Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 02


__ADS_3

Selesai makan siang, sekarang Elina bersama Yolanda berada didalam life dan berniat kembali keruangannya di lantai 7, namun baru saja keluar dari life, seorang klining servis yang memang sengaja diminta membawa segelas kopi keruangan bosnya menabrak Elina hingga kopi itu tumpah mengenai dada hingga perutnya


"Akhh.... panas... "pekik Elina membuat semua orang disana menatapnya bahkan ada yang berdiri dari duduknya untuk melihat


"Astaghfirullah Elina!"seru Yolanda dengan segera membawa Elina ke uks kantor


selama life turun, Elina masih terus menghilangkan rasa panas didada hingga perutnya karna kopi panas tadi dengan mengibaskan tangannya untuk memberikan rasa sedikit dingin, bahkan Yolanda membawa selembar kertas dan mengibaskannya pada tubuh Elina yang basah dan panas


"Lo tahan ya, sebentar lagi kita sampai di dilantai dasar. Ayolah! kenapa lama banget sih turunnya"ucap Yolanda saat merasa life berjalan begitu lambat


sampainya dilantai dasar, Yolanda segera menuntun Eline menuju uks kantor, tapi baru beberapa langkah dari life, langkah mereka terhenti saat tiba-tiba Alvano dan Asisten Dion datang menemui mereka dan Alvano meminta izin kepada Elina untuk membantunya membawa ke uks


"M-maaf, tapi kami bisa sendiri"tolak Elina merasa tak enak dan takut dengan tatapan para karyawati disana yang seakan ingin menerkamnya


"Aku tidak menerima penolakan Nona"balas Alvano, tanpa menunggu lama, dia langsung menggendong Elina bridal style dihadapan para karyawati yang menatapnya terkejut bahkan ternganga lebar, Yolanda pun melakukan hal yang sama melihat temannya diperlakukan seperti itu


"Astaga!, mimpi apa semalam Elina bisa digendong bak tuan putri oleh pangeran berkuda dan itu oleh bos besar yang tampan nan rupawan"gumam Yolanda mendapat sentilan didahinya oleh Asisten Dion


"Jika nona ingin tetap disini, Silahkan saja"ucap Asisten Dion dengan melangkah pergi meninggalkan Yolanda sendirian didepan pintu life, melihat situasi yang sudah sepi sunyi, Yolanda segera berlari menyusul Asisten Dion menuju uks kantor


"Ih.. pak Asisten nyebelin banget sih!, masa Yola yang cantik ini ditinggal didepan pintu life sendirian. Nanti kalo diculik kolong Wewe Gimana?"tanya Yolanda dengan wajah sok tersakiti


"Anda sendiri yang banyak melamun Nona, jadi jangan tanyakan saya jika anda diculik kolong cewek"balas Asisten Dion membuat Yolanda mendelik


"Kolong Wewe pak Asisten bukan kolong cewek!!"ucap Yolanda penuh penekanan pada kata-katanya


"Sama saja"balas Asisten Dion datar dengan melangkah santai


"Gak ada kolong Cewek pak Asisten, yang ada hanya kolong Wewe makhluk yang suka culik anak kecil, itu kolong Wewe"balas Yolanda melipat tangannya didepan dada


"Kau bukan anak kecil kan, jadi kau tak mungkin diculik"balas Asisten Dion membuat Yolanda seketika diam


"Iya juga ya, Ihh....tapikan.. "ucapan Yolanda terputus saat mulutnya dibekap oleh tangan Asisten Dion karna mereka telah sampai didepan uks kantor


"Kau ini berisik sekali sih, kita sudah didepan uks kantor. Jadi diam jangan berisik!"ucap Asisten Dion hanya diangguki oleh Yolanda


pandangan mata mereka menuju pada Elina dan Alvano yang kini berada di uks kantor bersama seorang dokter wanita yang kini memeriksa Elina, terlihat jelas wajah Alvano khawatir. Namun itu hanya disadari oleh Asisten Dion dan Yolanda melihat ekspresi Alvano


"Pak Asisten!, pak bos suka kali ya sama temen saya?, kayaknya dia khawatir banget sama Elina?"tanya Yolanda dengan berbisik hanya dibalas gelengan kepala oleh Asisten Dion


"Kamu bisa diem gak sih?,saya lagi mengamati sahabat saya, tapi kamu berisik terus bikin dia curiga nanti"bisik Asisten Dion dengan mata masih menatap ruang uks


tanpa mereka tau, jika dibelakang mereka ada Azam yang mengamati mereka sedari tadi. niat awalnya ingin bertemu dengan Alvano tapi dia mendapat kabar jika putra sulungnya membawa pekerjanya yang tersiram kopi panas ke uks. Baru sampai didepan uks, dia sudah melihat Asisten Dion sedang berjongkok bersama seorang gadis didepan pintu ruang uks membuat Azam mengernyit


