
Ya setelah perbincangan tadi dirymah, Alvano bersama Azam, Ayah Tama dan Irfan datang ke markas menemui Ayu yang masih dibiarkan hidup namun kondisinya sungguh kasihan, bukan hanya tak selalu menangis dan berteriak ketakutan tapi juga selalu diam melamun dan tiba-tiba menangis histeris, entah melihat apa mereka tidak tau yang jelas Alvano tak pernah meminta obat agar Ayu menjadi stres atau gila
"Apa yang terjadi?"tanya Ayah Tama menatap Ayu yang berteriak tak jelas
"Al tidak tau Opa, dia memang selalu seperti itu sejak 1 bulan ini. Al tidak pernah memberikan dia obat agar dia stress atau gila, entahlah mungkin dia lelah karna selalu dikurung seperti ini"jawab Alvano membuat mereka paham sekarang apa yang terjadi pada Ayu
kini mereka berdiri diruang pantau didalam markas tersebut, mereka melihat Ayu dari laptop yang ada disana dan selalu memantau semua pergerakan Ayu dan tingkah Ayu didalam ruang hukuman
terlihat Ayu yang kembali terdiam dan melamun setelah tadi berteriak mengatakan 'jangan dan maaf'selalu kalimat itu yang Ayu ucapkan bahkan kata 'bebaskan gue dari sini 'tidak pernah dia sebut kembali, hanya ada wajah ketakutan dan penyesalan disana, ingin dibebaskan karna kasihan, tapi jika hanya pura-pura saja itu akan membuat masalah lagi
"Pi, Opa, aku kedepan sebentar angkat telfon dari Elina"pamit Alvano diangguki oleh mereka
Alvano meninggalkan Papi dan Opanya didalam ruang pantau dan mengangkat telfon dari Elina yang ternyata menagih janjinya yang ingin rujak kedondong buatannya, Alvano sebenarnya ingat dan dia hanya pura-pura lupa saja, ya dia mana bisa memegang alat dapur dengan sengaja Alvano meminta Maminya membuatkan tadi tanpa sepengetahuan Elina, tapi apakah istrinya akan percaya jika dia yang membuatnya?
"Iya nanti aku biarkan ya, aku lagi sama Papi dan Opa diluar, jadi nanti aku pulang aku buatin"
^^^^^^"Janji lo, kamu pulang langsung buat dan gak boleh orang lain yang buat, aku bisa membedakan mana buatan kamu mana bukan?"^^^^^^
"Iya sayang, aku janji nanti aku yang buat sendiri rujaknya"
^^^"Ya udah deh, hati-hati ya. Assalamualaikum"^^^
"Iya sayang, Waalaikumsalam"
Alvano mematikan sambungan telfonnya dan menghela nafasnya pelan, dasar bumil satu udah jaya cenayang aja pake ngomong 'bisa membedakan' emang dia punya hidung dan mata yang begitu tajam setajam elang, pikir Alvano lalu dia kembali kedalam markas menemui Papi dan Opanya
"Pi, apa kita akan tetap menghukumnya meski kejiwaannya terganggu?, aku hanya kasihan saja jika kita menghukumnya dalam keadaannya seperti itu"ucap Alvano menatap Ayu yang diam melamun dengan tatapan mata kosongnya menatap dinding putih didepannya
"Kau memang benar boy, tapi Papi hanya khawatir jika dia hanya berpura-pura gila untuk bisa bebas dari sini dan kembali berbuat masalah"jawab Azam kemudian menatap Ayah Tama yang hanya menggeleng bingung
"Kita kesana saja"ucap Alvano pungkas lalu pergi menuju ruang hukuman menemui Ayu yang tatap diam
sampainya didalam, mereka berjongkok didepan Ayu yang tetap diam dan kali ini bibirnya mengucapkan kata 'Jangan bunuh aku' kalimat itu terus keluar dari bibirnya saat Azam menyentuh tangannya yang dingin
"Ben, panggil dokter kejiwaan ke markas sekarang juga"ucap Alvano pada Ben diseberang sana, ya dia langsung menghubungi Ben saat melihat sebuah senyum licik dibibir Ayu meski tipis tapi dia bisa melihat dengan mata tajamnya
mendengar kata dokter kejiwaan Ayu membulatkan matanya namun kembali dia buat normal kembali dengan mata kosongnya menatap Alvano didepannya
