Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 29


__ADS_3

Pagi hari ini Elina sungguh malas untuk melakukan apapun, bahkan saat Alvano bangunkannya untuk mandi lalu pergi bersamanya untuk sarapan bersama dia menolak dengan alasan malas, Alvano yang tau hanya geleng-geleng kepala melihatnya


"Ay!. Jika tidak ingin mandi, setidaknya sarapan sayang, kasihan baby kalo kamu gak makan"ucap Alvano tetap berusaha membangunkan Elina, ini sudah jam set 8 dan Elina masih nyaman dibalik selimut tebalnya


"Enggak mau mas... pasti bakal mual lagi nanti"jawab Elina dengan duduk bersandar disandaran ranjang menatap Alvano malas


"Hai.. kalo kamu mual, kamu bisa makan apapun yang bikin kamu gak mual, contohnya kemarin kamu makan..."belum selesai Alvano berucap Elina sudah menyambarnya


"Aku mau makan soto ayam"sambar Elina membuat Alvano mengerjapkan matanya terkejut


"T-tapi ini kan masih pagi, mana ada penjual soto buka jam segini sayang, yang ada nanti sore atau nanti siang baru jual"jawab Alvano membuat Elina cemberut dengan mata berkaca-kaca dan Alvano hanya menghela nafasnya pelan melihat Elina yang mulai sensitif sekarang


"Aku...aku mau soto.. Hiks.."ucap Elina menitikkan air matanya, Alvano yang melihat itu mulai gelapan dengan segera dia memeluk Elina dan menenangkannya


"Iya oke, kita cari soto ya sekarang. Tapi kalo gak ada direstoran nusantara aja gak papa ya?"tanya Alvano menatap Elina dibawahnya


"Beneran?!!"tanya Elina antusias diangguki oleh Alvano dengan tersenyum


"Ayok!!..ayo mas"Elina langsung menarik tangan Alvano keluar dari kamar dan pergi berkeliling mencari soto


Diperjalanan, Elina terus menyunggingkan senyumnya sambil menggenggam tangan kiri Alvano sementara tangan kanannya dia gunakan untuk memegang sabuk pengaman. Alvano yang melihat Elina tersenyum hatinya menghangat melihatnya, hanya untuk hal-hal kecil namun bisa membuatnya menyunggingkan senyum bahagianya


"Belum buka sayang penjualnya, padahal soto disini itu langganan keluarga aku sampai sekarang, tapi karna waktunya kurang pas aja jadi belum buka"jelas Alvano sambil menjalankan mobilnya mencari kembali penjual soto disekitar sana


tak lama mereka berhenti didepan gerobak penjual mie ayam,soto dan bakso. Namun, tetap sama masih tutup tak ada orang disana membuat Elina cemberut sedih


Alvano yang melihat itu menghela nafasnya pelan lalu menarik dagu Elina pelan untuk menatapnya, tak lupa Alvano sempatkan untuk mengecup bibir manis Elina sebentar lalu menatap matanya


"Gak perlu sedih sayang, aku masih ada kok tempat penjual soto yang enak disekitar sini, kita kesana ya. Tapi janji gak boleh sedih dulu"ucap Alvano membuat Elina menggeleng


"Kenapa?"tanya Alvano bingung, entahlah dia sendiri. bingung menyikapi mood ibu hamil yang suka berubah-ubah dalam sekejap mata


"Aku gak mau soto lagi"jawab Elina membuat Alvano mengerutkan dahinya


"Terus?!"tanya Alvano


"Mau donat itu"tunjuk Elina pada penjual donat keliling menggunakan sepeda


"Yakin mau itu?, gak ada yang lainnya?"tanya Alvano dibalas gelengan oleh Elina


"Ya udah, ayok beli sekarang"ucap Alvano membuat semangat dan langsung turun dari mobil menghampiri penjual donat yang kelihatannya sudah tua


"Permisi pak"ucap Elina berdiri disamping kakek penjual itu


"Oh iya neng, mau beli donat bapak?"tanya kakek penjual tersebut dengan semangat, karna baru Elina pembeli pertamanya


"He'em. Aku mau yang cokelat satu, kejunya satu, kacang cokelat satu, sama yang cokelat keju satu"jawab Elina dengan sigap kakek penjual tersebut mengambilkan pesanan Elina, tak lama Alvano datang dan berdiri disamping Elina


