
"Baiklah, akan aku lepaskan Ayu sekarang juga. Tapi aku mohon jangan sakiti istri dan anakku"ucap Alvano diangguki oleh Jonathan dan suara tembakan dan teriakan Elina terdengar jelas didalam rekaman tersebut.
"Apa yang kau lakukan?!!"teriak Alvano mendengar suara istrinya kesakitan.
"Hanya bermain sedikit"jawab Jonathan lalu pergi meninggalkan mereka dan kembali ke rumahnya dan anak buahnya membawa Ayu yang tak sadarkan diri meninggalkan tempat tersebut meninggalkan Alvano yang terus memanggilnya.
"Pi.. kita pulang sekarang... akhh.. "ucap Alvano sambil meringis memegangi perut dan pahanya yang terasa amat sakit saat kan bangkit.
"Tidak, kau harus kerumah sakit dulu untuk mengobati lukamu, biar Paman yang akan mengecek keadaan Elina dan yang lainnya dirumah"jawab Adam pungkas lalu dia pergi kembali meninggalkan mereka yang tengah membantu Alvano masuk kedalam mobil.
"Kalian! Jaga Al dan Azam. Aku akan pulang bersama Maxim. Ben, Alex, tolong kalian kebumikan anak buah kita yang meninggal dan obati mereka yang terluka dengan baik"perintah Adam diangguki oleh semuanya lalu pergi dari sana.
Diperjalanan, Alvano sudah terlalu kehilangan banyak darah hingga membuatnya lemah, wajahnya mulai memucat dan tubuhnya mulai mendingin membuat Azam takut juga khawatir, apalagi saat bibir membiru Alvano terus memanggil nama Elina membuat hati Azam sakit mendengarnya.
"Bertahanlah boy, kita akan segera sampai dirumah sakit. Yakinlah, Elina pasti baik-baik saja sayang"bisik Azam pada Alvano yang terus memanggil Elina dengan mata terpejam.
****
dirumah Alvano, kini Adam telah sampai disana dan melihat anak buahnya tergeletak meski tak meninggal namun terluka cukup parah dibagian lengan, kaki dan perut, untungnya anak buah Jonathan tak menyerang dada dan kepala mereka semua sehingga mereka masih bisa bertahan.
"Maxim, periksa semua yang ada disini, apakah ada yang meninggal atau tidak? kalian ikut aku masuk"perintah Adam mengajak beberapa anak buahnya ikut masuk kedalam rumah Alvano.
saat mereka membuka pintu, sungguh mereka ingin segera membantai Jonathan saat ini juga. Semua barang hancur dan berlubang karna tembakan, darah dimana-mana membuat pikiran Adam melayang pada keluarganya.
Adam mencari kesemua sudut ruangan yang ada dirumah besar itu, termasuk kamar Alvano yang paswordnya telah rusak karna dibuka paksa. Saat masuk Adam tak melihat siapapun didalam. kamar itu, namun bercak darah terlihat jelas diujung nakas sepertinya ada membenturkan sesuatu kesana.
"Bos.. mereka semua ada didalam gudang dengan keadaan nona Elina yang sudah terluka dan adik tuan nona Zaza tak sadarkan diri dengan luka diperutnya"lapor seorang anak buah Adam yang langsung membuat Adam berlari kearah gudang diikuti oleh anak buahnya yang lain.
sampainya diambang pintu gudang, Adam melihat orang-orang tersayangnya tengah terikat menjadi satu hanya Elina dan Nataza yang terpisah didua kursi yang berbeda dengan luka yang berbeda pula.
Adam menghampiri adiknya dan melihat beberapa luka lebam diwajahnya dan luka tusukan benda tajam diperutnya membuat Adam mengepalkan tangannya kuat dan meminta anak buahnya membawa Nataza kerumah sakit.
Ia berpindah pada Elina dan memastikan kondisinya, dan dia mendapatkan jika kondisi Elina sangat lemah, bahkan denyutan nadinya begitu lemah, luka bekas pukulan benda tumpul dikepalanya dan lebam di wajah juga lengannya.
"Bawa mereka yang terluka kerumah sakit sekarang"perintah Adam diangguki oleh mereka.
