
setelah diperiksa oleh dokter kini Elina tengah tertidur ditemani oleh Rania disampingnya, terlihat Rania terus menjatuhkan air matanya saat mengusap tangan kakaknya, ada kerinduan tentang semua kenangan dulu bersama kakaknya sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
"Kakak kapan ingat sama Nia kak? Nia kangen main lagi sama kakak, cerita lagi, bercanda lagi dan tertawa bersama lagi. Nia kangen semua tentang kakak, kapan kakak akan ingat semuanya lagi?"tanya Rania dalam tangisnya mencium punggung tangan Elina lembut
Alvano yang melihat adik iparnya bersedih hanya bisa menampilkan senyum palunya, sejujurnya dia juga ingin menangis dan berteriak kecebong mungkin agar semua dunia tau bagaimana perasaannya saat ini. Namun, sebisa mungkin dia harus kuat, dia harus tegar demi semua orang tersayangnya terutama Rania.
"Nia"panggil Alvano yang sudah berdiri disamping Rania, ya dia sudah bisa berjalan namun harus perlahan karna luka dipaha dan perutnya belumlah kering sangat sehingga harus banyak istirahat dan duduk.
"Kak Al"Rania langsung memeluk Alvano menyalurkan rasa sedih yang dia rasakan dihatinya saat ini melihat kakak tersayangnya justru melupakannya dan keluarganya.
"Nia gak boleh nangis sayang. Kau harus tegar dan kuat demi kakakmu, jika kakakmu tau kau menangis seperti ini dia pasti akan memarahi kak Al nanti karna tak bisa menjaga adik tersayangnya ini. Jangan menangis ya, kakak akan merasa bersalah jika kau terus menangis seperti ini"bujuk Alvano sambil mengusap punggung Rania pelan.
"Hiks.. aku rindu kak El kak, aku mau kak El ku kembali, aku mau kakakku mengingat aku lagi..hiks.."tangis Rania disela pelukannya.
"Kakak tau sayang, semua orang juga mengharapkan hal yang sama dengan Nia, semua orang berharap jika kak Elina kembali seperti dulu, mengharapkan kak Elina mengingat semua orang, semuanya ingin kak Elina sembuh dan ingat dengan kita. Namun takdir berkata lain Nia, takdir mengambil ingatan kak El hingga dia melupakan kita. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa agar kak El bisa mengingat kita lagi seperti dulu, bisa mengenali kita lagi tanpa harus terluka lagi"jelas Alvano sambil mengusap punggung Rania sayang.
"Jangan menangis ya, berdoalah untuk kakakmu agar dia bisa mengingatmu dan kita semua kembali seperti dahulu. Percayalah Allah pasti akan membantu kita mengembalikan ingatan kak Elina"lanjutnya kemudian melepas pelukan mereka dan menatap mata Rania yang masih menjatuhkan air matanya lalu menghapusnya dan kembali memeluknya.
"Kak Al"panggil seseorang diambang pintu membuat keduanya menoleh dan melihat Riza, Reza, Dion, Yolanda, Sarah, Elvina, Nasyla, Aiden dan Dimas tengah menatap mereka.
"Kalian baru datang ternyata, duduk dulu disana. Nia kau hampirilah Riza dan ceritakan semua yang kau rasakan padanya, dia tunangannya sayang"ucap Alvano diangguki oleh Rania yang langsung berdiri menghampiri Riza yang duduk disofa antara Dion dan Reza.
"Kakak tumben pelukan sama Nia, biasanya gak pernah akur kalian, ada kah sesuatu hal?"tanya Elvina memicingkan matanya membuat Alvano melemparkan bantal sofa padanya.
"Tidak ada sesuatu apapun. Nia hanya menangis dipelukan kakak untuk menyalurkan rasa sedihnya dan kakak mencoba menenangkannya agar tak terus menangis, kalian tidak lihat mata sipitnya sembab, maka dari itu dia meluk kakak supaya tenang"jelas Alvano diangguki oleh yang lain, sebenarnya mereka tau kok apa yang Alvano dan Rania,hanya saja mereka ingin sedikit menjahili Alvano agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.