"Sial! Apa gue ketahuan bohong kalo gue gila?, kalo sampai iya pasti gue bakal dihabisin sama mereka terutama Al, gak gue gak mau mati, gue udah berusaha selama 1 bulan ini anting gila agar gue gak dihukum mati sama mereka tapi malah panggil dokter kejiwaan, bisa ketahuan dong kalo gue cuma anting gila" batin Ayu dengan perasaan was-was tapi wajahnya tetap dia ubah senormal mungkin dan matanya kosong
Ben datang dengan seorang dokter yang mereka tau dokter kejiwaan, Ayu ingin menoleh kebelakang tapi dia takut ketahuan, dan akhirnya dia melirik saja dan dia terkejut saat melihat seorang dokter yang tengah tersenyum pada mereka, Alvano menyadari lirikan mata Ayu menatap sang dokter dengan terkejut
__ADS_1
"Silahkan dokter, tolong periksa dia. Apakah kejiwaannya benar-benar terganggu dokter?, karna sedari tadi dia hanya diam dan meracau tak jelas"ucap Alvano menyadarkan keterkejutan Ayu dan kembali seperti orang gila
"Baik tuan, saya akan periksa sebentar"jawab sang dokter lalu mengambil alat-alatnya untuk memeriksa Ayu yang terlihat khawatir tapi dia masih tetap pada pendiriannya pura-pura gila
"Ah iya..tunggu sebentar dokter"cegah Alvano lalu berbisik lirih ditelinga sang dokter lalu dokter hanya mengangguk sebagai jawaban, Ayu yang menyadari itu memicingkan matanya
"Apa yang Al bicarakan pada dokter ini?" batin Ayu bertanya-tanya
pemeriksaan dimulai dengan Ayu tetap tidak merespon panggilan sang dokter, dia hanya menatap lurus tembok putih didepannya dengan tatapan kosong, dokter melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui Ayu benar gila atau tidak, dan dokter tersebut mengangguk
dokter membereskan alatnya dan melangkah menghampiri Alvano lalu berbisik tanpa didengar siapapun termasuk Azam dan Ayah Tama yang ada disebelahnya, Ayu hanya melirik penasaran pada dokter yang berbisik lalu pergi begitu saja setelah mendapat anggukan dari Alvano, lalu mereka pergi keruang pengawasan
setelah 1 jam kepergian dokter kejiwaan tadi anak buah Alvano datang membawa sebuah amplop ditangannya dan menyerahkannya pada tuannya. Alvano membuka lembaran tersebut dan melihat isinya sesuai dengan yang dibicarakan tadi lalu senyum devil muncul dibibir sexynya
Azam dan Ayah Tama membaca surat tersebut dan mereka saling pandang dan tersenyum karna dugaan mereka selama ini benar adanya. Mereka masuk kedalam ruang hukuman dan melihat Ayu yang tengah menangisi makanan didepan matanya, ya hanya tempe goreng dan sambal terasi saja, mungkin itu yang membuatnya menangis seperti sekarang
"Apa kau tak suka dengan makanannya hmm? atau perlu aku minta anak buahku ambilkan spaghetti bila perlu hamburger, kau mau?"tanya Alvano dengan wajah liciknya, dia kini duduk dibangku yang sudah Ben dan Alex siapkan tadi bersama Azam dan Ayah Tama disebelah kanan dan kirinya
"Tidak!!..pergi!!."teriak Ayu kemudian dia menendang makanan didepannya membuat Alvano bangkit dari duduknya
Ia mencengkeram dagu Ayu hingga Ayu meringis sakit, sementara Alvano hanya tersenyum senang melihatnya, dia membuka bibir Ayu dan memasukkan makanan tadi yang Ayu tendang kedalam mulutnya dan memintanya untuk mengunyah kemudian menelannya hingga habis, Alvano juga meminta anak buahnya mengambilkan minum dari gelas yang sama anak buahnya gunakan
"Tidak pernah bersyukur sekali kau, masih untung aku minta anak buahku berikanmu makanan ini agar kau tak. mati kelaparan, tapi kau justru menentangnya hingga berantakan. Bagus sekali ya"ucap Alvano pelan dengan nada beratnya membuat yang lain merinding mendengarnya bahkan Ayu menelan ludahnya sendiri dengan perasaan takut
