Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Ekstra Part 06


__ADS_3

pagi hari ini, Alvano sudah berada diruang meetingnya bersama dengan beberapa anggota Divisi yang lainnya dan juga kliennya yang memang sengaja ingin mengadakan rapat bersama


"Tuan Al, bisa anda teliti ini kembali. Sepertinya ada kesalahan dalam divisi produksi"pinta salah satu anggotanya dengan segera Alvano menerima berkas tersebut dan mengeceknya


"Siapa kepala divisi produksi?"tanya Alvano yang memang belum tau, karna Pipinya tidak mengganti kepala disetiap Divisi hingga kini


"Tuan Albert Willy tuan Al"balas Asisten Dion


"Meeting ini selesai sampai disini. Dion panggil Tuan Albert keruanganku sekarang juga"perintah Alvano lalu melangkah pergi kerungannya


"Baik Tuan Muda"balas Asisten Dion lalu mengucapkan Terimakasih kepada semua yang menghadapi meeting dan. mempersilahkan pergi


Diperjalanan menuju ruangannya. tatapan kagum karyawannya tak lepas dari wajah tampan dan tubuh tegap gagah Alvano, mereka terus menatap Alvano hingga pemandanga dimana mereka merasa tak suka dan sinis. bagaimana tidak, mereka cemburu saat Alvano berpapasan dengan Elina dan mereka saling tatap hingga beberapa detik pandangan mereka terputus karna Alvano yang harus masuk kedalam lift yang sudah terbuka, Alvano sempatkan melempar senyum tipis untuk Elina sebelum masuk kedalam Lift,


sementara Elina dia tertegun melihat senyum tipis Alvano untuknya, apakah senyum indah diwajah Alvano hilang untuknya?, apa dia boleh berharap kembali mendapatkan senyum manis Alvano meskipun hanya sekali saja. Setelah kembali lagi bekerja dia tidak bertemu dengan Alvano, dan ini pertama kali setelah dia kembali dari Jogja .Ya Elina kembali karna dia harus bekerja untuk biaya pindah sekolah adiknya, biaya kontrakan dan peralatan sekolah adiknya yang membutuhkan sejumlah uang yang tak sedikit sekarang


"Hei kalian tau tidak?, kalo selama ini wanita itu hanya orang miskin tau, bahkan dia tinggal kontrakan bersama adiknya. Hih!!,mau aja si Sarah dan Yolanda berteman dengan wanita miskin dan kampuan itu"


"Heh!, aku sudah tau tentang itu, aku juga tau jika dia berangkat ke kantor selalu naik ojek online kalo tidak ojek biasa, kampungan sekali bukan?.Ahahah"


"Sok cantik dan sok baik didepan pak bos, body boleh bagus, tapi sayang miskin dan kampungan. Pasti pak bos suka natap dia karna tubuhnya doang yang lumayan, Gak mungkin sama parasnya kan dia jelek"


"Bener banget Heh!, jelek,miskin dan kampungan hanya modal body doang mana ada mau sama dia, palingan yang mau hanya pria hidung belang. Hahaha"


sindiran dan hinaan dari teman kantornya selalu menemani hari-hari Elina bekerja disana, bahkan mereka selalu mengatakan hal yang terkadang membuat Elina harus menahan tangis dan marahnya, hatinya terlalu sakit dihina oleh orang-orang disekitarnya hanya karna miskin dan berasal dari kampung, apakah salah jika Elina miskin dan berasal dari kampung?, apakah salah jika selama ini Elina tinggal dikontrakan dan selalu naik ojek?, Elina juga tidak mau hidup miskin dan kampungan, tapi mau bagaimana lagi, takdir Elina memang seperti itu, apa lagi Elina tidak bisa memilih saat akan diciptakan nanti.


Kenapa semua orang begitu membencin orang yang miskin dan kampungan, mereka merendahkan yang miskin dan kampungan, tapi merajakan yang kaya dan hidup diperkotaan, Orang-orang membedakan manusia dari kasta, derajat, harta, dan kuasa, apakah mereka lupa jika ada yang lebih dari raja dan segala raja, ada yang lebih patut dirajakan dari pada manusia. Kenapa Elina harus merasakan ketidak adilan ini?, pikir Elina dengan menangis didalam toilet wanita, ya dia sedang berada ditoilet untuk menenangkan dirinya dan menghilangkan rasa sedihnya meski sedikit saja


"Tenangkan dirimu El, jangan menangis lagi oke. Kau kuat, kau bisa menghadapi semua ini dan kau harus kebal terhadap ucapan yang mereka beri untukmu, kau hebat demi adikmu"gumam Elina dengan memandang dirinya didepan cermin toilet


Elina membasuh wajahnya lalu memoleskan sedikit bedak dan lipstik tipis dibibirnya, dia melangkah keluar kembali keruangannya untuk melanjutkan kerjanya, baru saja akan melangkah keluar toilet, dia sudah dihadang oleh sekretaris Alvano dan temannya yang memang suka pada Alvano sejak pertama kali dipindahkan tugaskan, tapi dengan usaha apapun dia selalu gagal mendapatkan Alvano karna pakaian, perilaku dan sifatnya yang memang bukan selera Alvano, bahkan dia selalu mendapat cibiran dan kritik dari Alvano bukan pujian yang dia harapkan


