Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Kambuh Lagi


__ADS_3

Tak menunggu lama. Azam sampai di rumahnya, dia berlari dari parkiran depan rumahnya hingga kekamarnya, dalam keadaan seperti Azam tak ingat jika di rumahnya ada lift untuk naik kelantai 3


sampainya dilantai 3, Azam melihat Bi Ani dan Bi Imah yang sedang menggedor-gedor pintu kamarnya dan memanggil nama Nataza dari luar kamar, Astaga. Pikiran Azam bercabang kemana-mana sekarang, apa yang terjadi dengan istrinya didalam'Ya Allah lindungilah istri hamba, jangan sampai dia kenapa-napa ya Allah' batin Azam


"Aden?"gumam Bi Ani melihat Azam datang dengan berlari menaiki tangga


"Bi. Aza gimana?"tanya Azam khawatir


"Duhh...den..Non Aza gak mau buka pintu kamarnya dari tadi, sudah saya gedor dan teriaki tapi Non Aza gak mau buka pintunya sekali, palah teriak ngusir kita pergi"jelas Bi Ani panik sekarang


"Aden, ada telfon dari Nyonya besar"ucap Bi Imah yag mendapat telfon dari Bunda Ayu yang berniat mengajak sikembar dan Devina menginap dirumahnya


"Angkat Aja bi, tapi agak jauh biar Bunda gak dengar apa yang terjadi sekarang"perintah Azam dan di angguki oleh Bi Imah lalu pergi kelantai 1 untuk mengangkatnya


"Ha-hallo Nyonya?"ucap Bi Imah sedikit gugup


^^^"Hallo Bi, gimana disana?. Anak-anak udah siapkan untuk dijemput nginep disini?"tanya Bunda Ayu membuat Bi Imah bingung^^^


"Hah..Iya...iya..Nyonya!,anak-anak sudah siap, tinggal dijemput saja. Nanti akan saya bawa anak-anak keluar sambil menunggu jemputan"balas bi Imah


^^^"Loh kok diluar, ini kan udah siang. Nanti anak-anak kepanasan dong Bi...Ouh iya, Aza mana?"tanya Bunda Ayu membuat Bi Imah takut salah bicara. 'Aduh gimana ini yah?,bilang tidak yah?, kan nyonya baru saja sembuh dari sakit, nanti kalo saya bilang Nyonya tambah sakit lagi'batin Bi Imah^^^


"Ndak papa Nyonyah, biar anak-anak dijemur sementara, tadi pagi memang blm sempet jemur karna mereka bangun agak siang, jadi Non Aza minta saya menjemur anak-anak sebentar sambil menunggu jemputan, seperti itu Nyah"jelas Bi Imah dengan menggigit kukunya cemas dan takut


^^^"Ouh begitu, baiklah nanti saya dan Ayahnya Azam yang jemput mereka, sekalian mau jenguk menantu"balas Bunda Ayu langsung mematikan telfonnya^^^


"Aduhh...gimana yah kalo Nyonya tau kondisi Non Aza sakitnya kumat lagi. Ahh...bodo amat lah. Pusing kepela Imah"kesal Bi Imah lalu masuk berlari menuju kamar Azam


"Aden dimana Ani?"tanya Bi Imah kepada Bi Ani yang ada didepan pintu kamar Azam yang masih tertutup

__ADS_1


"Den Azam, lagi ambil komputer untuk membuka kunci kamar dari sana, itu aden!"jawab Bi Ani dengan menunjuk Azam yang baru kembali dari ruang kerjanya


"Za...buka pintu...aku mohon sayang...Ini aku Azam..buka ya sayang ya..please yang jangan bikin aku takut kaya gini. Jangan lakukan apapun yang didalam"teriak Azam dari luar kamar berusaha menangkan Nataza yang tetap berteriak ketakutan didalam


"Den. Maaf bukannya sok tau. Apa tidak bisa di dobrak saja pintunya?"tanya Pak Mamang yang baru saja datang dengan membawa alat dongkel pintu


"Astaga mang!!, pintu kamar Aden kan otomatis, ndak mungkin bisa kalo didobrak. Nanti akan tambah susah bukanya"jawab Bi Ani dengan lirih


"Benar juga"jawab pak Mamang menepuk dahinya


"Ide bagus mang"gumam Azam lalu meminta beberapa anak buahnya dari markas untuk membantunya mendobrak pintu kamarnya


"Udah, kita mulai sekarang?"tanya Azam kepada anak buahnya yang baru datang dari ruang bawah tanah rumahnya


"Siap Tuan Muda"jawab mereka kompak


lalu mereka ber5 mendobrak pintu kamar Azam dengan susah payah, hingga percobaan 4 kali baru bisa terbuka dengan lebar. Azam langsung masuk kemarnya, dia tak melihat ada Nataza disana, tapi telinganya mendengar suara air mengalir deras dari kamar mandi


