
Pagi hari ini Nataza disibukan oleh kedua anaknya dan anak Alika, Davina. Ya selama Alika belum diperbolehkan pulang, Davina dititipkan pada Nataza dan terkadang Azam membantu istrinya yang kerepotan ketiga bayi kecil mereka menangis bersamaan
Setelah Azam sudah berangkat kekantor untuk mengurus meeting klien dari Luar Negeri dan para investor. Nataza mengurus ketiga bayi kecil yang begitu aktif dan cerewet tentunya kecuali Alvano hanya bersama sang Papi baru akan cerewet hingga tengah malam
"Emmm...anak-anak Mami udah wangi?, iya...baru mandi ya sayang ya?"ucap Nataza mengajak ketiga anaknya berbicara dan dibalas dengan gerakan tangan dan kaki yang heboh dari ketiga bayinya
"Devina udah selesai Bi?"tanya Nataza pada Bi Ani yang memakaikan kaos kaki dan sarung tangan pada Devina
"Sudah Non, udah cantik pokoknya mah"jawab Bi Ani dengan semangat, yang notabenya dia begitu suka dengan anak-anak apa lagi bayi seperti mereka bertiga
"Makasih banyak ya Bi, karna udah mau banyuin aku ngurus anak-anak. Mungkin kalo gak ada bibi aku kewalahan memakaikan mereka baju yang begitu aktif dan lincah, apalagi Devina dan Elvina. Mereka sama-sama tak bisa diam jika dipakaikan baju dan yang lainnya"ucap Nataza dengan sedikit bercerita
"Sudah biasa atuh non, Anak bayi memang begitu. Mereka kalo lagi aktif-aktifnya akan selalu bergerak kemana saja,apa saja mereka akan ambil lalu makan, akan selalu begitu karna mereka mencari hal yang mereka belum tau"jelas Bibi Ani dengan mengelus kepala Nataza yang ternyata lebih muda darinya
"Saya bangga sama Non Aza. Non bisa melewati banyak masalah dalam kehidupan Non yang bahkan bisa dibilang pahit, Non adalah wanita hebat, wanita kuat karna bisa menjalankan hidup dengan tetap bahagia meski banyak luka yang Non simpan. Non buat saya bangga dengan kelembutan hati nurani Non yang begitu luas. Mungkin jika saya akan memilih mati saat dimana Non disiksa habis-habisan oleh kedua orang tua angkat Non, saya bersyukur bisa kenal Non"jelas Bibi Ani dengan meneteskan air matanya
"Bi tolong bawa anak-anak keluar ya?, kepala saya pusing"pinta Nataza dengan memegangi kepalanya
"Non gak papa?"tanya Bibi Ani khawatir
"Aku gak papa Bi, bawa anak-anak pergi sekarang"usir Nataza saat rasa sakit menyerang kepalanya
"Saya permisi Non"pamit Bibi Ani dengan mendorong kereta bayi si kembar dan Devina keluar dari kamar Nataza
"Saya harus telfon den Azam sekarang"gumam Bi Ani mengambil hpnya dan menelfon Azam
ditempat lain Azam yang baru saja selesai meeting, dia kembali keruangannya untuk istirahat dikamar khusus yang sudah dibuat untuknya beristirahat. Azam membuka jasnya dan melemparnya ke ranjang lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri
saat sedang mandi, Azam tak mendengar jika hpnya terus berdering dan bergetar didalam.saku jasnya, menandakan banyaknya panggilan telfon dari seseorang diseberang sana
__ADS_1
sementara Bi Ani terus berusaha menghubungi Azam dan ketakutan akan terjadi sesuatau dengan Nataza didalam kamar dan tak lama terdengar suara pintu dikunci lalu suara benda berjatuhan menggema didalam kamar, lalu Bi Ani membawa Al, El dan Devina kepada bi Imah yang sedang menatapnya bingung
"Kamu kenapa kok kaya orang ketakutan gitu sih?, kaya habis lihat hantu saja?"tanya Bi Imah lalu menatap ketiga anak majikannya
"Hallo Tuan dan Nona-nona muda?, sudah mandi sayang-sayang Bibi?"ucap Bi Imah mengajak anak-anak majikannya berbicara dan bercanda kecuali Al yang tetap diam dan tetap aktif mengemut empengnya
"Ihhh...bi...Non Aza!!"pekik Bi Ani panik
"Non Aza?. Non Aza kenapa Ani?, Ada apa?"tanya Bi Imah kepada Bi Ani yang ikut panik
"Saya tadi habis bantu Non mandiin anak-anak, terus saya bilang aja apa yang saya rasain ke Non Aza. Ehh..tiba-tiba Non Aza minta saya pergi dengan membawa anak-anak keluar dari kamar, tadi Non sempet bilang kalo dia pusing kepalanya,terus setelah saya keluar, saya denger kalo kamarnya dikunci dan benda-benda jatuh gitu. Saya takut kalo Non Aza kenapa-kenapa Bi. Saya sudah telfon aden Azam,tapi gak di angkat"jelas Bi Ani dengan wajah panik dan takut
"Aduhh, gimana yah?. Mang Irman??...mang Maman??"panggil Bi Imah kepada penjaga kebun dan sopir pribadi Nataza
Pak Irman dan pak Maman yang sedang ngopi di taman belakang terkejut, lalu berlari menghampiri Bi Imah dan Bi Ani yang terlihat panik dan takut membuat mereka ikut panik.
