Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 13


__ADS_3

Karna kejadian kemarin membuat pernikahan Alvano dan Elina di undur 2 minggu kedepan, kondisi keduanya masih sama dengan Alvano yang demamnya masih tinggi sementara Elina hanya perlu mengobati luka lebamnya diwajah karna pukulan dari Diego


Pernikahan yang sudah disiapkan sejak lama justru harus diundur karna kondisi keduanya, Alvano yang mengalami gejala tifus harus dirawat dirumah sakit sampai benar-benar pulih dan sekarang dia baru saja tertidur setelah makan malam dan meminum obatnya, sementara Elina dia masih menyiapkan sofa bad untuk dia tidur malam ini, setelah menyuapi Alvano makan dan memberinya obat rasanya sungguh menyenangkan, dia jadi membayangkan saat dia telah menikah dengan Alvano nanti


"Kak El!"panggil Elvina yang datang bersama Nataza dibelakangnya. mereka menatap bingung Elina yang melamun dengan tersenyum


"Ah... Mami, El"balas Elina setelah sadar dari lamunannya


"Kakak kenapa kok melamun sih malam-malam begini?"tanya Elvina dengan bergidik ngeri, sementara Nataza dia merapikan pakaian Alvano dilemari


"Aku aja Mi"ucap Elina dengan mengambil alih baju-baju Alvano kedalam lemari, sementara Nataza hanya mengangguk dan tersenyum dengan menyerahkan baju-baju Alvano pada calon menantunya


"Ihh.. kak El!!,kok aku dicuekin sih?!"ujar Elvina kesal pada Elina juga manja, ya sejak Alvano dan Elina menjalin hubungan, sikap Elvina lebih terbuka dan manja pada Elina


"Nanti dulu ya El, kakak masukan baju Al dulu"jawab Elina dengan terkekeh menanggapi Elvina


"Hmm.. iya"balas Elvina dengan melipat tangan didepan dada


setelah selesai, Elina duduk disamping Elvina dan memeluknya dari samping dengan menopang dagunya dibahu Elvina dan senyum manis juga cantiknya mengembang indah diwajah Elina saat menatap Elvina. Elvina melepas pelukkan Elina dengan tersenyum dan dengan cepat dia masuk ke pelukkan Elina


"Adiknya kakak yang manja melebihi Rania"ledek Elina membuat keduanya tertawa, tanpa mereka tau jika Alvano sudah bangun dengan ditemani Nataza disampingnya


senyum keduanya mengembang melihat Elina dan Elvina yang berpelukan dan tertawa bersama. Alvano menatap Nataza dengan mencoba bangun dari rebahannya, mengerti niat anaknya Nataza segera membantu Alvano untuk duduk dirancang dengan menarik tangannya pelan


"Ekhem..."Alvano berdehem menyadarkan calon istri dan adiknya yang masih adik bercerita dan tertawa dengan saling berpelukan. mendengar sejalan Alvano, Elvina melepas pelukan mereka dan menghampiri kakaknya


"Kakak udah bangun?"tanya Elvina khawatir dengan menyentuh dahi Alvano


"Kakak masih sakit, ini masih panas kok kenapa bangun?"lanjutnya dengan mengomel


"Sstt... kakak gak papa kok, kakak udah mendingan dari pada kemarin, cuma masih lemas aja tapi gak papa kok"balas Alvano dengan tangan mengusap pipi Elvina


"Mi, El pamit ke kamar mandi sebentar ya"pamit Elina pada Nataza

__ADS_1


"Iya sayang, jangan lama-lama ya"balas Nataza dibalas anggukan oleh Elina


setelah Elina pergi, Elvina langsung memeluk Alvano dengan tersenyum hangat dipelukkan Alvano saat mendapat usapan lembut dikepalanya oleh kakaknya. Alvano melepas pelukkan mereka dan menatap adiknya hangat lalu mencium dahi adiknya lama. Nataza yang menyaksikan kedua anaknya yang saling menyayangi dan penuh kasih sayang selalu, dia bahagia dan sangat beruntung memiliki mereka sebagai anaknya


"Adik kakak yang manja, akan selalu menjadi kesayangan kakak selamanya dan menjadi ratu kedua dihati kakak setelah Mami"ucap Alvano membuat Elvina mengangguk dan tersenyum


"Kakak juga akan selalu menjadi raja kedua dihati El setelah Papi sang juaranya"balas Elvina membuat mereka terkekeh


"Hanya Papi"beo Alvano lalu memeluk adiknya kembali


"Ya sudah tidur gih, udah malam atau mau pulang?"tanya Alvano menatap Maminya dan Elvina


"Kita pulang aja Al, nanti kalo Papi pulang gak ada yang nyambut ngambek dia. Papi kan lembur malam ini jadi kasihan Papi kalo Mami gak pulang malam ini"balas Nataza lalu mengecup dahi Alvano


"Makasih ya Mi, udah sempetin jenguk Al. Ucapan juga makasih dan maaf sama Papi karna udah gantiin Al dikantor dan harus lembur karna Al"ucap Alvano membuat Nataza menggeleng