"Masnya?"tanya kakek penjual tersebut yang mengira jika Alvano pembeli lainnya


"Ah...maaf pak, saya tidak beli, saya cuma mengantar istri saya beli donat bapak"jawab Alvano membuat kakek penjual. tersebut mengangguk dengan senyum kecutnya

__ADS_1


tanpa mereka tau, Elina sedari tadi menatap interaksi keduanya dan dia merasa jika kakek ini berjualan dari tadi tapi tak ada satupun yang mau beli


"Mas!"panggil Elina menatap Alvano yang menaikkan sebelah alisnya, lalu Elina berjinjit dan berbisik pada Alvano


"Beli semua aja donatnya mas, enak tau donatnya, nanti dibagi deh sama yang lain" bisik Elina dengan wajah memelasnya, jujur saja Alvano juga tak tega pada kakek penjual ini, diusir renta yang seharusnya beristirahat dirumah dan menghabiskan sisa hidupnya dirumah, tapi justru dia harus bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan mungkin keluarganya juga


"Pak. Saya beli semua donatnya ya, ini istri saya lagi hamil jadi dia minta beli semuanya buat cadangan dirumah katanya"ucap Alvano membuat kakek penjual tersebut terkejut tak percaya


"Masnya serius?!!, mba?"tanya kakek penjual menatap Alvano dan Elina bergantian


"Iya pak, boleh kan pak?"jawab Elina dan bertanya


"Sangat boleh mba, mas. Alhamdulillah ya allah"ucap kakek penjual tersebut dengan memasukkan semua donatnya kedalam kantong keresek


tangan keriputnya bergerak dengan pelan dan bergetar saat memasukkan donat kedalam kresek tersebut, hatinya membuncah bahagia karna donatnya habis secepat ini dan dia begitu bersyukur kepada Allah atas rezakinya


setelah semua donat sudah dibungkus, kakek penjual tersebut memberikannya pada Elina yang dengan senang menerimanya


"Semuanya berapa pak?, sama yang dimakan istri saya juga tadi belum sempat bayar kan Ay?"tanya Alvano pada kakek penjual dan Elina, Elina hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara kakek penjual mulai menghitung semuanya


"Rp 400.000 mas semuanya"jawab kakek penjual tersebut membuat Alvano mengangguk seraya tersenyum lalu mengeluarkan dompetnya


"Ini untuk semua donatnya dan yang ini untuk bapak"ucap Alvano dengan menyodorkan uang sebesar 400.000 ribu dan sebuah amplop tebal yang berisi uang sebesar Rp 5000.000 juta


"Mas... ini mah kebanyakan uangnya, ambil lagi aja ya"ucap kakek penjual menolak uang tersebut dan mengembalikannya pada Alvano


"Gak papa pak, terima saja uangnya, ini rezeki dari Allah untuk bapak melalui kami.Terima ya pak"jawab Alvano dengan meletakkan uang tersebut pada telapak tangan kakek penjual donat tersebut


"Gak papa pak, bapak terima uangnya ya. Bapak tidak perlu khawatir jika uang ini palsu, ini uang asli pak dan sedikit rezeki dari allah untuk bapak, kami akan senang sekali jika bapak mau terima uang ini"jelas Alvano membuat kakek penjual tersebut terdiam sesaat lalu menerimanya membuat Alvano dan Elina tersenyum senang


"Terimakasih banyak ya mas, mba atas rezekinya. Semoga saja allah menggantikan uang yang kalian berikan ini dengan yang lebih banyak lagi dan semoga anak yang mba kandung kelak akan menjadi anak sholeh/sholehah, berbakti kepada kedua orang tua, menjadi anak kebanggaan semua orang dan mengharukan nama orang tua dan negaranya. Amin"do'a kakek penjual tersebut dengan menatap perut Elina sedih juga tersenyum


"Amin"balas Alvano dan Elina bersamaan


"Kakek mau pegang perut El?, gak papa kok kalo mau pegang"ucap Elina membuat kakek penjual tersebut terkejut sekaligus terharu dan tangannya terulur menyentuh perut Elina yang sedikit terlihat karna memakai kaos sedikit ketat


