
Elina mengambil kotak P3K didalam laci meja kerja Alvano lalu ikut duduk disamping Alvano disofa, karna tak mungkin Alvano membawa Elina kedalam kamar pribadinya, nanti orang yang masuk keruangannya berpikir yang tidak-tidak tentang mereka
Elina menuangkan obat merah diatas kapas sedikit demi sedikit dia oleskan dimuka Alvano yang terluka. bahkan tanpa sadar Elina juga ikut meringis saat Alvano meringis karna perih dibukanya. tapi justru Alvano menikmatinya. wajah Elina menggemaskan menurut Alvano. sesekali Alvano mengerjainya dengan meringis dan Elina juga ikut meringis dan reflek menjauhkan tangannya dari wajah Alvano
"Awss.. "ringis Al saat luka di pelipis matanya di beri obat merah oleh Elina
"Apa sangat sakit?"tanya Elina dengan tangan masih aktif memberi obat merah dipelipis Alvano
"Lumayan. tapi tidak masalah"balas Alvano yang menatap wajah Elina dari dekat
'Ya Allah. kenapa ada gadis secantik ini sih?, lihatlah bibirnya yang soft pink itu, sungguh menggoda imanku, pasti sangat manis rasanya, kenapa wajahnya begitu terlihat sempurna, sungguh cantik dan menawan. Ya Allah jika boleh aku meminta, aku ingin memiliki dirinya seutuhnya untukku hanya untukku selamanya hingga akhir hayat kami'batin Alvano menatap wajah Elina yang berada begitu dekat dengan wajahnya, bahkan nafas Elina berhembus hangat dipipinya saat memberikan obat merah dirahang tegasnya
Entah kenapa jantung Elina berdetak begitu cepat saat dekat dengan Alvano. bahkan mencium bau khasnya saja jantung Elina berdisko, apa Alvano dapat mendengar detak jantungnya saat ini?, jika iya, sungguh malu sekali Elina, dan dia juga yakin wajahnya sudah merah karna panas yang diakibatkan dekat dengan Alvano dan parfumnya
"Lin!"panggil Alvano lirih dengan melirik wajah Elina disamping bawahnya yang merah
"Hmm"balas Elina, mampus dia semakin gugup dan merah diwajahnya, bahkan jantungnya semakin cepat berdetak mendengar suara berat Alvano
"Kau sakit?"tanya Alvano dengan menarik pelan lengan kemeja Elina untuk menatap wajah Elina
"T-tidak, saya tidak sakit"balas Elina menundukkan kepalanya dengan tangan menyimpan kembali kapas dan obat merah ditangannya
"Sudah, lukanya sudah diobati. Kalo begitu saya permisi"pamit Elina. tapi belum sempat dia bangkit tangan Alvano sudah menarik kembali lengan kemejanya
"Wajahmu kenapa merah?,kau benar tidak sakit kan?"tanya Alvano khawatir
"Emm...T-tidak, tidak. saya baik-baik saja, mungkin karna...udara, ya udaranya panas"balas Elina berbohong dengan kembali gugup, kini dia berusaha menetralkan jantungnya
"Panas?, padahal AC nya menyala, aku saja kedinginginan, kenapa kau bisa panas?"tanya Alvano sedikit memancing
"Ah masa sih?, aku merasa ruangan ini cukup panas. mungkin anda yang sakit pak"balas Elina tanpa mau menatap wajah Alvano karna wajah merahnya
"Aku baik-baik saja. Lagian jika aku sakit, mana mungkin aku berangkat kerja hari ini, dan jika aku berangkat kerja pun, aku tidak akan menggunakan AC dengan suhu tertinggi, bisa mati beku aku disini"ucap Alvano membuat Elina terdiam
langkah Alvano maju mendekati Elina membuat Elina mundur terus hingga kepalanya hampir membentur dinding jika tidak dilindungi dengan tangan Alvano, dapat Alvano tebak jika gadis dihadapannya ini sedang berdebar olehnya
"B-bapak ma-mau apa?"tanya Elina mulai takut jika Alvano akan berbuat sesuatu padanya