"Ada apa sih Bi?, kenapa pada koar-koar gini?, kan ada bayi disini, nanti mereka nangis denger suara kalian"ucap pak Maman
"Astaghfirullah, ya...bi..iya.."jawab pak Irman lalu keluar menuju garasi mengambil mobil dan meninggalkan rumah menuju kantor Azam
Dikantor. Azam sudah selesai dengan mandinya dan dia sudah memakai pakaiannya lengkap, lalu Azam mengambil jam tangannya diatas nakas dan melangkah pergi begitu saja keluar ruangan untuk pulang
Azam melupakan hpnya yang tertinggal didalam saku jas yang dia letakkan dalam keranjang baju kotor. Brian yang baru keluar dari ruangannya yang sebenarnya ingin memberikan berkas untuk ditanda tangan oleh Azam
"Mau kemana bos?"goda Brian
"Pulang, kangen sama bini"jawab Azam cuek lalu melangkah pergi
"Ehh..tunggu dulu dong bos"cegat Brian dengan mencekal tangan Azam
__ADS_1
"Napa?"tanya Azam dengan wajah datarnya, karna sedari tadi karyawan wanitanya menatapnya dan Brian
"Hp lo kemana sih bos?, gue telfon sampe 10 kali buat lihat kondisi Fitri yang baru aja lahiran dan sekalian bantuin gue cari kado untuk bayi mereka"ucap Brian membuat Azam teringat jika dia meninggalkan hpnya di ruangannya
"Ehh...mau kemana lagi bos?"teriak Brian melihat Azam berlari meninggalkannya
"Dasar. Mentang-mentang bos, maen seenaknya aja pergi gitu aja. Gue patahin kaki lo"gumam Brian dan dapat di dengar oleh salah satu karyawannya
"Apa lihat-lihat?. Mau gue colok hah mata lo?"sengut Brian membuat karyawannya itu bergidik ngeri,bukan takut tapi aneh
"Hp gue mana.....Ahh ini dia. Untung gak dicuci"gumam Azam setelah mendapatkan hpnya
"Astaga, ini Bi Ani sama Bi Imah kenapa telfon banyak banget gini?, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dirumah?"gumam Azam bertanya pada dirinya sendiri. Tanpa menunggu lama, Azam langsung berlari keluar dari ruangannya dan kelaru dari perisahaannya,tanpa sengaja dia bertabrakan dengan pak Irman
"Astaghfirullah!!"ucap Azam terkejut lalu menatap orang yang dia tabrak terjatuh kelantai
"Pak Irman?...Pak Irman gak papakan?"tanya Azam khawatir
"Saya gak papa den"jawab pak Irman
"Bapak kenapa kesini?, ada apa?. Ouh iya Bi Ani sama Bi Imah kenapa kok telfon saya banyak banget?"tanya Azam bingung
"Anu den.."jawab pak Iman digantung
"Anu apa pak?"tanya Azam penasaran
"Itu tadi Non Aza kayaknya sakitnya kambuh den, soalnya tadi bilang kepalanya pusing terus ngunci pintu kamar aden, dan Bi Ani cemas sekali karna dengar suara pecahan benda di kamar aden"jelas Pak Irman membuat Azam terkejut lalu berlari meninggalkan pak Irman sendiri disana
"Aku mohon Za, jangan sakitin diri kamu sendiri apa lagi tinggalin aku"gumam Azam sambil mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi
__ADS_1
"Jangan tinggalin aku Za"gumamnya kembali dengan menambah kecepatan mobilnya