
2 bulan kemudian. Kini kandungan Elina sudah memasuki usia 7 bulan dan sekarang mereka tengah mempersiapkan acara tujuh bulanan dengan mengadakan pengajian saja dirumah Alvano dengan mengundang anak-anak panti dan anak jalanan bukan dibawah preman.
Elina telah siap mengenakan gamis putih serta hijabnya senada, Ia berdiri didepan cermin dengan menatap dirinya sendiri sambil mengusap perut buncitnya, ada rasa bahagia didalam hatinya setelah menyadari, jika dua bulan lagi calon anaknya akan lahir. Namun terselip juga rasa takut dihatinya, jika kelak dirinya akan pergi meninggalkan suami juga anaknya setelah melahirkan.
Ada perasaan takut yang berlebih didalam dirinya saat nanti anaknya lahir dan dia justru pergi meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri, hingga banyak pertanyaan pula yang bersarang diotaknya sejak lama.
pertanyaan dihatinya, siapa yang akan menjaga anaknya, merawatnya, menyayanginya dengan tulus, mencintainya layaknya anak kandung, mendidiknya layaknya guru dan membimbingnya kelak? apakah cukup hanya Ayahnya? ataukah cukup Oma dan Oma. buyutnya? akankah anaknya akan bahagia tanpa seorang ibu? akankah anaknya akan tumbuh dengan baik tanpa sentuhan tangan sang ibu?.
"Ay"panggil Alvano dengan menyentuh bahu Elina yang sedari tadi melamun menatap cermin yang menampilkan bayangan mereka.
Elina yang terkejut, refleks langsung berbalik badan menatap Alvano dengan wajah terkejutnya membuat Alvano menahan tawanya melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Kenapa? kok melamun sih?"tanya Alvano sembari mengusap bahu Elina agar tenang dari keterkejutannya.
"Enggak apa-apa mas. Cuma lagi bayangin aja kalo nanti anak kita lahir, wajahnya lebih mirip kamu pasti lucu"jawab Elina dengan menatap perut buncitnya yang aktif bergerak.
"Aku sih maunya lebih mirip kamu aja. Karna aku bisa lihat wajah kamu setiap hari diwajah anak kita, terutama sebagai hadiah karna kamu sudah berjuang mengandung dan melahirkan dia"ucap Alvano membuat Elina tersenyum, namun hatinya merasa beda sekarang.
"Enggak deh. Lebih mirip sama kamu aja, nanti kalo kamu kerja keluar kota ataupun keluar negeri dengan waktu lama, aku bisa lihat wajah anak kita sebagai obat rindu aku sama kamu"jawab Elina dibalas kecupan manis dibibirnya oleh Alvano.
"Terserah Allah aja sayang. Yang penting anak kita lahir dengan selamat, sehat dan lengkap, tanpa kurang suatu apapun. Kamu juga harus selamat dan sehat lalu kita akan berjuang bersama dalam membesarkan anak kita"ujar Alvano diangguki oleh Elina lalu memeluknya erat.
"Kita keruang tamu yuk, yang lain udah pada nunggu soalnya"ajak Alvano dibalas anggukan oleh Elina yang langsung menghapus air matanya lalu melepas pelukan mereka.
Alvano menuntun Elina menuju ruang tamu, disana sudah banyak berkumpul tetangga, kerabat, anak panti dan anak jalanan yang mereka undang tengah membacakan ayat suci Al-Qur'an dan bagi yang belum bisa, mereka diberikan sebuah Iqro untuk mereka belajar.
Elina duduk disamping Alvano yang disamping kiri dan kanannya ada kedua orang tua Alvano, lalu datanglah seorang Kiai bersama bu nyai dari pesantren yang tak jauh dari rumahnya, beliau beserta beberapa santrinya yang akan memimpin doa diacara ini. Alvano tak henti-hentinya mengusap punggung tangan Elina yang berkeringat saat bacaan pak Kiai membacakan doa khusus yang ditujukan untuknya juga jabang bayinya.
selang beberapa menit, akhirnya pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan doa telah selesai, kini tinggal pembagian bingkisan sebagai simbol tanda syukur pada Allah atas rezeki berupa anak ditengah-tengah mereka. Mereka membagikan rata pada semua tamu, terutama anak panti dan jalanan yang mereka tambahkan sebuah amplop putih berisikan uang mungkin.
Elina menatap semua tamu setelah pembagian bingkisan tadi, dia menatap sesosok pria yang sangat familir baginya, tapi dia tak ingat siapa pria itu. Sekelebat bayangan melintas dikepalanya beserta namanya membuat Elina mendelik dengan tangan meremas lengan baju koko Alvano disampingnya yang membuat sang empu mengernyit bingung.
