
"Apa?!"tanya Alvano penasaran dengan ikut berbisik karna dia masih ingin memeluk istrinya
"Nanti aja deh, biar yang lain dulu yang kasih kado buat kamu. Aku terakhir aja biar spesial"jawab Elina didengar oleh Nataza yang tersenyum karna semua keluarlah sudah tau tentang kejutan Elina apa, kecuali Alvano seorang
Flashback On
*Kemarin, tepat pagi hari, Elina melakukan pengecekan dikamar mandi bawah tanpa sepengetahuan Alvano. Ya dia merasa jika dia sudah telat datang bulan selama 2 minggu ini, rasanya dia tak ingin kecewa dengan hasil negatif, tapi dia harus melakukan ini agar dia tau apakah benar atau tidak firasatnya
"Bismillah ya allah"gumam Elina setelah memasukkan alat tes kehamilan kedalam wadah berisi urinenya dan dia menunggu selama 10 menit, lama sekali pikirnya
10 menit sudah dan sekarang Elina membuka matanya setelah tadi terpejam saat mengambilnya, Elina membuka matanya perlahan dan dia terkejut juga meneteskan air mata bahagia dan harunya saat melihat garis dua terpampang jelas didepan matanya
"Aku hamil... aku hamil... alhamdulillah ya allah"ucap Elina bersyukur sambil mengusap perut ratanya pelan
"Aku harus hubungi Mami dan Papi sebelum mas Al bangun, dan ini akan menjadi kejutan ulangtahunnya besok"lanjutnya lalu melangkah pergi ke kamarnya dengan membawa alat tes kehamilannya
dikamar mandi kamarnya, Elina menelfon mertuanya dan Oma mertua memberitahukan kabar bahagia ini, dan tak lupa untuk merahasiakan ini dari Alvano karna dia ingin menjadikan ini kejutan ulang tahunnya yang ke 28 tahun besok, dan mereka semua setuju untuk sepakat merahasiakannya dari Alvano, termasuk adik-adiknya dan semua sahabat Alvano
"Hai sayang, jangan rewel dulu ya nak sampai ulang tahun Ayah besok, nanti kalo udah selesai Bunda janji akan berikan semua kemauan kamu"ucap Elina berbicara pada calon anaknya sambil mengusapnya pelan'
"Setelah ini kita kerumah sakit ya buat periksa kamu. Sehat-sehat ya anak Bunda" ucap Elina dan kembali ke kamarnya'
Flashback Off
"Al, Papi sama Mami gak bisa kasih apapun buat kamu, karna kamu jelas udah punya segalanya jadi kami hanya bisa kasih ini buat kamu"ucap Azam dengan menyodorkan 2 tiket pesawat ke bali
"Ini..serius Pi?"tanya Alvano diangguki oleh Azam
"Yap, dan kamu bisa pake villa Papi yang ada disana"jawab Azam dan mendapat hadiah pelukan oleh Alvano
"Makasih banyak Pi. I love you"ucap Alvano disela pelukan mereka
"Sama-sama. I love you more boy"jawab Azam dengan menepuk pelan punggung Alvano
"Kak Al!"panggil Elvina membuat Alvano melepas pelukannya
"Happy Birthday ya, sebagai hadiah dari aku dan Dimas juga keluarga Dimas. Ini untuk kakak"ucap Elina menyodorkan kotak kado kecil pada Alvano
"Kakak buka ya?"tanya Alvano diangguki oleh Elvina
Alvano melihat kunci mobil yang tentunya mewah dan mahal, dia menatap Elvina, Dinas dan keluarga Dimas yang tersenyum padanya
"Maaf kami tidak bisa memberikan hal lain pada nak Al. Kami hanya bisa membelikan itu sebagai kado untuk nak Al yang sudah kami anggap anak kami sendiri. Selamat ulang tahun nak Alvano"jelas Papa Dimas, pak Bayu
"Ini sungguh berlebihan menurut saya, tapi saya terima hadiah dari kalian dan terimakasih banyak atas hadiahnya"jawab Alvano lalu memeluk Papa Bayu, Mama Jihan dan Dimas, tak lupa kembarannya juga
