Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 08


__ADS_3

Pagi ini Elvina sedang bersiap untuk berangkat ke butiknya, selain bekerja dikantor pamannya, Adam. Elvina juga bekerja dibutik sebagai pemilik butik tentunya, dia mewari ilmu menjahit dari Oma Ayu yang memang dulu ahlinya dalam menjahit dan mendesain pakaian apapun. Butik yang didirikan karna jerih payahnya sendiri dari SMA hingga kini menjadi butik terkenal dikalangan atas hingga istri dari para pejabat tinggi membeli ditempatnya, bahkan butiknya dikenal hingga ke Manca Negara


"El!, sarapan dulu nak"panggil Nataza dari dapur sambil membawa piring berisi nasi goreng


"Ya Mi, sebentar"balas Elvina sambil mencepol rambutnya


saat sedang mengepol rambutnya, sebuah tangan kekar menghentikan gerakan tangannya, siapa lagi jika bukan Alvano. Ya Alvano diminta Papinya untuk memanggil Elvina sarapan dengan segera Alvano menemui kembarannya, dan dia melihat Elvina mencepol rambutnya hingga leher jenjangnya terlihat, Alvano tidak suka itu


"Lepasin kak, udah siang ini"kesal Elvina menatap Alvano dari cermin


"Gak akan, kakak gak suka ya kamu cepol rambut kamu ketika mau keluar dan ada tamu kecuali kalo lagi dirumah bersama keluarga kamu itu bebas. Kamu cepol rambut kaya gini membuat mata laki-laki menatap lapar kearah leher kamu. Mereka akan sama kaya anak depan kompleks itu yang hanya deketin kamu karna uang dan nafsu"ujar Alvano membuat Elvina menunduk


"Maaf kak, El gak ada maksud mau gitu. El cuma merasa hari ini panas aja jadi El cepol agar leher El kena angin"balas Elina tanpa menatap Alvano


"Lihat kakak El"ucap Alvano sambil mengangkat dagu Elvina menatapnya


"Kakak hanya gak mau terjadi apapun sama kamu diluar sana, diluar sana bahaya El, tidak semua laki-laki sama. Siapa yang akan menduga jika seorang gadis mencepol rambutmu tiba-tiba ada orang yang datang lalu mengajak kenalan, lalu jalan hingga gadis itu jatuh cinta tapi dia tidak tau jika dia hanya barang mainan untuk dicicipi lalu pergi meninggalkannya hingga anak tak berdosa hadir dirahimnya. Banyak orang seperti itu yang berkedok cinta tapi hanya nafsu belaka. Kakak hanya gak mau kamu seperti itu, kakak sudah bilang dengan Mami, Oma, Nasyla juga kamu saat ini, jika siap dan ikhlas juga percaya sama Allah, gunakan hijab dan pakaian tertutup untuk menutupi hal yang memang dilarang untuk laki-laki bukan mahramnya memandang. Itu sih kalo kalian siap dan ikhlas"jelas Alvano dengan menggerai kembali rambut kembarannya


"Sekarang lebih cantik karna digerai rambutnya, jadi sekarang kita sarapan dan berangkat kerja oke"ucap Alvano sambil mencium pipi adiknya


"Oke, maaf ya kak aku belum siap untuk tertutup"balas Elvina


"Tidak masalah, lagian kakak juga gak maksa kamu dan yang lainnya, kan itu tergantung kesiapan dan keinginan kalian. Yang penting jangan pindah agama aja"celetuk Alvano membuat Elina mendelikkan dengan tangan menarik hidung mancung kakaknya


"Ihhh.... kalo ngomong minta di jahit emang mulutnya. Gak mungkin aku tinggalin Allah yang memang tuhan aku satu-satunya dan kecintaan aku padanya. Gak akan no..no..no.. "balas Elvina membuat Alvano memeluknya dari samping


"Bercanda pohon durian"ejek Alvano


"Heh.... dasar pohon kaktus"balas Elvina


"Al!!, El!!... kalian ini ngapain sih?, disuruh sarapan kok malah ngobrol, kasihan adik kalian yang 20 menit lagi masuk"omel Nataza kepada twins