"Hai.. kamu kenapa sayang?"tanya Alvano sambil melambaikan tangannya didepan wajah Elina yang masih menatap kearah lain.
"I-itu!"tunjuk Elina pada Daren yang baru saja memasuki rumahnya.
"Kamu udah ingat dia? kamu kenal dia?"tanya Alvano antusias, sebuah perkembangan yang dia nantikan. Tapi dia harus terluka melihat Elina yang harus kembali ketakutan.
"Dia-dia jahat. Dia mau bunuh aku. Dia-dia... "ucapan Elina terpotong saat Alvano menariknya kedalam pelukannya.
"Dia Daren sayang, dia udah berubah. Dia bukan Diego, dia tidak. jahat"ucap Alvano dengan mengusap punggung Elina yang bergetar, jelas kentara jika Elina memang benar-benar takut.
"Aku-aku. Takutt"lirih Elina didalam pelukan Alvano yang semakin dia eratkan.
"Sssuutt..tenang oke, ada aku disini. Dia gak akan berani sakitin kamu. Tenanglah, jangan tegang sayang, nanti dedek ikutan tegang"bisik Alvano menenangkan Elina.
Azam dan Nataza datang menghampiri mereka, keduanya cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada Elina dan Alvano, kenapa keduanya berpelukan dengan tubuh Elina yang terlihat bergetar meski tak sekencang tadi saat pertama kali melihat Daren.
"Al. Elina kenapa? kok dia kaya ketakutan gini sih?"tanya Nataza sembari mengusap kepala Elina dipelukan Alvano.
Alvano tak menjawab, melainkan menunjuk seseorang dengan dagunya sebagai jawabannya. Azam dan Nataza menoleh pada arah tunjuk Alvano dan melihat Daren disana tengah bercengkrama dengan Adam dan Irfan.
__ADS_1
"Biar ini urusan Papi. Kau dan Mami bawa Elina ke kamar ya, tenangkan dia disana"perintah Azam diangguki oleh Alvano.
sebelum pergi, Azam sempatkan untuk mengusap bahu Elina lembut sembari berbisik menenangkan. Dia kasihan sejujurnya jika Elina seperti ini, tapi bagaimana lagi, masalalunya yang membuatnya seperti sekarang. Kenapa kejadian Nataza yang trauma harus terulang pada Elina dan itu harus istri dari putranya.
Alvano menuntun Elina untuk kembali ke kamar mereka yang kini pindah dilantai bawah untuk sementara sampai anak mereka lahir nanti, baru mereka akan kembali ke kamar semula.
Sampainya di kamar, Elina tak mau lepas dari Alvano. Bayang-bayang masalalu dimana Diego, Daren dan Ayu membelinya hingga menyakiti fisiknya masih terus melintas bergantian dikepalanya. Kadang dia mengerang sakit sambil meremas kepalanya dan halusinasi saat melihat Alvano dan Nataza adalah Diego, Daren dan Ayu.
"Sayang.. tenanglah. Ini aku Alvano, suami kamu. Ini Mami sayang, sadarlah, tenang"ucap Alvano dengan mencekal kedua tangan Elima yang terus memukuli kepalanya.
"Mi. Tolong ambilkan obat El dilaci paling atas, yang warna biru Mi"pinta Alvano pada Nataza yang langsung dilaksanakan.
Alvano terpaksa memaksa Elina minum obatnya karna dirinya terus memberontak, bahkan saat digenggam tangannya Elina langsung menampar tangan Nataza atau Alvano. Dan berakhir gagal karna Elina terlihat lebih takut padanya sekarang.
"Pergi.. pergi.."usir Elina saat melihat Alvano yang hendak menggenggam tangannya.
seorang dokter yang dipanggil oleh Nasyla atas perintah Nataza telah datang, dia segera menyuntikkan obat penenang pada Elina yang masih meronta, hingga beberapa detik dirinya perlahan tak sadarkan diri dalam pelukan Alvano.
"Bagaimana istri saya dok?"tanya Alvano dengan menatap wajah Elina yang sembab dan merah.
"Sepertinya, ingatan nona Elina mulai kembali, meski belum sepenuhnya dan ingatan yang kali ini muncul adalah ingatan masalalu yang menimbulkan trauma berat padanya, nona Elina seperti pernah mengalami kejadian yang begitu menyakitkan dan menakutkan secara langsung hingga membuatnya seperti ini, alam bawah sadarnya masih belum menerima ingatan kejadian masalalunya, sehingga dia seperti saat ini. Untuk sementara tolong jangan bahas ataupun mengungkit masalah traumanya, apalagi sampai melihat orang yang mirip ataupun penyebab traumanya, itu juga akan berpengaruh pada kesehatan dan kandungannya"jelas dokter sambil menatap Alvano yang terlihat sendu memandang istrinya.