Adam mendekati Kirana istrinya dan ketiga putra putrinya yang langsung menangis dalam pelukan Adam. Adam menatap mereka dan melihat tidak adanya luka apapun dan Adam yakin jika ketiga anaknya mengalami trauma atas kejadian ini, apalagi menyaksikan kedua ountynya disiksa didepan mereka.
"Kalian tidak apa-apa kan? kau tidak apa-apa kan honey?"tanya Adam khawatir pada istri dan anak-anaknya.
"Takut Daddy...meraka.. mereka...sakiti ounty, mereka pukul ounty. Kami takut"tangis ketiga anaknya membuat hati Adam sakit mendengarnya.
"Dengarkan Daddy nak. Semuanya sudah aman, semuanya sudah baik-baik saja, jadi kalian tidak perlu takut lagi oke, ada Daddy disini yang akan menjaga kalian dan Mommy"ucap Adam lalu memeluk mereka keluarganya.
"Mas. kita kerumah sakit ya? aku mau tau keadaan Aza sama Elina"pinta Kirana diangguki oleh Adam dan mereka pergi kerumah sakit bersama.
__ADS_1
****
Dirumah sakit, Azam nampak khawatir, cemas, takut dan gelisah belum mendapatkan informasi dari ruang operasi mengenai Alvano, apalagi barusan setelah diberi kabar oleh kakak iparnya jika Nataza dan Elina terluka membuat ketakutan Azam semakin menjadi.
Azam memilih pergi kemushola untuk melaksanakan sholat tahajut, dia mengambil wudhu lalu berdo'a, setelahnya dia masuk kedalam mushola yang terlihat sepi tak ada seorangpun disana. Dengan niat hati yang tulus dia mulai melaksanakan solatnya. Selesai sholat dia mulai menengadahkan tangannya dan mendongak menatap langit dan mulai berdoa pada Allah SWT.
"Ya allah, Hanya pada engkaulah hamba memohon, hanya pada engkaulah hamba meminta, dan hanya pada engkaulah hamba berserah diri atas segalanya. Ya Allah, tolong lindungilah semua keluargaku, jaga mereka untukku, jangan ambil mereka dariku, aku masih menginginkan mereka berada selalu disampingku, aku hanya hambamu yang hanya bisa berjuang juga berharap dan engkau yang selalu mengabulkan segala keinginanku entah itu kecil maupun besar. Ya Allah ya tuhanku, tolong, kali ini saja kabulkanlah keinginanku lagi, kabulkanlah semua do'a-do'aku untuk keluargaku ya allah, semoga engkau mau mengabulkannya ya allah. Amin" doa Azam setelah selesai melaksanakan sholat tahajutnya.
Selesai sholat, Azam kembali keruang operasi dan pas sekali saat dia berbelok dia melihat lampu operasi telah mati, menandakan jika operasi telah selesai membuat jantung Azam berdetak cepat dan kembali berdoa dan berzikir pada Allah, berharap jika putranya baik-baik saja.
tak lama dokter keluar dengan senyum dibibirnya membuat ketakutan Azam perlahan luncur, namun masih tersimpan rasa cemas dan khawatir tentang kondisinya.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?"tanya Azam berharap
"Putra anda baik-baik saja tuan, luka tembaknya sudah kami jahit setelah kami keluarkan peluru diperut dan pahanya, untung saja luka diperutnya tidak mengenai organ dalam yang dapat mengakibatkan hal yang tidak diingkan. Untuk saat ini putra anda sudah melewati masa kritisnya dan kita tunggu saja putra anda sadar setelah kita pindahkan keruang rawat"jelas Dokter membuat hati Azam tenang namun yang membuat ia khawatir adalah kondisi Nataza dan Elina saat ini.
Kini Alvano telah dipindahkan keruang rawat VVIP dilantai teratas, Azam tengah menunggunya bersama Adam dan yang lainnya yang baru saja tiba di rumah sakit, bahkan Elvina yang baru saja kembali dari luar kota langsung meluncur menuju rumah sakit bersama Dimas untuk melihat kondisi Alvano, Mami dan kakak iparnya.
"Pi...kak Al gimana keadaannya? kakak gak apa-apa kan Pi?"tanya Elvina pelan melihat kondisi kakaknya yang belum sadarkan diri sejak 2 jam lalu dipindahkan.
