Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 41


__ADS_3

Tak terimanya Alvano membuat hati Azam benar-benar sakit dan hancur melihat putranya harus mengalami sebuah pernikahan yang selalu penuh dengan lika-liku rintangan, pernah putranya pertanya padanya yang membuat dia bungkam tak tau harus menjawab apa


"Kapan ya Pi, Al bisa merasakan sebuah kebahagiaan dalam rumah tangga yang sesungguhnya, Al pengin deh kaya orang-orang diluar sana yang selalu tertawa bahagia bersama pasangan dan keluarga mereka dengan penuh cinta kasih. Sekali... aja Al pengin rasakan itu sama Elina dan merasakan momen dimana kita semakin bahagia dengan hadirnya malaikat kecil diperut Elina, Al pengin rasakan itu. Tapi Allah selalu memberikan Al dan Elina duka, tertawapun hanya sekali,dua kali. Kapan Al bisa bahagia ya Pi?" pertanyaan Alvano kala itu membuat Azam bungkam tak bisa berkata apapun.


"Setelah semua masalah ini lewat dan selesai dengan jalan terbaiknya, kau pasti bahagia boy, kau pasti akan bahagia bersama istri dan anak-anakmu. Papi yakin itu"gumam Azam menatap putranya yang tengah tertidur karna obat tidur yang suster berikan,tangannya terus bergerak menyugar rambut depan Alvano kebelakang.


Tadi Alvano sempat berontak karna tak terima jika Elina hilang ingatan melupakan semuanya termasuk dirinya, Alvano tak terima jika Elina menjauh lalu pergi darinya hingga dia terus berontak dan berteriak agar Elina membuka matanya lalu memanggilnya seperti biasanya, namun nihil, justru dirinya yang harus memejamkan mata karna obat tidur yang suster berikan atas perintah Azam.


tanpa Azam sadari jika Elina mulai mengerjapkan matanya menatap langit-langit ruang rawatnya, Elina mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya, namun kepalanya begitu sakit saat mulai mengingat kejadian semalam.


"Aakhh...iisshh.."ringis Elina membuat Azam menoleh menatapnya lalu menghampirinya.


Elina yang melihat Azam menghampirinya dia menggenggam erat selimutnya mengabaikan rasa sakitnya. Azam menekan tombl diatas ranjang Elina untuk memanggil dokter dan memeriksa keadaannya.


Elina hanya diam saja saat dokter memeriksanya dan setekah selesai dia menatap Azam, sebuah bayangan hitam putih muncul dikepalanya membuatnya meringis sakit yang teramat.


"El, kau tak apa sayang? kau kenal dengan Papi?"tanya Azam pelan menatap menantunya yang terlihat menggeleng sambil memegang kepalanya.


Hati Azam seketika sakit saat mendapat gelengan dari Elina, dia kembali menatap Alvano yang masih belum membuka matanya, anaknya pasti akan sangat hancur saat tau Elina sudah bangun namun tak dapat mengenali dirinya sebagai suaminya, belahan jiwanya, separuh nyawanya.


"Ini Papi nak, Ini Papi Azam, mertua kamu"ucap Azam mengenalkan dirinya dengan lembut sambil mengusap kepalanya, namun belum menyentuh Elina sudah menghindar dan mundur menjauhinya.


"Ja-jangan sentuh saya!. anda siapa? saya tidak mengenal anda, anda siapa?.. jangan mendekat!!"seru Elina membuat Azam menahan air matanya yang akan jatuh, semua yang ada diluar terkejut mendengar teriakan Elina.


"Pi, Kak El kenapa? kenapa teriak-teriak kak?"tanya Rania pada Azam dan Elina yang menatapnya takut.


"Benar diagnosa saya, jika Elina mengalami hilang ingatan karna benturan dikepalanya yang cukup keras, dan sepertinya ini bukan permanen jadi Elina bisa cepat mengingat, hanya saja saya tidak tau kapan dia akan mengingat semuanya karna sepertinya alam bawah sadarnya menolak untuk dia mengingat semuanya kembali"jelas dokter membuat semua yang disana terpukul mendengarnya apalagi Rania yang langsung jatuh dalam pelukan Riza dan dibawa keluar dari ruangan untuk ditenangkan.


setelah dokter memberikan obat penenang untuk menantunya yang sedari tadi berteriak sakit dikepalanya dan ketakutan saat dirinya bersama beberapa suster memegangnya, kini Azam ingin bertanya tentang istrinya


"Istri saya bagaimana dok?"tanya Azam menatap Nataza yang pagi ini belum membuka matanya.


