
Kini Alvano tengah cemas dan khawatir menatap Elina yang belum juga sadarkan diri setelah tadi pingsan dipelukan Daren kara terkejut menerima pelukan mendadak dari Daren, kini sudah ada dokter yang rela menerjang banjir karna takut saat mendengar ancaman Alvano yang akan memecatnya dari pekerjaannya.
dokter tersebut selesai memeriksa Elina dan mengatakan jika Elina hanya syok saja sehingga Alvano tidak perlu khawatir juga kandungannya baik-baik saja, Alvano dan Daren bernafas lega mendengarnya jika Elina dan calon anaknya baik-baik saja.
Setelah kepergian sang dokter, Alvano menghampiri yang belum sadarkan diri dengan duduk ditepi ranjang menggenggam tangannya sesekali mengecup punggung tangannya, lalu tangan sebelahnya turun mengelus perut Elina yang sedikit terlihat karna Alvano menyingkap kaos Elina dan kini usia kandungannya genap 1 bulan
"Ay, bangunlah sayang"bisik Alvano kemudian mengecup pipi Elina lembut.
"Kak Al, Daren pamit kekamar ya, udah ngantuk soalnya"pamit Daren dan diangguki oleh Alvano.
kepergian Daren dari kamar dimanfaatkan oleh Alvano untuk naik keatas ranjang dan memeluk istrinya erat, dia terus merapalkan do'a dan sholawat untuk istri dan calon babynya semoga istri dan calon anaknya dalam perlindungan Allah SWT.
perlahan mata Elina terbuka dan pergerakan kecil Alvano rasakan membuatnya menunduk menatap istrinya yang sudah sadar sembari tersenyum kearahnya, ia membalas senyum istrinya lalu mengecup dahi istrinya lembut sambil berbisik sesuatu pada Elina
"Ada yang sakit sayang?, atau kepala pusing hmm?"tanya Alvano sembari mengusap pipi cubby istrinya yang tambah mengembang saja
"Masih pusing sedikit mas"jawab Elina membuat tangan Alvano terulur memijit kepala Elina pelan, sementara Elina memejamkan matanya menikmati pijitan suaminya.
"Udah mendingan?"tanya Alvano kembali dengan tangan masih memijit pelan kepala Elina yang hanya mengangguk sebagai jawaban,lalu menyingkirkan tangan Alvano untuk dia arahkan keperutnya.
"Baby kangen kamu mas"bisik Elina membuat Alvano membulatkan matanya terkejut, lalu senyum menggoda muncul dibibir manisnya.
"Baiklah, akan aku kabulkan permintaan baby"jawab Alvano dan langsung menyerang bibir manis Elina dengan sedikit kasar
Alvano mengubah posisinya menjadi mengungkung istrinya dibawahnya lalu kembali menyambar bibir istrinya rakus lalu turun keleher minggalkan banyak tanda disana, tangan Alvano juga tak diam dengan gesit dia memelapas semua pakaian istrinya dan juga dirinya hingga mereka tanpa busana diatas ranjang mewahnya
*******, lenguhan, dan desisan nikmat terdengar jelas menggema didalam kamar megah itu, hingga pada bagian dimana senjatanya masuk dengan nyaman kedalam tempatnya yang hangat Elina meremas seprai dengan kuat menyalurkan nikmatnya
goyangan tubuhnya semakin cepat kala mereka akan sampai pada puncaknya,Alvano memegang dua tangan Elina dikedua sisi lalu menyembunyikan wajahnya saat mendapatkan puncaknya. Ia berguling kesamping mengatur nafasnya yang terengah-engah
"Terimakasih sayang"ucap Alvano lirih lalu mengecup dahi Elina yang sudah menuju alam mimpi karna lelah, ia memiringkan badannya untuk memeluk istrinya dari belakang dengan kakinya menggapai selimut diujung ranjang dan menariknya untuk menutupi tubuh mereka yang polos
****
1 bulan kemudian
Pagi ini jadwal Elina untuk cek kandungannya,sembari menunggu Alvano yang tengah mandi, Elina memainkan ponselnya melihat-lihat gambar bayi dan Elina menemukan satu foto bayi yang wajahnya terlihat mirip dengan Rania adiknya, entahlah dia rindu pada adiknya itu yang kini tengah menginap dirumah sahabatnya yang lebih dekat kampus membuat Rania betah disana, tak jarang ia bersama Alvano menilik kesana dan Riza pun juga ikut kesana menemui kekasihnya yang jarang sekali bertemu
"Kakak kangen sama kamu Nia, udah lama kakak gak ketemu kamu. Hampir 3 minggu ini kakak gak ketemu kamu, kangen rasanya pengin peluk kamu Nia"gumam Elina sambil menatap foto sang adik diponselnya membuat Alvano tersenyum
Alvano berdiri dibelakang Elina dengan menggendong tas Elina yang berisikan sebotol susu hamil beserta kotaknya, air putih, cemilan,buah segar yang sudah dipotong dan makanan siang sehat, Alvano sengaja menyiapkan semua itu tadi sebelum dia mandi dan tinggal mengajak Elina saja untuk langsung pergi lalu kerumah Maminya
"Sayang."panggil Alvano membuat Elina menoleh dan melihat suaminya tengah tersenyum padanya
"Udah mas?"tanya Elina diangguki oleh Alvano dan menjulurkan tangannya pada Elina, dengan senang hati Elina menerimanya dan mereka pergi kerumah sakit.
