
Sampainya di rumah sakit, Azam menggigil dingin. Yap dia lupa jika dia alergi terhadap suhu dingin,jika terkena air ataupun suhu dingin lainnya dia akan demam tinggi,menggigil hebat dengan wajah yang mulai membiru, membuat dia harus berakhir di rumah sakit
di ruang ICU. Nataza sedang menjalani observasi luka di kepalanya yang terlihat parah, semua berjalan dengan lancar dan telah selesai diobati dan menurut dokter kondisinya mulai stabil, tapi tak lama nafasnya tersengal, jantungnya melemah dan badan mengejang cepat membuat dokter dan perawat lainnya panik tak karuan. Para perawat keluar mengambil alat yang dibutuhkan dokter dan dicegah sebentar oleh Bunda Ayu
"Sus..sus..?"panggil Bunda Ayu kepada suster yang keluar dari ruang ICU dengan wajah panik dan tergesa-gesa
"Gimana menantu saja?, kenapa suster panik?, menantu saja baik-baik saja kan?, dia gak papa kan?"tanya Bunda Ayu memberondong membuat suster itu bingung
"Ibu tolong tenang sebentar ya ibu, biar kami selesaikan tugas kami dahulu. Untuk kondisi Nona nanti bisa ditanyakan kepada dokter, karna saya harus permisi mengambil alat yang diperlukan. Permisi"jelas suster tersebut lalu pergi ke ruangan lain
"Bunda tenangkan diri Bunda, Aza dan Azam pasti baik-baik saja"ucap Ayah Tama memeluk Bunda Ayu
"Bunda, Ayah?"panggil seorang wanita dari lorong tak jauh dari mereka
"Alika!"gumam keduanya menatap Alika yang sedang mendorong kursi roda milik Irfan dengan kaki masih diperban
"Kamu udah sembuh sayang?"tanya Ayah Tama kepada Irfan, karna dua hari ini dia sibuk di kantor
"Alhamdulillah Yah, udah mendingan kok. Abang sama Kak Aza gimana?"tanya Irfan yang sudah tau dari Alika karna tak sengaja melihat Azam dan Nataza diatas bankar yang didorong oleh suster dan didampingi Ayah Tama dan Bunda Ayu
"Mereka masih didalam Fan, Ka. Kita belum tau keadaan mereka bagaimana sekarang"balas Bunda Ayu memeluk Alika
"Ya Allah...gimana ceritanya sih Bund, Yah. Kenapa Abang sama kak Aza sampai luka?"tanya Alika ikut menangis
"Kita gak tau, yang jelas saat Ayah dan Bunda baru sampai rumah dan baru saja menjemput Bunda dari sini. Mobil Azam sudah melaju keluar gerbang dengan Aza terluka di dahinya dan Azam sudah menggigil lemah karna dingin . Kau tau nak?, Azam alergi terhadap suhu dingin , dan dia mengabaikan sakitnya itu hingga dia ikut terbaring disini"jelas Ayah Tama meneteskan air matanya
"Astaghfirullah Abang..kenapa harus bergilir begini sih?, Ya Allah selamatkan kakak dan kakak ipar hamba ya Allah. Semoga mereka baik-baik saja"do'a Alika dengan bergumam di pelukkan Bunda Ayu
"Terus saat ini Abang dimana?"tanya Alika kepada orang tuanya
"Abangmu ada didalam bersama dengan Aza diruang ICU"jawab Bunda Ayu dengan mendudukkan dirinya di bangku rumah sakit
"Ayah, apa mungkin kondisi mental kak Aza sempat kumat kembali, dan bang Azam mencoba menghentikannya?. Karna tadi aku sempat telfon kak Aza dan keadaan rumah baik-baik saja gak ada masalah"tanya Irfan kepada Ayah Tama yang terlihat sedang berpikir
__ADS_1
"Bisa jadi Fan, tapi apa sebabnya sampai Aza kumat kembali, bahkan jika benar seperti itu, kenapa harus menyakiti dirinya sendiri?"tanya Ayah Tama bingung dengan kondisi saat ini
"Assalamualaikum?"salam orang yang memang sangat di butuhkan oleh Ayah Tama saat ini, dan dia datang dengan sendirinya tanpa di minta
"Waalaikumsalam, Brian. Bayu?"jawab mereka dan Ayah Tama langsung menghampiri kedua putranya
"Ayah Azam sama Kak Aza gimana?"tanya Bayu ya, memang sejak menikah dengan sahabat Nataza. Brian dan Bayu memanggil Nataza dengan sebutan kak, memang terlambat, tapi itu Brian dan Bayu, mau bagaimana lagi
"Mereka masih di periksa didalam, sudah hampir 1 jam lebih kami menunggu disini"jawab Ayah Tama yang kini berdiri dihadapan keduanya
"Semoga saja mereka berdua baik-baik saja ya Allah"do'a Brian dan di aminkan oleh semuanya
"Brian?"panggil Ayah Tama
"Iya Ayah?"jawab Brian
"Bisa kau bantu Ayah untuk mencari tau apa yang menyebabkan Aza atau Azam seperti ini?, Azam alergi terhadap suhu yang terlalu dingin, dan dia tak mungkin mandi dengan baju kantor dan suhu airnya cukup dingin. Kalau Aza. Pasti ada sebabnya, sampai membuat Aza sakit kembali dan mencelakai dirinya sendiri dan mungkin saja Azam menolongnya mencoba menenangkannya"jelas Ayah Tama yang memang sedikit membuat Brian bingung
"Aku akan cari tau melalui CCTV rumah Azam"jawab Brian
"Ayah?"panggilnya dengan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, dia bingung mau bagaimana sekarang
"Gimana?, kau dapat buktinya?"tanya Ayah Tama tak sabar
