
Vincent bersama sangat istri tengah berada didalam mobilnya yang berhenti tepat didepan gerbang rumah Alvano. Mereka mengabulkan permintaan Jonathan untuk menyampaikan maaf pada Alvano juga Azam, dan alamat Alvano pun didapat dari Jonathan.
"Babe, kamu yakin benar ini rumah Alvano?" tanya Vincent pada istrinya Clara.
"Aku yakin benar babe, ini sesuai alamat yang Nathan berikan padaku pagi tadi" jawab Clara dengan menyamakan lagi alamat di ponselnya dengan nomer rumah ditiang gerbang rumah.
Vincent menganggukan kepalanya lalu dia turun dari mobil setelah berpesan pada Clara agar tidak turun terlebih dahulu dari mobil, dia akan bertanya pada penjaga didepan gerbang terlebih dahulu mengenai kebenaran alamatnya.
tak lama, Vincent kembali dengan senyum di bibir tipisnya membuat Clara bingung, ada apa dengan suaminya ini?.
setelah Vincent masuk kemobilnya, dia segera menyalakan mobilnya dan membelokan ke kiri, masuk ke halaman rumah Alvano yang cukup luas. Vincent menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk rumah Alvano karna didepan mobilnya yang merupakan parkiran khusus tamu sudah terparkir beberapa mobil mewah dan sepeda motor mahal disana.
"Kok aku takut sih babe. Kita balik aja yuk, aku takut siapa tau orang yang bermasalah sama Nathan itu mafia atau sama kaya Nathan pembunuh bayaran" ucap Clara berbisik takut dengan menggandeng lengan suaminya sambil melirik beberapa penjaga yang memandang mereka yang baru keluar dari mobil dengan tatapan datar namun mengintimidasi.
"Gak apa-apa. Ada aku disini yang akan jaga kamu" jawab Vincent ikut berbisik menenangkan istrinya yang ketakutan, bahkan tangannya sudah dingin berkeringat.
"Ayo masuk" ajak Vincent pelan lalu menunduk hormat pada beberapa penjaga didepan rumah Alvano.
Vincent dibuat salut oleh semua penjaga dirumah Alvano, meski baru pertama kali bertemu dengan dia dan keluarganya. Anak buah Alvano sangat ramah dan sopan, meski awalnya terlihat datar dan kaku, tapi setelah dia memberi hormat, mereka membalas hormatnya sembari tersenyum dengan tangan didada kirinya.
"Selamat datang tuan. Ada pesan yang bisa kami sampaikan pada tuan Alvano?"tanya salah satu penjaga berbaju bertato bintang di lengannya dengan sopan.
"Kami ingin bertemu dengan tuan Alvano dan tuan Azam. Apakah bisa?" jawab Vincent lalu balik bertanya pada penjaganya.
"Akan saya tanyakan pada kedua tuan kami tuan. Silahkan anda dan nona tunggu dulu dibangku itu"jawab penjaga tersebut lalu undur diri dengan sedikit membungkuk membuat Vincent tersenyum salut akan kesopanan dan keramahan para penjaga disini.
tak lama penjaga tadi kembali dan mengatakan jika mereka boleh masuk kedalam rumah, membuat Vincent tersenyum lalu mengucapkan terimakasih sebelum dia dan Clara masuk kedalam rumah Alvano.
sampainya didalam, keduanya disambut oleh bi Asih yang mempersilahkan mereka masuk kedalam dan mengantarnya menuju ruang tamu untuk menunggu Alvano dan Azam sebentar.
Alvano dan Azam keluar dari halaman belakang dan kini mereka melangkah menuju ruang tamu dimana Vincent dan Clara tengah menunggu mereka. Vincent dan Clara merasakan gugup sekarang membayangkan bagaimana marahnya nanti Alvano atau Azam karna kejahatan yang Jonathan lakukan pada istri mereka.
"Selamat datang Tuan dan nyonya. Maaf, kalian siapa ya?"tanya Azam memincingkan matanya, dia menatap seksama wajah Vincent dan dia sedikit melihat bayangan wajah Jonathan disana.
