Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 47


__ADS_3

Malam ini adalah malam dimana Elina pulang kerumah, dengan dijemput oleh keluarga Alvano dan beberapa bodyguard berjaga disekitar mereka, apalagi setelah adanya kabar jika ada seorang yang ditemukan tak bernyawa di dalam mandi umum untuk perempuan dengan luka sayatan dilehernya.


Alvano hanya takut jika pembunuh bayaran itu anak buah Jonathan atau Jonathan sendiri. Bukan takut untuk melawan, tapi dia takut jika mereka menyakiti istri dan keluarganya kembali seperti kala itu hingga membuat istrinya hilang ingatan melupakan semuanya.


"Mas"panggil Elina menatap kesamping menatap Alvano yang tengah fokus ke kanan dan ke kiri mengamati sesuatu.


"Hmm.. ya, kenapa sayang?"tanya Alvano melirik Elina sebentar lalu kembali mengamati sekitarnya.


"Mas yang kenapa? kok kaya mengamati sesuatu gitu sih?Ada apa?"tanya Elina balik menatap suaminya yang masih sibuk mengamati sekitarnya.


"Aku cuma lagi waspada aja Ay, aku cuma takut kalo ada orang jahat yang lagi mengintai kita"jawab Alvano tanpa menatap istrinya.


"Mas.. gak usah khawatir gitu dong. aku yakin kita aman kok sampai rumah. Kan udah banyak bodyguard disini"ucap Elina membuat Alvano menghdla nafasnya pelan lalu menatap istrinya.


"Meski banyak bodyguard dan pengawalan ketat seperti apapun, kita tetap harus waspada dan hati-hati, diluar sana kita gak tau bahaya apa yang tengah mengancam kita juga mengawasi. Banyak diluar sana yang kelihatannya baik ternyata jahat"jawab Alvano dibalas anggukan oleh Elina.


sampainya diparkiran, Alvano membantu Elina untuk masuk kedalam mobilnya dan mendudukannya pelan dijok belakang, sementara Alvano duduk disampingnya dan kemudi dipegang oleh Dimas.


kini perjalanan telah dimulai, Elina terus mengukirkan senyumnya jika dia telah mengingat suaminya, lelaki yang begitu dia cintai,lelaki yang selalu sabar akan sikap dan sifatnya yang kadang membuat orang lain marah. Sungguh dia jika tuhan mengizinkan, maka dia lebih memilih mengenal lelaki disampingnya ini lebih awal dan memulai hidup bersama dari awal pula.


"Kenapa senyum-senyum gitu?"tanya Alvano sambil mengusap punggung tangan Elina digenggamannya.


"Enggak apa-apa, cuma bersyukur aja sama Allah karna dia mengirimkan aku sosok laki-laki seperti kamu. Aku beruntung punya kamu dan memiliki cinta kamu selamanya"jawab Elina membuat Alvano blussing dengan mengigit bibir dalamnya.


"Ekhem... mohon maaf Kakak-kakak yang terhormat. Tolong hormati saya yang jomblo disini, jangan buat saya berhenti lalu berlari menemui tunangan saya dan menyatakan cinta padanya"celetuk Dimas yang tertekan dengan kebucinan mereka calon Kakak-kakak iparnya.


"Iri bos? atau udah kebelit nikah?"tanya Alvano menggoda Dimas yang mendelikkan matanya lalu sebuah senyum muncul dibibirnya membuat Alvano bergidik.


"Ya nikah dong. Masa iya mau jomblo karatan, orang punya tunangan yang cantiknya kaya bidadari kok dianggurin"jawab Dimas dengan wajah songongnya.


"Heh!..tunangan kamu yang kamu bangga-banggakan yang cantiknya kaya bidadari itu kembaran saya.Jadi secara tak langsung kamu juga memuji saja seperti pangeran"ucap Alvano membuat Dimas terdiam, benar juga Elvina kan kembaran Alvano dan wajah mereka begitu persis. Jadi saat dia memujinya sama saja dia memuji Alvano.


"Terserah padamu kak"jawab Dimas kalah membuat Alvano tertawa.