"Emm...Aku belum dapat Yah, disemua ruangan tak ada tanda-tanda yang membuat kak Aza sakitnya kumat lagi, aku hanya khawatir jika kejadian itu terjadi di ruang kerja atau kamar Azam, karna aku belum mengeceknya. Aku tak berani Yah"jalas Brian membuat Ayah Tama menghembuskan nafasnya pelan lalu tersenyum
"Cek saja, Ayah yang mengizinkan kau untuk mengecek kedua ruangan itu"ucap Ayah Tama dijawab Brian dengan menganggukan kepalanya
Brian kembali mengotak-atik leptopnya dan yang pertama dia cek adalah ruang kerja Azam, disana Brian tak mendapatkan apapun atau kejadian yang terjadi tadi pagi, tapi malah dia mendapat video yang tak senonoh. Rekaman dimana Azam dan Aza sedang bermain panas diatas sofa bad membuat Brian menelan salivanya melihat itu, tapi saat Ayah Tama menatapnya. Brian langsung gelagapan takut ketahuan melihat aksi panas anaknya dengan menantunya di tonton olehnya
Brian langsung beralih ke kamar Azam, dan dia melihat Nataza sedang memakaikan pakaian untuk anak-anaknya di bantu Bi Ani, dia tak melihat kejanggalan disana. Tapi setelah selesai dia melihat jika Nataza mengusir bi Ani pergi dengan membawa anak-anak keluar kamar, yang membuat Brian terkejut yaitu saat dia melihat Nataza membanting dan memporak-porandakan kamar dan berucap 'jangan bunuh aku Yah. Aku mohon jangan sakiti aku'dan yang lainnya
"Yah..Bund?"panggil Brian membuat yang lainnya menatapnya yang sedang memperlihatkan Nataza mengamuk setelah berbicara dengan bi Ani dan berteriak tak jelas
__ADS_1
yang membuat mereka sakit adalah saat Nataza mengatakan dia tak bisa hidup lagi, dia tak pantas menjadi milik siapapun, dia pembawa sial, dia beban, dia hanya benalu di hidup semua orang, dia tak pantas hidup lalu di dalam rekaman itu mereka melihat Nataza terpeleset, hingga kepalanya membentur ujung meja dan berdarah membuat Bunda Ayu menangis, tak kuat rasanya melihat menantu kesayangannya seperti ini
"Kita harus temui Bi Ani, dan kita harus tanyakan tentang kejadian ini Yah, Bund"ucap Alika dan di angguki oleh semuanya
"Biar Ayah dan Brian yang pergi menemui bi Ani. Kalian disini saja menjaga Azam dan Aza, tetap awasi keadaan mereka"perintah Ayah Tama dan disetujui oleh semuanya
Saat Ayah Tama dan Brian akan pergi, pintu ICU dibuka oleh dokter yang mereka tunggu sedari tadi. Dengan cepat Bunda Ayu bertanya tentang kondisi anak dan menantunya
"Dok bagaimana kondisi menantu dan anak saya?"tanya Bunda Ayu tak sabar
"Alhamdulillah untuk saat ini kondisi anak Nyonya baik-baik saja, demamnya sudah mulai turun dan kondisi tubuhnya normal kembali tidak membiru seperti saat dibawa kemari. Tapi Tuan Muda masih perlu kami pantau kondisinya, dan untuk beberapa hari Tuan Muda lebih baik melakukan rawar inap disini, hingga kondisinya membaik"jelas dokter tersebut dengan senyum merekah dibibir cantiknya
"Alhamdulillah"ucap semuanya, lalu ucapan seseorang membuat mereka kembali tegang
"Lalu menantu saya bagaimana dok?"tanya Ayah Tama dengan penuh harap
"Emm..Maaf Tuan Besar. Saya harus menyampaikan kabar pahit ini kepada kalian semua, tentang kondisi Nona yang.."ucapan dokter tersebut terpotong saat Alika angkat bicara
"Gak mungkin kakak iparku meninggal kan dok?, jangan bilang itu dok, gak...gak mungkinn..."tangis Alika pecah
"Tenangan dirimu babe. Kita dengarkan penjelasan dokter dulu tentang kak Aza"ucap Irfam menenangkan istrinya
"Maaf Nona, tolong tenangkan diri anda. Nona Muda masih hidup, dan memang tadi sempat memburuk hingga kejang. Tapi Alhamdulillah saat ini Nona baik-baik saja, hanya saja...karna luka benturan dikepalanya cukup keras dan lukanya cukup parah. Nona Muda mengalami koma Nona, dan saya belum tau, apakah Nona masih ingat atau tidak. Maksud saya apakah Nona hilang ingatan atau tidak, kita lihat nanti setelah Nona sadar. Maafkan kami, kami sudah berusaha menyelamatkan Nona, tapi semua kehendak ada ditangan Allah, kami hanya sebagai perantara. Maafkan kami"jelas dokter tersebut lalu pergi dari sana
"Aaaa....Hikss...Hikss..kak Aza...Bund..."tangis Alika pecah saat itu juga
"Bunda tau nak. Bunda juga sakit mendengar kondisi Azaz apalagi Abangmu nanti saat dia sadar"ucap Bunda Ayu menangis dengan memeluk Alika
"Ayah..."panggil Irfan kepada Ayah Tama
"Ada apa?"tanya Ayah Tama langsung menghapus air matanya
"Opa Adit menelfonku. Bagaimana ini?"tanya Irfan bingung dengan air mata yang masih menetes
__ADS_1
"Jangan beritahu Opa kondisi Azam atau Aza, kalau kau memberitahunya, kondisi Opa akan drop kembali, dia beru saja sembuh dari sakit jantungnya"ucap Ayah Tama dan di angguki oleh Irfan yang mematikan hpnya