"Ah..iya tuan...." ucapan Vincent terhenti karna belum mengenal pria yang bertanya padanya.
"Azam. Ini putra saya, Alvano" jawab Azam sambil menepuk bahu putranya.
"Begitu ya. Baiklah Tuan Azam, sebelumnya kami ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu pada tuan berdua. Saya Vincent dan ini istri saya Clara, saya saudara sepupu Jonathan, saya yakin kalian masih mengingat siapa Jonathan" ucap Vincent dengan wajah khawatirnya, dia khawatir jika Alvano atau Azam akan marah pada mereka atau justru menghabisi mereka disana.
"Siapa yang akan melupakan seorang pembunuh bayaran seperti Jonathan. Apalagi dia sudah menyakiti Mamiku dan membuat istriku kehilangan semua ingatannya" jawab Alvano seraya menampilkan senyum mirisnya dengan memalingkan wajahnya kearah lain, tiba-tiba hatinya dibuat perih ketika mengingat Elina yang melupakan segalanya dan merintih kesakitan.
Vincent dan Clara terkejut mendengarnya, dia pertama kali mendengarnya karna Jonathan ataupun tangan kanan Jonathan tak mengatakan apapun pada mereka soal istri Azam dan Alvano. Astaga! ini sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya. Kami tidak tau sama sekali tentang yang dialami oleh istri tuan berdua. Kami selama ini menetap di Jepang sana sehingga kami tak pernah tau apa yang Jonathan lakukan disini. Kami sungguh meminta maaf atas tindakan Jonathan yang dia lakukan pada istri tuan berdua"ucap Vincent dianggurin oleh Azam yang memakluminya jika Vincent tak tau apapun tentang kejadian lalu. Mungkin tidak dengan Alvano, tangannya mengepal kuat saat mendengar kata maaf.
"Apakah hanya dengan kata maaf bisa mengembalikan ingatan istriku? apakah dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya seperti dulu?"tanya Alvano dengan meninggikan suaranya, dirinya benar-benar marah sekaligus benci pada Jonathan.
Clara yang tak pernah dibentak oleh siapapun, membuatnya ketakutan saat mendengar suara keras Alvano. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Vincent dengan menutup telinganya.
"Tenangkan dirimu Al. Jangan terbawa amarahmu sendiri, mereka tidak salah apapun atas kejadian itu. Jadi kau tidak bisa marah pada mereka berdua"ucap Azam menenangkan sang putra yang hampir kehilangan kesabarannya.
"Bagaimana aku bisa tenang Pi. Mereka datang dengan mudahnya mengatakan kata maaf didepan kita atas kejadian itu. Apakah kata maaf dari mereka bisa membuat El kembali seperti dulu Pi? Jawabannya enggak. Enggak akan bisa Pi" jawab Alvano dengan wajah sendunya, bayangan kejadian lalu masih tertanam kokoh di benaknya.
"Maaf tuan jika saya lancang. Jujur saja kami juga marah, benci dan kecewa dengan apa yang telah Jonathan lakukan pada istri dan keluarga anda. Tapi kami berusaha menerima itu semua dan memaafkannya, dia tidak ada niatan untuk melakukan tindakan itu, yang melakukannya adalah adik dari Ayu dan mereka juga yang sudah membunuh orang tua kami sehingga Jonathan membalasnya dan kini Ayu juga adiknya telah tiada ditangan Jonathan. Jonathan sangatlah menyesal karna kecolongan saat itu sehingga membiarkan adik Ayu menyakiti istri kalian, Jonathan tengah dirawat dirumah sakit dan dia baru sadar dari komanya setelah mengalami kecelakaan sehabis melenyapkan Ayu dan adiknya. Kecelakaan untuk kedua kalinya dan mungkin ini karma untuknya"jelas Vincent dengan memberanikan dirinya menatap kearah Alvano dan Azam yang menatapnya dan mendengarkan dengan seksama penjelasannya.
"Katakan padanya. Jika dia sudah sembuh secara total dan ingin meminta maaf padaku, datanglah padaku secara langsung dengan baik-baik, tanpa diwakilkan oleh siapapun termasuk anak buahnya, maka aku akan memaafkannya saat itu juga meski rasanya akan sulit. Aku permisi"ucap Alvano lalu pergi meninggalkan ketiga orang yang menatap diam kepergiannya.