"Ouh iya, Setelah ini kau boleh langsung pulang untuk istirahat, besok adalah hari pernikahan kalian dan kakak harap mulai besok kau bisa menjaga Elvina dengan baik dan selalu buat dia tersenyum bahagia. Jangan sampai kakak tau kau membuatnya menderita karna mantanmu itu. Jika itu terjadi, maka kata talak akan terdengar esok harinya. Camkan itu"ancam Alvano yang terlihat tidak main-main dengan ucapannya.


Dimas takut untuk membayangkan jika hal itu terjadi, dia takut jika ucapan Alvano akan menjadi nyata. Apakah dia harus menemui Syakira untuk mengancamnya agar tidak menganganggu kehidupan barunya mulai besok dan seterusnya atau malah dia harus tetap diam dan kehilangan Elvina. Tidak.. dia tidak bisa tanpa Elvina, dia harus menjaga Elvina dan selamanya akan bersama gadis itu.


"Tak perlu kau temui mantan gilamu itu, dia hanya akan memanfaatkan kedatanganmu kesana dan membuat masalah baru diantara kau dan Elvina. Lebih baik kau diam dirumah dan tidur, masalah mantan gilamu itu aku yang akan mengurusnya"lanjut Alvano yang seakan tau isi pikiran Dimas yang terkejut.


"Kau yakin kak? dia orang yang sangat nekat untuk melakukan sesuatu? Apa kak Al akan ikut campur kembali seperti dulu?"tanya Dimas khawatir

__ADS_1


dia hanya takut jika kejadian 2 tahun silam terulang kembali dimana Syakira tak tau jika Alvanolah yang membuatnya berhenti jadi model dan membuatnya diusir dari rumahnya karna sebuah video Por** miliknya tersebar luas, hampir semua orang tau hingga meneror Elvina karna mengira Elvina lah pelakunya.


"Itu tidak akan terjadi lagi, karna aku akan bermain cantik kali ini"jawab Alvano diangguki oleh Dimas.


dan tak terasa kini mereka telah sampai dihalam rumah besar Alvano, disana sudah banyak penjaga yang berdiri dipanjang jalan mereka masuk kedalam rumah dari saat turun dari mobil. Mereka semua adalah anak buah Adam dan Azam yang menjadi satu menjaga rumah itu sementara waktu.


"Selamat datang kembali Nona Elina"sambut Alex, Ben dan Maxim pada Elina yang kikuk lalu menatap Alvano yang mengangguk.


"T-terimakasih"ucap Elina dibalas anggukan oleh ketiganya yang paham jika nonanya belum mengingat semuanya termasuk mereka.


"Sama-sama Nona"jawab mereka lalu membukakan jalan untuk tuan dan nona mereka.


Sampainya didalam, Elina disambut dengan hangat oleh anggota keluarga Alvano termasuk Nataza, Bunda Ayu, Alika, Kirana, Elvina, Rania, dan Nasyla. Kini Elina telah menjadi bahan mainan wanita-wanita disana, bagaimana tidak, karna BBnya terus naik membuatnya menjadi lebih berisi dan tentunya membuat pipinya semakin cubby.


cubitan, tusukan ringan bahkan diunyel-unyel seperti membuat adonan ondol-ondol dipipinya membuat Elina menahan sabar untuk tak menangis karna pengaruh hormon kehamilannya. Kadang Alvano membantu Elina agar tak kena sasaran kecemasan para wanita itu, namun justru dia yang kena amuk oleh Mami, Oma dan tante-tantenya membuatnya kembali merasa tak tega dengan istrinya.


"Ck. Sudahlah, kasihan Elina. Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan kalian langsung membuatnya seperti mainan menyenangkan seperti ini. Apa kalian tidak lihat bagaimana menantuku hampir menangis hmm?"tanya Azam yang akhirnya turun tangan menghentikan aksi para wanita itu yang langsung menatap Elina yang menunduk.


"Al, bawa istrimu ke kamar sekarang, kasihan dia"perintah Azam diangguki oleh Alvano yang langsung berdiri membawa istrinya ke kamar mereka.


kini tinggallah wanita-wanita yang sedang mendapatkan tatapan mematikan dari suami mereka. Merasa bersalah, Nataza mengucapkan kata maaf terlebih dahulu dari yang lain, sementara yang lain masih menunduk dan ikut meminta maaf pada suami mereka.


