
Siang harinya tepat pukul 13.00, Alvano dan Elina baru saja tiba di rumah orang tuanya, Elina langsung saja menghampiri Elvina yang ada dikamarnya bersama dengan para perempuan yang lainnya. Siang ini acara akan dipimpin oleh kakek Mahmud yang merupakan kakek buyud Dimas seorang kiai dipesantren terkenal didaerah sana
Elvina turun dari kamarnya mengenakan kebaya didampingi oleh Nataza disamping kanan dan Elina disamping kiri, dan Rania juga Nasyla ada dibelakang mereka sambil membawa nampan berisi kotak beludru dengan dua buah cincin didalamnya dan Al-Qur'an yang akan dibacakan oleh Rania
Dimas yang melihat Elvina berdiri didepannya tak dapat lagi menahan senyum bahagianya bahkan air matanya sedikit turun dipelupuk matanya, Dimas dan Elvina didudukkan dibangku berhadapan dengan Dimas dapat melihat langsung betapa cantiknya Elvina siang ini dan begitu sebaliknya
"Sudah siap acara lamarannya?"tanya seorang MC yang akan membaca setiap susunan acara pertunangan tersebut
"Siap"balas kakek Mahmud dengan tangan yang mulai bergetar memegang microphon
"Baiklah, pertama-tama kami.... "pembacaan susunan acara dimulai dengan penyambutan dari pihak Dimas
waktu berjalan hingga kini tiba saat dimana sesi tukar cincin, Elvina dibantu oleh Elina untuk berdiri ditengah panggung kecil bersama Dimas yang sudah berdiri disana
"Silahkan untuk mas Dimas bisa mematangkan cincinnya pada mba Elvina, jangan lupa tukang foto buat foto mereka saat pemasangan cincin jangan makan mulu ya masnya"ucap MC menggoda tukang foto yang sedari mengambil gambar sambil makan, yang lain hanya tertawa mendengar godaan tersebut
pemasangan cincin dimulai dengan Dimas mengucapkan bismillah terlebih dahulu lalu memasukkan cincinnya kejari manis Elvina yang terlihat berkaca-kaca
Cekrek
"Ya. Bagus..tepuk tangannya mana"teriak MC saat Dimas selesai mematangkan cincin dihati manis Elvina dan suara tepukan tangan pun terdengar membuat Elvina meneteskan air mata bahagia
"Jangan nangis toh mbanya, nanti make upnya longsor itu, kasihan make overnya ikut nangis nanti"goda sang MC membuat Elvina tertawa kecil sambil menghapus air matanya yang jatuh
"Jangan nangis By, aku gak suka lihat air mata kamu jatuh"bisik Dimas masih bisa didengar oleh Elvina yang menganggukan kepalanya pelan
"Sekarang giliran mba Elvina yang memasangkan cincinnya, monggo"ucap MC mempersilahkan Elina memasangkan cincin dijari manis Dimas dengan jantung yang terus berdetak cepat
Cekrek
"Good mba Elvina, sekarang boleh foto bersama tunjukkan cincin kalian"ucap MC dengan mengatur posisi Dimas dan Elvina
sesi foto masih terus berlanjut dan anggota keluarga diminta untuk ikut melakukan sesi foto bersama. Perasaan bahagia mereka tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata kali ini, hanya ucapan selamat dan terimakasih yang keluar dari mulut mereka dengan sebuah pelukkan hangat yang diberikan
"Selamat ya adik kakak, semoga bahagia kali ini dengan pilihan kamu. Kakak gak mau kamu terluka untuk kesekian kalinya karna pilihan bodohnya itu, tapi jika kali ini dia menyakiti kamu bilang sama kakak, kakak gak akan segan-segan untuk patahkan lehernya kalo dia main tangan apalagi membentak adik kesayangan kakak ini. Maaf kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat Elvi, kakak kadang masih suka emosi kalo Elvi jahil sama kakak, tapi kakak suka kenakalan kamu, kakak rindu main bareng sama kamu lagi kaya dulu, kakak akan selalu menjadi perisai utama untuk Elvi jika dia menyakiti kamu, kakak... "ucapan Alvano terputus saat Elvina tiba-tiba memeluknya erat sambil menangis