Alvano menatap Elina begitu intens, bahkan matanya bergerak meneliti setiap lakukan wajah Elina dari mata hingga bibir yang membuat Alvano tanpa sadar menelan salivanya, tapi dia harus bisa melawan hawa nafsunya sampai nanti Elina sah menjadi miliknya
"Cantik"ucap Alvano lirih dengan jakun yang terus naik turun memperhatikan wajah Elina, sementara Elina dia mematung mendengar ucapan Alvano hingga wajahnya semakin merah
"M-makasih"balas Elina sambil menahan senyumnya
Runtuh pertahanan Alvano melihat bibir tipis Elina yang begitu menggodanya, wajahnya semakin maju mendekati wajah Elina, hingga beberapa senti lagi dia bisa merasakan ciuman pertamanya bahkan dia dapat merasakan manisnya bibir Elina. Namun, suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut lalu menjauh hingga rasa canggung menyerang keduanya
"Ekhem... masuk"ucap Alvano dengan kembali ke mejanya
"Permisi pak, Eh... ada Nona Elina. Apa saya mengganggu waktu kalian?"tanya Asisten Dion merasa tak enak karna melihat Elina masih ada disana dengan wajah yang masih merah, bahkan wajah bosnya juga merah
'Apa sudah terjadi sebuah keajaiban?, semoga saja sudah. Eh, tapi kalo belum dan hampir terjadi. berarti aku menganggu mereka. Astaga Dion!!, kenapa kau datang diwaktu yang tidak tepat sih?!!,kan tidak terjadi keajaiban. Aaaaa... sungguh bodoh kau Dion!!' teriak Asisten Dion dalam hatinya
"T-tidak, masuk saja pak. Saya kesini hanya mengantarkan berkas untuk ditanda tangan oleh pak Al dan ini sudah selesai. Kalau begitu saya permisi pak Al, pak Dion"pamit Elina lalu berlari kecil keluar ruangan Alvano, Alvano yang melihat itu hanya terkekeh pelan
"Dasar menggemaskan"gumam Alvano membuat Asisten Dion menatapnya
"Anda mengatakan sesuatu bos?"tanya Asisten Dion yang memang mendengar jelas gumaman Alvano
__ADS_1
"Tidak ada"balas Alvano kembali dingin dan datar
"Sudah, pergilah"usir Alvano membuat Asisten Dion memanyunkan bibirnya kesal
"Ya baiklah pak Presdir yang terhormat, saya permisi"jawab Asisten Dion memaksakan senyumnya lalu melangkah kembali keruangannya, baru saja menutup pintu dia menyembulkan kembali kepalanya
"Jangan lupa pikirkan Nona Elina ya pak, pasti sangat cantik"goda Asisten Dion membuat Alvano mendelik, 'bagaimana Dion bisa tau jika aku memikirkan Elina' pikir Alvano
2 Minggu kemudian
Malam ini, Alvano akan melamar Elina secara pribadi, Yap, selama satu minggu kemarin, Al mencoba mendekati Elina dan berhasil mendapatkan cinta Elina, bahkan kini mereka menggunakan sebutan sayang
Alvano sudah menyiapkan sebuah tempat khusus ditepi laut yang memang favorit Elina adalah tepi laut sama seperti Nataza, Mami Alvano. Tepi lautan yang sudah dihias cantik oleh Alvano untuk melamar Elina disana dan dibantu oleh sahabat mereka tentunya untuk menyiapkan kejutan lamaran tersebut
Elina dijemput langsung oleh Sarah,Yolanda dan Rania untuk berangkat bersama ketempatnya, sementara Alvano bersama dengan Asisten Dion, Reza anak pertama Brian dan Nuril, hanya beda 1 tahun dengan Alvano dan juga Galang pertam Fitri namun dianggap anak kandung oleh Bayu dan kini Fitri memiliki 2 anak dengan Bayu
"Gaes, semuanya udah bereskan?, aman kan?, gue ganteng gak malam ini?, Gimana ada yang kurang gak?,semuanya lengkap kan?"tanya Alvano khawatir, gugup dan sedikit cemas akan ditolak iya dan akan salah juga iya
