Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Janji Papi untuk Al


__ADS_3

Seperti janji Azam pada anak-anak, malam ini Azam sedang bermain panas dengan Nataza diatas sofa ruang kerjanya. Azam.bahkan membawa Nataza berpindah-pindah, dari atas sofa, meja kerjanya, lantai, karbet berbulu, ranjang pribadinya,dan terakhir kamar mandi. Mereka bermain sebanyak 5 ronde, dan selesai pukul 4 pagi


siang harinya. Nataza masih nyenyak dalam tidurnya, dia bahkan tak terusik oleh usapan jahil diwajahnya oleh Azam. Sekarang pukul 11 siang, tapi Nataza belum juga bangun membuat Azam gemas untuk menjahilinya


"Wake up my dear, how long are you going to sleep hmm?"bisik Azam ditelinga Nataza


"Bangun sayang. Ouh ayolah honey. Wake up..."bisiknya lagi, tapi Nataza tak mau membuka matanya


"Ouh dasar kau ini kebo, baiklah aku akan membangunkanmu dengan caraku sendiri, lihat saja"gumam Azam menatap Nataza


Azam melangkah mendekati Nataza dan menyibakkan selimutnya. 'Oh ****!!, kenapa pemandangan indah ini mengangguku sekarang' batin Azam. Azam langsung menggelengkan kepalanya lalu menggendong Nataza membawanya ke kamar mandi dan meletakannya didalam bath up, lalu dia menyalakan air hangat dari sower tepat jatuh diwajah Nataza


"Aaaa...hufh..hufh..."pekik Nataza dengan nafas tesengal karna air masuk kehidungnya


"Maass...ihh...jahil banget sih"kesal Nataza dengan menyipratkan air kepada Azam


"Stopp...sayang...hey..stopp..."ucap Azam dengan menghalangi air tak mengenai tubuhnya


"Kan basah baju aku. Masa aku harus mandi lagi"ucap Azam dengan menatap bajunya yang basah


"Lagian siapa suruh nakal bikin aku gak bisa nafas, mana segala sower nyala lagi"kesal Nataza dengan mengambil sabun


"Ya siapa suruh gak bangun-bangun, aku udah bangunin kamu beberapa kali, tapi kamunya malah tidur terus kaya kebo"jawab Azam dengan melengos keluar kamar mandi


"Ihhh... aku bukan kebo ya"teriak Nataza dari dalam kamar mandi, membuat Azam tertawa


"Mami...Papi...Apa kalian tidak mau bangun?, kenapa jam segini belum bangun juga"teriak Al dan El dari luar kamar. Bunda Ayu yang mendengar teriakan cucunya hanya terkekeh


"Hai kenapa kalian ini?, ini kan sudah mau dhuhur kenapa teriak-teriak hmm?"tanya Bunda Ayu menghampiri cucunya yang terlihat cemberut

__ADS_1


"Benar sekali Oma. Ini sudah mau sholat dhuhur, tapi Mami dan Papi belum juga bangun. Apa mereka tak ingin sarapan dan bermain dengan kami?"tanya Alvano kepada Bunda Ayu yang terkekeh dan menggeleng


"No sayang. Mami dan Papi sedang beristirahat, karna mereka kelelahan setelah berusaha membuat adik untuk kalian"balas Ayah Tama yang tiba-tiba muncul dibelakang Bunda Ayu


"Benarkah?, Apa adik kami laki-laki?"tanya Elvina kepada Opa dan Omanya


"Kita belum tau sayang, kan adik kalian belum jadi. Maka dari itu Mami dan Papi bangun siang karna kelelahan. Kita tunggu saja ya, semoga adik kalian cepat jadi diperut Mami kalian"balas Ayah Tama menatap Bunda Ayu dengan mengedipkan matanya


"Wahh...baiklah, kami akan menunggu adik kami jadi diperut Mami, dan kami akan bertanya pada mereka, bagaimana cara membuat adik untuk kami. Ayo kak, kita ke ruang badminton milik kakak"ujar Elvina membuat Bunda Ayu dan Ayah Tama menahan tawanya, mereka sudah membayangkan bagaimana nanti ekspresi dan tanggapan anak dan menantunya saat ditanya cara membuat adik


tak lama kemudian. Nataza keluar dari kamarnya dengan membawa kotak besar melangkah menuju lift, sampainya di lantai sadar. Nataza meletakkan kotak itu disofa ruang keluarga dan mendudukkan dirinya disofa sambil mengatur nafasnya karna kotak tersebut berat


Bunda Ayu yang melihat menantunya duduk di sofa dengan mengibaskan tangannya mencoba menghilangkan panas diwajahnya, dan wajahnya sudah jelas berubah merah serta keringat membanjiri pelipisnya. Bunda Ayu mengernyit bingung melihatnya


" Kamu kenapa Za?, kok muka kamu merah dan keringetan gitu sih?"tanya Bunda Ayu dengan menyodorkan segelas air putih ditangannya


"Loh, Azam mau kirim ini ke panti, kenapa gak bilang sama Bunda dulu kalo mau kirim ke panti. Kan Bunda bisa beli atau cari barang yang masih bagus dilemari"ucap Bunda Ayu dengan melengos pergi begitu saja


baru saja Nataza akan memejamkan matanya karna dia masih mengantuk gara-gara perbuatan Azam semalaman, dia sudah dikejutkan dengan suara yang jatuh dari dapur dengan suara yang keras. Dengan segera Nataza berlari menuju dapur dan berpapasan dengan Azam yang baru keluar dan mendengar hal sama, bersama dengan yang lain ikut keluar dari kamar karna suaranya terdengar dengar dengan jelas


