
1 jam lamanya dokter baru keluar dari ruang IGD dengan senyum diwajahnya membuat Alvano sedikit merasa lega tapi juga cemas, dengan segera Alvano menghampiri dokter tersebut bertanya tantang istrinya
"Bagaimana kondisi istri saya dok?"tanya Alvano cemas dengan memegang tangan dokter tersebut
"Kondisi istri anda baik-baik saja tuan, anda tenang saja ya. Hanya saja dia sekarang masih belum sadarkan diri dan untuk sementara waktu istri anda bernafas menggunakan tabung oksigen dulu karna nafasnya masih belum normal untuk saat ini. Untuk tuan Al tolong diperhatikan lagi ya makanan istri anda, karna istri anda memiliki alergi pada seafood. Mungkin sebelumnya istri anda telah mengkonsumsi seafood tuan?"jelas dokter dengan bertanya
lalu ingatan Alvano berputar pada saat dimana tadi makan malam membuat Alvano menatap Nataza dan juga para wanita disana, jika kalian mengira saat dihotel kalian salah, karna yang makan seafood dihotel adalah Alvano dan Elina hanya memakan sup ikan tuna saja dan salad buah, jadi tidak mungkin alergi bukan
"Baiklah tuan muda dan semua, saya permisi"pamit dokter tersebut lalu tatapan Alvano beralih pada Mami dan Ountynya
"Mami tau gak bahan apa aja yang dipake saat makan malam. tadi?"tanya Alvano dengan menatap Maminya sendu
"Mami tidak tau nak, Mami hanya membuat salad buah dan sup ayam yang lainnya bibi sama ounty Alika yang masak"balas Nataza lalu menatap Alika
"Aku cuma bikin ayam goreng, ikan goreng dan spaghetti permintaan Bunda"ucap Alika lalu menatap Bunda Ayu meminta bantuan
"Benar nak, Oma meminta ounty Alika untuk membuat spaghetti buat Oma sendiri"balas Bunda Ayu menatap Alvano
"Nanti kita cari tau dirumah siapa yang memasak udang"ucap Azam membuat Alvano mengangguk
Bankar Elina dipindahkan keruang rawat VIP, Elina sama sekali belum membuka matanya membuat hati Alvano sakit melihatnya, hatinya nyeri melihat istrinya terbaring lemah seperti ini. Sampainya disana, Alvano langsung duduk disamping bankar Elina dan menatap istrinya yang masih setia memejamkan matanya
"Bangun Ay, aku gak mau kamu kaya gini. Aku gak suka kamu tidur terus kaya gini, buka mata kamu Ay, aku kangen sama kamu"gumam Alvano sambil mencium punggung tangan Elina
"Aku boleh tanya gak sama kamu?"tanya Alvano pada Elina yang masih tetap memejamkan matanya entah mendengar atau tidak suara Alvano
"Kamu punya alergi sama seafood?, kenapa gak bilang ke aku kalo kamu alergi sama seafood?, kenapa gak jujur sama aku?, atau kamu sengaja pengin tinggalin aku?"tanya Alvano dengan menjatuhkan air matanya diatas punggung tangan Elina
sebuah sentuhan dipundaknya membuat Alvano menoleh, dan melihat Azam berdiri disampingnya sambil tersenyum padanya. Azam tau bagaimana perasaan putranya sekarang, karna dia dulu juga pernah mengalaminya sendiri bahkan berkali-kali Nataza masuk rumah sakit yang membuat hatinya ikut sakit melihat melihat orang yang dicintainya terbaring lemah diranjang rumah sakit
"Tidurlah Boy, biar Papi yang akan menjaga menantu Papi"ucap Azam pelan pada Alvano yang menatapnya berkaca-kaca
"Gak mau Pi, Al mau nunggu El sadar, Al gak mungkin bisa tidur saat istri Al sendiri belum membuka matanya"balas Alvano dengan mengusap pipi Elina yang mulai menghangat tidak sedingin tadi dan bibirnya sudah mulai berubah seperti semula meski sedikit pucat