"Ekhem... "dehem Azam tepat dibelakang keduanya

__ADS_1


"Ini apaan sih orang?, ganggu aja orang lagi ngintip"ucap Yolanda tanpa melihat kebelakangnya


"Ekhem..."dehem Azam kembali, tapi hasilnya masih sama. Kedua orang ini masih asik mengintip putranya diruang uks


"Apaan sih!!, berisik ba..."ucapan Asisten Dion terpotong saat membalikkan tubuhnya dan melihat Azam sudah berdiri dibelakangnya dengan memulangkan tangan didepan dada dan mata yang menyipit


"Eh.. om Azam. Apa kabar om"ucap Asisten Dion mencoba menutupi rasa malunya


"Kalian ngapain disini?"tanya Azam selidik


"Ah..iya.. itu... apa yah... anu om.."balas Asisten Dion bingung dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"Anu apa?, ngapain ngobrol anak saya?"tanya Azam membuat Asisten Dion membelalakan matanya


'Sial!, gak ketahuan anaknya tapi malah ketahuan bapaknya!. Mati gue... mati...' batin Asisten Dion


"Dion!!"panggil Azam


"I-iya om"balas Asisten Dion mencoba meminta tolong pada Yolanda, tapi Yolanda justru menghilang entah kemana


Ya, Yolanda kembali keruangannya saat Azam datang dan tanpa Asisten Dion tau tentunya. Sementara Alvano duduk dibankar uks menemani Elina yang sedang diperiksa oleh dokter


"Kondisi Nona baik-baik saja, untuk luka bakarnya, cukup oles dengan salep yang saya resehkan ini. Kalo begitu saya permisi Presdir, Nona"pamit dokter di uks tersebut, kini hanya Alvano dan Elina didalam ruang uks


"Emm... kau tidak papa?"tanya Alvano dengan membantu Elina duduk bersandar diranjang uks


"Kau harus membalas budi kebaikanku ini nona"ucap Alvano dengan tersenyum smirk


"Apa kau tidak ikhlas membantuku tuan?, Ck. Manusia macam apakah kau ini?,begitu perhitungan bahkan kepada seorang gadis yang sedang sakit"balas Elina memulangkan tangan didepan dadanya


"Ya anggap saja begitu, karna aku menggendongmu sampai disini, dan itu membutuhkan tenaga, kekuatan, dan ketahanan tubuh yang kuat nona, semuanya butuh modal dan aku harus mengeluarkan banyak uang untuk..."ucapan Alvano terputus saat bibirnya dibekap oleh tangan Elina


"Jadi apa maumu tuan. Jangan banyak bicara, langsung keintinya saja oke"ucap Elina membuat Alvano mengangguk sambil menurunkan tangan Elina


perlahan kepala Alvano mendekat kearah Elina, dan reflek Elina memundurkan kepalanya hingga membentur kepala ranjang uks. Elina menatap wajah tampan Alvano begitu dekat dengannya bahkan nafas Alvano berhembus panas dipipinya, tanpa sadar wajah Elina memerah hanya karna nafas Alvano dipipinya. Alvano yang melihat itu hanya tersenyum smirk, Alvano memajukan wajahnya hingga bibirnya sampai disamping telinga Elina


"Balas budi dengan yang spesial nona. Akan aku beritahu nanti. Jangan kemana-mana, tunggu aku di loby kantor nanti sore"bisik Alvano ditelinga Elina membuat Elina memejamkan matanya merasakan nafas dan suara berat Alvano ditelinganya, bahkan tubuhnya merinding saat merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya ketika Alvano berbisik ditelinganya


"Ihhh...gak usah deket-deket bisa kan tuan Presdir yang terhormat"ucap Elina dengan menekan kalimat Presdir yang terhormat


"Hanya sedikit pemanasan, itu hanya awal belum bisikan yang lainnya"balas Alvano lalu melangkah meninggalkan uks


"Hah!, apa maksudnya bisikan yang lain?"gumam Elina bingung sambil menatap punggung kokoh Alvano yang mulai menghilang dibalik tembok


"Apa jangan-jangan!"ucap Elina menatap sekeliling uks yang sunyi dan sepi membuat Elina merinding lalu dengan cepat dia turun dari ranjang dan berlari menuju ruangannya

