
1 bulan sudah sejak Elina pulang daei rumah sakit dan Alvanopun sudah kembali bekerja dikantor karna kondisinya sudah sangat baik dan lukanya sudah mulai mengering, meski jalannya belum terlalu normal sehingga harus melangkah pelan.
Elina juga sudah membaik, meski ingatannya belum semua hanya tentang orang tuanya dan Rania saja yang dia ingat, untuk Alvano dan yang lain dia belum ingat sama sekali hanya beberapa memori dimana ada dua orang memakai pakaian pernikahan namun wajah mereka tak jelas sehingga membuatnya bingung.
selama ini, Elina mencoba menerima jika dirinya adalah istri Alvano menantu keluarga Aditama dan dia sedang mengandung, meski belum mengingatnya yang penting dia akan terus berusaha mengingat kenangan dengan suami juga keluarganya.
"Mi"panggil Elina yang baru saja keluar dari dapur melihat Nataza datang membawa kantong belanjaan, mungkin dari supermarket atau pasar.
"Hai sayang. Baru bangun nak?"tanya Nataza menghampiri menantunya lalu melakukan cipika cipiki ala perempuan sosialita.
"He'em, karna tadi kepala aku sempat sakit karna lihat foto dikamar, jadi nurut aja apa kata Al..eh.. maksud aku mas Al, yang suruh minum obat dan ujungnya ketiduran deh"jawab Elina yang tak canggung lagi seperti awal pertama kali datang kerumahnya.
"Tidak apa-apa, justru itu bagus untuk kesehatan anak kamu, tapi jangan cuma tidur terus, olahraga dan senam hamil juga sangat diperlukan supaya anak kamu tetap sehat"ucap Nataza diangguki oleh Elina sembari tersenyum manis.
"Ouh iya, Al pulang jam berapa?"tanya Nataza sambil menyimpan beberapa bahan dapur yang dia beli tadi sebelum kerumah putranya.
"Emm.. maaf Mi, El gak sempet nanya sama mas Al"jawab Elina gugup, dia bingung jika ditanya soal Al, masalahnya dia sendiri bahkan tak bingung harus bilang dan berbucara apa dengan Alvano, karna memang secanggung itu kondisinya.
"Gak sempet nanya atau emang belum berani tanya?"goda Nataza membuat Elina menggigit bibir dalamnya gugup.
"M-maaf Mi"jawab Elina dibalas gelengan oleh Nataza.
"Tidak apa-apa sayang, kamu masih butuh waktu untuk mengingat dan menerima Al kembali, Mami paham akan itu. Tapi kamu ingat ya, jangan terlalu dipaksakan dan jangan memikirkan hal yang membuat kepala kamu berat, itu gak baik untuk kamu dan baby juga dan Mami udah minta sama Al untuk tidak mengatakan apapun yang mungkin akan membebani pikiran kamu"jelas Nataza sembari mengusap pipi Elina.
"Iya Mi"jawab Elina bingung harus menjawab apa karna mertuanya begitu baik dan begitu sayang padanya.
"Ya sudah, tadi ada apa panggil Mami?"tanya Nataza setelah beres menyimpan sayuran dan buah-buahan dikulkas.
"Enggak jadi deh, nanti aja tunggu Al, eh..maksud aku.. mas Al. Mi, aku ke kamar dulu ya, permisi"jawab Elina lalu pamit pergi meninggalkan Nataza yang hanya mengangguk sebagai jawaban.
Elina melangkah pelan ke kamarnya dan kali ini Al mamintanya untuk mengenakan lift kaena kandungan Elina sudah besar dan Al takut jika Elina naik turun menggunakan tangga, takut terjadi sesuatu pada Elina dan anaknya. Sejujurnya Al ingin memindahkan Elina ke kamar bawah, namun semua kenangan ada di kamar atas, dan usaha pertama Al adalah mengingatkan Elinq tentang kenangan mereka di kamar mereka.
baik memang jika ibu hamil banyak gerak, dan tangga adalah jalan baik untuk olahraga, tapi karna perut yang semakin besar sehingga dapat menutupi setiap langkahnya, lebih baik menggunakan lift yang haanya diam ditempat dibanding tangga yang memiliki resiko untuk terpeleset besar.
sampainya di kamar Elina duduk ditepi ranjang, dia mengambil ponselnya lalu mencari nomer ponsel Alvano dan saat ingin mengirim pesan dia langsung menghapusnya kembali, lalu mulai berfikir apa yang akan dia katakan pada Alvano kemudian mengetik kembali dan merasa kurang pas lagi dan lagi Elina menghapusnya.