"Iya Mami kita keluar, ini El lagi sisir rambut dari tadi gak kelar-kelar"balas Alvano


"Ayo El, sisir rambut sendiri aja kaya sisirin singa"cibir Nataza membuat Alvano tertawa


"Iya Mi, aku tadi habis sisirin singa. Nih singanya disamping aku"balas Elvina dengan menatap Alvano


"Heh... kalo kakak singa kakak makan kamu ya"ucap Alvano ikut berlari mengejar adiknya yang berlari


"Hei.. Hei... kenapa jadi kejar-kejaran sih, duduk kita sarapan, dan El nanti akan ajak temen Mami ke butik kamu buat cari gaun untuk dia. Nanti bantu Mami pilih ya"ucap Nataza pangkas sambil menatap Elvina


"Siap Mami, nanti hubungi aku aja kalo udah sampai, soalnya aku akan ada diruang jahit untuk mengecek beberapa baju pesanan pelanggan"ucap Elvina diangguki oleh Nataza


selesai sarapan Elvina pergi ke butiknya lalu melangkah keruang jahit untuk mengecek baju-baju yang dijahit oleh anak buahnya, ruangan yang luas dan megang seperti pabrik dan menampung 110 lebih pekerja disana untuk membantunya bekerja membuat berbagai macam baju, bahkan kadang Elvina turun tangan sendiri jika baju tersebut dipakai oleh orang kalangan atas atau ada sedikit kesalahan dalam desain dan motif yang tidak disukai oleh pelanggan dan pembelinya


"Selamat pagi bu El"sapa para pekerjanya


"Selamat pagi semuanya, tetap semangat ya. Hari ini ada pesanan dari seorang pelanggan di butik kita. Dia memesan dengan desain seperti ini warna lavender polos tanpa motif apapun, dan dia hanya minta bajunya dibalut dengan brokat warna senada, lengannya ini pake brokat bukan satin, jadi kalian harus teliti dengan baju kali ini, langganan kita yang galak itu yang memesan,harus teliti dan jangan sampai ada kesalahan kalo tidak mau kita dituntut olehnya"jelas Elvina dengan sedikit malas melayani Oma Yani yang memang galak dan baperan

__ADS_1


"Baik mba El, kami akan lakukan semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik"balas salah satu pekerjanya


"Siap bagus. Ouh iya, kira-kira minggu depan sudah selesai belum ya?"tanya Elvina sebenarnya kasihan


"Insyaallah selesai bu, kami akan berusaha. Jika lembur pun tak apa"balas mereka dengan semangat


"Baiklah!. Semangat gaes!!!"seru Elvina dan dibalas tepuk tangan oleh pekerjanya


Elvina kembali keruangannya dan mulai membuka laptopnya, tak lama kemudian hpnya berdering menampilkan nama Maminya yang menelfonnya dan Elvina langsung mengangkatnya. Setelah mendapat info dari Nataza jika dia sudah ada didepan butiknya, dengan segera Elvina menghampiri Maminya juga teman Maminya


"Mi!"panggil Elvina menatap Maminya yang datang dengan seorang wanita dan pria yang mungkin seusianya


"Hai sayang!. Bagaimana kerjaannya?"tanya Nataza dengan mengusap pipi Elvina


"Lancar Mi. tapi cuma kami sedikit malas karna pelanggan kami yang memang sedikit menyebalkan"balas Elvina dengan memanyunkan bibirnya lucu, tanpa sadari bibir pria yang sedari menatapnya tertarik keatas meskipun sedikit melihat Elvina cemburut


"Menyebalkan?, kenapa memangnya?"tanya Nataza penasaran sambil melangkah masuk dan diikuti oleh teman Nataza juga putranya menuju ruang tamu


"Ya dia galak, keras kepala, terlalu baper, sombong, dan angkuh akan yang dia punya, bahkan dia suka sekali memaksa, padahal waktu membuat gaun pernikahan tidak cukup selama 1 minggu, bahkan bisa lebih. Tapi dia memaksa selama 3 hari harus selesai sampai kami semua lembur karna dia"keluh Elvina dengan bersandar dibahu Nataza


