Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 42


__ADS_3

Jonathan kini berdiri didepan anak buahnya yang telah menyakiti Nataza dan Elina, anak buah yang bahkan tak bisa diandalkan sedikitpun menurut Jonathan, selalu saja gagal dalam melakukan tugas apapun sama seperti sang Ayah yang gagal untuk menjaga adiknya.


Flashback On


seorang gadis kecil berusia 4 tahun dengan postur tubuh lumayan tinggi, rambutnya yang kemerah-merahan, hidung yang benar-benar mancung sama seperti sang Bunda, bibir tipis, dan wajah dan tubuhnya benar-benar putih bak susu.


terlahir dengan keistimewaan tersendiri Joana adik dari Jonathan memiliki tubuh yang berbeda dengan anak seusianya, anak-anak lain identik dengan rambut pirang atau hitam gelap, namun tidak dengan Joana adik pertama Jonathan, anak-anak lain lahir dengan tangisan namun Joana dia lahir dengan terbatuk, entahlah lucu memang, namun itulah nyatanya.


ketika usianya menginjak 5 tahun, Ayah Jonathan mengutus seorang pengawal untuk menjaga Joana kesekolah, sementara Jonathan dia berangkat sendiri ke sekolah SMP-nya.


Jonathan memiliki 4 orang adik, adik pertama perempuan, adik kedua, ketiga laki-laki, dan yang terakhir perempuan kembali. Jonathan adalah sosok yang begitu penyayang pada orang tua dan orang lain, termasuk keempat adik kecilnya.


Jonathan sangat menyayangi adik-adiknya, dia bahkan rela menukar nyawanya dengan adiknya itu demi sangnadik tetap bisa hidup didunia ini. Namun tuhan berkehendak lain saat suatu peristiwa terjadi pada adik dan pengawalnya saat pulang sekolah.


Joana diculik dan diperk*sa oleh penculik tersebut hingga anak itu ditemukan sudah tak bernyawa didalam sebuah gudang belakang sekolahnya, sementara pengawalnya disandera dan hanya dibuat tidur saat kejadian itu terjadi.


setelah kejadian adiknya meninggal karna kejadian itu, dia membenci pengawal adiknya, yang tak lain adalah Ayah Ayu kekasih Jonathan. Namun Jonathan tak tau jika Ayah Ayu lah pengawal adiknya dulu dan dia juga tak tau jika pengawal yang merupakan Ayah Ayulah yang memperk*sa Joana sampai meninggal, hingga dia bisa menaruh cinta pada Ayu.


beberapa bulan berhubungan dengan Ayu, dia ingin Melamar Ayu namun Ayu menolak dan mengkhianatinya dengan pergi menemui Diego diindonesia membuat Jonathan marah dan amarahnya semakin memuncak saat tau jika Ayah Ayu adalah pengawal juga pemerk*sa adiknya dan Ayu lah pembunuh orang tua dan adik-adiknya dalam kecelakaan maut itu.


Dendam dan amarah telah menguasai hati Jonathan dan Ia telah berhasil menghabisi Ayah Ayu dengan tangannya sendiri, dihatinya hanya giliran Ayu dan adiknya yang belum dia bunuh yang bernama Willi, dan dia mendapatkan info tentang Willi dengan nama lengkap William Marvin yang kini tengah dia hukum karma menyakiti Elina dan Nataza.


Flashback Off


Jonathan memegang rahang William dan menatapnya tajam, sekelebat wajah Ayu dapat dia lihat diwajah William. Wajah yang rusak karna disiksa oleh Ayah Tama dengan brutal kala itu.


jujur dia bersyukur karna ada orang yang sudah menyakiti Ayu, namun dia belum puas karna Ayu belum mati ditangannya termasuk William adiknya.


"Aku tau kau bergabung denganku hanya untuk membebaskan kakakmu, dan aku tau kau menyakiti kedua wanita itu hanya untuk membuatku marah lalu terpancing agar aku lemah dan kau bisa dengan mudah mengalahkan aku, benar kan?"tanya Jonathan membuat William terdiam kaku, bagaimana Jonathan tau semua yang dia rencanakan?,pikirnya.


"Apakah didalam otakmu ini muncul pertanyaan 'Bagaimana Jonathan bisa tau?' betulkan jika otak kecilmu ini berfikir seperti itu?"tanya Jonathan lalu dia tertawa melihat wajah William yang terkejut.