"Iya kita percaya deh. Ouh iya kak tadi Papi bilang katanya besok kak El sama kak Al udah boleh pulang ya? kalo iya, besok kita kesini ya jemput kalian pulang dan anter sampai rumah?"tanya Elvina menayap Alvano yang terdiam.
"Kak! Kak Al!"panggil Elvina namun Alvano masih tetap diam melamun entah apa yang pria itu pikirkan.
"KAK AL!!"seru Elvina didepan wajah Alvano hingga sang empu terkejut hingga matanya membulat sempurna.
"Ngagetin aja lo barongsai"ucap Alvano kesal kemudian dia mengambil bantal sofa dan melemparkannya tepat kearah Elvina mengenai hidung mancungnya.
"Ihhh.. kak Al sakit tau"keluh Elvina memegangi hidungnya yang merah lalu menatap kearah Dimas untuk mengadu.
"Makanya jangan suka ngagetin orang, jadi kena lempar kan"ucap Alvano kesal melihat Elvina yang mendapat usapan lembut dari Dimas dihidungnya.
"Salah kak Al sendiri bengong. Aku kan cuma mau menyadarkan kak Al yang bengong, ehh.. palah aku yang kena imbasnya, tau gitu biar aja bengong sekalian kerasukan hantu rumah sakit"sangkal Elvina kemudian menjulurkan lidahnya meledek Alvano.
"Astaga! ketemu gelud, gak ketemu merindu"gumam kelima pria disana bersamaan melihat Elvina dan Alvano yang terus berdebat.
"Kak. Pertanyaan Elvi belum dijawab tadi? emang bener kak Al sama kak El udah boleh pulang besok?"tanya Dimas mengulangi pertanyaan Elvina.
__ADS_1
"Iya. Menurut dokter kondisi Elina sudah membaik dan dia udah boleh pulang besok, tapi masalahnya El belum boleh terlalu memaksakan ingatannya untuk mengingat semuanya, itu akan membuat Elina sakit yang berlebih dikepalanya dan membuat kandungannya bermasalah"jelas Alvano sambil mengingat ucapan dokter tadi setelah memeriksa Elina, sementara yang lain terdiam merasakan apa yang Alvano rasakan.
"Kita yakin kok Al. Kita yakin pasti Elina akan sembuh dan dia pasti akan mengingat semuanya, mengingat semua cinta lo,cinta kita semua dan cintanya, dia pasti merasakan perasaan cinta dan kasih sayang yang lo berikan kedia, dia pasti merasakan nyaman dan hangat saat dekat dengan keluarganya terutama lo sebagai suaminya. Kita yakin Elina kita akan kembali mengingat semuanya"ucap Galang lalu memeluk Alvano disusul yang lain.
"Makasih ya. Tolong bantu gue untuk kembalikan ingatan Elina secara perlahan, dia butuh dukungan kita supaya dia bisa mengingat semuanya lagi"ujar Alvano disela pelukan mereka.
"Pasti Al, kak"jawab mereka lalu melepas pelukan mereka saat mendengar knop pintu terbuka.
seorang suster masuk mengantarkan makanan untuk Elina, jika kalian bertanya kemana Nataza, dia sudah pulang terlebih dahulu karna kondisinya sudah membaik hanya pemulihan saja dan pastinya dia memaksa Azam untuk pulang.
"Permisi tuan Alvano, maaf mengganggu waktu anda. Saya mengantarkan makan siang untuk nona Elina"ucap suster mendorong troli mendekati nakas samping ranjang Elina yang masih tidur setelah mendapat anggukan oleh Alvano.
setelah suster pergi Alvano menghampiri ranjang Elina dan duduk dikursi sampingnya yang sudah disediakan rumah sakit, dia mengambil tangan Elina lalu menggenggamnya erat, satu kecupan dia berikan dipunggung tangan Elina lalu mengusapnya sembari menatap Elina yang masih nyenyak dalam tidurnya setelah diberi obat penenang.
"Sayang.. bangun yuk, makan siang udah dateng, makan dulu yah. Bangun sayang"ucap Alvano pelan sambil mengusap pipi Elina lembut, kebiasaan yang dia lakukan ketika membangunkan istrinya.