"Tenanglah tuan, untuk sementara ini nona Elina cukup mengkonsumsi obat yang saya resepkan pada anda, cukup konsumsi jika kondisi nona seperti ini kembali" lanjut dokter dianggurin oleh Alvano.
"Mari dok, saya antar anda kedepan. Terimakasih banyak"ucap Nataza mengajak dokter untuk mengantarnya keluar.
setelah dokter pergi, Nataza tak kembali ke kamar Alvano, dia menghampiri suaminya yang tengah berbincang dengan Dirga dan yang lain diruang tamu, dia memberikan waktu pada Alvano untuk menjaga istrinya didalam kamar, dia tau bagaimana posisi Elina saat ini, karna dia pernah mengalaminya sendiri.
" Mami yakin kamu kuat nak dan kamu bisa"gumam Nataza saat menatap foto Elina dan Alvano diatas nakas ruang keluarga.
****
Alvano masih setia disamping Elina sembari mengusap perut buncitnya, ternyata anaknya masih aktif bergerak dan menendang-nendang membuatnya tersenyum lalu mengecup perut istrinya.
"Hai anak Ayah. Sehat-sehat ya nak diperut Bunda, jangan buat sakit bunda apalagi bikin Bunda susah karna kamu rewel. Jaga Bunda ya anak baik, selalu berdoa sama Allah agar kamu dan Bunda lahir dengan selamat, sehat, dan lengkap tanpa kurang apapun. Tetap kuat ya didalam sana sayang, Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu" ucap Alvano yang berbicara pada calon anaknya, dan mendapat respon tendangan juga gerakan aktif sang anak.
Alvano melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore, dia segera bangkit menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sekaligus wudhu. Tak butuh waktu lama, Alvano keluar lengkap dengan kaos lengan panjang dan celana panjang.
dia mengambil sajadah dilemari minimalis khusus untuk meletakan perlengkapan sholat, dia memulai sholatnya dengan khusuk tanpa terganggu sedikitpun saat Elina membuka matanya dan terlihat gelisah diatas ranjang.
Selesai sholat, Alvano langsung menghampiri Elina dan menenangkannya agar tidak gelisah lagi, sambil membacakan doa didalam hatinya, tangan kirinya yang memeluk dia gunakan utuk mengusap bahu Elina, tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus perut buncitnya, dan bibirnya dia gunakan untuk menenangkan sembari mengecapi pucuk kepalanya agar lebih tenang.
"Tenang ya. mas disini sayang. Jangan takut lagi atau gelisah oke" bisik Alvano menenangkan istrinya.
****
"Elina gimana sayang?" tanya Azam pada Nataza yang duduk disampingnya.
"Masih istirahat mas karna pengaruh obat penenang juga, mungkin sekarang udah bangun dan lagi ditenangin sama Al"jawab Nataza sambil menuangkan teh kedalam cangkir suaminya.
"Emangnya kak Elina kenapa? kak Elina sakit?" tanya Daren yang bingung sejak tadi.
__ADS_1
"Enggak. Itu.. apa.. ingatan kak Elina udah mulai kembali, tapi belum semuanya. Kak Elina tadi enggak sengaja lihat kamu dan dia tiba-tiba kaya ketakutan gitu, dan setelah diperiksa memang ingatan kak Elina kembali ke masa lalu, kemasan dimana kamu, kakak kamu dan Ayu jahatin kak Elina dulu. Maka dari itu kak Elina ketakutan lihat kamu" jelas Elvina menatap Daren yang menunduk, entahlah mungkin dia merasa bersalah sekarang.
"Tak perlu merasa bersalah Daren. Elina pasti akan menerima kamu lagi seperti dulu saat belum kehilangan ingatannya, tetaplah menjadi Daren yang sekarang, supaya Elina mau menerimamu kembali" ucap Ayah Tama sambil menepuk bahu Daren.
"Iya Opa" jawab Daren sembari tersenyum manis, namun dihatinya masih mengganjal soal Elina yang kembali takut padanya.
****
Dirumah sakit xxxx dimana kini tempat Jonathan dirawat. Ya setelah dirinya kembali mengalami kecelakaan1 bulan lalu, kini dia masih terbaring lemah diatas bankar dengan keadaan koma. Minggu lalu dia sembat stabil keadaannya, namun kini dia kembali koma setelah mengalami kejang hingga kritis selama 2 hari dan dokter memvonis Jonathan kembali koma.