"Kenapa kau tidak menolaknya saat pertama kali dia memesan baju dibutikmu, kau bahkan sudah tau sifatnya tapi kau mau menerimanya"ucap teman Nataza, Jihan


"Aku sudah menolaknya tante, bahkan aku pernah mengusirnya dari sini karna pernah merusak gaun yang dia pesan dari sini, gaun itu sudah sobek dan sobeknya karna diganting olehnya hingga membuat aku marah. Tapi dia justru datang dengan polisi dan melaporkan aku telah menipunya, dia juga menuntut ganti rugi atas gaun yang dia rusak dan menuduhku curang dan menipunya lagi"jelas Elvina membuat Jihan tidak habis pikir


"Siapa memangnya orang itu sayang?, kenapa Mami ingin memukul wajahnya itu?"tanya Nataza mulai kesal


"Ohh.. Husain dia bukannya seorang kiai dan pebisnis, tapi kenapa istrinya seperti itu?"tanya Jihan yang memang kenal karna putranya juga bekerja sama dengan Husain


"Aku tak tau dan tidak mau tau, aku tidak peduli siapa suaminya yang jelas aku malas dan muak oleh sifat istrinya itu. Aku ingin sekali mencakar wajahnya saat marah-marah disini, tapi aku harus menjaga nama baik butikku dan yang lainnya"balas Elvina membuat yang lain terkekeh


"Emm... maaf menganggu semuanya aku mau tanya, kamar mandinya dimana ya?"tanya pria yang sedari tadi memperhatikan senyum Elvina


"Oke aku antar. Mami, tante, El permisi dulu"balas Elvina dengan melangkah pergi keruangannya dan diikuti oleh pria tadi


Sampainya didalam ruangan Elvina, pria tersebut cukup kagum dengan ruangan Elvina, rapih, bersih, luas, nyaman dan asri karna ada taman disamping ruangannya banyak pohon disana menambah kesan alami


"Kamar mandinya disana, maaf kalo kecil"ucap Elvina merasa tak enak karna kamar mandinya belum diperluas


"Tidak masalah sama sekali. Aku permisi"ucap pri itu lalu masuk kedalam kamar mandi


Elvina segera membereskan buku-buku desain miliknya dimeja dan menyimpannya didalam laci mejanya. Elvina segera berbalik menuju ranjang pribadinya yang ada disana karna terdapat alat untuk mendesain miliknya disana


selesai beberes dengan buku-buku dan alat selainnya, Elvina berniat kembali menemui Mami dan tante Jihan diruang tamu, tapi baru saja akan keluar pria yang baru saja dari kamar mandi ikut keluar dan tanpa sengaja Elvina menginjak botol minumnya yang tergeletak dilantai hingga dia terhuyung kebelakang untung saja ada pria tadi dan dengan segera pria tersebut menangkap tubuh Elvina supaya tidak jatuh


tapi justru keduanya terjatuh karna pria tadi menginjak kain bahan baju Elvina yang masih tertinggal dilantai, Elvina menindih tubuh pria tersebut dengan posisi memeluk pria tersebut dari atas. Mata Elvina menatap mata pria tersebut yang berwarna hitam pekat terlihat menenangkan dan sangat pas dengan matanya yang bulat, Elvina segera berdiri setelah mendengar alarmnya berbunyi menandakan waktu sholat dhuhur


"M-maaf aku tidak sengaja"ucap Elvina dengan mematikan alarmnya


"Tidak masalah, aku juga minta maaf tidak bisa menahan tubuhmu karna aku terpeleset kain ini"jawab pria tersebut membuat Elvina mengangguk

__ADS_1


Elvina segera melangkah keluar dengan wajah blussingnya,tanpa melihat pria tadi yang menyunggingkan senyumnya lihat Elvina yang jatuh diatas tubuhnya, astaga!, jantungnya berdrtak cepat mengingat wajah Elvina yang begitu cantik dari dekat. Bahkan mereka melakukan sholat dhuhur dimasjid dekat butik Elvina, selesai sholat mereka kembali ke butik untuk memilih tuxedo