"Patungan hmm"ledek Alvano sambil menoel hidung mancung Elvina membuat yang lain tertawa
"Biarin, kan bisa irit duit buat nikah"jawab Elvina membuat Alvano geleng kepala
setelah mendapat hadiah spesial dari semua orang dan yang paling mewah adalah dari pamannya yaitu paman Adam sebuah jet pribadi keluaran terbaru dengan desain sederhana dan ada nama Alvalina dibagian badan kanan, kiri dan bagian sayap kanan,kiri
Kini Alvano menyodorkan tangannya meminta hadiah dari Elina yang sedari tadi membuatnya sangat penasaran, kado apa yang akan Elina berikan untuknya
"Mana hadiahku?"tanya Alvano pada Elina yang tersenyum
"Sebentar"jawab Elina lalu meletakkan kue ulang tahun tadi ke meja makan dan mengambil kotak kecil panjang warna putih dengan pita pink diatasnya
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Alvano bingung melihat kotak kecil tersebut
"Buka aja"ucap Elina diangguki oleh Alvano
Alvano membuka kotak tersebut dan setelah melihat isinya dia terdiam dengan menatap Elina yang tersenyum manis padanya
"Oh good..."ucap Alvano lalu memeluk Elina dan mencium seluruh wajah Elina. Bahagia itu yang dia rasakan saat ini
"Tanks Ay"lanjutnya dan mengecup bibir Elina lembut lalu memeluknya kembali erat, sementara Elina dia menangis bahagia dalam pelukan Alvano, dia merasakan kebahagiaan yang Alvano rasakan saat ini, rasa haru membuatnya memeluk Alvano semakin erat
Alvano melepas pelukan mereka dan menghapus air mata Elina, semua yang ada disana ikut menangis haru melihat kebahagiaan Alvano telah lengkap sekarang dengan segera hadirnya malaikat yang sangat dinantikan oleh sumuanya termasuk Alvano
"Mau lihat dia gak?"tanya Elina dengan suara seraknya sehabis menangis, Alvano hanya menganggukan kepalanya cepat sebagai jawaban
"Tunggu dulu"ucap Elina mengambil amplop putih didalam tasnya dan menyerahkannya pada Alvano dan langsung dibuka oleh Alvano
"Masyaallah. Ini anak kita?, berapa usianya sayang?"tanya Alvano kagum melihat hasil usg anaknya terlihat masih sangat kecil lalu menatap Elina yang sedang menatapnya
"He'em dia anak kita, 2 minggu. Dia udah 2 minggu disini"jawab Elina sambil mengusap perutnya lembut dan kembali mendapat pelukan oleh Alvano
"Makasih Ay. Ini adalah hadiah paling spesial, paling mewah, paling berharga, dan paling indah dihidup aku. Makasih istriku sayang"ucap Alvano sambil menyembunyikan wajahnya dileher Elina karna air matanya kembali jatuh
"Kamu bahagia dia hadir?"tanya Elina sengaja memancing Alvano
"Sangat honey. Sangat bahagia"jawab Alvano lalu mencium pipi Elina dari samping dengan tangan mengusap perut Elina lembut
Alvano melepaskan pelukan mereka dan berlutut berhadapan dengan perut rata Elina dan menciumnya lama, dia menempelkan telinganya diperut Elina lalu mengecupnya kembali
"Siap Ayah. I love you too"jawab Elina menirukan suara anak kecil membuat yang disana tertawa termasuk Alvano yang kembali asik menciumi perut Elina
"Baiklah, kita makan dulu yuk. Kasihan cucu Mami kelaparan nanti"ucap Nataza dengan menuntun Elina ke meja makan yang lain hanya terkekeh
****
Kini Elina dan Alvano tengah perjalanan pulang kerumah mereka, Alvano terus mengecupi punggung tangan Elina dengan sebelah tangannya dengan sesekali melirik sambil. tersenyum, sementara tangan sebelahnya dia gunakan untuk menyetir mobilnya