"Kakakmu tidak apa-apa El, dia baik-baik saja setelah melewati masa kritisnya. Hanya perlu banyak istirahat supaya kondisinya cepat membaik"jawab Azam yang tau bagaimana perasaan putrinya.
"Lalu Mami dan kak El gimana? mereka baik-baik saja kan?"tanya Elvina menayap Papinya yang diam
"Kau pulang bersama Dimas ya, kau pasti lelah habis pulang dari luar kota"pinta Azam dibalas gelengan oleh Elvina
"Be.. kita pulang ya, kita juga perlu istirahat"ucap Dimas meyakinkan tunanangannya
"Tapi..."
"Pulang ya, besok pagi kau boleh kembali lagi kesini"potog Azam dibalas anggukan pasrah oleh Elvina, sebelum pergi Elvina menghampiri kembarannya menggenggam tangannya
"Kak, cepat sadar ya? Elvina kangen sama kak Al, bangun ya kak. El gak bisa lihat kak Al kaya gini, El janji besok El kesini lagi buat ketemu kak Al dan El minta besok kak Al udah buka mata boleh kan?. El pamit ya, Assalamualaikum"bisik Elvina lalu mengecup dahi kembarannya dengan air mata menetes jatuh diatas kelopak mata Alvano.
setelah Elvina pergi bersama Dimas, kini hanya ada Azam bersama Ayah, Irfan dan Adam disana menunggu Alvano sadar. Tak lama suara ponsel Irfan berdering dan dia segera mengangkatnya setelah mengatakan jika Alina menelfonnya.
"Hallo babe. Gimana disana?"tanya Irfan cemas saat mendengar Alika menangis
"Mas.. kak Aza kondisinya sangat lemah, dan dokter bilang kalo sampai pagi kak Aza belum juga sadar kak Aza dinyatakan koma"jawab Alika membuat Azam lemas dan langsung dipegang oleh Adam dan Ayah Tama agar tidak terjatuh kelantai.
"Lalu... lalu Elina gimana?"tanya Adam merebut ponsel Irfan
"Elina.. dia.. hilang ingatan kak"jawab Alika dengan tangisnya membuat semua hancur mendengarnya, bagaimana nanti saat Alvano membuka mata dan menanyakan Elina yang kini justru lupa padanya.
"Kata dokter luka dikepala Elina cukup parah, untuk saja tidak membuatnya gagar otak namun dia kehilangan ingatannya entah sampai kapan juga kandungan Elina yang cukup lemah karna mendapat pukulan sedikit keras, untung saja tidak mengalami keguguran dan untuk kak Aza dia sudah melewati masa kritisnya namun belum sadar setelah melakukan transfusi darah akibat luka tusukan diperutnya membuatnya kehilangan banyak darah dan dokter akan memindahkan mereka keruang rawat"jelas Alika disela tangisnya membuat yang lain ikut menangis apalagi saat melihat jari Alvano yang bergerak.
__ADS_1
"Baiklah, kau konta dokter pindahkan keruang VVIP NO 2 dilantai paling atas agar seruangan dengan Alvano"ucap Adam
"Baik kak. Aku akan mengatakannya pada dokter dulu"jawab Alika diseberang sana lalu mematikan telfonnya
Alvano mulai membuka mata membuat ketiga pria disana menghampirinya dan menekan tombol diatas ranjang Alvano untuk memanggil dokter. Dokter datang memeriksa kondisi Alvano keseluruhan terutama luka tembaknya yang masih sangat basah, dokter ngatakan jika kondisi Alvano sudah baik meski harus tetap istirahat total.
Setalah dokter pergi, kini Alvano beralih menatap ketiga pria disana yang tengah menatapnya dengan senyum, Alvano kembali teringat akan kejadian penyerangan semalam yang dilakukan oleh Jonathan dan Elina?!.
"Pi, Paman, Opa. Elina mana?, Elina gak apa-apa kan?"tanya Alvano pada ketiga pria disana yang saling lirik dan diam.
"Pi.. Elina gak apa-apa kan? Elina mana?"tanyanya lagi membuat Azam menghela nafasnya pelan.