Vincent, saudara sepupu Jonathan yang menetap di Jepang, kini baru saja tiba di Indonesia setelah mendapat kabar komanya Jonathan. Ia bersama sangat istri juga kedua anaknya berniat meminta maaf mewakili Jonathan pada keluarga Alvano, ya meski mereka tidak kenal siapa Alvano, tapi demi niat baik Jonathan mereka akan melakukannya.
mereka selama ini sudah cukup lelah mendengar kabar kematian yang disebabkan pembunuh bayaran dimana-mana, sehingga setelah mereka mendapatkan kabar dari anak buah Jonathan jika Jonathan koma, mereka langsung berangkat menuju Indonesia untuk melihat kondisi Jonathan sekarang.
"Bagaimana kondisi adik saya dok?" tanya Vincent pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Jonathan, karna tadi Jonathan sempat kembali kejang.
"Kondisinya sudah membaik dan pasien sudah sadar saat ini. Namun, kondisi fisiknya masih sangat lemah sehingga dia harus banyak istirahat disini, agar kami lebih mudah memantaunya setiap saat" jawab dokter tersebut membuat Vincent menghela nafasnya lega karna adiknya lepas dari masa komanya.
"Kami boleh masuk dok?" tanya Vincent diangguki oleh dokter dan mereka segera masuk kedalam.
sampainya didalam, Vincent melihat adiknya tengah berbaring diatas ranjang dengan menatap kearahnya, Vincent duduk di bangku samping ranjang adiknya lalu menggenggam jemarinya pelan yang terhubung pada infus.
"Bagaimana keadaanmu?"tanya Vincent pada Jonathan yang tersenyum.
"Sudah lebih baik" jawab Jonathan lirih sambil mengusap tangan Vincent yang menggenggam tangannya.
"Kenapa bisa kau kecelakaan kembali hah?! Kau sudah 2 kali dalam 1 tahun ini kecelakaan, membuatku harus bolak-balik Jepang-indonesia. Kau pikir biaya tiket pesawat murah?, semuanya serba mahal sekarang, apalagi nyawamu"omel Vincent pada Jonathan yang hanya terkekeh.
"Maafkan aku kak. Sungguh aku tak ingin seperti ini, tapi mungkin takdir dan Tuhan ingin menghukumku atas semua kesalahan yang telah aku lakukan"jawab Jonathan dengan wajah sendunya, membuat Vincent kasihan pada adik sepupunya.
" Kak"panggilnya
"Hmm"
"Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Jonathan.
"Katakan"
"Tolong kau pergi ke alamat xxxx komplek xxxx dan nomer xxx. Katakan pada dua orang pria bernama Tuan Azam dan Alvano 'Maaf'. Katakan itu pada mereka karna sudah membuat wanita tercinta mereka terluka karna kebodohanku, sungguh aku menyesal kak. Aku tak berniat membuat wanita mereka terluka dan aku hanya ingin membalaskan kematian orang tuaku pada Ayu dan adiknya saja, tapi justru adik Ayu mencelakai wanita mereka" jelas Jonathan dengan wajah sedihnya.
"Tapi aku..." ucapan Vincent terpotong saat Jonathan menggenggam kedua tangannya.
"Aku mohon kak. Aku sudah mengirimkan maafku lewat pesan dan anak buahku, tapi mereka tak percaya dengan semua ucapan anak buahku ataupun pesanku. Tolong kak, aku tak mau terus hidup dalam penyesalan seperti ini, aku tak mau harus terus merasa bersalah seperti ini pada mereka. Jika nanti Tuhan memanggilku dan aku meninggal, aku bisa tenang kak" potong Jonathan dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Apa yang kau katakan, jangan pernah membawa nama Tuhan dan kematian Nathan" sentak Vincent, dirinya trauma akan kejadian sang Ibu yang membawa nama Tuhan dan kematian kala berangkat menuju Indonesia dari Jepang membuatnya kehilangan sang Ibu untuk selamanya.
"Maaf.Tapi aku.. " ucapan Jonathan terpotong oleh istri Vincent.
"Kami akan menyampaikannya Nathan. Tenanglah"ucap Clara sambil mengusap lengan suaminya lalu mengangguk saat suaminya menatap kearahnya.
" Terimakasih"jawab Jonathan dibalas anggukan oleh Clara. Kini dia bisa sedikit lebih tenang meski bukan dia sendiri yang menyampaikannya.
__ADS_1