Diperjalanan, tah henti-hetinya Alvano mengusap perut Elina dan memejitnya pelan namun sesekali dia memajukan wajahnya untuk mengigit gemas perut istrinya yang kenyal namun tetap pelan takut jika istrinya kesakitan
"Tuan, Nona. Maaf menganggu, sepertinya telah terjadi kecelakaan didepan dan membuat jalanan menjadi macat total Tuan, Nona. Disini tak ada jalan pintas menuju rumah sakit Tuan, bagaimana?"ucap sang supir menjelaskan tentang kondisi jalanan yang macat parah
__ADS_1
"Duh, gimana ya?, Gak ada pangkalan ojek atau apa gitu didepan, saya cuma takut istri saya kepanasan di dalam mobil lama-lama dan menghirup mesin mobil juga gak bagus untuk ibu hamil"Alvano menatap sekelilingnya hanya ada mobil yang berturut-turut begitu panjang didepan dan belakang
"Sepertinya ada Tuan, hanya saja lumayan jauh dari sini Tuan kasihan nona juga, takutnya lelah harus menempuh jalan jauh"jawab sopir dengan wajah khawatir
"Hufh.. masih pagi aja harus kena macet gini. Sayang, sabar sebentar ya, gak papa kan?, aku sebenarnya takut kamu terlalu lama didalam mobil kaya gini, tapi gimana lagi karna gak ada jalan pintas sama sekali"ucap Alvano sambil mengusap pipi Elina yang menatapnya tersenyum
"Gak papa mas, asal mas disini aja temani aku, aku gak akan kenapa-napa"jawab Elina membuat Alvano tersenyum lalu mengecup dahinya lembut
hingga 2 jam menunggu, akhirnya mereka bisa kembali jalan dengan kondisi perlahan karna ada beberapa alat berat dikanan dan kiri mereka mengefakuasi sebuah truk bermuara pasir terguling dengan posisi terbalik menimpa sebuah warung ditepi jalan, dan katanya memakan 4 korban langsung 1 supir, 1 pemilik warung dan 2 lagi pembeli diwarung tersebut
"Ihhh.. ngeri bayangan mereka kepencet badan truk seger gitu"gumam Elina bergidik ngeri sambil merangkul lengan Alvano
"Jangan dibayangin dong, do'akan aja semoga mereka yang meninggal sukmayanya bisa tenang, damai dan segera berproses menuju jalan terangnya"ucap Alvano menenangkan istrinya yang masih menatap keluar jendela
"Jangan dilihatin Ihh.. nanti kamu kepikiran terus dan kamu gak bisa bobo nanti"Alvano membelokkan kepala Elina untuk menatap wajahnya menutupinya agar tak melihat proses efakuasi korban yang tubuhnya hancur
perjalanan mereka hanya diisi dengan suara musik dari mobil dan yang Membuat Elina memejamkan matanya karna lelah diperjalanan, tanpa terasa kini mereka telah sampai dirumah sakit keluarga Aditama menemui dokter Putri yang akan memeriksa kandungan Elina
"Sayang... bangunlah, kita sudah sampai dirumah sakit"bisik Alvano sembari mengusap pipi Elina yang kepalanya menyandar dibahunya, Elina hanya menggeliet dan mengencangkan pelukkannya pada lengan Alvano
"Tuan, saya pamit ke kedai depan ya, mau ngopi saja sekalian menunggu anda dan nona"ucap sopir dan bodyguard baru untuk Elina yang merupakan sepupu Ben
"Baiklah, ini untukmu"jawab Alvano dengan memberikan selembar uang merah pada Leo yang terkejut tapi tetap dia terima dan setelah mengucapkan terimakasih, dia segera turun dari mobil menuju kedai kopi depan rumah sakit