"Pasti kak, aku akan laporin dia ke kakak kalo dia kasar sama El, kakak kan kakak terbaik yang El punya, kakak Al adalah kakak kesayangan El, kak Al akan selalu menjadi perisai juga tameng El meski kakak harus terluka berkali-kali, Kakak adalah pahlawan dan superhironya El setelah Papi, lelaki terkuat dan terhebat setelah Papi, lelaki kesayangan El yang selalu membuat El tertawa. El sayang banget sama kak Al, janji ya setelah kita pisah nanti kak Al gak akan pernah lupain El"balas Elvina dijawab anggukan kepala oleh Alvano
"Janji baby girls, love you baby girl"bisik Alvano dan mengecup dahi Elvina
"Love you more my boy"balas Elvina lalu mencium pipi Alvano
sungguh pemandangan yang mengharukan dimana sudara kembar yang berbeda gender memili ikatan yang begitu kuat, kasih sayang mereka begitu dalam hingga mereka begitu sulit terpisah, meski Elvina baru saja tunangan tapi seakan Elvina baru saja menikah
"Boy"panggil Azam pada Alvano yang langsung melepas pelukkan kembarannya
"Ya Pi"balas Alvano sambil menghapus air matanya
"Kau ini, hanya sekedar tanangan saja kau sudah drama seakan mereka baru saja menikah dan kau membuat make up adikmu luntur karna menangis, kau ini suka sekali memancing emosi seseorang, jika tidak menangis ya marah padamu"ucap Azam sambil menarik pelan telinga Alvano lalu melepasnya
"Iya Pi...iya maaf. Al kan cuma terharu aja Pi, lagian El baperan gitu aja nangis kan El cuma lagi praktek buat besok kalo dia nikah"balas Alvano membuat Azam mendelik lalu menarik kembali telinganya
"Aaaa... Papi ampun.. sakit Ihh.. Papi... "ringis Alvano sambil memukul pelan lengan Azam
"Salah sendiri pake ngerjain kembaran sendiri hmm?, kamu gak lihat yang lain udah pada nangis lihat kamu yang bilang gitu ke El, mereka terharu sama ucapan kamu. Ehh taunya.."ucap Azam dan menambah tarikan ditelinganya
__ADS_1
"Aduh.. aduh.. Papi mah Ihh...sakit Pi... Mami!!!... Lihat Papi nih"adu Alvano pada Nataza yang hanya geleng-geleng kepala
"Udahlah mas, telinganya lepas nanti"ucap Nataza terkekeh menatap Alvano yang mendelik
"Mami!!"rengek Alvano membuat yang lain tertawa kecil
"Biarin aja telinganya lepas, sekalian nanti diganti sama telinga gajah biar kalo dikasih nasihat didengerin bukannya dicuekkin"ucap Azam dan semakin menarik telinga Alvano
"Tarik terus Pi... tarik terus.. biar sekalian putus terus diganti sama telinga kelinci"teriak Dion dan disambut tawa oleh orang-orang
"Heh!!...mulai detik ini gaji lo gue potong 100%"teriak Alvano membalas ucapan Dion yang langsung diam tak berkutik
"Aduh.. aduh.. sakit Pi... "rengek Alvano sambil meringis
"Berani potong gaji Dion, Papi cabut kamu jadi Presdir"ancam Azam membuat Alvano terdiam tapi tatapan tajamnya tertuju pada Dion yang mengejeknya sambil menjulurkan lidahnya
"Dion!!...kamu Papi turunan jabatan kamu jadi OB ya?"ancam Azam yang melihat Dion terus mengejek Alvano
"Maaf Pi"balas Dion yang langsung menunduk yang lain hanya tertawa melihat Dion tak berkutik
