
"Tenang bro... santai dulu... kami tak membunuhnya, dia yang memang sudah sakit jantung kok, ya sebenarnya aku ingin menghabisinya karna hampir memperkosa istriku, tapi aku tak tega karna dia sedang sakit parah. Kami bawa dia kerumah sakit untuk melakukan pengobatan, tapi dia hanya bertahan dua minggu dirumah sakit setelah mengatakan maaf padaku dan istriku dia langsung mati"jelas Alvano membuat Ayu membekap mulutnya terkejut dan Daren terdiam membisu
Daren kembali teringat dengan kejadian semalam tentang Diego yang tiba-tiba muncul dimimpinya dengan wajah sedihnya
Flashback On
malam ini, Daren ingin tidur cepat karna dia ingin memberikan pelajaran pada Elina karna dia Diego menghilang, sebelum hilang Diego memang ingin pamit ke rumah Elina untuk mengajaknya jalan-jalan tapi sampai sekarang dia tak pulang membuat Daren berfikir jika Elina yang menyembunyikan atau membuang Diego keluar negeri dengan bantuan suaminya itu
Daren. terlelap dan dia mulai bermimpi disebuah ruangan gelap hanya cahaya lampu remang-remang menyinarinya dia melihat Diego kembarannya berdiri didepannya dengan wajah sedihnya
"Lo kemana aja kak?, gue udah nyari lo kemana-mana tapi lo gak ketemu sama sekali, gue kangen sama lo. Kita pulang ya sekarang dan kita buat rencana baru lagi untuk dapatkan Elina terus lo bisa nikahin dia. Ayok balik"ucap Daren dengan menarik pelan tangan Diego yang tak bergeming sama sekali menatapnya
"Lo kenapa sih kak?, diem bae dari tadi. Ayo pulang sama gue"ajak Daren namun Diego tetap diam ditempatnya
"Daren"panggil Diego pelan membuat Daren berhenti untuk melangkah
"Berhenti lakukan hal gak berguna Daren, hentikan niat jahat lo sama Elina, dia sama sekali gak salah dan lo gak perlu balas apapun ke dia, dia sama sekali gak ada hubungannya dengan perginya *gue, gue yang salah Ren, gue yang terlalu bodoh dalam mencintai dan gue juga yang meninggalkan luka buat dia"jelas Diego menatap sendu kembarannya, sementara Daren hanya menggeleng dengan air mata turun dipipinya yang diusap lembut oleh Diego
"Gue sayang sama lo Daren, gue gak mau lo terluka karna pembalasan dendam tak berguna itu, hentikan semuanya sebelum terlambat Daren. Jauhi Ayu, tinggalkan dia Daren, dia wanita jahat yang hanya membuat lo terperosok kedalam kejahatan yang sama, jangan bersatu dengannya, gue gak mau lo sampai menjadi korban keegoisan dan kejahatannya Ayu"lanjutnya lalu memeluk Daren
"Maksud kakak apa?, Ayu gak jahat apa yang kakak bilang, Ayu baik sama gue kak, dia mau nolongin lo juga"jawab Daren melepas pelukan mereka
"Semua terlambat Daren, sudah terlambat. Lo cukup pergi dari Ayu dan hidup dengan bahagia bersama pilihan lo dengan berubah menjadi pria yang baik, jangan lo ikuti Ayu yang hanya memanfaatkan lo, dia akan tinggalin lo setelah dia selesai dengan rencananya menghancurkan Elina dan dia yang buat kita berpisah, dia yang memisahkan kita Daren, dia tak sebaik yang kau lihat Daren ,sadarlah dan buka mata lo. Sudah waktunya gue pergi, jaga diri lo baik-baik disana ya, gue sayang sama lo adik nakal"ucap Diego lalu memeluk kembali Daren dengan tubuh yang perlahan hilang membentuk cahaya
"Gak kak....kak Di... kak.."teriak Daren memanggil kakaknya yang hilang* dan dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan melihat jam 07.40
Flashback Off
"Dimana makan kakak?"tanya Daren pada Alvano yang langsung terdiam menatapnya juga
"Ada didekat sini, hanya saja sekarang sedang banjir jadi jalan menuju makamnya akan sulit"jawab Alvano membuat Daren menunduk
"Heh!!, lo apaan sih?. Ngapain lo percaya sama mulut busuk mereka, mereka hanya menipu lo doang dan gue yakin pasti Diego mereka sembunyikan didalam sana, mereka cuma mau nipu lo. Jangan percaya omongan mereka"seru Ayu yang ada sedikit jauh didepan Daren
"Lo gak percaya juga gak papa sih, lagian yang minta lo percaya siapa?. Gue cuma kasih tau kebenarannya dan itu kebenarannya, lagi satu lo yang udah habisin Diego"ucap Alvano membuat Ayu mendelik sementara Daren dia menatap pada Ayu tak percaya
__ADS_1
"M-maksud lo apa musuh gue bunuh Diego?"tanya Ayu gugup dengan melayangkan pistolnya kearah Alvano