"Tidak perlu minta maaf dan terimakasih sayang, itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua kamu. Sebelum kamu pegang perusahaan juga Papi udah sering lembur kok, gak masalah sayang"balas Nataza dengan mengusap pipi Alvano lembut


tidak lama, Elina keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya. Alvano yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka segera menoleh dan melihat Elina menggunakan baju tidur tipis hingga seluruh tubuhnya tercetak jelas dibaju tidur tersebut, bahkan panjang bajunya hanya sampai batas paha, hingga dari paha kebawah terlihat dengan jelas dimata Alvano yang menatapnya tanpa berkedip


tanpa sadar Alvano meneguk ludahnya kasar saat melihat kaki jenjang nan mulus milik Elina, jangan lupakan leher jenjangnya terlihat membuat Alvano merasakan panas pada wajahnya hingga telinga dia terus memperhatikan tubuh Elina dengan tangan dibalik selimut menyentuh miliknya sendiri Elina melangkah menutup tirai ruang rawat Alvano yang sedikit terbuka karna angin dan baju bagian dada terbuka memperlihatkan belahan dadanya, rasa panasnya semakin menjadi saat baju tidur Elina naik memperlihatkan paha belakangnya saat Elina berjinjit untuk menutup tirai yang lebih tinggi darinya


"Ekhem..."dehem Alvano mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang dan dia merubah posisi dengan kembali telentang bersiap tidur


"Kamu kenapa Ay?"tanya Elina, tidak dipungkiri meski ada sedikit luka lebam diwajahnya tapi Elina tetap saja cantik saat rambutnya dicepol tinggi


"Ah.. gak papa Ay, cuma kepanasan aja"balas Alvano mencari alasan. mendengar jawaban Alvano membuat Elina mengernyit


"Loh kok panas?, bukannya kalo orang sakit dengan suhu tubuh tinggi harinya dingin menggigil ya, AC juga nyala dengan suhu terendah. Harusnya gak panas sih kamu, aku aja kedinginan"ucap Elina dengan polos tanpa tau apa yang dia perbuat pada Alvano saat ini


"Ya maksud aku sedikit panas Ay, emang dingin sih tapi rasanya sedikit panas menurut aku"balas Alvano berbohong


"Masa sih?, terus kenapa wajahnya merah banget gitu hanya karna sedikit kepanasan?, atau kamu lagi bahan sesuatu?"tanya Elina penuh selidik, sementara Alvano dia membulatkan matanya, bagaimana Elina tau jika dia sedang menahan sesuatu, pikir Alvano

__ADS_1


"I-iya itu aku kebelet kencing Ay"balas Alvano dengan bangun dari tidurnya lalu mencoba berdiri, tapi belum juga berdiri dia sudah hampir jatuh dengan menarik Elina sebagai pegangannya


Sungguh, Alvano lupa jika Elina tak akan kuat menahan tubuhnya yang berat dan benar saja keduanya terjatuh ke ranjang rumah sakit dengan Elina menindih tubuh Alvano. bahkan bibir mereka menempel satu sama lain membuat keduanya saling tatap. beberapa detik mereka sadar dengan mata membelalak menyadari apa yang baru saja terjadi diantara mereka


first kiss mereka baru saja hilang, Mereka saling pandang lalu Elina dengan segera membuang muka malu dan kecanggungan pun terjadi. Elina melangkah membantu Alvano untuk kembali tidur dan menyelimutinya dalam kondisi sama-sama diam


"Emm... aku tidur dulu Ay. Selamat malam"ucap Elina pelan dan melangkah menuju sofa bad. tapi belum sempat dia pergi, Elina sudah mendapat cekalan ditangannya dan ucapan selamat malam dari Alvano


"Selamat malam Ay. Emm.. Ay"balas Alvano dengan menarik tangan Elina sebelum Elina pergi


"Emm.. I-iya"balas Elina gugup


"Maaf soal tadi, aku gak sengaja tarik kamu. Aku... aku cuma belum kuat untuk berdiri karna masih terlalu lemas. Maaf ya Ay, aku salah"ucap Alvano dengan menarik Elina kepelukkannya


"Gak papa, aku ngerti kok kondisi kamu. Udah ya sekarang istirahat udah malam"balas Elina dengan melepas pelukkan mereka dan menatap Alvano yang berkaca-kaca


"Hai, jangan nangis bayi gedenya aku. Nanti gantengnya ilang gimana?"tanya Elina sambil mengusap air mata Alvano yang jatuh dipipinya, Alvano hanya menggeleng dan menyembunyikan wajahnya dileher Elina


"Hiks.. maaf"ucap Alvano lirih


"Gak masalah Ay. sekarang tidur ya udah malam kamu juga harus istirahat"balas Elina dibalas anggukan kepala Alvano


"Jadi kencing gak?"tanya Elina polos. dia tidak tau saja jika bukan kencing yang Alvano tahan


'Gak jadi, besok aja kencingnya, sekarang bobo aja kencingnya ditunda dulu"balas Alvano dengan merebahkan dirinya diranjang dengan memeluk guling yang dibawakan Nataza dari rumah, mendengar jawaban Alvano membuat Elina tertawa pelan


"Oke ditunda dulu kencingnya, sekarang bobo ya. Good night bayi gedeku"ucap Elina dengan mengelus kepala Alvano


"Hooh night too mama cantik"balas Alvano langsung memejamkan matanya dengan senyum masih mengembang diwajahnya


Elina hanya geleng-geleng kepala melihat Alvano, dia segera menuju sofa bad dan segera menuju alam mimpinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 pantas saja dia mengantuk dan Elina langsung memejamkan matanya menyusul Alvano didalam mimpinya, tapi bayangan dimana Alvano mencium bibirnya tiba-tiba terlintas membuatnya membuka mata kembali


"Ya allah, kenapa gak bisa tidur sih hanya karna ciuman yang gak sengaja tadi, kenapa harus kebayang coba"gumam Elina dengan terus mengubah posisi telentang, miring kanan dan kiri terus dia lakukan sampai benar-benar lelah dan dia mulai memejamkan mata pukul 22.30 karna bayangan ciuman tersebut terus menghantuinya

__ADS_1


__ADS_2