"Sayang... bangunlah, kita sudah sampai dirumah sakit, mau sampai kapan kau tidur hmm?"bisik Alvano terus membangunkan istrinya yang sedang dalam mode kebo jika dibangunkan sejak dia hamil
"Terpaksa aku gendong kamu Ay"gumam Alvano melepas pelukan Elina pelan lalu keluar dari mobil, sementara Elina kembali tertidur dengan bersandar
Alvano membuka pintu sebelah dan menggendong Elina keluar dari mobil dengan posisi tetap tidur dalam gendongan suaminya, mereka masuk kedalam rumah sakit dan menanyakan ruangan dokter putri pada resepsionis didepan yang menatap mereka terkejut dan berpikir jika nonanya sedang tidak baik-baik saja
"Apakah nona sedang tidak baik-baik saja? kenapa dia digendong dengan kondisi tak sadarkan diri seperti itu?" batin resepsionis menatap khawatir Elina dan itu dilihat oleh Alvano yang menyunggingkan senyum tipisnya
"Dia tidak apa-apa, dia hanya tidur dan tidak mau bangun sama sekali karna faktor kehamilan mungkin dan... bisa jadi karna lelah terkena macet tadi"ucap Alvano membuat sang resepsionis terkejut lalu mengangguk paham
Alvano membawa Elina keruangan dokter Putri yang ternyata sedang sibuk dengan laptopnya, beliau menoleh menatap Alvano dan Elina yang masih belum juga membuka matanya, dokter putri menatap khawatir pada Elina tapi Alvano segera menjelaskan membuat beliau tenang
"Baringkan saja dibankar Tuan, biarkan saja istri anda tetap tidur mungkin memang benar-benar lelah"ucap dokter Putri diangguki oleh Alvano
pemeriksaan berlanjut dengan dokter memoleskan gel diperut Elina yang tetap tenang dalam tidurnya, Alvano memperhatikan layar dengan seksama yang menampilkan gambar calon anaknya disana dengan senyum bahagia
"Bangun sayang, lihat anak kita"bisik Alvano dan kali ini berhasil membangunkan Elina, yang pertama kali dia lihat adalah Alvano yang menunjuk kesamping kanan Elina dengan dagunya.
"Anak kita mas"ucap Elina diangguki oleh Alvano yang langsung mengecup dahinya lama.
Dokter Putri menyampaikan jika anak mereka sangat sehat dan kuat, kemudian dokter memberi beberapa saran kesehatan untuknya juga baby, setelah selesai. mereka pergi dari sana lalu pergi kerumah Azam atas permintaan Nataza.
"Kak Leo, kota mampir ke toko buah ya, beli oleh-oleh buat Mami dan Papi"ucap Elina diangguki oleh Leo, ya Elina memanggil Leo kak karna usianya sama dengan Alvano hanya beda 1 tahun dengannya.
Elina memainkan perutnya sedari tadi seperti apa yang Alvano lakukan pada perutnya, Elina mengambil tangan Alvano yang asik dengan laptopnya entah melakukan apa yang jelas begitu fokus wajah tampannya itu, dia meletakkan tangan suaminya diperutnya dan meminta untuk mengusapnya, Alvano menuruti ucapan istrinya sementara tangan sebelah menutup laptopnya
__ADS_1
"Mau sesuatu hmm?"tanya Alvano sambil terus mengusap perut Elina yang terlihat memejamkan matanya nyaman menikmati sentuhannya
"Mau rujak kedondong"jawab Elina sambil membayangkan nikmatnya rujak kedondong, bahkan air liatnya hampir keluar
"Ya nanti aku ca.."belum selesai Alvano berucap, Elina langsung menyambarnya.