Brak...


kamar mandi pun terbuka, dan terlihat Nataza yang sedang berdiri di bawah sower dengan darah didahinya,Ya Allah istrinya menyakiti dirinya sendiri karna traumanya dimasalalu


"Stopp...Za..stopp..Ini aku..Tenang sayang..tenang"ucap Azam dengan memeluk Nataza erat dari belakang, biarlah bajunya basah yang penting sekarang Nataza selamat


"Gak...lepasin aku...jangan sakitin aku...tolong lepas...aku mohon...jangan sakitin aku...Hikss..."teriak Nataza dengan memejamkan matanya dan bayangan dimana dulu dia dibenturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah dan ditenggelamkan didalam bak mandi hingga kehabisan nafas dan hampir mati kehilangan banyak darah dikepalanya


"Hai sayang...ini aku Azam...ini aku...sayang, buka mata kamu...tenangin diri kamu sayang..Aku mohon jangan kaya gini"tangis Azam pecah melihat bagaimana hancurnya mental dan hati Nataza dahulu sebelum bertemu dengan dia, saat ini perasaan Azam begitu hancur melihat orang yang dia cinta seperti ini


"Aku mohon Za..jangan kaya gini sayang...aku takut..aku takut..."tangis Azam membalikkan tubuh Nataza menghadapnya lalu memeluknya kembali

__ADS_1


"Gak...tolong lepasin aku...Aku mau mati...aku gak pantes hidup...semua orang benci aku...semua orang gak butuh aku...semuanya hanya menganggap aku sampah...aku beban..aku pembawa sial...aku gak guna...aku mau mati aja...aku gak pantes ada disini....aku gak pantes lahir...Lepasss..."teriak Nataza dalam pelukkan Azam setelah membalik tubuh Nataza mengahadapnya untuk menatap wajahnya


"STOPP NATAZA!!!..."teriak Azam seketika membuat Nataza berhenti berteriak dan merontah hanya tinggal tangisnya saja


"Stoopp yang...stopp..aku gak sanggup lihat kamu kaya gini!!, stopp aku mohon.."tangis Azam dengan membawa Nataza kepelukkannya kembali dan menangis bersama dibawah guyuran sower yang masih mengalir


"Maaf aku udah teriak ke kamu, maafin aku"tangis Azam dan Nataza menggeleng atas apa yang Azam ucapkan


"Kamu gak salah, aku yang salah. Aku gak pantes hidup mas. Aku pantes mati"lirih Nataza dalam pelukkan Azam


"Gak..gak boleh ngomong gitu. Aku gak suka kamu ngomong gitu. Please jangan tinggalin aku. Aku mohon sama kamu, jangan lakukan hal bodoh ini lagi dan apapun itu, aku gak mau kamu kenapa-napa, aku gak mau kamu luka, Aku hanya mau kamu bahagia bersama aku dan anak-anak kita. Please jangan tinggalin aku Za, pleassee..."pekik Azam diakhir kalimatnya saat melihat Nataza tak sadarkan diri


"Pak...pak Irman..."panggil Azam dengan menggendong Nataza menuju rumah sakit


"Ya Allah Non Aza...saya siapkan mobil den"ucap pak Irman lalu berlari menuju parkiran mobil dihalaman rumah


"Cepetan pak"pinta Azam, 'bahkan dia belum masuk sudah bilang cepetan, untung bos, kalo bukan udah saya slepet lo',batin pak Irman


Saat mobil baru jalan, mereka berpapasan dengan mobil Ayah Tama yang akan masuk. Ayah Tama dan Bunda Ayu bingung melihat pak Irman yang mengemudikan sedan milik Azam dan Azam duduk di bangku belakang dengan kondisi baju basah kuyup


"Berhenti pak Irman!!"pekik Ayah Tama dari dalam mobilnya lalu keluar disusul Bunda Ayu


"Kenapa kok pak Irman yang.."ucapan Ayah Tama terputus saat melihat Azam memanggu Nataza dengan kepala dipahanya dan Azam yang setengah sadar karna kedinginan


"Ya Allah Aza...Azam.."pekik Bunda Ayu melihat putra dan menantunya terluka


"Cepat jalan kerumah sakit pak,Biar istri saya yang ikut dengan bapak mengawasi mereka"perintah Ayah Tama lalu masuk kemobilnya saat mobil Azam pergi


"Bi..titip anak-anak dulu ya, nanti saya kesini lagi buat jemput mereka"teriak Ayah Tama kepada Bi Ani dan Bi Imah yang menjada si kembar dan Devina yang tertidur di kereta bayinya

__ADS_1


"Baik Tuan besar, berhati-hatilah"jawab mereka lalu masuk kedalam rumah


"Ya Allah lindungilah Nona Aza dan Den Azam, semoga mereka baik-baik saja Ya Allah"gumam Bi Imah dan diaminkan seisi rumah


__ADS_2