"Kita lihat nanti ya tuan, jika sampai pagi nanti nyonya belum juga sadar, dengan berat hati, saya menyatakan jika nyonya koma"jawab dokter membuat Azam mengangguk lemah.


dokter pergi dari sana dan Azam menghampiri Nataza lalu mengecup dahinya lembut, dalam hati dia terus berdo'a agar istrinya akan segera membuka matanya, dia begitu rindu senyuman,tawa,tingkah dan semua tentang istrinya


"Bangun honey.. apa kau tak merindukan suamimu hmm? kau tak rindu dengan keromantisan kita hmm? aku rindu padamu honey, aku ingin memelukmu seperti biasanya. Bangunlah honey...,jangan tinggalkan aku sayang, kembalilah bersamaku, aku berjanji akan menjaga dirimu dengan baik"bisik Azam ditelinga Nataza dengan lembut membuat kedua mata Nataza bergerak ke kanan dan kiri juga jari tangannya ikut bergerak


Azam yang melihat pergerakan mata dan jari istrinya bergerak segera memanggil dokter dan langsung diperiksa jika kondisi Nataza sudah membaik, hanya perlu banyak istirahat karna luka tusuk diperutnya masih sangat basah.

__ADS_1


"Mas"panggil Nataza pada Azam yang menatapnya dengan tersenyum, tanpa diduga Azam justru langsung memeluknya erat.


"Kau jahat, kau telah membuatku menangis Za.. aku takut... aku takut kau pergi meninggalkan aku. Aku takut kau tak selamanya membuka mata indahnya ini, kau membuatku takut"tangis Azam dalam pelukan istrinya yang mengusap punggungnya membalas pelukannya.


"Maafkan aku.. maaf karna sudah membuatmu menangis mas. Maaf karna sudah membuat suamiku ini ketakutan karna aku. Sungguh berdosanya aku karna telah menumpahkan air mata suamiku ini. Maafkan aku mas"jawab Nataza disela pelukan mereka yang terasa semakin erat.


Azam melepaskan pelukan mereka lalu mengecup wajah Nataza dari dahi hingga berakhir di dagunya dengan lembut. Ayah Tama dan yang lain diluar hanya tersenyum haru melihat mereka berdua yang tengah melepas rindu setelah beberapa jam saja.


"Elina bagaimana?"tanya Nataza yang mengingat menantunya yang waktu itu disiksa dan berakhir dipukul kepalanya hingga pingsan


"Dia ada disebelahmu honey"jawab Azam menoleh kesamping kirinya melihat menantunya juga putranya yang terlihat terlelap dalam tidur mereka.


"Dia tidak apa-apa kan? calon anaknya baik-baik sajakan?"tanya Nataza khawatir kini dia sudah dslam posisi setengah duduk.


"Untuk kondisi kandungannya cukup lemah honey, tapi sampai sekarang masih dipantau oleh dokter kandungan, sementara Elina... dia hilang ingatan honey"jawab Azam dengan memejamkan matanya saat melihat air mata istrinya jatuh begitu saja, dia tau istrinya terpukul mendengarnya, langsung saja dia menarik istrinya kepelukkannya dan mengecup pucuk kepalanya sayang.


"Maaf.. maafkan aku... aku gagal menjaganya, aku gagal melindunginya. Maafkan aku"tangis Nataza dalam pelukan Azam yang menggeleng.


"No. Kau tidak bersalah sama sekali honey, kau sudah berbuat sebisamu melawan mereka, tapi kau kalah telak karna mereka banyak dengan cara pecundang. Tenanglah, ini bukan salahmu"jawab Azam menenangkan istrinya yang masih terisak


saat mereka masih berpelukan, suara Alvano membuat mereka melepas pelukan dan melihat Alvano yang bergumam memanggil nama Elina, disampingnya ada Elvina dan Dimas yang mencoba menyadarkan Alvano.


"Kak.. kak Al. Bangunlah kak.. kak Al..."panggil Elvina menepuk pelan pipi Alvano yang masih terus pertunangan.


Azam segera menghampirinya dan mengusap kepala Alvano sambil memanggilnya agar segera membuka matanya, dan 1 menit kemudian Alvano langsung membuka matanya melihat Papinya, Elvina dan Dimas yang tengah menatapnya khawatir.


