Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 44


__ADS_3

Akhirnya setelah hampir 2 minggu dirawat, kini Elina sudah diperbolehkan pulang oleh dokter meski Elina belum boleh untuk mengingat banyak memori kembali, tapi mereka bersyukur Elina bisa pulang dan dengan pelan mereka akan membantu Elina untuk mengingat semuanya meski butuh waktu yang lama mungkin.


Elina menginjakkan kakinya kembali dirumahnya bersama Alvano, dia dituntun oleh Nataza dan Bunda Ayu masuk kedalam rumah, sementara Alvano dituntun oleh Azam dan adiknya Aiden karna luka tembak dipahanya masih belum kering sehingga menimbulkan rasa sakit jika terlalu banyak gerak.


"Ayo masuk sayang"ajak Nataza pada Elina yang masih berdiam diri diambang pintu masuk.


Elina melihat rumah tersebut dan beberapa asisten rumah tangga juga penjaga didepan merasa tidak asing dengan mereka, seperti pernah melihat dan mengenal dekat namun dia tidak ingat apapun, hanya bayangan hitam putih yang melintas dikepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Ada apa sayang? kepalamu sakit lagi nak?"tanya Bunda Ayu khawatir pada cucu menantunya yang terlihat meringis memegangi kepalanya.


"Sedikit bu.. Emm.. maksudku Oma. Tapi tidak apa-apa"jawab Elina menampilkan senyum manisnya membuat Bunda Ayu bernafas lega.


"Ya sudah, sekarang kalian masuk lalu istirahat dikamar ya"ucap Nataza diangguki oleh Elina seraya tersenyum


Azam mendudukan Alvano disofa ruang keluarga sementara Elina dibawa ke kamar untuk istirahat. Azam menatap paha putranya yang terbalut perban karna kini Alvano hanya memakai celana pendek selutut yang tersingkap memperlihatkan lukanya.


Dokter mengatakan pada Alvano jika dia harus mengenakan celana pendek untuk sementara waktu agar menghindari gesekan dengan lukanya yang belum kering sempurna, meski tertutup perban namun jika tergesek dan tekanan sedikit saat duduk dapat menimbulkan lukanya kembali terbuka, jadi Azam memesankan banyak celana pendek untuk putranya, sebab Alvano hanya memiliki 4 atau 5 celana pendek saja dilemari karna semuanya didominasi oleh celana panjang.


"Al, bagaimana lukamu?"tanya Adam yang baru saja dari dapur membawa kue brownis buatan Elvina.


"Sudah agak mendingan Paman, hanya saja masih agak nyeri jika dibawa berjalan dan duduk"jawab Alvano membuat Adam mengangguk paham.


"Paman paham itu Al, karna Paman pernah mengalaminya sendiri dulu. dan ya Paman berpesan padamu agar lukamu cepat kering, maka kau jangan terlalu banyak gerak dan berjalan, kau harus makan juga sup daging ikan gabus agar lukamu cepat sembuh. Dulu Paman sering sekali dibuatkan sup itu oleh Oma Ayu dan Nenek Yati saat Paman mengalami luka tembak atau luka sayatan yang cukup dalam"jelas Adam diangguki paham oleh Alvano.


"Nenek Yati?!.. siapa Bang? kok Azam ataupun Aza gak pernah dengar nama itu? "tanya Azam yang tak pernah mengetahui nama Yati sebelumnya.


"Beliau pembantu Abang saat Abang belum bertemu dengan Zaza. Abang dulu dirawat olehnya sejak Abang masih bayi hingga dewasa dan beliau wafat karna sakit pada saat Abang bertemu Zaza hari itu. Dia sudah Abang anggap sebagai ibu Abang sendiri sampai kapanpun Ibu Abang ada dua yaitu Bunda Anan dan Ibu Yati"jelas Adam menitikkan air matanya mengingat mendiang Ibu Yati yang telah menggantikan sosok Bunda Anan meski sang Bunda tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


"Paman gak boleh nangis. Nanti Nenek Yati juga akan sedih liat Paman sedih kaya gini, kalo Paman kangen sama nenek, doakan nenek setiap hari agar beliau bahagia disisi Allah SWT, Allah pasti akan selalu dengarkan do'a terbaik Paman untuk nenek"ucap Nasyla ikut nimbrung yang kini duduk disamping Adam yang tersenyum padanya.