"Emhh.."lenguh Elina terusik tanpa membuka matanya, dia justru menarik tangan Alvano lalu dipeluknya erat membuat Alvano menyunggingkan senyum manisnya.
"Hai.. bangun dulu ya, makan siang setelah itu baru tidur lagi. Bangun yuk"ucap Alvano kembali mengusap pipi Elina dengan tangan kirinya.
Perlahan mata Elina terbuka dan melihat Alvano didepannya menampilkan senyum manisnya membuat Elina kikuk, sungguh senyum manis Alvano membuat jantungnya berdebar kencang, matanya menatap kearah tangan Alvano yang masih mengusap pipinya.
ada rasa nyaman dan hangat ketika tangan Alvano menyentuh pipinya apalagi tangan kanannya segenggam erat oleh Alvano membuat Elina sesuatu yang lain dihatinya, entahlah dia merasakan ada sebuah cinta yang begitu besar disetiap sentuhan yang Alvano berikan dan setiap bersama seperti ada magnet besar yang menyatukan mereka.
saat Alvano akan melepas genggaman tangannya dan usapan dipipinya, Elina mengeratkan genggaman itu dan menarik tangan Alvano kearah pipinya kembali untuk diusap. Elina merasakan kebahagiaan tersendiri saat usapan lembut dia dapatkan dari Alvano, tanpa sadar Elina mengecup telapak tangan Alvano yang ada dipipinya saat dia memiringkan kepalanya kesamping kanan.
"Jangan dilepas. Kaya gini aja"ucap Elina menggelengkan kepalanya sambil menatap manik mata Alvano dalam dengan mata berkaca-kaca, sementara Alvano terkejut dengan yang Elina lakukan, jujur sejak kejadian Elina amnesia dia sama sekali tak ingin disentuh siapapun termasuk Alvano.
Tapi kini, Elina memintanya untuk tetap menyentuhnya meski hanya sekedar menggenggam dan mengusapnya namun membuat hati Alvano merasakan bahagia. Semua yang ada diruangan itu ikut terharu menyaksikan Elina yang mau menerima sentuhan Alvano dan menerima jika Alvano suaminya.
"Bahagia ya, bisa melihat kak Elina mau menerima kak Al sebagai suaminya dan menerima setiap sentuhannya. Sungguh momen yang begitu mengharukan"ucap Elvina pelan menatap kearah kedua kakaknya dibalas anggukan oleh yang lain.
"Sangat!. Sangat bahagia...Semoga secepatnya kak Elina bisa mengingat semua masalalunya bersama kak Al dan kita semua"jawab Rania memandang kakak iparnya yang terlihat terharu.
"Amin"balas semuanya pelan lalu keluar dari ruangan tersebut untuk pergi ke kantin.
kembali pada Alvano yang melepaskan pipi Elina dan genggaman tangannya membuat Elina menatapnya sendu, Alvano bangkit dari duduknya dan melangkah kearah nakas mengambil mangkuk berisi bubur dan kembali duduk dikursi samping Elina.
"Kenapa hmm? kok nangis?"tanya Alvano lembut melihat air mata Elina jatuh begitu saja karna wanita itu pikir Alvano akan meninggalkannya.
"Enggak apa-apa"jawab Elina memalingkan wajahnya membersihkan pipinya yang basah karna air mata.
"Jangan nangis ya, air mata kamu terlalu berharga untuk kembali jatuh. Maafkan aku yang gagal menjaga kamu dan harus membuat kamu kembali menjatuhkan air mata ini, aku memang gak berguna"ucap Alvano membantu membersihkan pipi Elina yang basah.
__ADS_1
ingin menjawab namun Elina tidak tau harus menjawab apa, dia tak ingat apapun bahkan namanya sendiri dia tak tau bagaimana dia harus menenangkan pria didepannya ini yang mengaku jika dia adalah suaminya.
"Oke, sekarang jangan sedih-sedih lagi. Karna sekarang waktunya kamu makan siang, jadi jangan sedih dan jangan buang air mata kamu itu. Aku suapin ya.. Aaaa..."ucap Alvano kemudian dia menyendok bubur dan menyodorkannya pada Elina untuk dimakan, Elina hanya bisa menerimanya dengan membuka mulutnya.
suap demi suap masuk kemulut Elina dan kini mangkuk berisi bubur telah habis, dan Alvano berpamitan ke kamar mandi dengan membawa kantong plastik berisi perban untuk menutupi luka diperut dan pahanya yang belum diganti pagi tadi.
