Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Seperti Kakak Kandungku


__ADS_3

Sudah 2 jam berlalu dengan Azam yang tertidur dengan kepala di atas ranjang dan tangan menggenggam erat tangan Nataza, tak lama jari tangan Nataza bergerak dan kelopak matanya mengerjap untuk menyesuaikan cahaya masuk. Azam yang merasakan itu dia terkejut dan memecet tombol di atas ranjang Nataza


tak menunggu lama, dokter Praja, dokter Kinanti dan suster datang untuk memeriksa Nataza dan memeriksa kandungan Nataza. Dokter mengatakan keduanya baik-baik saja dan kondisinya sudah stabil,tapi harus tetap banyak istirahat, tapi untuk sekarang jangan terlalu banyak bicara dulu karna akan mengakibatkan rasa sakit di lehernya, lalu dokter pun pamit undur diri setelah pemeriksaan


"Ada yang sakit sayang?"tanya Azam pada Nataza dan di jawab gelengan kepala saja sesuai saran dokter tadi, bukan berarti tak boleh berbicara


"Alhamdulillah kalo gitu"ucap Azam lalu mengecup tengan Nataza dan mengusap perut buncit istrinya


"Bunda?"ucap Nataza lirih saat melihat Bunda Ayu masuk kedalam ruangan


"Alhamdulillah menantu Bunda sudah sadar nak, Gimana ada yang sakit?"tanya Bunda Ayu sambil mengusap pucuk kepala Nataza dan hanya di jawab gelengan olehnya


"Bund, untuk sementara Aza belum boleh terlalu banyak bicara, kata dokter takutnya bikin Aza sakitan akibat lukanya"ucap Azam memberitahukan


"Baiklah, sekarang jangan terlalu banyak bicara dulu ya nak, istirahatkan dirimu dan jaga kesehatanmu hmm"ucap Bunda Ayu dengan mengelus pucuk kepala Nataza lalu duduk di sofa


"Ayah mana Bund?"tanya Azam kepada Bundanya yang fokus dengan tablet ditangannya


"Ah..itu...Ayah tadi pergi ke markas milikmu, bertemu Baron!"jawab Bunda Ayu menatap Azam dengan takut,sebenarnya Bunda Ayu berjanji pada Ayah Tama agar tak memberi tahu Azam tentang kepergiannya menemui Baron,tapi Azam menanyakan langsing padanya mana mungkin dia berbohong pada Putranya


Flashback On


"Bund..?"panggil Ayah Tama pada Bunda Ayu yang sedang menunggunya di parkiran


"Ouh Ayah,akhirnya sampai juga"jawab Bunda Ayu menyambut Ayah Tama

__ADS_1


"Ini barang yang Bunda minta"ucap Ayah Tama memberikan paperbag kepada Bunda Ayu


"Makasih ya Yah?, ya udah masuk yuk, lihat mantu kita"ajak Bunda Ayu tapi Ayah Tama tetap diam di tempat membuat Bunda Ayu bingung


"Kenapa Yah?"tanyanya lagi


"Bund. Ayah harus ke markas untuk menghampiri Baron, Ayah tak bisa terima semua ini, anak buahnya sudah membuat menantuku dan cucu pertamaku hampir kehilangan nyawanya hanya untuk balas dendam. Aku tak bisa membiarkan dia tertawa bahagia dengan apa yang terjadi sekarang, meskipun itu ada di dalam markas Azam"jelas Ayah Tama membuat Bunda Ayu diam


"Tapi Yah?, apa kita tak sebaiknya berbicara dengan Azam teelebih dahulu. Karna ini menyangkut keselamatan Istri dan calon Anaknya?"tanya Bunda Ayu dengan wajah khawatirnya


"Gak bisa Bund. Ayah udah ditunggu sama Papa, Ayah harus selesaikan ini segera. Titip salam untuk Aza dan juga Azam. Do'akan yang terbaik untuk kami"jawab Ayah Tama lalu mengecup bibir Bunda Ayu sebelum berlari ke arah mobil


