"Makasih bi, kalo gitu aku keatas dulu"balas Azam dan berlalu menuju tangga naik ke kamarnya
sampainya didepan kamar. Azam mendengar suara kedua putrinya yang tertawa renyah bersama dengan istrinya membuat Azam tersenyum bahagia didepan pintu kamarnya, tanpa Azam sadari kedua putranya berdiri tepat dibelakangnya berniat mengejutkan Papinya
"Mau ngapain? "ucap Azam lalu membalik tubuhnya saat tau ada orang dibelakangnya
"Papi ngapain didepan kamar sendiri?, Papi ngintip ya?, bintitan baru tau rasa nanti"ejek Alvano dengan menunjukkan matanya sendiri kearah Papinya
"Sembarangan kalo ngomong tuh mulut, mau Papi lakban Hah? "tanya Azam dengan sedikit mengancam
"Jangan dong, nanti mulut aku dower karna lakban"balas Alvano
"Biarin aja dower, mulut kamu itu kalo sama Papi kaya emak-emak tukang nyinyir. Kamu punya dendam tersembunyi sama Papi? "ejek Azam dengan mata tajamnya
"Gak ada kok, kan Al sayang seduniaaa... sama Papi"balas Alvano lalu memeluk Azam dan mencium pipi Azam
"Masa?, kok Papi gak yakin sama kamu?, atau kamu bukan anak Papi?"tanya Azam selidik, sebenarnya dia ingin mengerjai Alvano saja yang memang manja padanya dan Nataza
"Papi kok ngomong gitu, kan aku kembar sama Elvina, kalo aku bukan anak Papi berarti El juga bukan anak Papi"balas Alvano dengan menggenggam tangan Azam
"Kamu gak kembar kok sama Elvina, malah jauh banget sama El"ucap Azam dengan menahan tawanya melihat wajah Alvano yang siap menangis
"Papi bohong kan?, Papi pasti bohong. Aku mau ngomong sama Mami"balas Alvano langsung berlari masuk kekamar Papi,Maminya. Sementara Azam dan Aiden tertawa melihat Alvano didukung super dingin diluar rumah, lembek didalam
"Mamiii..."pekik Alvano dikamar Nataza
__ADS_1
"Kenapa sih boy, pake teriak-teriak gitu?. Mami belum tua banget untuk denger suara kamu"ucap Nataza kesal karna maskernya retak
"Papi bilang, aku bukan anak Mami sama Papi, aku bukan anak kalian. Papi juga bilang kalo aku gak kembar sama El"adu Alvano dengan memeluk Nataza sambil menduselkan wajahnya ditindak Nataza
"Kamu dari dulu dikerjain sama Papi kamu kaya gitu, masih percaya sayang?. Ckckck... "ejek Nataza dengan mencubit pipi anak sulungnya
"Kalo kamu bukan anak Mami, terus kamu anak siapa?, kalo kamu gak kembar sama El, terus kamu kembar sama siapa?"tanya Nataza membuat Alvano menatap wajahnya
tiba-tiba Azam dan Aiden datang menghampiri mereka dan duduk disofa dekat lemari dengan menyantap cemilan yang dibeli Alvano dan Aiden
"Anak dari panti asuhan, kembarannya tukang batagor"balas Azam membuat Alvano mendelikkan, sementara yang lain tertawa pelan
"Papi bohong kan sama Al?, ya kan Mami?"tanya Alvano dengan air mata yang sudah menetes
"Gak ada yang bohong kok, kita nemu kamu dipanti, terus kembaran kamu itu sekarang kerja jualan batagor"balas Azam lalu tertawa melihat Alvano yang mudah sekali menangis jika digoda olehnya
"Huaaa...Mami gak sayang sama Al"tangis Alvano dipelukkan Nataza
"Al mau pergi aja dari rumah, Papi gak sayang sama Al"lanjutnya dengan melepas pelukkan Nataza lalu perlahan turun dari ranjang
"Ehh... mau kemana?"tanya Nataza, raut wajahnya mulai khawatir saat Alvano melepas pelukkannya
"Aku mau pergi aja, mau pindah. Papi jahat sama Al, Papi gak sayang sama Al"balas Alvano dengan menundukkan kepalanya
"Biarin aja pindah, nanti juga balik lagi ke sini. Al Gak akan betah tanpa manja sama kamu"ucap Azam membuat Alvano cemberut lucu
"Masss.... "ucap Nataza membuat Azam terkekeh lalu menghampiri Putranya
"Papi bercanda sayang, Kamu anak Papi kok, kamu kembaran El. Kamu kesayangan kami"ucap Azam memeluk putra sulung manjanya itu
"Papi gak bohong kan?"tanya Alvano menatap serius mata Azam
"Tanya aja sama Mami, kalo kamu gak percaya"balas Azam dan kembali duduk disofa bersama Aiden
"Lihat Mami sayang"pinta Nataza dengan mengangkat dagu putra sulungnya yang kelewat manja padanya dan Azam
"Papi bercanda sayang sama kamu. Kamu anak kami kok, Mami yang lahirin kamu, Mami yang bandung kamu 9 bulan bareng sama El seperut Mami. Papi hanya ingin ngerjain kamu aja, jangan tinggalin Mami ya sayang"ucap Nataza dengan memeluk Alvano
"Aku gak akan tinggalin Mami kok, tapi aku gak tau nanti kalo udah punya istri dan anak"balas Alvano membuat Nataza mengangguk paham
"Baiklah Mami paham, tapi jangan manja lagi sama Mami kalo udah punya istri nanti"ucap Nataza
"Gak, pokoknya Al mau terus manja sama Mami meskipun udah punya istri. Al akan menjadi anak kecil kalo sama Mami"balas Alvano membuat Azam geleng-geleng kepala
"Dasar bayi dugong"gumam Azam dengan menatap Alvano yang memeluk perut Nataza nyaman
__ADS_1
"Papi bayi Didosaurus"balas Alvano membuat Azam mendelik