"Mau kemana?"tanya Elina pelan menatap Alvano lalu menatap kantong kresek ditangan suaminya, katanya.
"Ke kamar mandi, kenapa? mau ikut?"goda Alvano membuat semburat merah muncul dipipi putih Elina
"Kalo mau ikut ayok, kalo gak mau juga gak apa-apa, aku juga gak akan maksa nanti malah sakit lagi"ucapan yang terdengar ambigu membuat Elina semakin malu dan wajahnya semakin merah hingga telinganya ikut memerah.
"G-gak, s-sendiri aja"jawab Elina menunduk memainkan jari tangannya, malu itulah yang dia rasakan. Sementara Alvano hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang malu-malu.
"Baiklah jika tidak mau ikut. Jangan nyesel karna gak kebagian nikmatnya"ujar Alvano membuat Elina berfikir yang tidak-tidak, otaknya terkontaminasi oleh ucapan suaminya.
tanpa mereka sadari, ada yang mendengar pembicaraan keduanya dari luar ruangan dengan wajah terkejut hingga matanya membulat sempurna. Siapalagi jika bukan sahabat-sahabat Alvano dan Elina juga adik-adik mereka.
"Astaga.. telinga gue gak suci lagi"gumam Elvina dan Rania bersamaan menggosok kedua telinga mereka.
"Ihh... otak gue kok jalan-jalan ke tempat berbahaya sih, kan jadi gak suci lagi"keluh Yolanda mengguyar kepalanya pelan, sementara Sarah menggelengkan kepalanya pelan menghilangkan pikiran kotor karna tertular virus mesum Yolanda lalu menatap Reza yang menatapnya aneh.
"Kenapa ngliatin aku gitu?"tanya Sarah pada Reza yang langsung memalingkan wajahnya karna tertangkap basah.
"Gak papa. berdiri punya gue anjim gara-gara tuh bukit"jawab Reza dengan akhir kalimat berbisik pada dirinya sendiri namun dapat didengar oleh Riza disampingnya yang terkejut.
"Astaghfirullah..kak Al udah bikin organ suci gue kotor karna ucapan ambigunya"gumam Elvina mengusap tubuhnya yang merinding tiba-tiba.
Dimas, Dion, Galang dan Aiden hanya terbengong ditempat mereka dengan tampang bodohnya, bahkan mereka tak sadar jika barang yang mereka tenteng telah terjun bebas menghantam lantai rumah sakit.
"Sialan! Roket gue mau terbang"gumam Galang lalu pergi ke kamar mandi umum dirumah sakit tersebut tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang dia tabrak karna berlari menahan roketnya yang siap meluncur.
"Galang mana?"tanya Reza pada Dion dan Aiden yang memang mereka bertiga bareng bersama Galang paling belakang.
"Hah?!... gak tau, tadi disini sumpah"jawab Dion bingung melihat sahabatnya hilang tanpa jejak.
"Udahlah, paling juga lagi melepas landasan roketnya yang siap terbang"jawab Dimas asal ceplos membuat para pria menatapnya horor sementara para gadis menatapnya bingung.
"Roket? emang Galang punya roket? sejak kapan?"tanya Elvina polos membuat para pria terkejut mendengar pertanyaannya.
"Emm.. itu..apa namanya... itu...Iya Galang punya roket, tapi... Emm.. tapi roket mainan maksud aku, yang kecil itu loh yang pake.. apa.. itu.. remot.. iya...remot"jawab Dimas gugup menampilkan senyum terpaksanya.
"Ohh... aneh, udah gede main roket mainan pake repot lagi"jawab Elvina lalu meninggalkan para pria begitu saja disusul para gadis dibelakangnya.
__ADS_1
"Selamat!!"******* lega keluar dari mulut para pria karna Elvina dan gadis yang lain percaya begitu saja dengan penjelasan asalnya dan berharap mereka tidak menanyakan soal roket pada Galang ataupun Alvano.