"Ohh.. lo gak sadar atau pura-pura lupa hmm?, oke gue akan tunjukkan ke lo buktinya. Ben... "jawab Alvano memanggil Ben
Ben datang membawa laptop berisi rekaman cctv dimana Ayu datang kerumah sakit menyamar sebagai suster masuk keruangan Diego dan menyuntikkan sesuatu di kantong infusnya dan sebelum pergi dia menyempatkan mengecup pipi Diego
"Semoga cepat mati ya babe" ucap Ayu didalam rekaman tersebut, Ayu tau jika Diego memiliki penyakit bawaan ditambah makanan yang dia konsumsi menambah penyakitnya semakin parah dan lagi cairan diinfusnya yang Ayu suntikan adalah cairan untuk menutup semua jalan darah dalam tubuh Diego termasuk kinerja jantung terhenti dan benar sore harinya Diego meninggal dan esok harinya baru dimakamkan
"Lo jahat Ayu!!!..."teriak Daren dengan wajah marahnya menghampiri Ayu
"Hahahaha.... gue emang jahat, kenapa?, lo baru tau heh?, lo gak terima atas kematian kakak lo? lo nyesel karna udah berpihak ke orang yang merupakan pembunuh kakak lo sendiri heh?. Malahan bagus sih menurut gue, karna lo bisa sekalian gue bunuh dan kematian kakak lo adalah keberuntungan untuk gue karna dia selalu menghalangi gue untuk membunuh Elina"ucap Ayu dengan diakhiri teriakannya
Alvano melirik pada anak buah Ben yang bersembunyi tepat dibelakangnya yang memegang sebuah alat bius dan menembakkannya tepat dileher Ayu yang langsung menjerit
"Al...kau menembaknya dengan obat bius?"tanya Azam menatap putranya yang hanya mengangguk dan tersenyum
"Bawa dia ke markas dan kita akan eksekusi dia disana"perintah Alvano kepada anak buah Ben yang langsung menggendong tubuh Ayu ke markas besar Azam
"Untuk kau Daren, Aku meminta maaf atas nama Opa dan Papiku yang telah menghukum Diego sebelum dia dibawa kerumah sakit karna jantungnya, Papi dan Opaku memberikannya hukuman cambuk 1 kali karna hendak memperkosa Elina sebelum pernikahan kami, mereka tau jika Diego memiliki penyakit jantung sehingga mereka tak memberatkan hukuman untuk Diego. Aku mohon maafkan Opa dan Papiku, jika kau ingin membalasnya maka kau bisa melampiaskannya padaku jangan pada mereka"jelas Alvano membuat Daren memejamkan matanya menghela nafasnya pelan lalu menghampiri Alvano
"Kau mau bertemu Elina?"tanya Alvano memincingkan matanya, dia sedikit curiga pada anak ini apakah secepat itu dia berubah lalu sebuah cahaya muncul diatas kepala Daren
"Percayalah Al, Daren tulus meminta maaf padamu dan keluargamu, aku juga meminta maafmu kembali Al atas apa yang telah aku lakukan padamu dan Elina. Aku titip adikku padamu Al, jaga dia seperti kau menjaga adik-adikmu, maaf aku merepotkan dirimu. Aku pamit" cahaya tersebut hilang, ya dia Diego muncul saat Alvano meragukan adiknya. Alvano yang melihatnya hanya tersenyum seraya mengangguk pelan saat Diego pamit menghilang
"Nanti saja kak, aku yakin kak El masih takut padaku karna aku pernah jahat padanya, untuk sekarang aku ingin menghampiri Ayu dan membalaskan kematian kak Di"jawab Daren dengan senyum tulusnya mengembang diwajahnya
"Baiklah, kau ikut denganku besok ke markas. Sekarang kau tinggal disini sementara waktu sampai banjir ini surut lalu kita ke markas"ucap Alvano diangguki oleh Daren
"Terimakasih kak Al"Daren langsung memeluk Alvano erat dan dibalas pelukan yang sama
"Kak Di, gue rindu pelukan hangat lo kaya gini. gue rindu semua yang ada sama lo, tapi gue sadar lo gak akan pernah hidup lagi. Gue akan tepati janji gue ke lo kak Di, gue akan menjadi lelaki yang baik dan bahagia bersama wanita pilihan gue. Kak Al akan menjadi pengganti lo kak Di, dia sama kaya lo yang begitu penyayang dan penuh kasih sayang ke keluarganya, dia sosok kakak yang begitu baik kak Di, terimakasih karna sudah mempertemukan gue dengan dia" batin Daren disela pelukan mereka
"Mari masuk, kau istirahatlah dikamar tamu"ajak Azam membawa Daren masuk kerumah Alvano
sampainya didalam rumah, Alvano teringat istrinya berada didalam kamar mereka bersama Opa, Mami dan adik-adiknya disana. Alvano berpamitan pada Papi dan yang lainnya yang menunggu diruang keluarga lalu menuju kamarnya menghampiri Elina
__ADS_1
Alvano membuka pintu kamarnya setelah memasukkan paswordnya dan melihat Elina yang tertidur diranjang dengan Mami, Oma dan adik-adiknya duduk disofa dan tepi ranjang