"Gak mau beli, kamu yang harus buat sendiri"potong Elina membuat Alvano terkejut.
"Sayang tap..."ingin rasanya Alvano mengeluh saat ini, bagaimana dia bisa membuat rujak, memegang alat masak saja selalu salah hingga sang Mami mengamuk karna dapur hancur karnanya, lalu ini diminta membuat rujak, astaga mati kau Al!.
"Pokoknya kamu yang buat sendiri, kalo enggak kamu tidur diluar malam ini"ancam Elina membuat Alvano membulatkan matanya sempurna.
"Iya nanti aku buatin, tapi jangan tidur diluar ya"bujuk Alvano.
"Pokoknya harus ada dulu rujaknya, baru kamu boleh tidur dikamar"jawab Elina membuat Alvano menghembuskan nafasnya pasrah.
Leo yang menatap pertengkaran kecil mereka dari kaca spion diatas hanya menahan tawanya dan melihawat wajah Alvano yang benar-benar pasrah ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak, tapi takut dipecat atau malah dihukum mati seperti yang dikatakan oleh teman-teman Ben.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai"ucap Leo diangguki oleh mereka yang segera turun dari mobilnya
Alvano menuntun istrinya masuk kedalam rumah dan melihat semua orang sedang duduk santai diruang keluarga bersama, mereka segera menuju kesana dan menyalami mereka bergantian
"Bagaimana pemeriksaan baby kali ini?"tanya Azam antusias mendengar kabar calon cucunya
"Alhamdulillah seperti biasa Pi, semuanya menyatakan jika anak kita sehat dan kuat. Dokter juga memberi saran pada kita untuk Elina lebih rajin olahraga khusus ibu hamil, karna selama dirumah Elina hanya rebahan, nyemil, nonton tv, dan berjemur pun sebentar lalu tidur lagi. Aakhh...sakit sayang"jelas Alvano dengan diakhiri teriakannya karna cubitan kecil diperutnya oleh Elina yang mendelik padanya.
"Ngapain pake diceritain sih, kan malu kalo aku males ngapain-ngapain"bisik Elina kesal.
"Ya emang benar kan?, kan aku cuma ngasih tau yang sejujurnya kalo kamu... Akhh.. iya.. iya..maaf.. sakit sayang.."teriak Alvano kembali karna Elina Elina menggigit lengannya
"Terlalu jujur tau gak"bisik Elina kesal
"Biarin. KDRT kamu"balas Alvano membuat Elina semakin kesal dan pindah duduk disamping Nataza
"Kalian ini, udah mau punya anak tapi masih aja kaya anak kecil sukanya berantem"ucap Ayah Tama yang geleng-geleng kepala
"Kak El, kita kekamar Elvi yuk. Elvi mau tunjukin gaun pernikahan Elvi sama kakak"ajak Elvina pada Elina yang mengangguk dan diikuti oleh Aiden dan Nasyla dibelakang mereka
"Kapan kamu akan matikan si Ayu itu?, Mami udah pusing dengar laporan dari anak buah Papi kalo Ayu terus buat ulah dengan teriak meminta lepas dari sana"ucap Nataza yang menghela nafasnya kasar
"Rencananya hari ini aku mau kesana dan aku kesini titip Elina pada kalian"jawab Alvano diangguki oleh mereka
"Apakah kau yakin bukan Daren yang membuat teror padamu dua hari lalu itu?"tanya Ayah Tama
"Bukan Opa, saat itu aku sedang bersama Daren diruanganku, dia sibuk dengan berkas-berkasnya bukan ponsel dan orang misterius itu entah siapa mengirim pesan ancaman untukku"jelas Alvano
"Tapi kan bisa jadi orang suruhan Daren Al, kita tidak tau jika diluar dia sengaja meminta orang untuk mengirim pesan ancaman padamu, lalu Daren berpura-pura sibuk didepanmu dengan berkasnya untuk mengecohmu agar kau percaya jika dia memang sudah berubah"ucap Azam yang terdengar masuk akal
"Akan aku usut Pi, dan sudah 2 minggu ini memang aku curiga padanya seperti sedang menyusun rencana untukku"jawab Alvano dengan memainkan ponselnya mengirim pesan pada seseorang
__ADS_1