
Elina tengah bersiap memakai gaun yang Alvano beli tadi siang di butik Elvina, Alvano sengaja membeli gaun untuk Elina karna dia akan mengajak Elina dinner romantis luar hanya berdua saja. Elina tengah mencepol rambutnya rendah dengan memberikan sedikit jepit bermotiv kupu-kupu kesukaannya dan membiarkan poninya terurai kedepan menambah kesan manis pada wajah cubbynya
"Udah siap sayang?"tanya Alvano yang baru saja kembali dari ruang kerjanya
"Udah kok, ehh.. sebentar"balas Elina dan kembali menghampiri meja riasnya, dia mengambil jam tangan milik Alvano
"Kamu kurang ini Ay, dan ini dasi kenapa menceng gini?"tanya Elina kesal, Alvano menatap istrinya tak berkedip dan dia baru sadar jika istrinya malam ini begitu cantik dan menawan
"Ya kan aku lagi kerja terus aku putar dasinya biar gak panas aja"balas Alvano dan melingkarkan lengan kekarnya dipinggang Elina dan menatap wajah cantik istrinya dengan tersenyum tampan
"Kenapa liatin aku gitu?"tanya Elina mendongakkan wajahnya menatap Alvano
"Cantik banget..istri siapa sih ini yang cantiknya mengalahkan bidadari surga"ucap Alvano membuat Elina blussing dan menggigit bibir dalamnya
"Gombal banget sih mas"jawab Elina sambil mencubit pipi Alvano pelan lalu mengecupnya
"Apa tadi?, kamu panggil aku apa?"tanya Alvano
"Mas"balas Elina pelan dan terdengar merdu ditelinga Alvano
"Coba ulangi lagi sayang. Sekali lagi"pinta Alvano membuat Elina tersenyum malu berjinjit dengan mulut tepat didepan telinga Alvano
"Mas Al"bisik Elina membuat Alvano tersenyum sambil memejamkan matanya meresapi suara merdu Elina yang memanggilnya mas, sungguh hati Alvano merasa bahagia, nyaman, dan terharu akan panggilan itu untuknya
"Panggil aku pake itu aja ya, aku suka panggilan itu"ucap Alvano lalu mencium bibir Elina,bukan hanya mencium tapi mel*matnya lembut lalu melepaskannya
"Udah ah, nanti gak jadi pergi lagi"ucap Elina membuat Alvano terkekeh dengan segera dia menggandeng tangan Elina dan keluar dari kamarnya
Mereka turun bergandengan, dengan Alvano menggandeng tangan Elina dan merengkuh pinggangnya posesif, bahkan dia menempelkan tubuh mereka membuat yang lain geleng kepala
"Mau kemana Boy?"tanya Azam kepada Alvano yang telihat rapih
"Mau jalan-jalan berdua Pi, biasa"balas Alvano membuat Elina malu
"Yayaya.. yang pengantin baru, apa-apa jalan berdua, gandengan, pelukkan, ciuman didepan orang"celetuk Aiden dan mendapat jeweran ditelinganya oleh Elvina
"Ouh.. jadi kamu suka liatin orang pacaran gitu?, kamu suka liatin orang yang gandengan, pelukkan dan ciuman hmm.."tanya Elvina membuat Aiden meringis sementara yang lain hanya terkekeh
"Aa.. aduh.. kak ampun.. maaf gak gitu mak Ai.."ringis Aiden membuat Elvina melepasnya
"Terus maksudnya gimana?"tanya Elvina
"Ya kan gak sengaja lihat orang pacaran, kaya kakak sendiri aja pacaran sama kak Dimas pake cium pipi segala... Wleee.. Papi.. Mami... Kak Elvi ciuman sama kak Dimas tadi pagi"teriak Aiden lalu berlari kedalam kamarnya
"Aidennn... awas kamu ya!!!"teriak Elvina kembali duduk dibangkunya
"Ya udah Mi, Pi. Al sama El pamit dulu ya"pamit Alvano dan diangguki oleh mereka
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