"Tapi kau harus tidur boy, jika kau sakit siapa yang akan menjaga menantu Papi hmm?, nanti dia akan sedih ketika tau kau sakit karna menjaganya"ucap Azam membuat Alvano menunduk lalu mengangguk dan berjalan menuju sofa untuk. mengambil selimut
"Papi aja yang tidur di sofa, Al mau tidur disamping El aja"ucap Alvano pelan dan melangkah meninggalkan Azam yang menghela nafas pelan
"Baiklah, mimpi indah boy"jawab Azam hanya dibalas anggukan oleh Alvano
Alvano duduk dikursi sebelah ranjang dan memasang selimut untuk menutupi tubuhnya, Alvano menggenggam tangan Elina yang terpasang jarum infus lalu menciumnya lama dan tak lupa Alvano mengecup bibir Elina lalu berpindah pada dahinya
"Mimpi indah cantikku"bisik Alvano dan menumpukkan tangannya sebagai bantal lalu memejamkan mata alam mimpi
Azam yang melihat putranya yang sudah tertidur dengan segera mengambil bantal sofa dan menghampiri Alvano lalu meletakkan bantal sofa tersebut dibawah kepala untuk menggantikan tangannya, Azam meletakkan tangan Alvano yang sebagai bantal disamping bantal agar lebih nyaman
"Good night Boy, Good night girl"bisik Azam bergantian mencium Alvano dan Elina
setelahnya dia melangkah menuju sofa dan mengambil hpnya dan menghubungi istrinya dia akan pulang sekarang dan meninggalkan kedua anaknya dirumah sakit, tak lama Alex masuk kedalam ruangan Elina untuk menjemput Azam tanpa bicara mereka pergi dari sana untuk kembali kerumah
****
Pagi hari
Elina membuka matanya perlahan saat matahari menusuk. masuk kematanya, dia menatap sekeliling ruangan dan hanya kamar bercat putih dan bau obat-obatan yang dia rasakan, saat menggerakan tangannya yang terasa sakit membuatnya meringis lalu dia menoleh dan menatap kesamping, Elina melihat suaminya tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya diganjal dengan bantal sofa membuat Elina tersenyum malu tangannya terulur untuk menyentuh rambutnya
"Mas"panggil Elina lirih karna dadanya masih sedikit sesak
__ADS_1
"Mas Al"panggilnya kembali sampul menggerakan tangannya pelan karna merasa nyeri ditangannya
merasa ada yang memanggilnya, Alvano mengerjapkan matanya dan melihat Elina yang menatapnya dengan tersenyum padanya. Alvano dengan segera menggenggam tangan Elina dan mengecupnya lalu berdiri menekan tombol diatas ranjang untuk memanggil dokter
tak lama dokter datang dan memeriksa kondisi Elina, dokter malakukan pemeriksaan dan mengatakan jika kondisi Elina sudah membaik meski harus menjalani rawat inap karna kondisinya masih lemah dan nafasnya yang belum normal. Setelah dokter pergi Alvano kembali menggenggam tangan Elina dan mengecupnya berkali-kali sambil tersenyum bahagia karna istrinya baik-baik saja
"Aku bersyukur banget dan aku banyak-banyak terimakasih sama Allah karna dia kamu masih selamat dan kembali sama aku. Aku minta maaf karna aku gak becus jadi suami kamu, aku bahkan gak tau kalo kamu alergi sama seafood sampai buat kamu seperti ini sekarang, aku minta maaf Ay, aku memang bodoh"ucap Alvano sambil terus mencium punggung tangan Elina dan mengusapnya pelan
"Bukan salah kamu mas, kamu gak salah sama sekali soal ini. Aku yang lupa untuk kasih tau ke kamu kalo aku alergi sama seafood dan bibi Ani juga gak tau kalo aku alergi sama seafood"balas Elina lirih membuat Alvano menatapnya
"Kamu kemarin malam makan apa aja selain sup ayam dan ayam goreng?"tanya Alvano menatap Elina yang s3dang berfikir
"Capcay sayur"balas Elina dan Alvano langsung mengambil hpnya untuk mengirim pesan pada Azam
"Kita tunggu laporan dari Papi ya, Papi lagi selidiki semuanya"ucap Alvano dibalas anggukan Elina