"Astaghfirullah Al!!!"pekik Nataza melihat Alvano tergeletak dilantai dengan dahi yang berdarah


"Sayang...bangun nak..Ini Mami sayang...bangun nak..Mami mohon jangan tutup mata kamu, jangan tinggalkan Mami sayang"tangis Nataza dengan memangku kepala Alvano di pangkuannya


"Mamii...Papii...Kak Al kenapa?...Huaaa..."tangis Elvina pecah saat melihat kakaknya berdarah


"Kita bawa kerumah sakit sekarang"ucap Azam mengambil Alvano kegendongannya


"Bund, tolong jangan kasih tau Opa ya tentang ini, Opa pasti akan syok berat, kalo tau keadaan cucunya saat ini"pinta Azam dan diangguki oleh Bunda Ayu

__ADS_1


"Mas ayo..."pekik Nataza didalam mobil, dengan memangku kepala Alvano, bahkan baju putihnya sudah berlumur darah anaknya


"Iya sayang"balas Azam dengan menancap gas menuju rumah sakit


"Mami mohon bertahan sayang. Jangan tinggalin Mami nak...Mami sayang sama Al, jangan tinggalin Mami...."gumam Nataza disamping telinga Alvano, sementara Elvina dia menangis didalam mobil Opa, Omanya


"Oma, Kakak Al gak papa kan?, kakak baik-baik aja kan?, kakak gak akan ninggalin El kan Oma?...Huaaa...El sayang kakak Oma, jangan bikin kakak sakit...."tangis Elvina dengan kencang dileher Bunda Ayu


"Kakak kamu gak akan kenapa-napa sayang, kakak Al pasti pasti baik-baik aja. Kakak Al kan super heronya El, jadi kakak harus kuat untuk lindungin El"balas Bunda Ayu mengusap punggung cucunya yang masih menangis


dimobil Azam. Nataza yang terus menangis melihat Alvano tak berdaya membuat Azam semakin tak tega, dia menambah kecepatan mobilnya dan hampir saja bertabrakan dengan truk jika dia tidak handal dalam mengendalikan kemudi, pikirannya benar-benar kacau sekarang. Setelah beberapa tahun ini, keluarganya damai dan bahagia. Kini dia harus dihantam musibah lagi, anak sulungnya harus terluka dan dibawa kerumah sakit untuk diperiksa


"Kamu harus kuat Boy, kamu gak boleh tinggalin Papi,Mami dan El. Kamu pasti kuat sayang. Papi mohon jangan buat Mami kamu menangis sepertu sekarang, bertahan boy, kamu bisa, kamu kuat. Demi Mami sayang"gumam Azam menatap Alvano dari kaca spion mobilnya


sampaintmya dirumah sakit. Azam langsung menggendong Alvano kedalam ruang UGD untuk diperiksa. Selama pemeriksaan Nataza dan Elvina tetap saja menangis membuat hati Azam sakit melihat dan mendenger tangisan mereka


"Sssttt...tenangkan dirimu honey, kau tak bisa menangis terus, jangan buat Elvina semakin takut dengan keadaan kakaknya sekarang, karna melihatmu terus menangis menbuat Elvina semakin menangis juga. Al pasti baik-baik saja, aku yakin itu. Dia pasti akan segera sembuh sayang, dia akan kembali bersama kita dengan segala keceriaannya. Tenangkan dirimu sayang. Ssstt...sudah jangan menangis hmm!"ucap Azam kepada Nataza yang saat ini menangis dalam pelukannya


"Aku takut mas, aku takut Al kenapa-napa. Aku memang bodoh menjadi seorang ibu, aku gak bisa menjaga anak aku sendiri, aku gak bisa melindunginya. Aku gak pantes jadi ibu mas, aku memang gak berguna. Ini semua salah aku mas, aku gak bisa menjaga anak aku, aku gak pantes jadi ibu, aku gak guna"tangis Nataza menyalahkan dirinya sendiri, membuat Azam mengepalkan tangannya menahan emosi, lagi dan lagi, istrinya merasa jika dirinya bersalah, padahal itu bukan salahnya


Azam mengambil hpnya dan menelfon seseorang diseberang sana, dan memintanya mengecek semua yang terjadi kepada Alvano. Kenapa anak itu bisa jatuh, hingga membuat dia terluka


"Cari tau penyebabnya dengan detail. Jangan sampai ada yang terlewatkan atau nyawa kalian taruhannya. Paham!!"ucap Azam kepada orang diseberang sana


"...."


"Aku butuh data itu hari ini juga, jangan pernah membuatku menunggu lama karna hal ini. Cari tau sekarang juga"ucap Azam tegas dan langsung mematikan hpnya


"Papi akan cari tau sayang, siapa yang sudah membuatmu celaka kali ini. Papi akan membuat perhitungan dengannya dan menghukumnya dengan berat, karna sudah mencelakai super hero Papi, dan membuat Mami dan adikmu menangis. Papi janji sayang akan menemukan orang itu untuk dirimu. Bertahanlah Boy"gumam Azam dengan menangis menatap anaknya dari balik pintu dengan kaca kecil ditengahnya yang sedang diperban kepalanya oleh dokter

__ADS_1


__ADS_2