"Elina mana Pi?"tanya Alvano pada Papinya yang saling tatap dengan Elvina dan Dimas.


Elvina menunjuk kesamping kanan Alvano dan melihat istrinya yang tengah tertidur dengan nyenyak, dia melihat Maminya yang sudah sadar dan menatapnya dengan sendu. Alvano yang awalnya ingin turun justru dicegah oleh Azam.


"Lukamu masih basah boy, jangan banyak bergerak dulu ya, kau perlu istirahat"cegah Azam menahan bahu Alvano yang hampir jatuh.


"Aku gak apa-apa Pi. Aku mau ketemu El"jawab Alvano memaksa turun dari bankar dan dibantu naik kekursi roda oleh Azam juga Dimas.


Alvano kini sudah sampai disamping Elina lalu memegang tangan istrinya yang mulai menghangat, ada rasa tenang saat merasakan hawa hagat dari tangan istrinya, namun ada rasa takut saat mengingat ucapan Papinya jika istrinya melupakannya dan melupakan semua kenangan tentang mereka.


"Bangun sayang.. ini aku.. aku disini sama kamu, temenin kamu, jaga kamu, lindungi kamu. Bangun ya, terus panggil 'Mas' kaya biasanya, aku kangen panggilan itu keluar dari bibir manis kamu"bisik Alvano dengan air mata yang jatuh, ketakutannya semakin jadi saat melihat jari Elina bergerak.


Semua yang melihat itu, ikut berdebar apalagi saat mata Elina menelisik orang-orang yang mengerumuninya. Bayangan hitam putih kembali terlintas dikepalanya membuatnya meringis sakit sambil memegang kepalanya dan melepas genggaman Alvano yang terlihat sedih saat Elina melepas genggaman hangatnya.

__ADS_1


"Aakhh.. kalian siapa?, Akhh.. pergi!!, pergi dari sini!!..sakitt!!!"teriak Elina menahan sakit dikepalanya yang tes rasa hampir pecah


Alvano yang merasa dirinya diusir oleh istrinya mengepalkan tangannya kuat menahan tangisnya yang hampir keluar, dia kembali memegang tangan Elina namun ditepis oleh sang pemilik tangan membuat hati Alvano benar-benar hancur sekarang.


"Ini aku suami kamu sayang.. ini aku Alvano, suami kamu.. Sayang, please! ingat aku ya, aku suami kamu. Ini.. ini cincin pernikahan kita, ini foto-foto saat kita sebelum menika, ini foto pernikahan kita dan ini foto setelah kita menikah, ada baby kita disini"jelas Alvano dengan menunjukkan cincin, foto diponselnya dan hasil usg anak mereka, saat tangannya akan menyentuh perut Elina, langsung ditepis oleh sang empu.


"Jangan sentuh saya... pergi... akhh.. sakitt!!... pergi kalian.., saya tidak mau melihat kalian!!.. pergi!!"bentaknya kembali sambil memegangi kepalanya yang bertambah sakit, membuat Alvano tak dapat menahan tangisnya, istrinya sendiri melupakannya, mengusirnya, dan membentaknya.


"Al kita keluar ya, kita akan temui Elina nanti, biarkan dokter menenangkannya dulu ya. Kita keluar oke"bujuk Azam namun Alvano tetap menggeleng.


"Gak Pi.. El pasti lagi kerjain Al kan? kalian sengaja kan bohongin Al. Elina gak mungkin lupain Al, dia gak mungkin melupakan semua tentang Al. Gak.. semuanya bohong...Papi bohong sama Al.. Enggak Pi.. Elina gak boleh lupain Al.. please Papi!!. Kembalikan Elinanya Al,kembalikan dia ke Al. Al mohon jangan ambil Elina dari Al"tangis pilu Alvano dalam pelukan Papinya yang kini mereka sudah diluar ruangan.


semua yang melihat Alvano termasuk sahabat-sahabatnya, menangis sejadi-jadinya. Ikut sakit rasanya melihat Alvano harus menangis seperti itu, Alvano yang terkenal cuek, dingin, kaku, keras kepala, kejam pada musuh-musuhnya kini harus menangis karna istrinya, kini harus menangis ketika dilupakan dalam sekejep mata oleh istrinya.