"Hahahaha....William.. William. Kau ini sungguh bodoh ternyata, kau lupa siapa aku? atau memang kau tak mengenal aku?"tanya Jonathan kembali sambil mengusap pipi William lembut membuat sang empu merinding takut.


"Aku sengaja menerima disini hanya untuk ini, aku sengaja mengirimmu keberbagai tempat untuk menghabisi mereka dan aku bangga padamu juga memberikanmu maaf sedikit saja atas apa yang kau lakukan padaku, termasuk meneruh obat perangsang diminumannya saat Gladis dirumah dan kau datang menjadi pahlawan. Aku maafkan itu William, tapi tidak saat kau menyakiti seorang ibu dan wanita hamil, apakah aku pernah memintamu menyakiti seorang ibu,wanita hamil dan anak kecil? tidak kan?. Tapi kau lakukan itu pada istri Alvano dan ibunya, kau yang membunuh Bundamu sendiri karna salah paham padanya, dan kau berubah menjadi sosok iblis yang kejam"jelas Jonathan menatap wajah William yang sudah babak belur dihajar anak buahnya tadi.


"Aku tau aku seorang pembunuh bayaran, namun aku tak pernah membunuh seorang wanita, entah itu seorang ibu, wanita hamil, gadis, anak kecil dan balita. Aku tak akan melakukan itu meski harus dibayar miliar dolar sekalipun aku tak akan mau. Menyakiti seorang perempuan aku saja tak bisa apalagi membunuhnya, tapi kau sosok iblis yang begitu mengerikan, kau mampu menyakiti seorang wanita hamil hingga hilang ingatan, dia kehilangan ingatannya akan semua kenangan dan semua kisah hidupnya. Kau tega membuatnya hampir keguguran, jika sampai dia benar keguguran aku yang akan merasa bersalah telah memintamu datang kesana untuk menyandera mereka"lanjutnya kembali duduk termenung menyesali apa yang dia lakukan.


"Seorang pria tak pantas menyakiti perempuan William, perempuan bukanlah mainan, bahan percobaan, pelampiasan dan tempat untuk disakiti. Perempuan adalah makhluk yang patut kau jaga, kau lindungi, kau bahagiakan, kau manjakan, kau hargai, kau banggakan, kau kasihi, kau sayangi, dan kau cintai. Tapi kau sebagai pria seperti layaknya bajingan yang hanya bisa menyakiti perempuan, kau layaknya binatang yang lapar akan makanan, kau berikan dia omong kosongmu lalu kau sakiti dan kau tinggalkan begitu saja. Dimana hati nurani dan akal sehatmu sebagai seorang pria?, tak pantas disebut pria, kau hanya bajingan sampah dan seorang pengecut. Jijik aku padamu William, sungguh"lanjutnya kembali setelahnya dia bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Jonathan melangkah menghampiri anak buahnya yang berjaga tak jauh darinya, dia memerintahkan untuk membawakan Ayu kehadapannya dan tetap mengikatnya dikursi samping William.


setelah anak buahnya pergi Jonathan kembali duduk dikursinya dibangku yang berhadapan langsung dengan William yang tengah menunduk tak berani menatap Jonathan, dia tau dia salah saat dia memukul kepala Elina juga perutnya yang terlihat membuncit, namun entah dorongan dari mana dia juga menusuk Nataza hingga pingsan.


Ayu datang didorong oleh anak buah Jonathan kesamping William yang diam saja tak menatap kakaknya, sungguh dia malu melihat kakaknya, dia menyesal karna berusaha membebaskan kakaknya, dia bodoh harus berurusan dengan Jonathan demi kakaknya.


"Lepaskan adikku Nathan"ucap Ayu lirih karna bibirnya sudah rusak ulah Ayah Tama kala itu.


"Tidak akan, William harus merasakan apa yang Elina dan Ibu Nataza rasakan saat ini"jawab Jonathan membuat Ayu membulatkan matanya tak percaya.


"Kau suka dengan Elina? kau lebih memilih dia Nathan dibanding melepaskan adikku?"tanya Ayu tak percaya dengan menampilkan senyum mengejek.


"Heh!.. buat apa aku membebaskan adikmu, dia sama saja seperti dirimu yang suka menyakiti orang lain tak berdosa dan kalian juga akan mati bersama disini besok. Dan lagi, aku tidak pernah suka dengan Elina ataupun aku memilih dia, tapi memang pantas dia untuk dipilih karna hatinya sungguh putih, tidak seperti hati kalian yang penuh dengan gelapan sama seperti langit malam tanpa bintang dan bulan"jawab Jonathan dengan tersenyum mengejek pada Ayu yang menatap tak percaya pada yang Jonathan katakan.