setelah 1 jam menunggu akhirnya Alvano mendapat laporan dari Papinya, dan memang benar bi Ani memasak capcay sayuri tanpa ditambah udang, tapi yang membuat Alvano bingung adalah kenapa difoto yang Papinya kirim didalam capcay tersebut ada udangnya sementara bi Ani bilang dia tidak menambahkan udang
"Ada yang sengaja sepertinya"gumam Alvano lalu mengirim pesan kembali pada Azam untuk mengecek mencari informasi kembali dirumah
"Kenapa mas?"tanya Elina pelan menatap Alvano yang terlihat serius dengan ponselnya, terkadang bergumam sendiri membuat Elina bingung
"Kamu yakin cuma makan capcay sayur doang kan?, gak makan tumis daging kepiting kan?, soalnya bi Imah bikin tumis daging kepiting"tanya Alvano menatap Elina serius
"Enggak, aku kan gak suka sama daging kepiting dari kecil"balas Elina membuat Alvano mengangguk lalu kembali menatap hpnya dan mengetik pesan pada Papinya sesuai ucapan Elina barusan
"Papi yang tanya ya?"tanya Elina dan dibalas anggukan oleh Alvano dengan tersenyum
"Ouh iya, Mami lagi kesini anter sarapan dan suster juga sebentar lagi antar sarapan buat kamu"ucap Alvano dengan mengusap pipi mulus Elina lembut
suara ketukan pintu membuat pandangan mereka teralih dan melihat Nataza menyembulkan kepalanya diambang pintu sambil tersenyum kikuk
"Apa Mami mengganggu?"tanya Nataza diambang pintu
"Tidak Mi, masuklah"balas Alvano dan bangkit dari duduknya untuk menyalami Maminya
Nataza melangkah menghampiri ranjang Elina, dan Elina yang melihat mertuanya mendekat dia mencoba untuk bangun namun dicegah oleh Alvano dan Nataza
"Tidak perlu bangun sayang, ingat kata dokter kau harus banyak istirahat supaya nafasmu tidak bertambah sesak"ucap Nataza sambil mengusap pelan bahu menantunya
"Iya Mi"balas Elina dengan tersenyum tipis
"Gimana keadaan kamu sayang?"tanya Nataza sambil mengusap kepala Elina
"Sudah sedikit mendingan Mi, hanya sedikit sesak dan pusing"balas Elina diangguki oleh Nataza
"Ini,Mami bawakan sarapan untuk kalian, dari pada kamu tidak selera makan makanan dari rumah sakit, jadi Mami bawa makanan untuk kamu juga"ucap Nataza sambil meletakkan rantang diatas nakas
"Makasih banyak ya Mi, maaf jadi repotin Mami"balas Elina dengan senyum bahagianya, kini dia dapat merasakan kasih sayang seorang ibu dari mertuanya
"Gak merepotkan sayang, Mami malah seneng kok karna Mami bisa merawat putri Mami"ucap Nataza membuat Elina menjatuhkan air matanya
"No!, gak boleh nangis sayang. Air mata kamu terlalu berharga untuk jatuh"lanjutnya sambil menghapus air mata Elina
"Gak Mi, ini air mata bahagia kok, El bahagia bisa kenal Kamu sebagai mertua El, El bahagia karna dari Mami El bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi. El boleh peluk Mami gak?"tanya Elina dibalas anggukan juga tentangan tangan oleh Nataza
"Uuuhh... anak Mami"ucap Nataza sambil mencium pucuk kepala Elina sayang dengan usapan lembut dikepalanya
__ADS_1
"Makasih Mi"bisik Elina dan mendapat kecupan didahinya
"Sama-sama anak Mami"balas Nataza dengan melepas pelukkan mereka dan mengusap lembut pipi menantunya
"Permisi"ucao seseorang membuat pandangan mereka beralih dan melihat Alvano membawa nampan berisi makanan mereka
"Kenapa nak?"tanya Nataza menatap putranya aneh
"Apakah menangisnya sudah selesai?, bolehkah istri saya makan terlebih dahulu nyonya, kasihan susternya sudah berdiri sejak tadi didepan pintu hanya untuk menyaksikan kalian menangis dan berpelukan seperti teletubbies"ucap Alvano mendapat sentilan kecil didahinya oleh Nataza sementara Elina hanya tertawa kecil mendengarnya