Azam melepaskan tangannya dari telinga Alvano dan meninggalkannya untuk menghampiri istri tercintanya, Elina yang melihat Azam sudah pergi dia segera menghampiri Alvano yang tengah mengerucutkan bibirnya cemberut dengan matanya yang berkaca-kaca siap menangis, dengan segera Elina membawa Alvano ke kamar mereka dilantai atas dan membiarkan bayi besarnya ini menangis dipelukkannya
"Udah ya jangan nangis lagi, masa suami aku yang ganteng ini nangis sih? kan gak lucu kalo sampai rekan kerja kamu tau kalo kamu nangis karna kena jewer Papi"ucap Elina membuat Alvano langsung diam, hanya meninggalkan sesegukannya saja
"Kamu udah makan?"tanya Alvano pada Elina dengan suara seraknya
"Belum, cuma makan tadi saat dihotel"balas Elina membuat Alvano menepuk jidatnua
"Astaga, benar juga. Ayo turun kamu harus makan"ucap Alvano menarik pelan tangan Elina
"Tapi nanti kamu sakit Ay, kamu hanya makan sarapan doang pas dihotel, selama acara juga kamu gak makan apa-apa cuma minum jus doang kan. Jadi sekarang ayo makan"balas Alvano dan berdiri dari duduknya
"Mas, aku gak enak kalo makan sekarang, yang lain nunggu waktu makan malam sama-sama masa aku makan duluan sih, gak enak mas makan sendirian"ucap Elina membuat Alvano menghela nafas
"Oke kita makan nanti sama-sama saat makan malam. Tapi janji harus makan yang banyak"balas Alvano dan dibalas anggukan oleh Elina
waktu sholat magrib tiba, dan semuanya berkumpul di aula mushola dirumah Azam yang dibuat khusus untuk melaksanakan sholat bersama anggota keluarga, terutama keluarga besar seperti sekarang, disana terdapat lengkap peralatan sholat seperti, sajadah, mukena, sarung, Al-Qur'an, Al-Kitab dan juga Iqro untuk anak-anak, bahkan aula tersebut disekat menjadi dua bagian untuk pria dibagian depan dan wanita belakang dengan sebuah microphon kecil terpasang agar yang paling belakang bisa mendengarkan imam, terutama wanita
sholat magrib selesai dan cacing dalam perut Elina sudah meronta sejak tadi tapi dia tahan karna tak ingin mengganggu yang lain, tepat pukul 19.45 mereka semua melaksakan makan malam dengan Alvano yang terus menerus menyuapi Elina, jujur saja Elina malu karna menjadi tontonan anggota keluarga sejak tadi, terutama Azam dan Nataza hanya menggelengkan kepalanya melihat putranya yang bucin pada menantunya, bahkan Elina menolakpun Alvano tetap memaksa untuk menyuapinya
selesai makan, Elina pamit pada Alvano untuk ke kamarnya untuk mengambil hpnya yang tertinggal dikamar, Elina melangkah menuju kamarnya lalu melangkah ke nakas mengambil hpnya, tapi belum sempat dia mengambil hpnya, tiba-tiba dadanya sesak,nyeei diperutnya dan pusing dikepalanya, bahkan untuk bernafas saja Elina sulit sekarang dengan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Elina bangkit dari tidurnya dan mengambil hpnya diatas nakas dan berusaha menelfon Alvano dibawah
"A-angkat mas.. hah... "ucap Elina terbata-bata karna sulit bernafas juga menahan nyeri diperutnya dan pusing melandanya
****
dilantai bawah Alvano yang sedang berbincang bersama teman-temannya terkejut ketika ponselnya berbunyi, Alvano mengambilnya dari saku jasnya dan melihat siapa yang menelfonnya. Melihat My Wife yang menelfonnya membuat Alvano mengernyit, tidak biasanya istrinya menelfonnya padahal hanya beda 2 lantai saja karna acara ada dilantai dasar sedangkan kamarnya ada dilantai 2
"Assalamualaikum Ay, kenapa?"tanya Alvano
"....."