"Kamu gak papa Al?,gak ada yang luka kan?,Bagaimana diluar Al?, udah aman kan?, gak ada pertumpahan darah kan?"tanya Nataza sambil mengusap seluruh tubuh Alvano mengecek apakah putranya baik-baik saja
"Aku gak papa Mi, semuanya aman kok gak ada pertumpahan darah liar. Semuanya aman terkendali"jawab Alvano menampilkan senyum membuat Nataza dan yang lain bernafas lega
"Kak Al, berarti Kak Ayu sama kak Daren udah pergi?"tanya Rania dijawab Alvano menatapnya sambil mengangguk juga menggeleng membuat mereka bingung
"Ayu dibawa ke markas sementara Daren disini, dia mau berubah jadi baik kok, ya itu semua karna bantuan Diego yang masuk kemimpinya dan menceritakan semuanya padanya"jawab Alvano membuat Rania memincing
"Kak Al percaya gitu aja ucapan kak Daren, gimana kalo dia berbuat jahat lagi sama kita terutama kak El?"tanya Rania khawatir membuat Alvano tersenyum menghampirinya
"Tenang saja Nia, kakak sudah bertemu dengan Diego tadi dan dia bilang jika kak Daren memang benar berubah baik kok, jadi Nia tak perlu takut, jika nanti dia jahat kembali ada kakak sebagai suami kak El dan kakak ipar kamu yang akan jaga kamu"jelas Alvano membuat Rania mengangguk lalu memeluk Alvano
"Makasih ya kak, kakak udah jadi kakak ipar terbaik buat Nia. Nia sayang kak Al"ucap Rania membuat senyum Alvano mengembang lalu mengecup pucuk kepala Rania sama seperti adik-adiknya kemudian melepas pelukan mereka
"Kakak juga sayang sama adik manis kakak ini"jawab Alvano membuat yang lain terkekeh kecuali Nasyla cemberut
"Kak Al sayangnya sama Rania doang, aku enggak?"tanya Nasyla sambil memanyunkan bibirnya
"Enggak dong, semua adik kakak adalah kesayangan kakak. Sini"jawab Alvano langsung mendapatkan pelukan oleh adik-adiknya dengan senyum mengembang diwajahnya mereka
"Ya udah yuk kita keluar, kak Al mau jaga kak El dulu"ajak Oma Ayu diangguki oleh mereka dan melepas pelukan mereka lalu keluar dari kamar Alvano
Alvano hanya menggeleng lalu menghampiri Elina yang masih terlelap dalam tidurnya,tangan Alvano terulur mengusap pipi Elina lembut lalu memajukan wajahnya mengecup dahi Elina dan bibir manisnya lama tanpa membuat Elina terusik
"Aku telah berjanji pada Allah untuk menjagamu, mencintaimu Lillahita'ala, aku berucap dalam kalimat 'saya terima'dalam ijab qobul kita adalah aku terima segala yang ada didalam dirimu entah kekurangan atau kelebihanmu, meski orang lain berkata tidak dan memintaku pergi darimu maka aku akan terus bersamamu sampai akhir hayat nanti. Kau diciptakan untukku begitupun sebaliknya sayang, terimakasih karna sudah menjadi pendamping hidup terbaik untukku. I love you my wife"bisik Alvano ditelinga Elina bahkan air matanya jatuh saat mengatakan itu lalu mencium dahi Elina lama
Alvano menatap wajah tenang Elina yang tertidur dengan seulas senyum diwajahnya lalu mengusapnya pelan dan beralih pada perut Elina dia singkap baju Elina yang memperlihatkan perutnya yang mulai sedikit terlihat lalu dia usap lembut kemudian dia kecup pelan
"Anak kesayangan Ayah, cepat besar ya nak. Ayah tunggu kamu lahir sayang, jadi anak terbaik ya nak yang bisa membahagiakan keluargamu dan dunia ini. Kami semua sayang padamu nak, kami semua menunggumu kesayangan Ayah. I love you my little baby"bisik Alvano didepan perut Elina dan mengecupnya kembali lalu menutup kembali baju Elina
Alvano pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karna dirinya sudah cukup panas-panassan diluar tadi setelah hujan reda membuat dirinya berkeringat. Selesai mandi Alvano kembali ke ranjangnya menuju walk in closet mengambil baju dan celananya, setelahnya dia menghampiri ranjang naik keatasnya dan memeluk Elina dari belakang membuat Elina menggeliet sebentar lalu tidur lagi membuat Alvano terkekeh dan mengecup pipinya pelan karna gemas
"Mat bobo cayang"bisik Alvano dengan terkekeh lalu tersenyum dan turun dari ranjang
__ADS_1
Alvano keluar dari kamar menuju ke lantai bawah menemui yang lain membahas tentang Ayu biang dari segala masalahnya dan Daren ikut dalam obrolan ini meski ada yang kurang nyaman dengan adanya Daren terutama Rania tapi melihat senyum dibibir Alvano dan anggukan lembut darinya membuat Rania tenang