"Permisi"ucap Elina dengan mencoba menyelip diantara keduanya


"Maksud lo apa?"tanya sekretaris Alvano


"Hah!, maksudnya?"tanya balik Elina bingung


"Maksud lo apa deketin pak Al?, dengan gaya lo yang kampungan ini, masih aja ngarep buat dapetin pak Al?, Cih!, dasar murahan"hina sekertaris Alvano, Diana dengan menarik kerah kemeja Elina


"Lepasin!"ucap Elina dengan mencoba melepaskan cengkraman tangan tersebut diperah bajunya


"Lo itu gak pantes sama pak Al, lo itu pantasnya jadi penjual cabe atau tukang sampah lebih cocok buat lo"ucap teman Diana, Vika

__ADS_1


"Apaan sih?, siapa juga yang deketin pak Al, lagian saya gak kenal sama pak Al, jadi mana mungkin saya deketin pak Al"balas Elina setelah cengkraman dikemejanya terlepas


"Cih!, jangan ngeleg deh lo, gue tau kalo lo itu suka sama pak Al, lo pengin kan jadi istri pak Al?, lo gak pantes sama pak Al karna lo itu miskin dan kampungan. yang pantes itu gue bukan lo. Ngerti!"sengut Diana


"Dih!, ngaku cocok sama pak Al, anda aja selalu dicibir, dikritik sama pak Al, Emangnya kamu itu siapanya saya, pake ngatur saya mau deket sama siapa?, suka sama siapa?, dan saya mau nikah sama siapa?, kan itu urusan hidup saya, saya yang menentukan hidup saya sendiri bukan anda. anda disini hanya sebagai sekertaris pak Al. bukan kekasihnya apalagi istrinya. jadi anda tidak berhak melarang saya dekat dengan pak Al. kecuali pak Al yang tidak ingin dekat dengan saya silahkan anda larang saya. Anda tidak tau kan Nona, jika kemarin malam pak Al mengajak saya ke pesta teman kukuhnya dan mengenalkan saya sebagai tunangannya kepada teman-temannya. seharusnya anda sadar siapa yang pak Al inginkan. Anda atau saya? dan satu lagi. Anda ingat ini nona! jangan pernah ganggu hidup saya lagi karna anda tidak berhak mengatur saya. saya dekat dengan keluarga pak Al, bahkan keluarganya juga menyayangi saya, termasuk Mami, Oma. adik-adiknya dan ountynya menganggap saya menantu sekeluarga besarnya. Jadi anda jangan melawan saya jika tidak ingin berurusan dengan keluarga Aditama. Permisi!"jelas Elina membuat Diana san Vika mematung ditempat


"Gue gak salah denger kan? kelurga pak Al sayang padanya sebagai menantu keluarga mereka. bahkan pak Al mengenalkannya sebagai tunangannya didepan teman-teman kuliahnya. Tidak! ,tidak mungkin!, ini tidak mungkin terjadi. Pasti dia bohong, bohong hanya untuk lepas dari gue! Aaaa... Gak... "pekik Diana dengan meninju kaca didepannya


Elina kembali ke ruangannya dengan segera dia menenggak segelas air untuk menetralkan kekesalannya terhadap Diana dan menghilangkan rasa sedihnya, tak lama Sarah datang dengan dua gelas kopi ditangannya dan menatap Elina yang sedang melamun


"El!"panggil Sarah dengan menggoyangkan lengan Elina hingga tersadar dari lamunannya


"Kenapa?"tanya Elina kepada Sarah yang masih menatapnya


"Harusnya gue yang tanya sama lo, lo kenapa?"tanya Sarah sambil memutar bangkunya menghadap Elina


"Aku gak papa kok, cuma lagi kepikiran adik aku aja yang sendirian dirumah"balas Elina tak semuanya bohong


"Ouh.. ya udah jangan dipikirin lah, gue yakin adik lo baik-baik aja dirumah. Ouh iya. Gimana sama pak Al?"tanya Sarah dengan menunjukkan wajah seriusnya


"Gimana apanya?"tanya Elina bingung


"Loh, bukannya pak Al habis berantem ya sama kepala Divisi Produksi tadi?, gue kira lo udah tau makanya gue ta... Eh!... El!.. mau kemana?"panggil Sarah yang melihat Elina langsung berlari begitu saja meninggalkannya yang belum selesai bicara


"Kamu bener Sar, Elina itu emang tidak peka terhadap perasaannya sendiri. Rasa sukanya terhadap pak Al itu ada, ehh...dianya masih aja ngelak gak mengakui jika dia suka sama pak Al, bahkan rela membohongi dirinya sendiri"ujar Yolanda yang mendengar gumaman Sarah


"Hooh, tapi sudahlah, ini urusan percintaan mereka. Kita hanya bisa mendukung apa yang terbaik untuk sahabat kita Elina, Semoga saja perasaan cinta mereka segera menemukan jalan terbaiknya"balas Sarah diangguki oleh Yolanda