"Gimana ya ngomongnya, kok bingung gini sih mana malu lagi"ucap Elina dengan wajah blussing dengan sendirinya,dia menggigit selimut untuk menyalurkan rasa malunya.
"Dah lah, gini aja. Semoga aja Al mau deh"lanjutnya kemudian mengetik sesuatu pada Alvano entah sadar atau tidak jika dia mengirimkan emotikon bergambar π bukan π membuat Elina membulatkan matanya terkejut. Saat akan dihapus Alvano sudah membalasnya yang membuat Elina mengulum bibirnya malu.
......My Husband π......
^^^^^^'Mas, boleh titip belikan sempolan gak? makanan pinggir jalan itu loh, boleh kan. Kalo boleh aku titip beli 20 ribu aja ya, nanti aku bagi deh sama kamu. Mau kan?'^^^^^^
belum sempat Elina mengirim pesan kembali Alvano sudah membaca pesannya dan langsung mengetik.
'Boleh sayang, nanti aku beliin ya. Ada yang dipenginin lagi gak?π'
^^^'Emm.. sama buah anggur hijaunya deh, gak papa kan?'^^^
Elina menggigit kuku jarinya setelah mengirimkan kalimat tersebut, ada rasa gugup dihatinya dan jantungnya berdetak cepat saat ini
'Oke, udah itu aja? gak ada lagi?, biasanya kalo pesan sesuatu langsung 4 atau 5 macam, ini cuma dua. Tumbenπ€'
__ADS_1
^^^'Enggak. Udah itu aja'^^^
'Oke, nanti mas beliin buat kamu'
^^^'Makasih mas π'^^^
'Sama-sama sayangπ'
saat ini hati Alvano begitu bahagia mendapatkan love dari istrinya meski lewat pesan, tapi dia sudah senang dengan itu, namun pesan berikutnya yang istrinya kirim membuat senyum dibibirnya luntur seketika.
^^^'Eh.. maaf salah emot, Harusnya ini π'^^^
'Yah padahal aku udah seneng loh dikasih love sama kamuπ'
'Ya udah deh, gak apa-apa. Sekarang istirahat gih, jangan sampai kelelahan karna naik turun tangga, ingatkan pesan aku 1 minggu lalu, kalo sampai aku tau, siap-siap aja hukuman menanti kamu. Tunggu aku pulang bawa pesanan kamu yaπ€π'
^^^'He'emπ'^^^
Elina merasa bersalah akan hal barusan, kenapa dia harus memberikan love sih? kan dia malu dan dia yakin pasti Alvano sedih karna dirinya mengubah emotnya yang padahal Alvano harapkan selama ini meski hanya sebuah emot, tapi berarti untuk Alvano.
"Bodoh kau El. Pasti Al sedih sekarang, berdosa kau El, berdosa karna membuat suamimu sendiri bersedih sekarang"gumam Elina dengan memukul kepalanya pelan.
Elina kembali mengotak-atik ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rania dan mengajaknya bertemu disebuah cafe dekat rumahnya sebentar lagi.
Ia mengambil tas selempangnya lalu turun kelantai bawah menaiki lift. Dibawah, dia melihat bi Mirna dan bi Asih tengah mengepel dan mencuci piring kotor, sementara Nataza tak terlihat entah kemana mertuanya itu.
"Eh non El. Mau kemana atuh, rapi bener?"tanya bi Mirna yang tengah mengepel ruang keluarga.
"Mau ketemu sama Nia bu, eh.. Maksud El bibi"jawab Elina dibalas senyum oleh bi Mirna.
"Belum izin pasti?"tebak bi Mirna dengan wajah menggoda membuat Elina mengangguk malu.