"Al mohon Pi...hiks.. kembalikan Elinanya Al, kembalikan istri Al.. kembalikan cintanya Al Pi.. Al mohon.."tangis Alvano semakin jadi mengingat Elina yang mengusirnya untuk pertama kali, membentuknya, bahkan menepis tangannya ketika ingin menyentuh perutnya yang berisi calon anaknya.


"Boy.. jangan seperti ini nak, Papi takut kau akan drop kembali"ucap Azam disela tangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang putra.


"Al harua apa Pi.. Al gak bisa kehilangan Elina, Al gak mau istri Al pergi ninggalin Al, Al gak mau istri Al benci sama Al, Al gak mau istri Al menjauh dari Al.Al harus apa supaya Elina kembali ingat Al?. Al harus apa Pi?..apa?. Hancur hati Al Pi.. hati Al hancur melihat istri Al sendiri menolak Al, membentak Al, bahkan mengusir darinya. Hati Al sakit Pi ketika Al sendiri calon Ayah dari anak yang dia kandung, justru dia melarang Al untuk menyentuhnya. Al mohon kembalikan Elinanya Al"tangis Alvano semakin menjadi kala mengingat kata Elina tadi padanya.


"Tuan Al"panggil dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa Elina.


"Gimana istri saya dok?"tanya Alvano dengan mata sembab dan terlihat menyedihkan.


"Istri anda sudah kami berikan obat penenang dan pereda rasa sakit dikepalanya. Saya minta tolong pada kalian semuanya disini, untuk tidak memaksakan nona Elina untuk mengingat masalalnya dulu termasuk mengingat siapa anda tuan Al. Saya khawatir jika nona Elina dipaksa mengingat semuanya, itu akan membahayaka dieinya juga bayi dalam kandungannya,jika sang ibu mengalami tekanan pada mentalnya itu akan berakibat fatal pada bayi anda, bahkan bisa mengalami keguguran"jelas dokter kembali membuat dunia Alvano seakan semakin hancur berkeping-keping, hingga tak tersisa sedikitpun untuknya bahagia.


setelah dokter pamit, Alvano mengepalkan tangannya kuat mengingat pelaku yang membuat istrinya seperti ini dan berakhir melupakan dirinya.


"Kau akan mati ditanganku Jonathan. Lihat saja pembalasanku karna kau telah membuat istriku melupakan semuanya termasuk aku, Suaminya" batin Alvano tanpa dka sadari semua yang disana menatapnya ngeri, otot tangan dan lehernya keluar, wajahnya yang memerah menahan amarah yang besar dalam dirinya saat ini.


*******


Disebuah markas gelap dengan desain kuno bercat hitam abu-abu,pencahayaan yang minim hanya dari jendela kecil dan beberapa ventilasi diruangan tersebut. Seorang pria menahan amarahnya saat tau jika anak buahnya telah menyakiti dua orang wanita sekaligus yang hanya dia gunakan sebagai pancingan.


"Kurang ajar kau Wiliam!!. Kau sudah menghilangkan kepercayaanku padamu dan kau sudah melukai dua orang wanita sekaligus. Kau pengecut, kau bajingan dan kau juga pecundang William. Aaaaarrggghhh..."teriak Jonathan kepada William, pelaku penusukan dan pemukulan pada Elina dan Nataza.


"Aku memintamu untuk mengikat mereka saja, bukan untuk menyakiti mereka William. Aku juga memintamu membebaskan mereka setelah misiku berhasil membawa Ayu, bukan menyakiti mereka hingga kritis dan hilang ingatan. Aku malu William. Wanita yang kau pukul dia sedang mengandung seorang bayi dan wanita yang kau tusuk, dia adalah seorang ibu, kau tak seharusnya menyakiti mereka William. Kau tak memiliki hati, kau tega menyakiti seorang ibu dan calon ibu. Aku melepaskanmu saat ini juga William"ucap Jonathan sambil memukul dan menendang William.


"Bawa dia keruang hukuman sekarang!!"perintah Jonathan tegas pada semua anak buahnya yang langsung dilaksanakan

__ADS_1


"Maafkan aku Alvano, maafkan aku Elina, maafkan aku nona Nataza. Maaf karna aku sudah menyakiti istri dan Ibumu. Maaf, aku menyesal Alvano, maaf" batin Jonathan menatap sang surya yang malu-malu dibalik awan gelap.


__ADS_2