"Kalian ini. Minta maaf pada Elina bukan pada kami, kalian tak bersalah pada kami tapi pada Elina, kalian yang membuatnya hampir menangis dan kalian justru meminta maaf pada kami. Pergi dan meminta maaf padanya sekarang"tegas Ayah Tama pada istri menantu,putri juga cucunya.


momen ini tidak bisa tidak diabadikan oleh Aiden, ya dia sedari tadi memegang kamera untuk mengabadikan momen dimana para wanita kena omel oleh tetua meraka dan hanya diam saja tak berkutik karna takut. Saat Aiden tengah merekam lirikan mata Nasyla menatap kearah kakaknya dan langsung saja Ia melaporkannya pada sang Mami.


tatapan horor Nataza berikan pada putra bungsunya yang langsung menyimpan hpnya didalam saku kemejanya setelah selesai merekam karna ketahuan oleh sang Mami, Aiden hanya menyengir dan menangkup kedua tangannya memohon maaf pada sang Mami.


"Hehe... maaf Mami"ucap Aiden menatap Maminya yang masih menatapnya.


Azam yang mengikuti arah pandang istrinya hanya menggelengkan kepalanya, merasa pusing dengan tingkah keluarganya dan lagi putra dan putri bungsunya yang telah membuat Alvano marah hingga menyita semua yang mereka miliki, kecuali ponsel karna mereka butuh untuk sekolah mereka dan menghubungi taksi atau ojek online jika mereka pulang terlambat.


"Kak Ai"seru Nasyla lalu mengejar Aiden yang langsung berlari menghindari amukan adiknya.


"Hapus gak kak videonya. Hapus kak Ai"teriak Nasyla masih mengejar Aiden yang tertawa menghindari adiknya.


"Gak mau Hahaha... tangkap aja kalo bisa Wleee..."jawab Aiden dengan menjulurkan lidahnya tanpa menatap kearah depan yang pas sekali Alvano baru saja turun dari kamarnya dan berakhir bertabrakan dengan keras.


"Astaga!"seru semua orang saat melihat tragedi tabarakan maut tersebut, apalagi Alvano yang memegangi dahinya sebelah kanan membuat mereka segera menghampirinya karna khawatir.


"Akhh... sakit banget bokong gue"gumam Aiden dengan berdiri sambil mengusap bokongnya yang sakit karna menghantam ujung sofa sebelum dia jatuh dengan posisi duduk.

__ADS_1


"Kalian gak apa-apa?"tanya Nataza khawatir menatap kearah kedua putranya.


"Pantat Ai sakit banget Mami"ringis Aiden mengusap bagian tulang ekornya.


"Boy, kau tak apa-apa nak?"tanya Azam pada Alvano yang masih meringis memegangi dahinya yang berdenyut dan mereka yakin jika kepala Alvano bengkak.


"Gak apa-apa Pi, cuma pusing aja"jawab Alvano lalu merubah posisi menjadi duduk dibantu oleh Azam dan Adam.


"Kak Al. Maafin Ai, Ai gak sengaja nabrak kakak, tadi Ai lagi dikejar sama Lala dan Ai gak lihat kakak karna terhalang kain gorden itu"ucap Aiden meminta maaf pada kakaknya, ya memang selain karna tak melihat depan dia juga tersandung gorden yang tertiup oleh angin malam yang cukup kencang.


"Jangan diulang. Bahaya tau lari-lari didalam rumah, bukan hanya untuk kamu tapi orang lain juga. Untung ini kakak, kalo Kak Elina yang kamu tabrak gimana?. Jangan pernah diulang lagi paham!"jawab Alvano tegas pada kedua adiknya yang hanya menunduk seraya mengangguk pelan.


"Ya sudah, sekarang Papi obati lukamu dulu. Dan kamu Ai, kamu ke kamar akan Papi panggilkan dokter untuk memeriksa tulang ekor kamu"ucap Azam diangguki oleh keduanya seraya menuntun Alvano ketiga sementara Aiden dibantu oleh Adam dan Ayah Tama untuk ke kamar.


****


Ditempat lain, Jonathan masih terus berpikir apakah Alvano menyimpan dendam padanya? jika iya, berarti dia harus ikhlas jika dia akan mati ditangan Alvano, Ia juga salah karna melupakan jika William adalah adik Ayu yang berniat membalaskan dendam atas penyiksaan Ayu.