****
Diperjalanan, Elina duduk menatap keluar jendela mobil Alvano, ya dia sedang menikmati kemerlap lampu dari beberapa pondok bersanta disekitar pantai dengan beberapa orang duduk disana menikmati indahnya lautan malam ini
"Kenapa liatnya keluar terus?, aku gak ganteng lagi gitu sampai harus liat keluar jendela?"tanya Alvano pura-pura merajuk
"Hais... ya enggak dong, kamu kan yang paling ganteng, mana mau aku nikah sama orang yang gak ganteng"jawab Elina membuat Alvano mengernyit
"Jadi kamu mau nikah sama aku karna aku ganteng dan kaya gitu?"tanya Alvano memincingkan matanya, kini mobil mereka berhenti ditepi jalan yang mulai sepi karna waktu menunjukkan pukul 20.30 malam
"Salah satunya, tapi yang aku lebih suka dari kamu dan alasan aku terima kamu selain kamu ganteng dan kaya yaitu ada disini, jawabannya ada dihati kamu. Kamu orang paling spesial dihidup aku, kamu udah terima segala kekurangan aku, kamu baik, kamu penyayang, kamu penuh kasih sayang, kamu istimewa mas. Aku gak bisa menjabarkan semua yang aku rasakan untuk kamu dan mendeskripsikan seperti apa kamu, yang jelas aku bahagia memiliki kamu sebagai suami aku. Kamu adalah sosok pendamping yang Allah kirim spesial untuk aku juga Rania. Makasih mas"jelas Elina dengan air mata jatuh dipelupuk matanya
"Jangan nangis dong, maskaranya luntur itu, nanti gak cantik lagi istri aku ini gimana?"tanya Alvano pura-pura sedih
"Gak masalah kalo aku jelek, yang penting gak jadi janda perawan"balas Elina dengan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela kesal
"Hai..kok malah kamu yang ngambek, dan tadi kamu bilang janda perawan?. No, itu gak akan pernah terjadi sama kamu, lihat aja nanti"ucap Alvano lalu melajukan mobilnya ke sebuah gedung entah apa yang jelas terlihat sangat ramai dibagian roftop. Bukan restoran dan tempat spesial lainnya yang seharusnya ramai tapi ini justru sepi dilantai bawah
"Ini tempat apa mas?,kok cuma di roftop doang yang ramai?"tanya Elina bingung
"Nanti kamu juga akan tau"balas Alvano dan menuntun Elina menaiki sebuah helikopter yang ternyata sudah Al pesan khusus untuk mereka
setelah semua pengamanan didalam sudah terpasang lengkap, helikopter tersebut mulai terbang dengan Alvano sendiri yang menerbangkannya, dengan perlahan helikopter tersebut terbang sampai diatas gedung tersebut dan dai helikopter Elina bisa melihat diroftop banyak orang dan ditengah-tengah mereka terdapat sebuah panggung kecil dengan dekorasi yang benar-benar indah dan disana terdapat kalimat cinta yang biasa Alvano beri padanya dan juga nama marga Alvano dibelakangnya"I Love You Elina Pamela Jordan Aditama"
"I Love You More mas"ucap Elina dengan menatap Alvano yang sedang tersenyum menatapnya dari samping, Alvano mendekatkan wajahnya pada Elina dan mencium bibir istrinya lembut lalu melepasnya karna mulai kehabisan nafasnya, kini heli tersebut sudah mendarat digedung sebelahnya
Alvano turun terlebih dahulu menghampiri Elina dan menyodorkan tangannya saat pintu sudah terbuka, dengan senang hati Elina menerimanya dan turun dari sana. Mereka melangkah bersama menuju menuju panggung kecil disana berada dan Elina baru menyadari jika yang disana bukan orang asing tapi semua sahabat-sahabat Alvano, sahabatnya, adik-adiknya dan keluarga besar Alvano