"Aman Al, Semuanya beres dan gak ada yang kurang sedikit pun. Untuk penampilan lo, bolehlah kasih nilai 100"balas Dion dan diacungi jempol oleh Reza dan Galang
"Hufh.. Alhamdulillah deh"ucap Alvano dengan memainkan ponselnya
"Al!, my girl gue udah ngabarin nih, kalo mereka udah sampai ditempat"ucap Riza yang mendapat pesan dari Sarah yang memang pacaran sejak 1 minggu sebelum Alvano menyatakan cintanya pada Elina
"Good!"balas Alvano lalu menatap kotak cincin ditangannya sambil menyinggungkan senyum tampannya
ditempat lain, Elina sedang dioleskan make up oleh Sarah dan Yolanda karna tadi sempat luntur akibat gerimis turun sedikit deras, bahkan dress yang dia pakai basah, untung saja Alvano menyiapkan 3 dress, jadi bisa untuk cadangan jika ada kejadian seperti tadi
"Perfect"puji Sarah dan Yolanda menatap wajah Elina yang begitu cantik dengan dress biru dibalut dengan brukat dan dipadukan kulit putih mulusnya membuatnya tambah cantik
"Hai jangan tegang dong, tetap tenang dan santai. Tarik nafas... buang nafas.... jangan lewat belakang ya Yol"ucap Sarah dengan menyindir Yolanda yang suka keceplosan lewat belakang saat membuang nafas
"Ihh.. kenapa harus dikasih tau sih?,kan malu sama Rania"jawab Yolanda menutupi wajahnya menggunakan buku majalah membuat yang lain tertawa
"Kak!, kakak cowok udah dateng tuh, tapi aku gak liat kak Al"ucap Rania dengan membawa ponsel yang masih menyala
"Baiklah kita keluar kak"ucap Rania menjawab telfon dari seseorang yang jelas diberi emot Love oleh Rania
"Dari Reza?!"tebak Sarah, yang tau jika Rania dan Reza sama-sama suka
"Ehh.."lenguh Rania terkejut membuat ketiga perempuan disana terkekeh
"Ayok keluar"ajak Yolanda dengan menggandeng Elina disamping kanan dan kiri oleh Sarah
Alvano tengah bersembunyi sebentar untuk menyambut kedatangan Elvina, Nasyla dan Aiden yang tiba-tiba menelfonnya untuk ikut menyaksikan Alvano melamar Elina meskipun secara pribadi
"Kak Al!!"teriak Nasyla melihat Alvano sedang memainkan hpnya
"Hai baby girl"balas Alvani langsung memeluk Nasyla yang memang selalu manja dengan Alvano
"Siap untuk melamar pujaan hati kak?"tanya Elvina membuat Alvano mengangguk dengan senyum manisnya
Elina sudah sampai ditempat yang disiapkan oleh sahabat dan adiknya, disana Elina dibuat takjub oleh pantai yang sudah disulap menjadi sangat indah, Elina bahkan hampir meneteskan air matanya karna begitu bahagia hari ini, meski dia tidak tau ini hari apa, tapi kejutan yang diucapkan Alvano benar-benar membuatnya ingin menangis bahagia
tanpa sepengetahuan Elina, Alvano berada melangkah dibelakangnya menghampiri Elina dengan memegang buket bunga ditangannya sambil tersenyum tampan menatap punggung Elina, sesekali Alvano mencium bunga tersebut lalu kembali tersenyum
__ADS_1
tepat dibalakang Elina. Alvano menjulurkan tangannya didepan wajah Elina dengan buket bunga didepan wajah Elina hingga sang empu terkejut dan membalikkan tubuhnya menghadap Alvano dibelakangnya
"Hai Ay"sapa Alvano dengan senyum tampannya membuat Elina meneteskan air matanya
"No!. Jangan nangis Ay, aku gak suka kamu nangis. Happy birthday Ay"ucap Alvano dengan memberikan buket bunga tadi pada Elina
"Aku nangis bahagia, bukan nangis sedih. Makasih untuk kejutannya Ay, Love You More Ay"balas Elina membuat wajah Alvano blussing mendengar kata keramat dari bibir Elina