"Tidak semudah itu nona"ucap Alvano dan meminta sebuah pecut bukan dari tali melainkan kulit buaya yang telah mati pada anak buahnya ( buayanya bukan dibunuh ya gaes, tapi mati sendiri karna tua atau emang udah saatnya mati gitu)
"Papi, boleh aku minta tolong hitungan 1-20, jika dia mampu bertahan kita tambahkan, jika tidak kita binasakan"pinta Alvano diangguki oleh Azam
Alvano bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Ayu dari belakang yang sudah dilepas bajunya hanya tersisa bra saja, bahkan Azam dan Ayah Tama harus memejamkan matanya karna dia bisa langsung melihat belahan dadanya, sementara Alvano dari belakang dan melihat punggungnya jadi tidak perlu menutup mata
pecut tersebut terdapat beberapa tonjolan yang akan mengoyakkan kulit seseorang jika tersabet oleh pecut tersebut, tonjolan pada pecut tersebut bagian kulit luar buaya yang bisa meremukan tubuh musuh hanya dengan sekali sabet sama seperti ekor buaya
"1....ctar... aakhh.."hitungan Azam dimulai dengan suara cambukan dipunggungnya dan diakhiri teriakan kesakitan Ayu
"2....ctar... Aakhh.. Stop.."
"3...ctar... Aakhh.."
"4...ctar... Aakhh.. ampun..."rintihan kesakitan yang Ayu rasakan saat ini membuat telinga siapa saja merasa kasihan, tapi tidak dengan orang didalam markas tersebut, Alvano menghentikan cambukannya dan berjongkok disamping Ayu
Altair datang mengambil cambuk ditangan Alvano dan menggantinya menggunakan belati kesayangannya, Alvano menatap wajah Ayu yang sudah basah karna keringat campur dengan air mata, wajah merah menahan sakit dan punggungnya tercabik memperlihatkan daging juga darah yang mengalir deras
__ADS_1
"Sakit hmm?, tahan ya karna permainannya belum selesai"ucap Alvano sambil memasang wajah memelasnya dan senyum devilnya kembali terlihat jelas
"Apa maumu?!"tanya Ayu dengan suara lirihnya
"Mauku? apa yah?, ya kematian dirimu. Bukan hanya membalaskan sakit hati dan mental istriku yang kau rusak tapi juga membalaskan semua nyawa orang yang kau bunuh dengan keji termasuk Nathan, kau ingat dia?. Jika tidak akan aku ingatkan kau kembali"Alvano melangkah mengambil tabletnya dan membuka data Nathan partner se* Ayu dulu saat SMA hingga kuliah
"Kau ingat dia?, dia laki-laki yang kau manfaatkan demi kemenanganmu saja, kau kuras semua uang dan barang-barangnya, kau habisi semua anggota keluarganya karna menentang hubungan kalian yang hanya sebatas partner se* saja, setelahnya kau kabur membawa Nathan yang ternyata bosan bersamamu dan mencari wanita lain untuk dia nikah, kau yang tak terima itu kau mencukurnya dan kau lenyapkan dia saat itu juga, dimana malam itu adalah malam pernikahannya bersama wanita tercintanya, kau bahkan tertawa bahagia melihat jazatnya bersimbah darah dengan kepala pisah dari tubuhnya. Biadab"jelas Alvano membuat Ayu diam membisu lalu menggelengkan kepalanya mengingat masalalu
"Tidak.. tidak...aku tidak melakukan itu.. tidak.."gumam Ayu sambil menendang angin
"Diam!!"teriak Alvano membuat Ayu langsung diam dengan air mata mengalir
"Tidak melakukannya ya. Tapi kau menjadi buronan polisi dan para detektif saat itu bahkan kau sudah kabur dari penjara saat itu dan sampai kini kau jadi buronan mereka ditambah kematian Diego sudah tercium jika kau pembunuhnya"ucap Alvano sambil mencubit pipi Ayu keras dan menggerakan belatinya disana hingga Ayu menjerit sakit