"Dia wanita buruk, dia *****. Dia tak pantas dikagumi siapapun, dia juga tak pantas untuk dicintai siapapun. Dia hanya pantas untuk mati.. mati Nathan!!"seru Ayu membuat Jonathan menamparnya dengan keras.


"Kau yang ***** Ayu. Kau!!, yang pantas matipun itu kau bukan Elina. Kau yang pantas mati pembunuh"jawab Jonathan tegas sambil menjambak rambut Ayu kencang.


"Mengacalah Jonathan, kau yang pantas disebut pembunuh, bukan aku!!. Aku tak pernah membunuh siapapun kau ingat itu!"elak Ayu menampilkan senyum culasnya namun Jonathan hanya berdecih.


"Kau justru pembunuh terkejam Ayu, kau adalah pembunuh bukan aku. Kau yang membunuh keluargaku, Ayahmu memperk*sa adikku hingga meninggal, kau membunuh Diego kekasihmu, kau juga banyak membunuh orang Ayu, bukan aku. Aku hanya mendapat gelar pembunuh bayaran itu karna dirimu, kau yang membunuh mereka namun aku yang kau jadikan umpan hingga aku berakhir dipenjara karna dirimu.Namun aku senang karna gelar ini aku terkenal dengan kekejianku, maka aku akan gunakan gelar ini untuk membunuhmu dengan keji seperti yang orang-orang katakan"ucap Jonathan membuat Ayu membeku ditempatnya, takut. Iya tentu dia takut pada Nathannya yang sekarang.


"Hahaha... nyawa harus dibayar dengan nyawa Ayu. kematian keluargaku karna dirimu maka aku yang akan membayar dengan membunuhmu, bukan adikmu"jawab Jonathan lalu pergi keruangannya yang berada diujung markasnya.


Ayu dan William kembali dibawa kedalam selnya dan besok adalah hari untuk mereka dihukum.


*****


Elvina menatap kakaknya yang sedari tadi dia kasihan, jujur dia ingin membantu, tapi setelah mengingat perkataan dokter jika Elina tidak bisa dipaksa untuk mengingat, jika dipaksa justru akan menyakitinya dan anak dikandungannya. Kini keduanya tengah berada ditaman rumah sakit menunggu kabar dari Papi mereka tentang Elina yang tadi sempat sakit kepala dengan tiba-tiba saat tertidur.


"Hufh..."


helaan nafas keluar dari bibir Alvano, dia masih memegang foto pernikahannya dan Elina juga terdapat foto USG bayinya dibawah foto pernikahan mereka. Ingin sekali Alvano menunjukkan foto yang dia pegang pada Elina agar segera mengingatnya dan calon anaknya.


"Al"panggil Adam yang muncul dibelakangnya bersama istri dan anak-anaknya.


"Paman"jawab Alvano lalu memeluk pamannya menumpahkan semua apa yang dia rasakan saat ini.


"Elina sudah sada Al, dia mencarimu"ucap Adam setelah melepas pelukan mereka.

__ADS_1


"Paman berbohong kan? Elina tidak ingat aku sama sekali, bahkan dia mengusir dan tak mau menatapku, bagaimana mungkin dia mencariku?. Aku tidak ingin kesana paman, hatiku sakit saat melihatnya yang kembali sakit dikepalanya karna mengingatkan. Aku tak ingin karna mengingatkan, justru akan membuat Elina kesakitan, tidak paman"jawab Alvano memalingkan wajahnya menatap air mancur didepannya, namun tangannya tak henti mengusap foto mereka dan itu dilihat oleh Adam.


"Lihat mata Paman Al. Apakah ada kebohongan disana? apakah wajah paman terlihat seperti sedang berbohong hmm?"tanya Adam menangkup kedua pipi Alvano untuk menatapnya yang hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Jika kau belum percaya dengan apa yang paman ucapkan, kau bisa minta Elvina tanyakan pada Papimu"ucap Adam menatap Elvina membuat Alvano ikut menatapnya.


