
Sampai dirumah, Elina disambut hangat oleh semua orang terutama adik-adik Alvano yang langsung mengajak Elina ketemi taman belakang rumah. Mereka bercerita, tertawa, melawak, bahkan melakukan drama seperti yang dilakukan disekolah, Alvano melihat Elina yang tertawa dan tersenyum bahagia dia ikut bahagia, akhirnya istrinya bisa tersenyum kemnali setelah hampir 1 minggu dirumah sakit
"Al!"panggil Azam pada putranya yang tengah menatap Elina dan adik-adiknya
"Alvano!"ulang Azam membuat Alvano terkejut melihat Papinya tengah berdiri dibelakangnya
"Kapan Papi kesini?,bukannya tadi ada diruang kerja?"tanya Alvano bingung
"Belum lama, mungkin saat kamu baru sampai rumah"jawab Azam membuat Alvano menyengir
"Hehe.. maaf Pi, Al gak lihat Papi soalnya"ucap Alvano mengikuti Papinya yang pergi keruang keluarga
"No problem boy"jawab Azam lalu menatap putranya serius
"Kenapa Pi?"tanya Alvano melihat ekspresi Papinya berbeda dari yang tadi
"Kamu sudah tau siapa yang meletakkan udang dimakanan Elina?"tanya Azam. balik
"Belum Pi, Al belum dapet info apa-apa. Tapi tadi Al dapet info dari anak buah Al yang diminta Rania untuk mencari keberadaan Ayu dan dia menemukannya jika Ayu sedang menuju kemari mencari Diego orang yang berniat memperkosa Elina. Menurut Al, Ayu akan membalas dendam atas kematian Diego dengan menyakiti El"jelas Alvano membuat Azam mengangguk
"Papi sudah tau siapa yang menyuruh pelayan gadungan itu kerumah kita dan berniat menghabisi Elina didalam rumah mertuanya dan membuat kita salah paham atas kejadian ini"ucap Azam dengan menunjukkan tablet ditangannya
"Dia siapa Pi?"tanya Alvano bingung menatap foto seorang pria yang tidak dia kenal
"Dia adiknya Diego, namanya Daren. Pria yang pernah terserat narkoba dan sekarang menjadi buronan polisi karna kasus pembunuhan berencana terhadap istri dan mertuanya. Daren ini memiliki hubungan gelap dengan Ayu, dia juga memperkosa anak perempuannya sendiri saat anaknya sudah masuk sekolah menengah atas kelas 11 hingga hamil dan dia membunuh anaknya saat tau anaknya hamil karna dirinya. Sampai sekarang masih menjadi buronan karna dia salah satu penjahat paling sulit ditangkap oleh kepolisian karna selalu berhasil kabur"jelas Azam membuat Alvano
"Sekarang Daren dimana Pi?"tanya Alvano sambil membuka foto-foto milik Daren bersama Diego
'Papi belum tau boy, tapi yang pasti dia ada dikota ini dengan mengirim mata-mata untuk keluarga kita dan mencelakai kita termasuk Elina yang merupakan pusat utama balas dendam Daren"jawab Azam dengan menatap menantunya yang datang bersama anak-anaknya
^^^"Nanti kita bahas lagi, ada istri dan adikmu disini"sebuah pesan masuk yang Azam kirimkan pada Alvano untuk tidak. memulai percakapannya^^^
"Kak Al!"panggil Aiden dan duduk disamping Papinya bersama Nasyla
"Apa?"tanya Alvano sambil mengecupi pipi Elina membuat Azam dan Aiden memutar bola matanya malas
"Kapan kita liburan ke rumah paman Adam?"tanya Aiden tak sabar ingin bertemu dengan saudaranya disana
"Besok kalo liburan sekolah dan kondisi udah aman untuk. bepergian"balas Alvano membuat Aiden cemberut
"Aish.. kak Al mah, libur sekolah kan masih lama ada 3 bulan lagi setelah aku ujian, lama banget dong kak"ucap Aiden kesal