"Mas, fokus aja ih bawa mobilnya. Bahaya tau gak"ucap Elina dengan melepas tangannya dari genggaman Alvano, namun kembali lagi digenggam oleh Alvano
"Tenang aja sayang, gak perlu khawatir oke. Kamu tau keahlian aku dalam mengendarai mobil, jadi kamu tetap aman sama aku"jawab Alvano mendapat gelengan kepala oleh Elina
"Mas!"panggil Elina membuat Alvano menoleh
"Beli itu boleh gak?"tanya Elina pada Alvano yang menepikan mobilnya ditepi jalan dan melihat apa yang Elina tunjuk
"Mau ayam geprek?"tanya Alvano balik setelah melihat penjual yang ditunjuk Elina, sementara Elina hanya mengangguk sebagai jawaban
"Aku kira beneran bikin ayam gepreknya dirumah Mami tadi"ucap Alvano membuat Elina geleng kepala sambil menunduk
"Kan sengaja cari alesan biar jadi kejutannya untuk kamu"jawab Elina pelan membuat Alvano tersenyum lembut
"So, mau ayam geprek?"tanya Alvano diangguki dengan semangat oleh Elina
"Mau.. mau"jawabnya dan langsung keluar dari mobil begitu saja membuat Alvano menggelengkan kepalanya
__ADS_1
Alvano ikut turun menyusul istrinya menuju ruko penjual ayam geprek dan duduk disamping istrinya yang sedang menunggu pesanannya datang, Alvano menggeser duduknya mendekati Elina dan meminta istrinya itu bersandar pada dinding ruko
tangan Alvano terulur menyentuh perut istrinya yang sedikit buncit dan memainkannya dengan dipijit pelan sambil tertawa geli melihatnya, sementara Elina hanya pasrah saat Alvano memainkan perutnya
"Dua bulan udah sedikit kelihatan aja kamu, bikin gemes dan Ayah jamin kamu akan selalu jadi mainan Ayah nak"ucap Alvano didepan perut Elina lalu mengecupnya sayang,sementara Elina terkekeh mendengar ucapan Alvano barusan
"Permisi, atas nama mba Elina"ucap seorang pria berpakaian seragam ruko dibalas anggukan oleh Elina
"Iya, makasih mas"ujar Elina menerima makanannya
"Sama-sama mba. Permisi, mari mas"pamit pria tersebut dan diangguki oleh keduanya
entah kenapa rasanya air liur Elina ingin jatuh saat melihat ayam geprek dan wanginya yang menggiurkan, Elina segera mencuci tangannya dan berdo'a sebelum makan lalu memakan ayam geprek tersebut dengan memejamkan matanya menikmati rasanya penuh penghayatan
"Enak banget"ucap Elina dengan melebarkan matanya dan kembali memakan makanannya, sementara Alvano hanya menatapnya dengan geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis
"Pelan-pelan aja Ay makannya, gak akan ada yang minta juga"ucap Alvano memperingati dan benar saja Elina langsung tersedak, dengan cepat Al memberinya minum
"Kan aku udah bilang barusan buat pelan-pelan makannya"omel Alvano tak memperhatikan mata istrinya yang menatap kearah lain
"Mas, pulang yuk. Ini dibungkus aja deh ya"ucap Elina membuat Alvano mengernyit bingung
"Kenapa?, gak biasanya kamu minta bungkus makanan yang baru kamu makan gini?, ada masalah?"tanya Alvano lalu mengikuti arah pandang Elina
"Diego?!!"gumam Alvano membuat Elina semakin meremas tangan Alvano kuat
"Ayo sayang. Permisi mas, boleh minta tolong bungkusin makanan dimeja no 3,kalo bisa cepetan ya mas, istri saya sedang tidak enak badan soalnya"ucap Alvano beralasan dengan menoleh pada Elina yang ada dipelukannya dengan memakai hoodienya