Ditempat ruang khusus Prisdir, Alvano sedang menetralkan nafasnya yang masih tersengal-sengal karna amarahnya memuncak saat bawahannya sendiri berani menyerangnya hingga dahi dan pelipisnya berdarah, bawahannya sendiri tega melakukan korupsi hingga 4 triliun hanya untuk foya-foya memanjakan selingkuhannya dan wanita malam diluar sana, hingga membuat Alvano marah besar


"Bos, saya bawakan obat P3K dan ini ada juga es batu untuk mengompres luka anda"ucap Dion dengan meletakkan yang dia bawa dimeja Alvano


"Terimakasih Dion, maaf merepotkanmu dan maaf juga aku sempat membentakmu tadi"cicit Alvano dengan menatap Asisten Dion yang berdiri didepannya


"Tidak masalah bos, saya hanya menjalankan tugas saya untuk menenangkan emosi anda juga meski sulit"balas Asisten Dion dengan terkekeh


"Ya memang itulah aku"ucap Alvano dengan ikut terkekeh,


"Mau saya bantu obati luka anda bos?"tanya Asisten Dion dengan menunjukkan kapas dan obat merah yang dia pegang


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja. Ouh iya kau bisa..."belum selesia ucapan Alvano, suara ketukan pintu mengalihkan atensi mereka dan beralih menatap kesana


Tok.. tok...tok...

__ADS_1


"Masuk"ucap Alvano tanpa menatap kearah pintu lalu pintu terbuka dan menampilkan seorang pria yang merupakan sekertaris Dion yaitu Guntur


"Guntur!, ada apa?"tanya Asisten Dion kepada sekertarisnya


"Maaf tuan dan tuan muda mengganggu waktunya, saya kesini ingin mengantarkan seorang dari divisi marketing untuk mengantarkan berkas kepada tuan muda Alvano"jelas Guntur dengan menundukkan kepalanya


"Baiklah, biarkan dia masuk"ucap Alvano mempersilahkan orang tersebut masuk


"Kalo begitu saya permisi tuan muda"pamit Guntur hanya diangguki oleh Alvano


"Baiklah bos, saya juga ikut permisi untuk mengerjakan pekerjaan saya yang belum selesai, saya permisi bos"pamit Asisten Dion dengan keluar dari ruangan Alvano setelah mendapat anggukan Alvano


Asisten Dion keluar dari ruangan Alvano dan melihat Elina sedang tersenyum kepanya sambil menganggukkan kepalanya memberi salam, Asisten Dion membalas dengan melakukan hal yang sama sebelum langkah Elina membuat tangannya menghentikan Elina


"Ada apa tuan Dion?"tanya Elina bingung dengan tangan mencoba melepas tangan Dion yang mencekalnya


"Maaf nona, anda ingin masuk bukan?"tanya balik Asisten Dion dengan melepas tangannya dari lengan Elina


"Heem"balas Elina dengan menganggukkan kepalanya


"Berhati-hati lah Nona, tuan muda masih dalam mode singa, dia sebenarnya tidak ingin diganggu siapapun saat sedang marah, dan aku selalu melarang siapapun masuk kedalam sana saat tuan muda sedang dalam mode singa, karna dia akan sangat menyeramkan jika marah. Tapi kali ini aku mengizinkan kau masuk kedalam nona, agar kau terbiasa dengan suasana mencekam ini hingga kau tau cara menjinakkannya, dan satu lagi. Selamat masuk kedalam kandang singa yang sedang mengamuk nona. Saya permisi"pamit Asisten Dion setelah misinya mengerjai Elina


'Kapan lagi bisa mengerjai calon bu bos kan?, sebelum sang pawang bertindak lebih baik bermain sekarang tanpa menguji adrenalin' batin Asisten Dion dengan senyum jahilnya


Elina menegang setelah mendengar ucapan Asisten Dion, tapi apa maksudnya 'terbiasa', apa pak Al akan marah-marah terus sampai aku harus terbiasa, pikir Elina lalu membuka pintu ruangan Alvano


"Permisi, selamat siang pak"salam Elina membuka pintu rungan Alvano sambil menyembulkan kepalanya


mendengar suara lembut dan halus yang sangat familiar bagi telinga Alvano membuatnya menoleh dan menatap kearah pintu melihat Elina berdiri menutup pintu ruangannya lalu menghampirinya


"Ekhem... Ada apa?"tanya Alvano gugup


"Maaf pak menganggu, saya mau mengantarkan berkas ini untuk dimintai tanda tangan anda"balas Elina


"Baiklah, kemari"ucap Alvano mengambil berkas ditangani Elina


"Maaf pak. bukannya saya lancang. W-wajah bapak kenapa?"tanya Elina canggung


"Emm.. tidak papa, hanya sedikit pukulan saja"balas Alvano


"Ouh... Emm.. jika diizinkan, apa boleh saya membantu mengobati luka bapak?"tanya Elina ragu sambil menunduk,tanpa dia sadari senyum Alvano mengembang


"Hmm.. Kemarilah, obati aku"balas Alvano dengan memajukan wajahnya kepada Elina

__ADS_1


__ADS_2