__ADS_1
"Mas!..ini?"tanya Elina dengan mata membulat menatap Alvano
"Ini pesta hadiah dari teman-teman sayang, mereka sengaja membuat ini sebagai hadiah juga ucapan maaf karna sandera aku waktu itu"balas Alvano menatap sahabat-sahabatnya yang pura-pura tak tau tatapan mata Alvano
"El! "panggil Reza menggunakan mic menatap Elina dari atas sampai bawah
"Cantik banget gila"ucap Reza dan mendekat pada mereka berdua
"Heh!.. mata lo mau gue congkel yang mana dulu?"tanya Alvano dengan nada mengerikan menurut Reza
"Jangan dong, nanti gue gak bisa lihat yang bening-bening lagi, apalagi lihat bini lo ini. Uuhh... gila cantik poll, buat gue ya?"goda Reza berusaha menarik Elina tapi belum juga dapat, Alvano langsung menarik Elina kepelukkannya
"Jangan coba-coba lo sentuh punya gue"ucap Alvano kesal dengan nada suara sedikit meninggi dan mengklaim Elina miliknya didepan orang-orang
"Heh, santai aja kali Al. Gitu aja kesel lo, lagian gue juga udah ada Sarah jadi buat apa sama bini lo, gue bukan pebinor kali"balas Reza dengan melangkah menghampiri Sarah
"Kemari Al, duduklah disana"ucap Ayah Tama yang ikut hadir
"Baik Opa"balas Alvabo dan menggandeng Elina untuk duduk dibangku khusus dipunggung kecil tersebut
Sungguh pemandangan yang indah jika dilihat dari atas gedung seperti ini, kemerlap bintang dan bulan malam ini begitu indah seakan ikut bahagia atas kebahagiaan yang Elina rasakan malam ini bersama suaminya, tiba-tiba Alvano mencium punggung tangannya membuat Elina terkejut
"Kenapa hmm?"tanya Alvano dengan mengusap lembut tangan Elina
"Gak papa. Aku bahagia aja karna malam ini seakan langit pun ikut bahagia dengan kebahagiaan kita"balas Elina memandang manik mata indah Alvano
"Mereka bahagia karna kamu juga bahagia"balas Alvano membuat Elina tersenyum
"Al!"panggil Adam yang duduk dibangku ujung depan bersama keluarganya
"Ya paman?"balas Alvano menatap pamannya
"Bernyanyilah, selain jago badminton kau juga jago dalam bernyanyi dan gitar bukan?. Nyanyian lagu spesial untuk istri cantikmu malam ini, dan paman meminta lagu 'Bentuk Cinta'ya"ucap Adam dan mendapat cubitan dipinggangnya oleh istri tercintanya, sementara Adam hanya cengengesan
"Baiklah, sesuai permintaan Paman"balas Alvano dan melangkah menuju panggung kecil, dia menerima gitar pemberian Dion
"Aku akan menyanyikan lagu spesial untuk orang yang spesial dihidup aku, and this song is for you my wife. Love you"
Alvano mulai memetik senar gitarnya dan memainkannya sesuai not lagu tersebut, dan dia menyanyikan lagu "Seperti Kisah ots Riski Febrian"
"Seperti kisah yang pernah ada
Kaulah bidadari hati
Kita bersama buat cerita
Cinta antara kita
Kadang tak berdaya
Kau s'lalu ada
Buatku tertawa
Dan lupakan lara
Tak tahu bagaimana
Aku tanpa dirimu
Tak pernah terbayangkan
Sepi merindu
Kumohon padamu
Tetaplah kau di sampingku
Hilangkan ragu
Semua yang kan menggangu
Kucinta padamu kasihku oh ho
Kita bersama buat cerita
Cinta antara kita
Kadang tak berdaya
__ADS_1
Kau s'lalu ada
Buatku tertawa
Dan lupakan lara ho
Tak tahu bagaimana