"Izin dulu atuh non. Sesibuk apapun den Al dikantor, dia pasti akan menyempatkan waktu untuk non El, apalagi kalo non El mau pergi dengan kondisi perut udah gede, pastinya den Al akan lebih hati-hati dan waspada untuk menjaga non, mau itu anak buahnya yang diutus atau den Al sendiri yang turun tangan"jelas bi Mirna kembali membuat Elina mengangguk paham.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Alvano lewat pesan, setelah diizinkan, Elina mengucapkan terimakasih pada bi Mirna lalu pergi bersama beberapa anak buah Alvano dan Adam yang sengaja dikirim kerumah Alvano untuk berjaga.
sampainya dialamat cafe yang Rania minta, Elina langsung masuk kedalam dan mencari tempat VIP yang pesan khusus oleh Rania untuk sang kakak, dimana ruangan tersebut adalah andalan Alvano ketika mengajak Elina dinner. Elina masuk kedalam dan melihat Rania duduk dibangku dekat jendela tempat Alvano biasa duduk didepan Elina yang hanya terhalang meja bundar luas membuat Elina mengernyitkan dahinya.
bayangan hitam putih muncul tiba-tiba dimana ada seorang pria duduk ditempat Rania duduk dan didepannya ada seorang wanita dan Elina yakin jika itu adalah dirinya. Pria tersebut menggenggam tangannya lalu mengecupnya setelahnya mereka berdansa dengan indahnya lalu berdiri didepan jendela dengan berpelukan mesra.
"Alvano"gumam Elina ketika melihat bayangan wajah tersebut sekilas mirip dengan Alvano.
Rania yang melihat kakaknya datang, dia segera menghampirinya dan mengajak kakaknya duduk dibangku depan Rania, dimana bangku tersebut adalah bangku Elina ketika bersama Alvano.
"Gimana kabar kakak?"tanya Rania basa-basi, dia tau jika kakaknya tengah mengingat semua yang telah terjadi ditempat itu.
"B-baik"jawab Elina menahan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Alhamdulillah kalo kakak baik. Ada apa kakak ngajak Nia ketemu?"tanya Rania sambil menggenggam tangan Elina.
lagi dan lagi bayangan seorang pria yang menggenggam tangannya muncul dikepalanya, sementara Rania mengusap punggung tangan Elina dengan jempol tangannya membuat Elina kembali terbayangkan hal yang sama. Dia dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Rania lalu meremasnya kuat.
"Semoga kali ini berhasil kak Al, Nia akan terus bantu kakak untuk mengembalikan ingatan kak El" batin Rania dengan tersenyum senang.
__ADS_1
"Kenapa ditarik kak? kan Nia masih pangin pegang tangan kakak, selama kakak lupa sama Nia, kakak gak mau disentuh sedikitpun oleh Nia. Bukan hanya Nia, tapi semua orang kakak tolak untuk menyentuh kakak"ucap Rania sedih membuat Elina kasihan pada adiknya.
"Maafin kakak ya Nia, kakak dulu masih belum menerima semuanya dan kakak takut jika kalian adalah orang jahat karna kakak tak ingat siapapun dan apapun, maka dari itu kakak menolak kalian"jawab Elina dibalas anggukan oleh Rania.
"Oke, Nia ngerti kok. Jadi, apa alasan kakak ngajak Nia ketemu disini?"tanya Rania mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kakak mau tanya tentang seseorang yang selalu muncul dibayangan dan mimpi kakak sama kamu, dan kakak mohon jangan tutupi apapun dari kakak"jawab Elina dibalas anggukan oleh Rania.
"Jadi apa yang kakak ingin tanyakan?"tanya Rania, dihatinya berharap jika kakaknya akan menanyakan soal kakak iparnya.
"Kakak selalu mimpi dan mendapat bayangan yang berbeda-beda namun semuanya selalu muncul dalam satu malam. Jadi gini, seperti semalam kakak mimpi kalo kakak hampir ketabrak sama mobil yang dikendarai oleh seorang pria, terus kakak ketemu pria yang sama di sebuah kantor, terus kakak pergi keberbagai tempat sama pria itu, terus tiba-tiba kakak ada di tepi laut bersama beberapa orang, terus ada pria itu muncul menunjukkan kotak beludru berisi cincin berlian dan pria itu melamar kakak dan kakak menerimanya lalu kami berpelukan lalu sebuah pernikahan terjadi. Kakak tidak lihat siapa pria itu, yang kakak ingat hanya kamu seorang, maka dari itu kakak bertanya padamu"jelas Elina membuat Rania tersenyum.