Flashback Off


Azam yang mendengar cerita Bundanya barusan, dia berdiri munuju sofa untuk mengambil sesuatu yang dia simpan di dalam tas miliknya yang sudah dia siapkan saat dia pulang mengganti pakaiannya. Azam kembali menghampiri Nataza lalu mengecup lama bibir merah mud Nataza dengan memejamkan matanya,lalu beralih ke dahinya dengan tangan mengusap perut buncitnya


"Tapi mas...?"ucapan Nataza terpotong saat Azam menempelkan kembali bibirnya di bibir Nataza


"Aku akan pulang dengan selamat demi kamu dan anak-anak kita sayang. Do'akan aku supaya berhasil"ucap Azam meyakinkan Istrinya dan Nataza hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban


"Kamu harus kembali dengan selamat mas"pinta Nataza mendapat pelukan hangat dari suaminya


"Pasti sayang"jawab Azam mencium bibir Nataza kembali, dia tak perduli dengan kehadiran Bundanya di sana


"Sayang...anak-anak Papi?. Jangan nakal ya nak disana!, jangan bikin Mami sakit!, jangan bikin Mami sedih terus!. Sehat-sehat terus ya nak di perut Mami. Papi janji akan pulang secepatnya demi kalian"bisik Azam mengajak calon anaknya berbicara dan mendapatkan respon tendangan dari mereka

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Assalamualaikum?"pamit Azam lalu pergi keluar rumah sakit


Nataza yang melihat kepergian suaminya, dia meneteskan air matanya, baru saja dia sadar dari masa kritisnya,kini dia harus berpisah dengan suaminya. Nataza mengusap perut besarnya dengan menatap perutnya yang bergerak aktif lalu tersenyum merasakan tendangan kuat dari anak-anaknya


"Anak-anak Mami,do'akan Papi kalian ya nak?,semoga Papi cepet kembali sama kita, do'akan untuk keselematan Papi, agar Papi bisa main lagi sama kalian"ucap Hasna mengajak anak dalam perutnya berbicara dan anaknya kembali menendang yang mungkin sebagai jawaban ucapan Maminya


Di sisi lain. Azam yang sudah bersama Ayah Tama dan Opa Aditya, dia melihat Baron yang sudah tak sadarkan diri dengan luka-luka di sekitar wajah dan tubuhnya. Itu adalah perbuatan dari Ayah Tama dan Opa Aditya karna sudah membuat Istri dan menantu mereka terluka hingga hampir meninggal


"Kita apakan lagi keparat ini Zam?"tanya Opa Abraham yang sudah tak sabar menyakiti Baron


"Alex?"panggil Azam kepada anak buahnya


"Saya Tan Muda?"jawab Alex dengan membungkukan badannya


"Di mana Bang Adam?"tanya Azam kepadanya


"King Adam ,ada di dalam Tuan,dia sudah sadarkan diri dari biusnya setelah di lakukan Operasi untuknya. Sekarang hanya menunggu pulihnya saja Tuan Muda"jawab Alex lantang


"Bagus!, bawa dia kemari. Berhati-hatilah, Jangan sampai dia kesakitan mengerti?"perintah Azam


"Baik Tuan Muda"jawab Alex lalu pergi ke rumah sakit di markas itu


Tak lama kemudian Alex datang bersama dengan Adam yang di dorong dengan kursi roda, Keadaan Adam yang sudah membaik dia menatap Azam dengan senyum tampannya lalu memeluk Azam yang berlutut untuk memudahkan Adam memeluknya


"Bagaimana kabarmu bang?"tanya Azam kepada Adam yang kini dalam pelukkannya

__ADS_1


"Aku sudah lebih baik Zam, terimakasih banyak atas semuanya dan kau sudah menolongku dari maut"jawab Adam dengan tertawa ringan


"Kau tak perlu membangkan diriku bang, aku sungguh menolongmu dengan ikhlas, karna kau adalah kakak Iparku, kau sudah ku anggap sebagai Abangku sendiri, dan kau adalah kakak dari Istriku, jadi sudah menjadi tanggung jawabku sebagai adikmu untuk melindungi dirimu"jawab Azam dengan sopan dan tulus membuat Adam meneteskan air matanya lalu dia memeluk Azam lebih erat lagi karna dia memang sedari dulu menginginkan adik laki-laki dan perempuan


__ADS_2