"Emm.. pinter banget sih keponakan Paman ini. Paman yakin, nenek pasti bahagia disana dan lebih bahagia lagi karna mendapat doa dari cucu seperti keponakan-keponakan paman ini"jawab Adam memeluk Nasyla dan Aiden yang ada disamping kanan dan kirinya dengan bahagia.


"Meskipun kita gak tau gimana wajah nenek Yati, tapi kita akan sayang dan cinta sama nenek sama seperti kita sayang dan cinta Oma juga Opa. Kita akan selalu doakan nenek dan Oma Anan disana agar mereka bahagia dan tenang disana. Amin"ucap Nasyla dengan polosnya membuat yang disana tersenyum gemas.


"Amin. Amin sayang"jawab mereka sambil tersenyum menatap Nasyla gemas, meski sudah duduk dibangku SMA kelas akhir tapi anak itu masih saja menggemaskan dengan sifat polosnya yang tak pernah hilang meski berkumpul dengan banyak orang diluar sana.


"Al, kamu istirahat ke kamar saja ya nak. Kamu perlu istirahat juga supaya lukamu cepat sembut"ucap Nataza yang tiba-tiba datang bersama Bunda Ayu disampingnya.


"Mamimu benar Al, pergilah ke kamarmu dan istirahat"lanjut Bunda Ayu setuju dengan ucapan Nataza.

__ADS_1


"Baiklah, aku permisi ke kamar dulu. Selamat siang semua"pamit Alvano lalu berjalan pelan menuju kamarnya setelah mendapat jawaban dari semua keluarganya.


Alvano berjalan kearah lift karna dia yakin jika menggunakan tangga pasti akan melelahkan dan sangat lama, lebih baik naik lift dari pada harus mendekam dipenjara sehat, sangat membosankan.


Ting...


lift terbuka dengan segera Alvano keluar dan melangkah menuju kamarnya, dan saat pertama kali dia buka pintu. Pemandangan Elina tengah tertidur adalah yang pertama kali dia lihat dan membuat hatinya nyaman juga tenang.


Elina tidur dengan posisi ternyamannya, yaitu tidur menghadap kiri dimana Alvano sering tidur. Alvano melangkah menghampiri istrinya lalu duduk ditepi ranjang dengan tangan terulur mengusap lembut pucuk kepala Elina menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Alvano mengukir senyum manisnya kala Elina menggeliet kecil merasa terusik dengan usapan dikepalanya, tangan Alvano turun kearah pipi mulus Elina lalu mengusapnya lembut nan pelan, pipi yang beberapa hari lalu ingin dia sentuh namun ditepis dengan kasar, pipi yang beberapa hari lalu ingin dia sentuh namun sang pemilik menjauh dan justru mengusirnya, kini dia bebas untuk menyentuhnya kembali seperti dahulu. Alvano mencondongkan tubuhnya tepat bibirnya berada ditelinga Elina untuk berbisik sesuatu disana.


"Sayangnya Al. Bobo yang nyenyak ya baby, aku ada disini untuk selalu menemani dan menjaga kamu, jangan khawatir dan jangan takut ya, karna Al akan selalu ada untuk baby girlnya Al. Sweet dream girl, I love you baby"bisik Alvano ditelinga Elina yang tersenyum meski matanya terpejam erat.


Alvano menegakkan tubuhnya lalu memutari ranjang dan merebahkan dirinya disebelah Elina lalu memeluknya dengan menarik kepala Elina masuk kepelukannya, meski harus menahan nyeri diperutnya tapi dia harus melakukan ini agar Elina semakin nyenyak dan nyaman dengan tidurnya.


"Aku mencintaimu Elina Pamela Jordan Aditama"ucapnya kembali mengecup pucuk kepala Elina lembut lalu ikut memejamkan matanya menyusul Elina kealam mimpi.


—————–


diruang keluarga semua tengah berkumpul kecuali anak-anak yang dibawa pergi oleh Elvina dan Dimas, entah kemana yang jelas mereka tak boleh mendengar ucapan orang tua mereka.


"Aku sudah mencari tau dan menyelidikinya lewat mata-mataku disana, ternyata Jonathan tak tau menau tentang penyerangan yang Elina dan Aza alami, ini semua murni karna anak buah Jonathan yang merupakan adik dari Ayu ingin balas dendam pada Alvano karna menyekap juga menyiksa kakaknya melalui Elina orang tersayang Alvano, dan untuk Aza dia hanya kesal karna Aza memberontak kala itu ketika melihat Elina yang dipukul dengan tongkat baseball"jelas Azam membuat Adam dan Ayah Tama menghela nafasnya kasar.