__ADS_1


Sampai diruangannya, Elina duduk dikursinya dan dia menatap dirinya dipantulan cermin yang tergeletak dimejanya. Tiba-tiba bayangan wajah Alvano muncul disana Membuat Elina menggeleng, lalu dia menatap cermin kembali dan bayangan dirinya juga Alvano di uks tadi muncul disana bahkan terlihat Alvano seperti sedang mencium pipinya dari samping dengan segera dia menutup cermin tersebut


"Ihhh.... apaan sih?, kenapa bayangan gunung everest sih yang muncul di cermin. Astaga otak gue terkontaminasi sama dia"gumam Elina dengan menggaruk dahinya lalu tangannya mulai bermain diatas keyboard komputernya


baru saja akan menyimpan file, wajah Alvano kembali muncul dibayar komputer membuat Elina membulatkan matanya dan langsung menutupi layar komputer tersebut dengan kertas dan dia memejamkan matanya sebentar, lalu dia membuka sebelah matanya dan ternyata wajah Alvano tidak ada disana. Baru saja bernafas lega sambil memutar kursinya kesamping, dia dibuat terkejut dengan munculnya Yolanda didepan wajahnya hingga Elina hampir berteriak jika tidak dibekap mulutnya oleh Yolanda


"Sstt....jangan teriak"bisik Yolanda


"Maaf, lagian kamu bikin kaget tiba-tiba muncul didepan aku kaya setan aja tau gak"ucap Elina membuat Yolanda mengernyit


"Heh, lo pikun apa gimana suh?, gue udah dari tadi disamping lo, saat lo balik dari uks aja gue udah disini duduk dibangku ini. Lo kali yang gak lihat gue"balas Yolanda


"Aku gak lihat kamu dari tadi"ucap Elina dengan wajah polosnya, ingin rasanya Yolanda tenggelamkan anak ini, tapi sayang anak orang dan incaran pak bisanya kalo bukan udah. Byuurr....


"Lo kenapa sih dari tadi, gue perhatiin kaya orang aneh gitu setelah balik dari uks. Natap cermin lama terus geleng-geleng kepala, natap cermin lagi diem terus dibalik cerminnya. Kerjain komputer tiba-tiba ambil kertas buat titipin layar, terus ko bilang tadi bayangan gunung everest itu julukan lo buat siapa?"ucap Yolanda dengan bertanya


"Tiba-tiba kepala aku itu kaya pusing gitu, natap layar komputer juga kunang-kunang gitu mata aku. Trus gunung everest itu karna tadi gambar gunung everest muncul dicermin karna aku pengin kesana, Gitu"ucap Elina bohong, mana mungkin dia jujur jika bayangan Alvano yang muncul dicermin dan layar komputernya


"Ouh gitu, apa perlu gue bawa ke rumah sakit buat periksa lo?, lo sakit deh kayaknya"ucap Yolanda dengan menempelkan punggung tangannya didahi Elina


"Aku gak papa kok, aku sehat hanya aja sedikit pusing, mungkin karna capek aja. Udah sana balik ke meja kamu dan selesaiin kerjaanmu biar cepet pulang"ucap Elina dibalas acungan jempol oleh Yolanda


setelah Yolanda kembali ke mejanya sendiri, Elina menghembuskan nafasnya pelan lalu kembali mengotak-atik komputernya, namun sebuah pesan singkat membuat jari lentikmu berhenti bermain dikeyboard komputernya


Ting..


...Gunung Everest 🏔...


Bersiaplah Nona!, nanti malam aku akan mengirimkan orang untuk mengantarkan hadiah untukmu dan pakailah semuanya


Jangan lupa!, berdandanlah yang cantik nona, pukul 20.00 aku akan menjemputmu. Terimakasih atas waktunya nona


Maaf jika aku merepotkanmu, aku hanya butuh bantuanmu saja untuk menemanimu kesuatu tempat yang mungkin saja akan membuatmu juga senang dan nyaman


Selamat siang dan selamat bekerja ☺.


Alvano


sebuah pesan dari Alvano yang beberapa menit masuk didalam bayangannya dan kini Elina dibuat berdebar, entah kenapa dia merasakan jantungnya mulai berdetak dengan cepat saat ada Alvano didekatnya atau sebuah pesan darinya


...Gunung Everest 🏔...


^^^Baiklah tuan Al, Inshaallah saya akan menemani anda malam nanti. Tunggu saya Tuan Al^^^


^^^Selamat bekerja kembali Tuan Al ☺^^^

__ADS_1


^^^Elina^^^


setelah pesan terkirim, Elina kembali fokus pada kerjaannya. Ditempat lain senyum tampan mengembang diwajahnya setelah mendapat pesan dari gadis yang mengganggunya sepanjang hari ini


__ADS_2