"Heh!, 3 bulan gak selama 3 tahun ya. Lagian kamu liburan sebelum ujian sama aja kamu gak liburan Aiden, kamu pasti akan fokus sama buku untuk ujian jadi gak bisa ngapa-ngapain selain sama buku, yang lain main kesana kemari kamu cuma diam baca buku mempelari semua yang ada dibuku, kalo sehabis ujian kan enak bisa ngapa-ngapain bebas gak pusing mempelari buku lagi kamu bisa melakukan banyak hal sebelum kuliah"jelas Alvano diangguki oleh Azam
"Benar kata kak Al kak. Sabar tinggal 3 bulan lagi kakak bisa liburan kemana aja tanpa pusing kalo besok ulangan, jadi harus sabar ya"ucap Nasyla membuat Aiden mendelik dia baru ingat jika besok ada ulangan matematika
"Astaga lupa Ai kalo besok ulangan. Makasih Lala, muach"ucap Aiden lalu mencium pipi adiknya sebelum pergi ke kamarnya
"Iihh.. kak Ai mulutnya bau pete"kesal Nasyla membuat yang lain tertawa
"Pi. Al anter El ke kamar ya buat istirahat, kasihan dari tadi sampai belum istirahat"ucap Alvano mendapat anggukan oleh Azam
"Tapi mas.. "ucapan Elina terputus karna Alvano langsung menyambarnya
"Udah gak papa ayo, udah waktunya minum obat kan?"tanya Alvano dibalas anggukan kepala oleh Elina setelah melihat jam tangannya
__ADS_1
"Makanya sekarang ayo. Kamu harus makan terus minum obat dan tidur biar cepet sembuh"ucap Alvano sambil menarik pelan tangan Elina
******
sampai dikamar, Elina didudukkan disofa bad dan Alvano kembali keluar ke dapur mengambil makanan untuk Elina, Elina bangkit dari duduknya dan melangkah menuju jendela kamarnya untuk melihat tanaman-tanaman hias kesayangan Oma Ayu dan Mami Nataza dikebun kecil khusus bunga kesayangan mereka, Elina tersenyum menatap bunga-bunga tersebut yang terlihat subur dan segar
Pranng.....
Aakhh...
suara kaca pecah dan teriakan Elina saat sebuah benda yang dibalut kertas tebal menghantam kaca jendela dan mengenai dahi Elina hingga berdarah dan pecahan kaca jendela mengenai tangan dan kakinya
Alvano dan yang lain langsung berlari ke kamarnya saat mendengar suara benda pecah yang nyaring dari kamarnya dan teriakan kencang Elina. Alvano melihat pak Kirman berlari ke arah lift setelah melihat mereka datang dari arah tangga. Alvano langsung masuk kekamarnya dan melihat Elina tengah berusaha bangun dari duduknya karna kakinya sakit dan perih
"Ay!"Alvano langsung memeluk Elina erat
"Kak Al. Ini"panggil Aiden dengan memberikan bantalan kertas tersebut dan membukanya, kertas tersebut membalut batu besar yang merupakan surat ancaman yang tertuju untuk Elina dan bertuliskan "KAMU AKAN MATI ELINA" Alvano meremas kertas tersebut terlihat jelas kemarahan diwajahnya saat setelah membaca kertas tersebut lalu membuangnya
Alvano langsung menggendong Elina dan meletakkannya diatas ranjang, dia mengambil kapas yang diberi alkohol untuk membersihkan luka ditubuh Elina. Elina hanya mampu memejamkan mata dan meringis menahan perih saat Alvano membersihkan luka didahinya
"Mami bantu sayang"ucap Nataza dengan mengambil kapas dan alkohol dikoyak obat
"Mi, Elvi, Lala, Nia. Al titip El ya sama kalian, Al keluar sebentar"ucap Alvano diangguki oleh mereka
"Aku tinggal sebentar ya sayang. Telfon aku kalo ada apa-apa aku ada diruang kerja"bisik Alvani lalu mencium dahi Elina lembut