"Kau sudah ceritakan ini pada Alvano?"tanya Ayah Tama dibalas gelengan oleh Azam.


"Jangan beritahukan dulu pada Al, dia akan membabi buta jika sampai dia tau karna orang itu telah membuat istrinya terluka dan melupakan semuanya termasuk dirinya. Lebih baik sekarang kita susun rencana dulu untuk mendekati Jonathan dan kita akan ikut andil dalam membalas William juga Ayu"ucap Adam dengan memberikan usul diangguki setuju oleh yang lain.


****


Elina mengerjapkan matanya saat merasa cahaya matahari masuk kematanya, dia melihat kesamping dan melihat Alvano tertidur dengan memeluk guling, wajahnya terlihat meringis menahan sakit namun kembali dia tertidur dengan wajah polosnya membuat Elina mengukir senyum manisnya karna gemas.


Elina menatap sekeliling kamar dan melihat berbagai macam figura foto didinding kamar mereka, foto-foto Alvano sedari kecil hingga dewasa, foto Alvano bersamanya saat masa pacaran, foto pernikahan mereka, foto shootnya bersama Alvano dan foto usg anak mereka, lalu tatapan Elina beralih pada nakas disampingnya yang terdapat figura foto miliknya bersama 2 orang dewasa dan gadis remaja disebelahnya membuat Elina mengerjapkan matanya menahan denyutan dikepalanya,Elina meletakkan kembali figura itu diatas nakas lalu menatap Alvano yang masih tertidur disampingnya.


"Bukti bahwa kami telah menikah dan bukti sebentar lagi kami akan menjadi orang tua sesungguhnya. Baby didalam perut ini adalah anakku dan Al, kenapa aku harus melupakannya? kenapa aku tak mengingat suami dan anakku sendiri?, tapi siapa ketiga orang yang berfoto denganku bahkan kami terlihat begitu bahagia"Gumam Elina menatap foto pernikahan, usg anaknya,dia menatap perutnya yang terlihat membesar lalu mengusapnya lembut, dan dia kembali menatap figura foto diatas nakas tersebut dengan seksama.


tiba-tiba sekelebat bayangan hitam putih kembali muncul dikepala Elina, bayangan yang perlahan-lahan berubah menjadi berwarna namun sedikit samar dibagian wajahnya, bayangan berupa dirinya bersama pria dan wanita paruh baya dan seorang gadis yang terlihat bahagia, bayangan pantai yang terdapat senja yang begitu indah dan mereka disana.


bayangan kembali berputar memperlihatkan dimana ada seorang wanita bersama seorang pria dan mereka terlihat begitu bahagia diatas panggung kecil ditepi laut dengan pria memeluk wanita dari belakang dan bayangan lain muncul dimana ada seorang wanita dan pria mengenakan pakaian pernikahan, pria mencium dahi wanita dan wanita mencium tangan pria. Bayangan tersebut terus berputar dikepalanya membuatnya meringis menahan sakit yang kian menjadi.

__ADS_1


"Aaakhhh...stop!!..s-stop!.. hentikan itu.. hentikan aku mohon!!...S-sakit... Aakhh..."seru Elina sambil meremas rambutnya menahan sakit dikepalanya.


suara Elina mengusik tidur Alvano, dia segera membuka matanya dan melihat istrinya yang kesakitan sambil meremas dan kini menjambak rambutnya sendiri menahan sakit luar biasa dikepalanya.


"Ay.. hentikan itu.. jangan tarik rambut kamu sayang. Stop Ay"ucap Alvano berusaha melepaskan kepalan tangan Elina disambutnya sendiri.


"S-sakit.. Aaakhhh.. S-stop.. Hiks.. Stop.."tangis Elina dengan tangan masih menjambak rambutnya sendiri membuat Alvano khawatir, panik, cemas dan sedih saat ini.


"Sebentar"ucap Alvano lalu turun dari ranjang dengan pelan menuju nakas mengambil obat Elina dan segelas air putih dengan tangan gemetar, jujur dia ingin menangis saat ini namun dia tahan sebisa mungkin.