"Hai nak. kenalkan namaku kakek Burhan, kakek berharap kau jadi anak baik ya nak, berbakti kepada orang tuamu, jadilah anak ramah, bijaksana, berwibawa dan menjadi orang yang berguna untuk negara dan dunia ini"ujar kakek Burhan penjual donat keliling tersebut dengan senyum bahagia menatap Elina yang tersenyum


pembicaraan mereka berakhir saat Elina yang mulai menguap ngantuk setelah makan 4 donat sekaligus, kini mereka sudah dalam perjalanan pulang dengan Elina tertidur bersandar pada bahu Alvano yang sedang menyetir, mungkin akan menjadi kebiasaan Elina seperti ini sejak hamil dan mungkin bisa sampai setelah melahirkan


Alvano kembali teringat akan ucapan kakek Burhan penjual donat tadi, hidup berdua bersama istri tercinta tanpa seorang anak ditengah mereka, karna pernah mengalami keguguran dan terpaksa rahimnya harus diangkat, mengingat itu membuat Alvano khawatir jika meninggalkan Elina seorang diri dirumah, tapi jika menambah anak buah untuk berjaga dirumah,pasti Elina menolak karna risih harus diikuti kemanapun dia pergi


sampainya dirumah, Alvano turun dari mobil setelah membenarkan posisi Elina kekursinya lalu membuka pintu samping untuk membawa Elina masuk kerumah. Alvano masuk kedalam kamarnya dan menurunkan Elina diranjang dengan perlahan sambil membenarkan posisi paling nyaman untuk Elina tidur


Alvano menatap wajah Elina yang tenang dalam tidurnya yang terlihat tetap cantik meski tanpa make up, Alvano memajukan wajahnya dan mencium dahi Elina lalu beralih mengecup bibir Elina pelan, kemudian beralih pada perut Elina mengusapnya lembut tak lupa mengecupnya pelan


Setelahnya Alvano pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu ke ruang kerja menemui Azam yang datang bersama Alex barusan setelah mengabari jika mereka sudah ada diruang kerjanya untuk membicarakan soal Daren adik Diego


selesai mandi, Alvano melangkah menuju walk in closet untuk mengambil pakaian santainya lalu pergi ruang kerjanya, biarlah dia akan ke kantor nanti siang saja untuk meeting setelah makan siang, dia segera menghampiri Papinya yang sudah menunggunya. Sampai diruang kerja, Alvano melihat Papinya sedang bicara dengan Alex soal Daren


"Assalamualaikum Pi,Paman"salam Alvano lalu masuk kesana dan duduk dikursinya

__ADS_1


"Waalaikumsalam"jawab keduanya lalu Alex yang berdiri dari duduknya membungkukkan badannya


"Duduklah Paman, Paman hanya boleh membungkuk pada Opa dan Papi, tapi tidak denganku"ucap Alvano selalu seperti itu pada Alex karna merasa tak pantas saja, namun dituruti oleh Alex yang langsung duduk disamping Azam


"Ada apa Pi?"tanya Alvano menatap Azam yang mengotak-atik tabletnya


"Kau lihat ini dan baca semuanya"pinta Azam menyerahkan tabletnya pada Alvano yang langsung membaca semuanya dengan teliti sampai tuntas


"Jadi Daren ini kembaran Diego Pi? dan dia ada di sekitar sini?"tanya Alvano diangguki oleh Azam dengan menghela nafasnya pelan


"Benar boy, mereka kembaran yang terpisah sejak kecil karna orang tua mereka bercerai. Mereka baru bertemu kembali setelah usia mereka 15 tahun itupun tanpa sengaja mereka bertemu dan tinggal bersama diapartemen milik Diego saat diluar negeri sana. Kini dia ada disekitar sini mencari keberadaan Papi dan Opa, terutama Elina yang merupakan wanita yang Diego cintai sampai dia matipun menyebut nama Elina"jelas Azam membuat Alvano terdiam dengan rahang mengeras marah


"Tapi kau tenang saja, Papi sudah mengawasi Daren kemanapun dia pergi dan Papi jamin dia tak akan tau kau dan Elina dimana. Tapi kau harus jaga benar-benar istrimu dan calon anakmu boy, diluar sana masih ada Ayu yang belum bertemu dengan Diego sampai sekarang, jika dia tau Diego sudah mati dan punya kembaran, dia pasti akan memanfaatkan Daren untuk mencelakai Elina"lanjut Azam dengan menunjukkan foto Ayu pada Alvano