"Hai.. kamu kenapa?"tanya Alvano panik mendengar suara istrinya yang terdengar sulit bernafas
"......"
__ADS_1
"Kamu kenapa? apa.. apa yang nyeri? "tanya Alvano panik dengan suara sedikit keras menyita perhatian semua orang yang ada disana
"....."
"Aku kesana, tunggu aku Ay"ucap Alvano lalu memutuskan telfonnya dan berlari ke lantai 2
"Boy ada apa?"tanya Azam yang melihat putranya panik
"Aku gak tau Pi, Elina bilang dadanya sakit"teriak Alvano dari lantai satu dan terus berlari ke lantai dua
"Alex!!,siapkan mobil"teriak Azam dan ikut menyusul ke lantai dua bersama yang lain
"Baik tuan"balas Alex berlari ke parkiran menyiapkan mobil
****
Dikamar, setelah menjatuhkan hpnya Elina jatuh telentang di atas lantai dengan memegangi dadanya yang sesak dan nyeri diperutnya dengan wajahnya mulai berubah merah karna sulit bernafas. Tak lama pintu terbuka dengan keras memperlihatkan Alvano yang terengah-engah dengan kondisinya yang berantakan
"Ay.. hai kamu kenapa?"tanya Alvano sambil memangku kepala Elina
"Ehh... s-sesak... hah.... m-mas.. "ucap Elina dengan terbatas, tangannya meremas lengan Alvano karna perutnya terasa nyeri
"Kita kerumah sakit sekarang"ucap Alvano langsung menggendong Elina ke rumah sakit dan berpapasan dengan Papi dan Maminya didepan pintu
"Elina kenapa Boy?"tanya Azam dengan kekhawatiran terlihat jelas diwajahnya
"Aku gak tau, sekarang mau bawa dia kerumah sakit Pi, Mi"balas Alvano dengan menatap Elina yang perlahan memejamkan matanya
"No Ay.. No!!"seru Alvano melihat Elina yang tak sadarkan diri
"Alex ada dibawah, dia yang akan bawa kalian ke rumah sakit, kita akan menyusul"ucap Azam dan diangguki oleh Alvano
Alvano menggendong Elina kelantang bawah dan masuk kedalam mobilnya, dengan cepat Alex meninggalkan rumah Azam dan pergi ke rumah sakit disusul oleh mobil lain dibelakangnya
Alvano terus menggenggam tangan Elina yang semakin dingin, bahkan wajahnya mulai memucat dengan bibir mulai membiru membuat Alvano semakin panik dan takut
"Paman Alex, lebih cepat lagi"teriak Alvano tak sabar
"Baik Tuan Muda"balas Alex mempercepat mobilnya
10 menit diperjalanan kini akhirnya mereka sampai dirumah sakit milik keluarga Aditama, para dokter dan suster berbaris didepan dengan sebuah bankar yang memang sudah disiapkan pihak rumah sakit setelah tadi Azam menelfon pihak rumah sakit untuk menyiapkan keperluan Elina disana. Alvano meletakkan Elina di bankar dan mendorongnya ke IGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut
"Aku yakin kamu kuat sayang, aku mohon bertahan Ay"gumam Alvano saat menatap pintu ruang IGD ditutup rapat
"Al! "panggil Nataza
"Mami"ucap Alvano dan langsung memeluk Nataza
"Elina gimana?"tanya Nataza sambil mengusap kepala putranya yang hanya menggeleng sebagai jawaban
"Kita tunggu kabar dari dokter, semoga saja Elina baik-baik saja"ucap Azam sambil mengusap punggung Elina
"Aku takut Pi, aku takut El kenapa-napa"ucap Alvano yang kini menatap Papinya sendu
"Aku tak boleh berkata seperti itu Boy, do'a kan istrimu agar dia baik-baik saja. Jangan berpikir yang negatif dan berbicara yang tidak-tidak, istrimu pasti baik-baik saja"ucap Azam dengan memeluk Alvano yang hanya mengangguk
__ADS_1