"Mama.. bagaimana sekarang? apa aku harus menyerakan diri pada Alvano dan mengatakan semuanya yang telah terjadi padanya?. Ah.. tidak. Aku yakin Alvano sudah tau siapa yang menyakiti istri dan Maminya dan dia juga tahu alasannya. Tapi rasa bersalah ini masih ada Ma, bagaimana aku menghilangkan rasa bersalah ini?. Aku takut jika mereka tak mau memaafkan aku dan mereka akan semakin membenciku karna beredarnya pembunuhan disekitar mereka oleh pembunuh bayaran, apalagi Daren yang salah paham padaku. Jujur Mama, bukan aku yang telah membunuh orang tua dan adik perempuannya, tapi itu bukan aku Mama, aku tidak melakukannya. Itu semua Ayu yang melakukannya dan kini Ayu telah mendapat balasannya diatas sana bersama adiknya. Hatiku tenang karna Ayu mati, tapi aku tak tenang karna rasa bersalah ini pada keluarga Alvano termasuk Alvano dan istrinya.Tolong aku Mama"ucap Jonathan sembari menatap sang bulan purnama yang begitu indah menerangi malam gelap ini.


Air matanya jatuh saat melihat bayangan wajah sang Mama yang tersenyum padanya lalu suara seperti tertawa angin tiba-tiba terdengar oleh Jonathan.


"Temui mereka putraku, mereka akan memaafkanmu, mereka orang baik dan mereka tau mana yang benar dan mana. yang salah. Mama akan selalu mendoakanmu dari atas sini dan Mama yakin mereka tidak akan menyakiti dirimu dan Alvano juga istrinya akan menjadikanmu keluarganya, sama dengan Daren dia akan mengerti dan memaafkanmu juga. Percayalah" suara lirih seperti angin terdengar begitu merdu ditelinga Jonathan yang memejamkan matanya, dia tau itu adalah suara Mamanya.


"Aku rindu padamu Ma. Apakah boleh aku memeluk dirimu, untuk sebentar saja?"tanya Jonathan pada bayangan Mamanya yang masih tersenyum padanya.


perlahan bayangan itu hadir dihadapannya membentuk wujud sang Mama yang paling Jonathan rindukan, tangisnya pecah saat melihat wujud cantik dan teduh milik sang Mama ada didepan matanya dengan tersenyum cantiknya memakai pakaian yang terakhir kalinya Mamanya pakai, yaitu pakaian yang Jonathan berikan sebagai kado ulang tahun Mamanya.


"Mama"panggil Jonathan lalu memeluk Mamanya erat meski terasa dingin ditubuhnya seperti angin, namun dia yakin Mamanya juga memeluknya.


"Putraku Nathan"bisik sang Mama ditelinga Jonathan dirinya membalas pelukan sang putra meski tembus.


"Nathan rindu Mama"ucap Jonathan disela tangisnya.


"Mama juga rindu anak tampan Mama"jawab sang Mama lirih lalu melepas pelukan putranya.


"Mama harus pergi sayang. Waktu Mama sudah habis"ucap Mama yang perlahan hilang dari hadapan Jonathan.


"Ma, tolong jangan tinggalkan Nathan Ma. Nathan butuh Mama bersama Nathan. Nathan ingin selalu sama Mama. Ma.. Mama..."teriak Jonathan yang melihat bayangan sang Mama telah hilang didepannya.


"Hiks.. Mama.. Kenapa Mama pergi Ma? kenapa tak bersama Nathan disini? Nathan masih butuh Mama, Nathan ingin Mama"tangis Jonathan sambil menatap bulan dilangit, dia melorotkan dirinya pada dinding yang dingin lalu memeluk lututnya.

__ADS_1


"Nathan ingin Mama.. Hiks.. Nathan butuh Mama"tangisnya yang perlahan membuatnya tertidur dengan posisi duduk memeluk lututnya dibalkon kamarnya.


dan datanglah beberapa anak buahnya yang mendengar teriakan Jonathan tadi dan mendapati bosnya tertidur dibalkon dan segera memindahkannya keranjangnya lalu menyelimutinya sebelum mereka pergi dari kamar bos mereka.


__ADS_2