"Love You Too Ay. Boleh peluk gak?"tanya Alvano dibalas anggukan kepala dan rentangan tangan oleh Elina, dengan segera Alvano memeluknya erat, bahkan dia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Elina
"Udah Ay, aku takut khilaf sama kamu"ucap Alvano mendapat cubitan ringan dipunggungnya oleh Elina lalu mereka tertawa bersama
"Ikut aku Ay"ajak Alvano menggandeng Elina ketempat yang memang disiapkan untuk makan malam mereka berdua
"Duduk Ay"ucap Alvano menarik kursi untuk Elina dan dia duduk diseberangnya
"Cantik banget kamu malam ini Ay, aku suka"ucap Alvano membuat Elina bersemu
"Gak usah baper Ay, apapun yang aku ucapkan,yang keluar dari bibir aku dan tindakan aku lakukan untuk kamu itu memang nyata apa adanya, sama seperti kamu nyata ada untuk aku"ujar Alvano dibalas senyum cantik oleh Elina
"Sini Ay"ajak Elina dan berdiri dipinggir pantai dengan kaki terkena deburan ombak laut
"Makasih Ay, malam ini kamu udah bikin hal yang begitu spesial untuk aku, aku bahagia karna kamu. Ay!"panggil Elina karna Alvano memejamkan matanya dipundak Elina dengan memeluk Elina dari belakang sekarang
"Hmm"balas Alvano
"Jangan tinggalin aku ya Ay, aku gak tau gimana nasib aku nanti tanpa kamu. Kamu selalu memberikan kebahagiaan untuk aku hingga aku lupa caranya membahagiakan diri aku sendiri"ucap Elina dengan ikut memejamkan matanya
"Gak akan Ay, cuma kamu satu-satunya punya aku, hanya ada kamu dalam hidup aku, aku gak akan ninggalin kamu sampai nanti menua bersama, biarkan maut yang memisahkan kita Ay, kehendak Allah dan takdir Allah tidak ada yang tau Ay"balas Alvano dengan membalik Elina menghadapnya
Alvano menggenggam tangan Elina dan dia berjongkok dan mengambil kotak beludru didalam jasnya dan membukanya hingga terlihat cincin berlian yang indah dan cantik untuk Elina
...(Abaikan begraundnya)...
"Ay. Will you marry me?"tanya Alvano dengan wajah serius menatap Elina yang mulai menangis terharu dan menganggukan kepalanya
"Yes, Yes, I want to marry you"balas Elina membuat Alvano segera memasangkan cincin tersebut pada jari manis Elina dan cincin tersebut sangat pas dijari manis Elina
"Boleh peluk kan?"tanya Alvano dengan senyum bahagianya dan dibalas anggukan kepala oleh Elina
"Tanks Ay, tanks"ucap Alvano bahkan air matanya jatuh dipipinga
Dor...
Dor...
suara kembang api yang diluncurkan kelangit dengan indah, bahkan ada drone yang diterbangkan membentuk hati lalu berubah menjadi kata I Love You Elina dengan kembang api yang terus menghiasi langit diatas mereka
"Cieeeeeee....."sorak Sahabat mereka dan adik-adik mereka
"Selamat Kak Al dan Kak El, semoga langgeng terus sampai maut memisahkan kalian berdua. Aminnn...... Uuuuuuu....."teriak adik-adik Alvano dan Rania tak ketinggalan sambil menghamburkan bunga mawar dikeranjang yang mereka pegang sambil tertawa ikut bahagia untuk Alvano dan Elina tentunya
'Akhirnya, akan ada yang jaga kakak lagi, ada yang sayang kakak lagi, ada yang benar-benar tulus cinta kakak lagi, ada yang membahagiakan kakak lagi. Terimakasih kak Al, Rania berterimakasih dan bersyukur karna kak Elina menemukan kakak untuk menjaganya dan membahagiakanmu. Rania bahagia karna kak Al adalah laki-laki yang baik untuk kak Elina. Ayah, Bunda. Kalian pasti lihat kan bagaimana kakak bahagia dengan pilihannya tanpa kalian disampingnya, do'akan terus kami ya Ayah, Bunda agar kami bisa bahagia disini meski harus tanpa kalian'
__ADS_1