"Tapi mas...Aku takut"jawab Elina dengan menggenggam kuat tangan Alvano meymnyalurkan rasa takutnya pada suaminya
"Hai.. tenang sayang, ada mereka dan penjaga diluar kamar kita untuk menjaga kamu disini, tenang ya aku dibawah harus membahas masalah ini sama Papi dan paman Alex"ucap Alvano terus mengusap pucuk kepala Elina lembut
^^^"Pi, maafin Al. Al belum bisa kesitu, Elina sama sekali gak mau di tinggal, dia benar-benar ketakutan banget buat Al gak tega untuk tinggalin dia, nanti Al akan kesitu setelah El tidur. Sampaikan maaf Al juga untuk paman Alex" pesan Alvano pada Azam^^^
"Baiklah, jaga menantu Papi. Nanti akan kirimkan hasil penyelidikan Papi dan Alex" jawab Azam hanya diread oleh Alvano
Alvano mendekati Nataza dan berbisik pelan ditelinga Nataza dan dijawab anggukan oleh Nataza. Nataza keluar bersama anak-anaknya dan pergi dari kamar Alvano dan kembali nanti setelah mendapat kabar dari Alvano
Elina memeluk erat Alvano dengan menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya, Alvano membalas pelukan Elina sambil mengusap pucuk kepala Elina lembut dan sesekali dia menciumi pucuk kepala Elina sayang
"Tenanglah sayang.. ada aku disini, kamu udah aman sekarang. Tenanglah, tidur ya"bisik Alvano dan mengecup dahi Elina lembut
"Gak, aku gak mau tidur. Kalo aku tidur nanti orang itu dateng lagi, dia.. dia pasti dateng lagi buat bunuh aku"balas Elina membuat Alvano mengernyit tak mengerti siapa yang Elina maksud
"Siapa yang kau maksud honey?, siapa yang kau sebut dia?"tanya Alvano membuat Elina menatapnya
Alvano mengangguk memberikan keberanian pada Elina untuk jujur mengatakan siapa orang yang di maksud oleh Elina, saat Elina akan menjawab ada seseorang didepan jendela kamarnya membuat Elina berteriak takut
"Aaaaa... enggak... "teriak Elina membuat Alvano mengalihkan pasangannya pada jendela dan melihat orang tersebut yang langsung berlari dari sana
"Tunggu sebentar Ay"ucap Alvano dan mengecup dahi Elina
"Hai.. Berhenti!!!"teriak Alvano mengejar orang tersebut keluar dari kamarnya
"Aaaaa... enggak... mas Al...."teriak Elina melihat orang Alvano kejar justru ada di dalam kamar mereka
"Kau harus mati Elina. Kau harus membayar kematian kakakku. Kau harus mati!!"ucap pria tersebut dengan memegang pisau ditangannya dan siap menancapkannya didada Elina
__ADS_1
"MATI KAU ELINA!!!!"teriak pria itu dengan menghunuskan pisau tersebut tepat pada dada Elina
"Mas Al"gumaman lirih Elina saat merasakan sakit didadanya karna pisau tersebut menancap didadanya
"Gak...Elinaaa.."teriak Alvano langsung bangun dari tidurnya dan menatap sekeliling ruangan yang ternyata dia ada diruang kerjanya, dia melihat Papinya dan Paman Alex yang menatapnya cemas
"Kau kenapa boy?, kau mimpi buruk hmm?"tanya Azam sambil mengusap wajah Alvano yang penuh keringat dan bajunya bahkan basah karna keringat
"Elina mana Pi? El mana?"tanya Alvano panik dan berniat pergi dari sana
"Tenang boy..tenanglah... Elina baik-baik saja dia sedang tidur dikamar kalian ditemani Mami dan adik-adikmu, Papi juga menyiapkan beberapa anak buah Papi disana. Jadi tenanglah, minum dulu"jawab Azam sambil menyodorkan segelas air pada Alvano yang langsung meminumnya