Alvano kembali dengan langkah pelan mengitari ranjang dan duduk didepan Elina yang masih merintih sakit, dia menyodorkan obat dan segelas air putih yang dia ambil barusan pada Elina untuk diminum sekarang.


"Diminum dulu sayang, sakitnya pasti akan hilang kok"pinta Alvano lembut meski tangannya bergetar namun sebisa mungkin dia menormalkan tangannya.


Elina langsung mengambil obat tersebut dan meminumnya bersamaan dengan air yang dia tenggak, perlahan-lahan sakit dikepalanya menghilang hanya tersisa rasa kantuk yang tiba-tiba mendera.


"Tidue lagi ya, pelan-pelan sayang"ucap Alvano membantu Elina merebahkannya diranjang dengan pelan karna takut menekan anak mereka.


setelah Elina tertidur dengan nyaman Alvano menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya agar merasa hangat sampai batas leher, Alvano menunduk lalu mengecup pipi gembul istrinya tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja tepat dipipi Elina yang baru saja Al cium.


"Maafkan aku sayang, sungguh aku gagal untuk menjadi suami untukmu, aku memang tidak berguna sama sekali menjadi suamimu, aku selalu membuatmu terluka bahkan menangis, rasanya ku tak pantas untuk dicintai oleh wanita manapun karna aku tak berguna, aku selalu gagal dan aku selalu bodoh. Jika sampai pada akhirnya takdir meminta kita tuk berpisah, maka aku ikhlas El, aku ikhlas kau bersama pria lain, asalkan kau bahagia bersamanya dibanding dengan pria tak berguna ini. I love you more sayangnya Al"gumam Alvano kemudian dia menghapus air matanya yang jatuh kembali, lalu menatap Elina yang sudah terlelap karna obat yang dia minum barusan.


Alvano melangkah menuju sofa mengambil album fotonya dan Elina yang dia simpan dilemari nakas, dengan pelan dia membukanya dan halaman pertama memperlihatkan foto dimana mereka masih masa pacaran, dipantai, di bukit, divilla, ditengah hutan, air terjun lereng gunung dll, halaman ke 6 dia melihat dimana foto pernikahan mereka foto dia mengucapkan ijab qobul, foto dia mencium kening Elina dan masih banyak lagi.


foto-foto kenangan indah mereka ada disana dan halaman paling akhir adalah foto usg anaknya yang kemarin baru saja dicek saat Elina belum sadarkan diri, dimana calon anak mereka yang telah berusia 4 bulan dikandungan, dengan hati bahagia juga sedih Alvano mengusap foto tersebut.


"Anak Ayah, sehat-sehat diperut Bunda ya nak. Ayah akan selalu menanti kelahiran kamu sayang,tinggal.tersisa 5 bulan lagi kamu akan lahir kedunia ini dan Ayah yakin sebelum kamu lahir Bunda sudah ingat semuanya tentang Ayah, kamu dan semuanya,nanti kita akan bermain bersama oke. Ayah sayang kamu nak"gumam Alvano menatap foto usg calon anaknya yang mulai terbentuk.


Tok.. tok.. tok..


"Al, ini Mami nak. Apa kau sudah bangun sayang?"seru Nataza dari luar kamar putranya.


Alvano meletakkan album fotonya lalu melangkah menuju pintu dan membuka pintu kamarnya, dia melihat sang Mami membawa nampan berisi makanan untuknya juga Elina. Alvano menutup pintu kamarnya lalu menghampiri Maminya.


"Kau habis menangis sayang?, ada apa?"tanya Nataza melihat mata putranya yang sembab.


"Hanya mimpi buruk kok Mi, Al gak apa-apa. Ouh iya, Elina lagi tidur setelah minum obat karna kepalanya sempat sakit tadi, jadi Al kasih obatnya dan minta dia tidur"jawab Alvano sembari menerima nampan makanan yang Maminya bawa.


"Apa karna dia melihat foto-foto kalian didinding ya? atau foto dirinya bersama keluarganya dibagian nakas?"tanya Nataza menebak apa yang terjadi pada menantunya.

__ADS_1


"Bisa jadi Mi, Al juga belum tanya lebih sama Elina. Ya udah, Al masuk lagi ya ke kamar. Makasih untuk makan siangnya Mi. Love you"jawab Alvano lalu berpamitan, sebelum pergi dia mencium pipi Nataza seperti biasanya membuat sang Mami tersenyum dengan tingkah manisnya.


__ADS_2