Elvina mengambil ponselnya dan menghubungi Papinya, dia mengeraskan panggilannya hingga Alvano mendengarnya, setelah tersambung Elvina menanyakan apa yang Adam katakan tadi dan jawaban Azam membuat senyum bahagia muncul dibibir Alvano dan meminta Adam membawanya keruangannya menemui Elina.


Sampainya diruangannya, dia melihat Azam duduk dibankar Nataza yang tengah menatapnya sambil tersenyum. Adam mendorong kursi roda Alvano menghampiri bankar Elina dan menatap istrinya yang menatapnya diam.


"H-hai"sapa Elina lembut namun merasakan canggung, sungguh dia bingung dengan situasi ini, setelah dijelaskan secara detail oleh Azam, Elina mencoba untuk belajar mengingat masalalunya dan suaminya, Alvano.


Alvano hanya mengukir senyum tipisnya saat Elina menyapa dirinya, sungguh hatinya begitu sakit saat Elina menyapanya dengan suara lembut. Elina selalu menyapa dirinya dengan sebutan 'Mas atau Ay' namun saat Elina menyapanya dengan kata 'Hai' ada yang berbeda dihatinya, sakit dihatinya mengingat dirinya dilupakan oleh istrinya sendiri.


"B-bagimana h-hari ini?"tanya Elina menunduk tanpa berani menatap Alvano yang tengah menatap jari tangannya yang terdapat cincin pernikahan mereka.


"Alhamdulillah. Aku baik-baik saja, kau sendiri?"jawab Alvano sembari bertanya balik menatap Elina yang langsung menatapnya.


"Ba-baik kok baik"jawab Elina cepat lalu kembali menunduk dengan matanya sesekali melirik Alvano


entah kenapa hatinya bergetar saat melihat wajah tampan Alvano, wajah yang begitu Ia dambakan dari seorang laki-laki. Ingin sekali dia memegang bulu mata pria didepannya itu yang begitu hitam tebal tanpa sulam, namun dia malu untuk mengatakannya karna pria didepannya begitu tampan menurutnya.


"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?"tanya Alvano memancing Elina, jujur dia ada rasa senang dihatinya kala Elina mau berbicara padanya, namun hati kecilnya sakit saat mengingat Elina melupakan dirinya, suaminya sendiri.


"Emm.. I-tu..aku.. Emm.."bibir Elina seakan kaku untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Alvano.


"Apa? aku harus beristirahat Ay, dokter mengatakan jika aku tak boleh terlalu lama untuk duduk"ucapan Alvano membuat Elina terdiam, dia ingin mengatakan namun dia ragu, hatinya ingin mengatakan itu namun bibirnya kelu.


"M-maaf. A-aku cuma ingin...ingin memegang tanganmu apa boleh?"tanya Elina cepat membuat Alvano mengerjapkan matanya lucu, apa tadi istrinya bilang ingin memegang tangannya? dia tidak bermimpi? kemarin saja Elina menepis tangannya saat akan menggenggam tangan dan memegang perutnya.


"A-Al"panggil Elina lirih menyadarkan Alvano lalu mengangguk menjawab permintaan Elina.


tangan kanannya terulur dan meletakkannya diatas pangkuan Elina yang duduk bersandar dibankar, Elina yang mendapat perlakuan itu terkejut namun sebisa mungkin dia tidak boleh menunjukkan ekspresi takut ataupun terkejut didepan Alvano yang dia tau adalah suaminya.


"B-boleh?"tanya Elina menunjuk tangan Alvano dipangkuannya, Alvano hanya mengangguk sebagai jawaban.


Elina menjulurkan tangannya dengan pelan untuk memegang tangan Alvano, lalu matanya tertuju pada sebuah cincin yang melingkar cantik dijari manisnya membuat Elina perasaran ingin menyentuhnya, perlahan namun pasti tangannya memegang tangan Alvano dan mengusapnya, ada rasa aneh dihatinya tiba-tiba muncul.


Nyaman, hangat, dan rasa lain muncul dihatinya yaitu perasaan Rindu?, apakah dia rindu dengan setiap sentuhan tangan ini?. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam putih seorang pria mengucapkan kalimat ijab kobul dengan lantang melintas dan seorang wanita mncium tangan pria itu hingga sebuah kecupan didahinya saat menatap Alvano.

__ADS_1


dia melepas tangan Alvano dengan sedikit kasar lalu memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit membuat Alvano panik dan meminta Papinya yang selesai mengangkat telfon memanggil dokter untuk memeriksa Elina.


__ADS_2