Kini hanya ada Azam, Vincent dan Clara saja. Mereka berbincang sedikit tentang Jonathan dan perbuatan Jonathan selama ini.
" Baiklah. Aku pribadi sudah memaafkan Jonathan dan kejadian itu akan aku buat sebagai pelajaran penting dalam hidupku. Namun, maaf aku tak bisa membujuk Alvano, dia memang keras kepala sehingga sangat sulit membujuknya saat ini. Untuk ucapan Alvano tadi, katakanlah pada Jonathan agar dia menemui putraku. Putraku tidak akan main-main dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya dan dia akan melakukan apa yang sudah dia ucapkan"ucap Azam diangguki oleh Vincent.
"Baiklah tuan Azam. Kami akan menyampaikannya pesan anda dan tuan Alvano pada Jonathan. Kalau begitu kami permisi tuan"jawab Vincent lalu menyalami Azam untuk berpamitan diikuti oleh Clara.
setelah kepergian Vincent dan Clara. Azam kembali ke kamarnya menghampiri Nataza yang mungkin saja sudah bangun tidur. Ya dia tertidur setelah mengonsumsi obat penurun panas, karna semalam dia demam setelah kemarin kelelahan dalam acara 7 bulanan Elina lalu disibukkan dengan butik yang Elvina kelola, mengingat Elvina tengah hamil 1 bulan dengan kondisi kandungan yang lemah membuat Nataza menggantikannya mengelola butik.
****
jika dengan makanan Elina bahagia, maka Alvano akan memberikannya, meski sesulit apapun dia mencari makanan tersebut hingga keseluruhan duniapun dia akan mengabulkannya.
mungkin dengan itu Elina bisa melupakan rasa takut pada masalalunya, dia akan melakukan segalanya asal Elina bahagia, jika menangis itupun air mata bahagianya.
"Mas" panggil Elina membuat Alvano tersadar dari lamunannya.
"Iya. Kenapa sayang?" tanya Alvano dengan ekspresi terkejut bertanya pada Elina.
"Mas ngelamun ya? kok dipanggil kaya kaget gitu sih?" tanya Elina dibalas celengan oleh Alvano.
"Enggak sayang. Mas lagi coba tahan ngantuk aja hehe.. " jawab Alvano berbohong, dia tak mau Elina kepikiran kembali apalagi mengingat kenangan buruknya karna tau dia memikirkannya.
"Kenapa panggil-panggil hmm?" tanya Alvano dengn menggeser kembali duduknya mendekati Elina.
"Aku mau bakso sama sosis bakar" jawab Elina membuat Alvano mengerjapkan matanya, pikirannya melayang mendengar kata bakso dan sosis.
matanya melirik kearah tengah pahanya yang tiba-tiba berkedut mendengar ucapan Elina. Ia bergidik ngeri saat bayangan dimana Elina memakannya.
"Mas Al"panggil Elina dengan kesal karna suaminya kembali melamun apalagi wajahnya yang terlihat takut dan geli menjadi satu.
__ADS_1
"Hah.. iya" jawab Alvano terkejut lalu menetralkan jantungnya sebentar.
"kok ngelamun lagi sih? Aku mau bakso sama sosis goreng mas" rengek Elina membuat Alvano tersenyum terpaksa, dia masih merinding membayangkan jika miliknya.. hihh..
"Iya. Aku buatin kedapur ya, kamu tunggu disini oke" ucap Alvano dibalas anggukan oleh Elina yang langsung mengambil. remot TV dan menyalakannya, seperti biasa film unicorn.