"Mimpi itu menunjukkan dimana saat Kak Al melamarmu kak. Ya, kak Al sengaja melamar dirimu ditepi pantai karna dia tau kalau kau suka dengan pantai. Orang-orang yang kau maksud itu adalah sahabat-sahabatmu dan kak Al. Mereka adalah Elvina, Nasyla, Aiden adik kandung kak Al. Kak Yolanda, kak Sarah itu sahabat kakak saat kakak bekerja dikantor kak Al dulu. Kakak dulu sebelum menikah dengan kak Al, kakak adalah karyawan dikantor kak Al pimpin, kak Al adalah presdir disana, kalian semakin lama semakin dekat hingga kalian menjalin hubungan dan akhirnya menikah"jawab Rania membuat Elina memegangi kepalanya yang berdenyut semakin cepat.
bayangan awal pertama dia bertemu Alvano, bekerja dengan Alvano, jalan-jalan keberbagai tempat dengan Alvano, dinner bersama Alvano lalu bertunangan dan menikah bersama Alvano. Namun wajah yang Elina lihat masih buram belum terlihat jelas, semuanya hitam putih perlahan menjadi berwarna, semuanya berjalan begitu cepat dan terus berulang.
"Kak El gak apa-apa?"tanya Rania panik melihat kakaknya yang meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"Enggak apa-apa, ceritakan lagi semuanya. Kakak mohon Nia, kakak ingin mengingat semuanya"jawab Elina sambil menahan sakit dikepalanya.
"Kak, Nia gak mau cerita lagi kalo kak Elina kaya gini. Nia takut kalo kak El kenapa-napa, lebih baik sekarang kita pulang ya"ajak Rania dibalas gelengan oleh Elina.
"Enggak Nia, ceritakan semuanya. Aakhh.. "seru Elina saat sakit dikepalanya semakin menjadi membuat Rania panik.
dan pas sekali Alvano menelfonnya, dengan segera dia mengangkatnya dan mengatakan kondisi Elina saat ini yang membuat Alvano diseberang sana begitu panik, khawatir, sedih menjadi satu.
"Kakak bertahan ya, anak buah kak Al ada didepan, sebentar Nia panggil mereka dulu"ucap Rania lalu pergi keluar meninggalkan Elina seorang diri disana.
bayangan wajah pria tersebut perlahan terlihat dan semakin jelas juga suara pria tersebut seakan tak asing baginya.
'*Hai Ay'
'Ya honey'
'Kenapa hmm'
'Good night Ay'
'Morning Ay'
'I love you Ay*'
semakin jelas wajah pria tersebut dan semakin terlihat sangat jelas dibayangannya jika dia adalah Alvano suaminya sendiri, semuanya tentang Alvano perlahan muncul dikepalanya.
"Mas Al.. aku ingat kamu mas, aku ingat semua tentang kamu"ucap Elina bahagia dan perlahan kesadarannya hilang lalu pingsan dengan kepala diatas meja
Alvano masuk bersama Rania dan melihat Elina sudah tak sadarkan diri membuat Alvano panik, dengan segera dia menggendongnya dan membawanya pergi dari sana menuju rumah sakit.
"Maafin Nia kak, Nia gak tau kalo pertanyaan kak El bisa bikin kak El kaya gini"ucap Rania dengan tangisnya merasa bersalah. Kini mereka tengah didepan ruang rawat Elina menunggu dokter yang masih memeriksa Elina diruang rawat.
"Memangnya Elina tanya apa ke kamu, sehingga jawaban kamu membuat kakakmu seperti ini?"tanya Alvano mencoba tenang, dia tak mungkin membentak adik iparnya sendiri jika itu tidak keterlaluan.
Rania menceritakan semua yang dia bicarakan dan dia lakukan pada Elina, tak ada kata yang dia kurangi atau tambahkan dalam laporannya, dia mwngatakan semuanya sesuai fakta dan sesuai dengan apa yang terlah terjadi beberapa menit yang lalu. Alvano hanya menghela nafasnya kasar lalu memeluk Rania yang manangis karna merasa bersalah.
__ADS_1
"Kau tak salah Nia, kau hanya menuruti apa yang Elina minta, jadi jangan salahkan dirimu lagi ya, kau tak bersalah sama sekali Nia"ucap Alvano lembut disela pelukan mereka dengan menahan tangisnya, dia mulai membayangkan hal-hal yang membuat hatinya perih.