"Bisa mas, sebentar ya"jawab pramusaji dan mengambil makanan milik Elina dan Alvano
"Bukannya Diego udah mati?, kenapa dia ada disini?, apa jangan-jangan dia kembaran Diego yang berniat balas dendam atas kematian kembarannya?. No Al, lo gak boleh berburuk sangka dulu, mungkin kebetulan mirip kan?" batin Alvano melirik pria yang mirip Diego tadi yang kini duduk dimeja mereka tadi
"Ini mas"ucap pramusaji dengan segera Alvano membayarnya dan pergi dari sana
sampainya didalam mobil, Elina sama sekali tak melepas pelukkannya dari Alvano dan terus bergumam takut membuat Alvano khawatir akan kesehatan Elina juga baby didalam perutnya
"Sayang.. tenanglah oke, kondisinya sudah aman,jadi jangan takut lagi ya. Sssuutt...tenanglah Ay"ucap Alvano menenangkan istrinya sambil mengusa punggung Elina dibalik dress dan hoodie miliknya
"Aku takut"jawab Elina lirih dengan menyembunyikan wajahnya dileher Alvano
"Tenanglah sayang....jangan buat dirimu stress, itu akan memengaruhi calon anak kita honey, jangan takut lagi oke, ada aku disini sayang"bisik Alvano sambil mengecup pucuk kepala Elina
Alvano tau, jika Elina benar-benar takut dengan Diego karna inseden sebelum mereka menikah dan kejadian dahulu saat masih kuliah seakan menjadi memori tak akan pernah hilang dari kepalanya, kejadian itu seakan kembali berputar kembali diotaknya saat melihat Diego atau mendengar namanya saja ditambah dengan nama Ayu yang selalu menghantuinya
Jika ditanyakan Elina takut atau tidak pada Oma Ayu, jujur dia takut tapi Elina mengendalikan rasa takutnya itu, mau bagaimanapun mereka beda orang dan beda wujud hanya nama mereka yang sama, Oma Ayu baik,peduli dan sayang padanya, berbeda dengan sahabatnya yang gila pada Diego. Elina mencoba menghapus rasa takutnya pada Oma Ayu karna beliau berbeda, beliau bukan Ayu sahabatnya, sebisa mungkin Elina hapus rasa takutnya pada Oma Ayu meski sulit memang
"Kita pulang sekarang"ucap Alvano lalu menjalankan mobilnya dengan tangan sebelah memeluk Elina yang tak bisa lepas darinya
Alvano menghentikan mobilnya ditepi jalan membenarkan posisi Elina yang tidur bersandar dipundaknya dengan melingkarkan tangan sokongannya, setelah benar kembali Alvano menjalankan mobilnya kembali kerumah
****
Sampai dirumah, Alvano disambut oleh Ben putra Alex tangan kanan Azam. Alvano menggendong Elina masuk kedalam rumah, sebelumnya dia meminta Ben untuk memarkirkan mobilnya digarasi kembali, setelah diangguki oleh Ben Alvano masuk kerumahnya
"Sweet dream honey"bisik Alvano saat mereka sudah sampai dikamar mereka. Alvano melepas hoodienya yang dipakai oleh Elina dengan perlahan dan berhasil lepas tanpa membangunkan Elina
setelahnya, Alvano pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya selama 10 menit,selesai mandi dia keluar dari kamar mandi dengan kaos biasa dan celana selutut dengan tangan menggosok rambutnya yang sedikit basah
__ADS_1
Alvano melempar handuk kecilnya keatas keranjang pakian kotor lalu naik ke ranjang memeluk Elina dari belakang, tangannya naik turun dan memutar diperut Elina sesekali dia memainkannya pelan dan mengintip Elina takut membuat istrinya itu bangun
"Selamat tidur anak Ayah, selamat tidur Bunda"bisik Alvano lalu mengecup pipi Elina dan ikut masuk kealam mimpi