"Elina sebentar lagi datang kok kesini, dia ada diluar sama Mami""jawab Azam membuat Alvano mengangguk percaya akan ucapan Papinya.
tak lama pintu ruangan Alvano terbuka dan melihat beberapa perawan menarik bankar seseorang membuat Alvano membulatkan matanya melihat Maminya ada diatas bankar tersebut lalu menatap Papinya yang langsung menatapnya dengan sendu dan disusul bankar kembali yang membuat hati Alvano hancur.
"E-elina?... Pi?!"tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia bangkit dengan menahan sakit diperutnya menghampiri bankar Elina disampingnya.
"Boy, kau istirahat saja. Kau tak boleh banyak gerak"jegah Azam memegang lengan Alvano yang hampir jatuh.
"Aku mau ke Elina pi"jawab Alvano dengan air mata yang mulai jatuh melihat istrinya terluka dan terbaring lemah diatas bankar.
"Baiklah, pake kursi roda ya. Papi bantu"ucap Azam pasrah dibalas anggukan oleh Alvano.
Ia dipindahkan ke kursi roda dan didorong mendekati Elina yang belum sadar, Alvano menggenggam tangan Elina dan menciumnya lembut namun lama-lama air matanya jatuh, dia merasa gagal menjadi seorang suami untuk Elina, dia Mengingkari janjinya untuk selalu menjaga Elina, dia mulai mulai merasa jika dia bukan suami yang baik dan benar untuk Elina.
"Gak berguna lo Al, lo gak berguna jadi suami, lo gagal jadi suami yang baik untuk istri lo sendiri, lo udah buat dia terluka berkali-kali, lo udah buat dia menangis berkali-kali. Gak berguna lo Al, gak berguna. Lo gak pantes jadi suami, lo gak bisa jaga dan lindungi istri lo sendiri, lo bodoh Al, lo gobl*k, gak becus lo jadi suami Al, gak. becus.." teriak Alvano dalam hati yang menangis pilu.
"Keadaan mereka gimana Pi?"tanya Alvano sambil mengusap air matanya yang jatuh kepada Papinya yang menatapnya sendu.
"Mamimu telah melewati masa kritis Al, hanya saja kondisinya terlalu lemah dan jika sampai matahari terbit Mamimu belum membuka mata, Mamimu dinyatakan koma"jawab Azam menatap istrinya yang terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Lalu Elina bagaimana? anak aku baik-baik saja kan?"tanya Alvano membuat Azam memejamkan lalu menghela nafasnya dan bangkit menghampiri putranya.
"Kau harus kuat boy, Papi yakin kau pasti bisa melewati semua ini"jawaban Azam membuat Alvano bingung.
"Maksud Papi?"tanya Alvano menatap Papinya yang ada disampingnya.
"Kandungan Elina cukup lemah boy karna mendapat sebuah pukulan sedikit kencang, untung saja tidak mengalami keguguran karna pukulan itu. Untuk Elina...."penjelasan Azam terpotong saat melihat Alvano memejamkan matanya menahan tangisnya, tangannya menggenggam erat tangan Elina. Jujur saja Azam tak tega mengatakan ini pada putranya tapi dia harus mengatakannya.
"Elina hilang ingatan boy"lanjut Azam membuat Alvano membulatkan matanya terkejut sekaligus syok mendengarnya, dengan cepat dia menatap Papinya yang terlihat mengangguk meyakinkan Alvano.
"Gak Pi... gak mungkin. Elina gak mungkin lupain Al Pi... dia gak mungkin lupain semua tentang kita. Elina gak mungkin lupa sama Al.. gak!..gak mungkin!!...Papi bohong kan?!...Papi pasti bohong kan Pi?!....Papi jangan bercanda dong Pi.. gak lucu Pi....Papi sama Elina ngerjain Al kan? iya kan?"ucapan Alvano membuat hati Azam begitu hancur, Ia hancur melihat putranya seperti ini menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.
"Gak mungkin Pi... gak mungkin Elina lupain Al. Enggak Pi....enggak!!..Papi bohong.. Papi bohong sama Al...Elina gak sejahat itu sama Al.. Enggak Pi"tangis Alvano sesegukan menatap Elina yang belum membuka matanya
__ADS_1