Alvano melangkah menuju dapur dan menyiapkan semua bahannya diatas sebuah nampan sedang, dia akan membuat 20 tusuk saja untuk Elina dan yang sisa 4 untuknya, mengalah adalah hal yang harus Alvano lakukan.
setelah semuanya sudah ditusuk menggunakan. tusuk sate, dia mengambil mentega lalu mengoleskannya menggunakan kuas khusus sampai rata. Setelah rata Alvano meletakkan semuanya kembali keatas nampan tadi dan melukai berulang pada yang lainnya.
semuanya selesai, kini giliran dibakar. Alvano membakar menggunakan pembakar sate, setelah dibakar setengah matang dia mengoleskan kecap dan saus hingga rata melumuri bakso dan sosisnya.
lalu dia bakar kembali hingga matang semua dengan merata, setelahnya dia meletakkannya pada piring yang sudah dia siapkan dan membawanya ke arah kamar, sebelum dia kekamar, dia meminta pada mang Tris untuk membersihkan sisa pembakaran tadi.
sepanjang jalan, Alvano memandang bakso dan sosis bakar buatannya, entah kenapa miliknya berkedut melihatnya dan bulu kuduk nya juga merinding sedari tadi apalagi saat memotong bakso dan mensekat-sekat kecil sosisnya.
"Udah mas?" tanya Elina dengan antusias.
"Udah. Nih buat kamu, aku sengaja buat banyak supaya kamu lebih puas" jawab Alvano sambil menyodorkan piring ditangannya pada Elina.
"Wihh.. makasih mas Allah sayang" ucap Elina lalu mengambil satu tusuk sosis, tak lupa membaca basmallah terlebih dahulu.
"Sama-sama sayang" jawab Alvano dengan tangan terulur mengusap pucuk kepala Elina yang terlihat menikmati makanannya.
"Enak hmm?" tanya Alvano dibalas anggukan oleh Elina.
"Alhamdulillah deh. Kalo gitu mas mandi dulu ya, bau asap soalnya" ucap Alvano dibalas anggukan kembali oleh Elina yang masih asik dengan bakso dan sosis bakarnya.
***
Vincent dan Clara kini masih berada dirumah sakit menemani Jonathan dan nanti malam mereka baru akan pulang kerumah Jonathan, mereka juga yang akan merawat Jonathan hingga sembuh meski Vincent harus bolak-balik dari Indonesia ke jepang untuk mengurus bisnisnya disana.
"Kak. Apakah aku bisa secepatnya keluar dari sini? aku ingin segara menemui Alvano dan meminta maaf padanya" ucap Jonathan menatap kearah Vincent yang menghela nafasnya, padahal dia sudah menjelaskannya tadi pada Jonathan.
"Tidak bisa Nathan, kondisimu masih sangat lemah karna kau baru saja sadar dari koma pagi tadi. Kau masih perlu banyak istirahat disini dan dirumah, kau bisa menemui Alvano nanti setelah kau benar-benar pulih dan vit. Kau ingatkan ucapanku pagi tadi bukan?, Alvano akan memaafkanmu setelah kau menemuinya secara langsung, tentu dalam kondisimu yang sudah sehat total, bukan yang sakit seperti ini"jelas Vincent dengan pelan karna dia menggendong putrinya yang tertidur.
"Tapi aku.. "ucapan Jonathan terpotong oleh Vincent yang menepuk bahunya karna Jonathan dalam posisi duduk bersandar di sandaran ranjang.
" Dengarkan kakak Nathan. Jika kau memaksakan dirimu kesana sekarang dan mengatakan maaf padanya, justru Alvano tak akan memaafkanmu karna kau tak memenuhi syarat yang dia berikan dan kau sendiri pun yang akan susah nanti disana. Menurut lah Nathan, Alvano juga tak akan mau kau semakin sakit dan drop kembali karna memaksakan diri kesana hanya demi kata maaf darinya"jelas Vincent kembali dibalas anggukan pelan oleh Jonathan.
"Bagus.Sekarang istirahatlah, karna kau perlu banyak istirahat untuk sembuh lalu berjumpa dengan Alvano"ucap Vincent dan dituruti oleh Jonathan yang langsung merebahkan dirinya dan memejamkan mata.
Vincent menghampiri Clara dan menyerahkan Isabella padanya, dirinya kembali duduk dibangku samping ranjang Jonathan lalu menatap adik sepupunya. Dia begitu menyayangi Jonathan, meski dia harus menyerahkan nyawanya dia rela demi adik tersayangnya ini.
__ADS_1