"Dia....Ayu?"tabak Alvano melirik Azam yang mengangguk


"Yap. Ayu adalah sosok wanita pertama yang menjadi kunci ketakutan Elina, dia merupakan sahabat sekaligus musuh mematikan untuk Elina. Dia kini tinggal dirumah mendiang kakeknya yang ada diindonesia, dia juga bekerja ditoko kue Anugrah milik Paman Brian boy, kau bisa mematai-matainya melalui Reza atau Riza, Papi sudah meminta pada Paman Brian untuk mengawasi Ayu disana"jelas Azam membuat senyum licik terbit diwajah tampan Alvano


"Al akan gunakan rencana yang Al buat Pi, setelah ini mereka tak akan bisa melihat matahari lagi karna sudah membuat istriku celaka"ucap Alvano dengan senyum liciknya membuat Alex merinding ngeri melihat tuan mudanya tersenyum smirk tak beda jauh dengan Papinya


"Laksanakan saja rencanamu itu besok, yang penting kau harus tetap hati-hati diluar sana dan jangan biarkan istrimu bersedih karna mendengar kabar tak baik darimu. Paham boy?!"ujar Azam diangguki oleh Alvano dan berdiri dari duduknya


"Al kembali ke kamar ya Pi, kasihan El lagi tidur nanti bangun bingung gak ada Al disana"pamit Alvano lalu menyalami mereka


"Baiklah, jaga cucu Papi"jawab Azam sembari tersenyum, sementara Alvano memberikan hormat dan anggukan sebagai jawaban


Alvano kembali kekamarnya menemui Elina yang ternyata sedang asik memakan pisang coklat dengan bersenandung mengikuti musik dihpnya, Alvano mendekati Elina masih asik dengan kegiatannya dan tak menyadari kedatangan Alvano disampingnya


"El!"panggil Alvano dengan berbisik pelan ditelinga Elina yang langsung terdiam dan berhenti mengunyah, karna siang ini cukup mendung membuat kamar menjadi gelap bahkan tirai kamarnya sengaja ditutup otomatis oleh Alvano tadi sebelum pergi menemui Azam


Elina mulai merinding mendengar suara seseorang yang mirip dengan Alvano, tapi terdrngar lebih serak basah. Elina mematikan musik dihpnya dan siap menyalakan senter hpnya namun sial, karna daya hpnya habis total membuatnya mendesah gelisah dengan meneguk ludahnya kasar


"Elina"panggil Alvano lagi kembali berbisik lirih ditelinga Elina yang terdiam membatu, Alvano yang melihat itu menahan tawanya


"Mas... jangan main-main deh!!.. gelap ini"seru Elina membuat Alvano menutup telinganya


"Elina"panggil Alvano kembali berbisik membuat Elina semakin takut, bahkan memeluk bantal sofa menyembunyikan tangisnya


Melihat Elina yang semakin ketakutan membuat Alvano tak tega, tapi tanggung bukan jika kita tak dilanjutkan. Alvano melihat Elina yang mulai mengintip dibalik bantal sofa dan sekarang jari Alvano mulai menekan tombol otomatis kamu lalu


"Baaaa....."seru Alvano memasang wajah konyolnya


"Aaaaaaa.... "teriak Elina dengan menutup wajahnya kembali menggunakan bantal, sementara Alvano tertawa kencang melihatnya


Mendengar suara tangis Elina membuat Alvano menghentikan tawanya dan menghampiri Elina membuka bantal sofa yang menutupi wajahnya yang sembab, ingin tertawa kembali namun kasihan


"Iii... Hiks.. mas Al..."teriak Elina melihat suaminya dan langsung memukulkan bantal ditangannya pada Alvano


"I'm Sorry honey. Tapi kamu lucu"jawab Alvano sambil menahan tawanya dan mendapat pukulan ringan dari Elina yang tinggal sesegukan saja


"Maafin mau?"tanya Alvano diangguki oleh Elina lalu memeluknya kembali

__ADS_1


__ADS_2