"Maaf ya suster"ucap Elina
"Tidak masalah non El, ini sarapannya"balas suster tersebut dengan menyodorkan makanan Elina
"Terimakasih suster..."ucapan Elina terpotong sambil mencari nametag diseragam suster tersebut
"Nadia non El"sambar suster tersebut dengan tersenyum mengerti maksud tatapan mata Elina
"Ah.. iya suster Nadia, terimakasih banyak"ucap Elina
"Sama-sama non El, kalo begitu saya permisi. Mari tuan, nyonya"pamit suster tersebut lalu keluar dari sana
"Aku suapin boleh?"tanya Alvano dengan meminta mangkuk bubur ditangan Elina
"Boleh dong mas, tapi kamu makannya gimana?"jawabnya sambil menatap piring Alvano yang tergeletak diatas nakas
"Aku nanti aja setelah kamu makan, lagian aku belum lapor kok"balas Alvano dan diangguki oleh Elina
selesai membantu Elina sarapan, Alvano mulai menyantap sarapannya sesekali berbicara pada Elina. Nataza yang melihat putranya kembali tertawa dan tersenyum sungguh merasa lega dan senang, Elina telah sadar dengan perlahan pulih dan itu mengembalikan putranya yang murung dan sedih kembali ceria
"Makasih Elina, karna kamu sudah mengembalikan putra Mami yang ceria dan penuh tawa ini, Mami bersyukur karna kamu yang menjadi istri Al"batin Nataza menatap keduanya yang masih tertawa
"Al, Mami pulang dulu ya. Papi mau ke bandung katanya mau ngurus proyek disana gantiin kamu"ucap Nataza membuat Alvano diam dengan menatap Maminya
"Maaf ya Mi, Al masih belum bisa ke luar kota karna harus jaga El disini. Maaf juga buat Papi karna harus pergi keluar kota untuk menggantikan Al"balas Alvano membuat Nataza menggeleng
"No Boy, kan Papi sendiri yang bilang sama kamu, jika kamu berhalangan kan masih ada Papi yang akan menggantikanmu mengurus semuanya termasuk pergi ke luar kota mengurus proyek disana"ucap Nataza membuat Alvano mengangguk
"He'em Al ingat, makasih Mi. Mau Al antar gak?"tanya Alvano
"Gak, gak usah. Kamu sini aja jaga Elina, lagian Alex udah didepan karna diminta sama Papi buat jemput"balas Nataza dibalas anggukan oleh Alvano
"Hati-hati Mi"ucap Elina dan Alvano bersamaan
setelah kepergian Nataza, kini hanya ada mereka berdua diruang VIP tersebut. Elina menatap Alvano yang terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga alisnya naik keatas dan dahinya tiba-tiba mengerut
"Mas!"panggil Elina membuat Alvano menoleh
"Kenapa sayang?"tanya Alvano lembut
"Harusnya aku yang tanya, mas kenapa? ada yang mas pikiran?"tanya Elina dengan menatap Alvano yang menatap lurus kedepan
"Aku cuma lagi kepikiran aja sama siapa yang tambahin udang dicapcay itu, padahal bi Ani bilang kalo capcay itu cuma capcay sayur sesuai permintaan kamu, tapi kenapa ada udangnya coba?, apa jangan-jangan ada yang sengaja ingin nyakitin kamu dengan menambahkan udang ke makanan kamu, orang itu tau kalo kamu alergi udang makanya dia sengaja"ucap Alvano sambil menebak-nebak
"Udah mas, jangan nebak-nebak gitu nanti salah terus jatuhnya fitnah. Lagian aku juga udah gak papa kan, jadi jangan terlalu dipikirin oke"balas Elina sambil mengusap rahang tegas Alvano yang hanya mengangguk sebagai jawaban
"Aku akan cari tau pelakunya Ay, aku gak akan diam aja biarin orang itu berkeliaran dirumah setelah buat kamu sakit dan berakhir dirumah sakit kaya gini" batin Alvano dengan menatap Elina yang masih tersenyum menatapnya
__ADS_1