Aku tanpa dirimu
Tak pernah terbayangkan
Sepi merindu
Kumohon padamu
Tetaplah kau di sampingku
Hilangkan ragu
Semua yang kan menggangu
Kucinta padamu kasihku
Biarkan cita yang jadi saksinya
Kita kan slalu bersama huwo
Merangkai di setiap kisah semua
Dengan dirimu untuk selamanya
Tak tahu bagaimana
Aku tanpa dirimu
Tak pernah terbayangkan
Sepi merindu
Kumohon padamu
Tetaplah kau di sampingku
Hilangkan ragu
Semua yang kan menggangu
Kucinta padamu kasihku
Bila rindu pun melanda terhadapku
Terasa hati gelisah
Bila rindu pun melanda terhadapku
Terasa hati gelisah"
semua yang disana ikut bernyanyi dan menghayati lagu tersebut, bahkan Yolanda dan Nasyla menitikkan air matanya mendengar suara merdu Alvano menyanyikan lagu tersebut. Nataza memeluk lengan kekar Azam dan memejamkan matanya membayangkan bagaimana kisahnya nanti tanpa Azam disampingnya, bagaimana nanti akan bagaimana jalan hidupnya tanpa Azam, yang lainnya pun sama memikirkan hal yang dipikirkan oleh Nataza, bagaimana nanti hidup mereka tanpa pasangan mereka, akankah mereka bisa menjalani hidup mereka nanti tanpa pasangan masing-masing
Elina yang mendengar Alvano menyanyi lagiu tersebut dengan suara mestinya dan penghayatan yang membuat hatinya menangis terharu hingga air matanya jatuh dipipinya, senyumnya tak pudar saat Alvano menatap kearahnya dan melalui lagu itu Alvano seakan menggambarkan dirinya tanpa Elina disampingnya yang entah akan seperti apa nanti hidupnya
"Maju El"ucap Sarah dan Reza yang tiba-tiba berdiri disampingnya
"Enggak usah, aku mau disini aja"balas Elina membuat Sarah geleng kepala
"Maju aja, Al pengin menunjukkan kedunia jika dia punya lo sebagai istrinya, Al menunjukkan kedunia kalo dia gak akan bisa hidup tanpa lo yang selalu menemani hari-hari indahnya, lo pelangi dihidupnya, lo adalah pelengkap langkahnya untuk maju. Come on El maju"jelas Sarah membuat Elina melangkah mendekati Alvano dan berdiri disampingnya
saat Alvano selesai dengan lirik lagu terakhirnya dia menatap Elina dengan tersenyum bahagia, Elina kembali menjatuhkan air matanya dengan segera Alvano menghapusnya dan mencium kedua mata Elina
"No, gak nangis"ujar Alvano dengan memeluk Elina erat
"Aku bahagia punya kamu mas, aku bahagia bisa kenal kamu, aku bahagia karna Allah mengizinkan kita untuk bersatu dengan kamu menjadi suami aku. I love you mas"ucap Elina disela pelukkan mereka
"Aku juga bahagia punya kamu yang menjadi istri aku, aku bahagia bisa kenal kamu untuk menjadi teman hidup aku. Aku gak tau jika aku tanpa kamu, aku gak tau gimana hidup aku jika kamu pergi dari aku, mungkin aku akan mati tanpa kamu. Love you more honey"balas Alvano dan kembali memeluk Elina
malam ini adalah malam dimana Elina meneteskan air matanya berkali karna bahagia bisa mendapatkan sosok pria yang selalu diidam-idamkan banyak wanita diluar sana, sosok pria yang begitu bertanggung jawab dan sosok imam yang baik untuknya
"Cinta kita tak akan pernah hilang meskipun Allah memisahkan kita"batin Alvano dan mencium pucuk kepala Elina
__ADS_1
"Cinta kita akan selalu abadi sampai kita diciptakan untuk hidup kembali" batin Elina dan semakin mengeratkan pelukannya