"Ma!"panggil pria tersebut kepada ibunya


"Kenapa Dim?"tanya Jihan


"Mama udah selesai belum?, kalo udah Dimas anter Mama pulang terus Dimas lanjut kantor, ada sedikit masalah dikantor"jawab Dimas, ya pria tadi adalah Dimas Danugraha


'Ouh namanya Dimas ya? , pas sama orangnya yang ganteng. Ehh..' batin Elvina dengan memberikan jas yang diminta Jihan sambil melirik Dimas yang berbicara dengan Mamanya


"Ini Mama lagi pilih tuxedo buat kamu, banyak sih ukuranya cuma Mama takut warnanya kamu gak suka. Coba ini sebentar ya?"ucap Jihan dengan memberi tuxedo-nya pada Dimas sementara Dimas hanya menghela nafas pelan


Dimas menerima tuxedo yang Mamanya berikan dan mencobanya, banyak warna dan pilihan Dimas jatuh pada warna merah marun dengan sedikit motif disakunya


"Ini aja Ma"ucap Dimas memberikan jasnya pada seorang pekerja disana setelah memakainya


"Baiklah, El jas ini dibungkus ya, untuk gaun yang tante pesan 2 minggu kedepan udah jadi belum kira-kira?"tanya Jihan


"Akan aku usahakan tante, inshaallah udah selesai kok"balas Elvina membuat Jihan mengernyit


"Bukannya karyawan kamu yang kerjain?"tanya Jihan dengan lembut


"Enggak tante, aku yang akan kerjain baju itu sendiri dengan bantuan Asisten aku kalo bisa, kalo enggak ya aku bikin sendiri. Aku gak bisa nanggung kesalahan kecil apapun nanti yang akan terjadi, tapi aku percaya sama semua pekerjaku mereka hebat"balas Elvina membuat Nataza tersenyum


"Good Girl, Mami bangga sama kamu"ucap Nataza


"El juga bangga punya Mami"balas Elvina sambil Memeluk Nataza, sementara Dimas dan Jihan tersenyum melihat itu


"Ya sudah kami pamit ya Za, makasih loh udah kenalin aku sama El. Tante pasti akan jadi langganan kamu ini dan tentunya kamu akan selalu ketemu sama Dimas"goda Jihan yang tau kejadian tadi diruangan Elvina


"Udah Ma, telat nanti Dimas"ajak Dimas dengan menarik pelan tangan Mamanya, sementara Dimas dia menahan senyumnya mendengar ucapan Maminya


"Ehh... Elvina!. Tante minta nomer hp kamu untuk tanya-tanya soal baju"ucap Jihan dan diangguki oleh Elvina


'Gue minta nomer ni cewek boleh gak ya?, kalo gak boleh cuma malu doang gue, Astaga!, senyumnya manis banget, kok gue jadi dag dig dug gini sih cuma lihat senyumnya doang. Ahh bodo nanti ambil dari hp Mama aja' batin Dimas dengan melangkah meninggalkan Mamanya menuju mobilnya


"Makasih sayang, makasih Za, kami pamit dulu"pamit Jihan masuk kedalam mobilnya


Setelah mobil Dimas meninggalkan parkiran butik,Nataza segera memeluk lengan putrinya dan menatap wajahnya dari samping sambil tersenyum mengisyaratkan sesuatu tentunya


"Dimas ganteng gak?"tanya Nataza sengaja ingin tau langsung dari putrinya


"Ya gantunglah, orang dia laki-laki ya pasti ganteng, kecuali yang setengah-setengah"jawab Elvina mendapatkan jutaan didahinya oleh Nataza


"Semabarangan kalo ngomong"ucap Nataza lalu terkekeh


"Gimana udah ada rasa dag dig dug belum dekat sama Dimas?"tanya Nataza


"Apa sih Mi"balas Elvina lalu masuk kedalam ruangannya dan Nataza hanya tertawa

__ADS_1


__ADS_2