"Sakit ya? tenang saja, ini baru permulaan dan masih banyak permainan lagi nanti"bisik Alvano membuat Ayu terdiam kaku karna takut
Azam mendekati Ayu setelah Alvano meminta bergantian, dia membuka dan membaca surat dari dokter tadi yang menyatakan jika Ayu tidak mengalami gangguan kejiwaan membuat Ayu beringsut takut, apalagi yang akan dilakukan oleh mereka, pikir Ayu
"Kau sudah takut duluan? bahkan aku belum melakukan apapun loh, aku hanya membuka surat ini dan membacakannya untukmu, tapi kau sudah ketakutan"ucap Azam sambil menoel dagu Ayu
"Ck.. permainan belum selesai cantik, jadi mari kita main sebagai hukuman karna berbohong jika kau gila dan aku akan benar-benar membuat kau gila karna kesakitan"ucapnya kembali kemudian mengambil pisau ditangan Alex
Azam menggerakan pisau tersebut dilengan, pipi, dahi, dagu, garis hidung, kaki dan pahanya, hingga tubuhnya penuh dengan darah. Azam memainkan pisau tadi dengan memutar pisau tersebut dihati telinjuknya lalu menancapkannya tepat dipaha Ayu yang langsung menjerit sakit
ia cabut pisau tadi dan menancapkannya dipaha sebelahnya, belum selesai sampai disitu. Kini Azam mengambil air cuka yang diminta oleh Alvano pada Ben lalu menuangkannya pada luka ditubuh Ayu termasuk bekas cambuk tadi membuat Ayu menjerit histeris karna sakit yang luar biasa
"Sakit ya? kasihan sekali. Tapi bagus sih kalo sakit, jadi rasa sakit yang menantuku dan orang-orang yang kau habisi kau rasakan sendiri saat ini, ini belum seberapa sakitnya denhan apa yang mereka rasakan karna kau"ucap Azam lalu berdiri menghampiri putra dan Ayahnya
"Giliran Opa Al"ucap Ayah Tama diangguki oleh Alvano dan menghampiri Ayu yang menatapnya memelas, tapi tak mempan untuk Ayah Tama
"Ini untuk cucu menantuku"Ayah tama menampar pipi kiri Ayu dengan keras hingga kepalanya membentur dinding
"Ini untuk orang tak bersalah yang telah kau sakiti"kemudian menampar pipi kanan Ayu sama kerasnya membuat Ayu semakin menangis
"Diam!!. Aku tak akan mengampuni dirimu karna kau sudah mengusik cucu menantuku dari dahulu hingga kalian berpisah dengan kedok persahabatan, cih.. kau tak pantas dianggap sahabat ataupun teman, kau tidak pantas dianggap sebagai seorang teman atau menjalin hubungan siapapun karna kau hanyalah duri dan racun bagi mereka"ucap Ayah Tama dengan menjambak kuat rambut Ayu lalu meminta pada Ben untuk mengambilkan besi panas
"Papi, Apakah Opa akan membakar lidah Ayu atau malah bibir Ayu?"tanya Alvano dengan berbisik, sementara Azam hanya mengadikkan bahunya sambil menggeleng
"Kau sungguh membanggakan wajah dan milikmu ini kan?, lihat apa yang akan aku perbuat pada kebanggaanmu ini"ucap Ayah Tama mengambil besi panas ditangan Ben, sementara Alvano dan yang lain hanya melongo mendengar ucapan Ayah barusan
"Opa!, apa kau yakin ingin membakar wajah dan bawahnya menggunakan besi panas itu?"tanya Alvano bergidik ngeri
__ADS_1
"Ya tentu saja nak, ini hukuman untuk wanita yang suka main celap-celup sana sini kaya t*h celup tak tau diri"jawab Ayah Tama membuat Alvano dan yang lain terkekeh
Ayah Tama menempelkan besi tersebut memutar diwajah Ayu membuat Ayu menjerit panas dan sakit, tubuhnya mengejang menahan sakit. Setelah puas pada wajah Ayah Tama meminta anak buahnya disana melepas celana Ayu semuanya tanpa sisa dan menempelkan besi dibawahnya dengan wajah polosnya dan bau daging bakar tercium dengan jelas diruangan itu dan Ayu langsung tergeletak tak sadarkan diri kehilangan tenaganya