'Astaga hanya mimpi ternyata, tapi kenapa terasa sangat nyata' batin Alvano dengan mengusap wajahnya kasar
"Pi!"panggil Alvano sambil menatap Papinya
"Hmm"balas Azam sambil menyodorkan tisu pada Alvano yang langsung diterima
"El baik-baik aja kan Pi?, Papi gak bohongin Al kan?"tanya Alvano raut wajah khawatirnya
"Elina baik-baik saja boy, tenanglah.. dia sedang tidur dikamar kalian"balas Azam serius menatap mata Alvano yang menghembuskan nafasnya lega
"Ceritakan pada Papi. Kau baru saja bermimpi buruk bukan?,kau bermimpi apa?"tanya Azam serius membuat Alvano kembali teringat tentang mimpinya
"Al mimpi kalo Elina mati ditusuk sama seseorang yang gak tau itu siapa, dia pake pakaian serba hitam. Dimimpi Al, Elina lihat orang yang dia takuti selama ini, dan Al lihat orang itu dan Al kejar dia, tapi Al gak bisa menangkapnya lalu Al kembali ke kamar dan melihat Elina yang ditusuk dadanya tepat dijantungnya oleh pria tersebut. El sempat panggil Al tapi Al terlambat dan dia mati didepan Al"jelas Alvano langsung memeluk Azam
"Sssuutt.. tenanglah boy, itu hanya mimpi biasa, mimpi kan bunga tidur jadi tidak perlu khawatir karna mimpimu"ucap Azam diangguki oleh Alvano
"Sekarang pergilah ke kamarmu, Mamimu baru mengirim pesan pada Papi jika Elina mencarimu, pergilah"ucap Azam memberitahu pada Alvano yang langsung bangkit meninggalkan ruang kerjanya menuju ke kamar
sampai dikamar dia melihat Elina yang terlihat habis menangis menatapnya sendu, Nataza dan adik-adiknya langsung pamit keluar dari kamar setelah melihat kedatangan Alvano
"Kau kenapa hmm?"tanya Alvano sambil mengusap air mata yang jatuh dipipi Elina
"K-kenapa pergi?"tanya Elina langsung memeluk suaminya erat
"Maafkan aku Ay. Ada masalah dengan kantor sehingga aku harus turun tangan, untung saja Papi mau membantuku dan Dion"jawab Alvano berbohong
"Dion disini?"tanya Elina dan diangguki oleh Alvano
"Ya tapi langsung kembali ke kantor setelah masalah tadi selesai"balas Alvano sambil mengecup bibir Elina lembut dan menarik Elina kepelukannya
"Jangan pergi.. aku takut mas"ucap Elina ditengah pelukkan mereka
"Tidak sayang, aku tidak akan pergi kemana-mana. Jangan takut ya ada aku disini"balas Alvano dengan menciumi pucuk kepala Elina
Elina melepas pelukkan mereka dan mendekatkan wajahnya kewajah Alvano lalu menciumnya lembut, namun lama-lama berubah sedikit kasar dan Alvano yang mendapatkan ciuman tersebut langsung membalasnya sama kasarnya
Alvano mendorong Elina ke ranjang dan merebahkannya disana lalu melepas semua pakaian yang mereka kenakan hingga keduanya polos. Elina hanya pasrah saat Alvano bermain dengan liar namun berubah lembut saat Elina meminta Al untuk pelan
permainan panas mereka terus berlanjut hingga beberapa ronde dan berakhir dikamar mandi dengan Elina yang sudah sangat lemas untuk berdiri saja dia tak sanggup, rasanya tulangnya rontok dan hilabg entah kemana
"Maafin aku Ay"bisik Alvano yang menatap Elina sedang tertidur dipelukannya
"Semoga segera ada dedek bayi disini ya. Aku gak sabar tunggu dia hadir dan lahir kedunia ini sambil memanggil kita Ayah dan Bunda"ucap Alvano mengecup pipi Elina dan tangan yang mengelus lembut perut ratanya
__ADS_1