
Malam hari telah tiba dan kini adalah acara resepsi pernikahan Elvina dan Dimas, mereka telah selesai dirias dan Elvina tampil begitu cantik menggenakan gaun berwarna biru muda dengan mahkota kecil menghiasi kepalanya seperti seorang ratu kerajaan, ditambah sarung tangan senada dengan bajunya.
Dimas mengenakan pakaian ala raja berwarna senada dengan gaun Elvina yang dipadukan dengan jubah warna biru tua, mahkota raja melingkar dikepalanya dan pedang khusus dibuat dari sterofom disamping kiri tubuhnya. Mereka begitu persis seperti raja dan ratu malam ini begitu cantik dan tampan.
semua tamu memekik melihat ketampanan dan kecantikan pengantin baru itu, termasuk Elina yang tiba-tiba merasa iri dengan adik iparnya. Kenapa dulu dia tidak ada acara seperti ini dan bahkan dia dan Alvano tak pernah memakai pakaian seindah itu layaknya raja dan ratu. Mereka hanya ijab qobul dan resepsipun seperti biasanya tidak seperti Elvina yang berdansa bahkan bernyanyi bersama.
"Mas, kenapa dulu kita gak ada resepsi kaya gini?"tanya Elina pada Alvano yang langsung menoleh padanya.
"Kenapa? bukannya dulu kamu yang minta sederhana aja, hanya ijab qobul, resepsipun hanya sekedar foto bersama keluarga. Aku cuma mengabulkan keinginan kamu aja dan dulu aku juga menawarkan mau bikin pesta kaya gini atau enggak, tapi jawaban kamu enggak, kamunya nolak untuk resepsi mewah-mewah kaya gini katanya buang-buang uang saja"jawab Alvano dengan mengusap tangan Elina digenggamannya.
Bumil itu langsung cemberut mendengar jawaban suaminya, ada rasa menyesal meskipun secuil dihatinya. Kenapa dulu dia menolak resepsi pernikahan semewah seperti ini? jika tau pestanya akan semewah maka dia tak akan menolaknya.
"Kenapa cemberut gitu?"tanya Alvano melihat bibir istrinya yang manyun.
"Gak apa-apa. Aku mau ikutan dansa juga sama kamu boleh?"tanya Elina balik pada Alvano yang tersenyum lalu mengangguk sebagai jawabannya membuat Elina tersenyum senang.
Elina langsung menarik tangan Alvano ketengah panggung berdampingan dengan Elvina dan Dimas yang tersenyum melihat kakak mereka ikut berdansa.
bukan mempelainya yang menjadi pusat perhatian, namun bumil dan suaminya yang berdansa dengan indahnya membuat semua tamu terhipnotis dan yang ada dipanggung menyingkir karna lebih memilih menyaksikan keduanya berdansa ketimbang sang mempelai.
"Astaga! Kak Al sama Kak El itu dimana-mana selalu jadi pusat perhatian dan mereka pasti akan menjadi bintangnya malam ini"gumam Elvina dengan tersenyum melihat Elina dan Alvano yang masih berdansa berdua ditengah panggung.
Elina menghentikan gerakannya dengan posisi berpelukan dengan Alvano yang menenggelamkan wajahnya dileher Elina saat musik berhenti, Alvano mejamkan matanya menikmati momen indah ini bersama istrinya, rasanya dia ingin waktu berhenti sebentar agar dia lebih lama menikmati momen ini.
"Wow.. Tepuk tangan semuanya..."suara MC meminta para tamu untuk bertepuk tangan yang langsung disambut suara gemuruh tepuk tangan dari semua yang hadir membuat Elina malu menyembunyikan wajahnya didada bidang Alvano yang hanya terkekeh.
"Kita turun"ajak Alvano dengan berbisik lalu menuntun Elina untuk turun kembali ketempat duduk mereka.
"Kalian ini. Yang nikahan siapa yang jadi bintangnya siapa?"celetuk Adam membuat Elina menunduk, jujur dia malu sekarang.
"Ya biarin dong. Kan sekalian biar semua orang tau kalo kita pasangan yang romantis dan ini juga kemaun anak aku jadi aku harus turutin kemauan baby"jawab Alvano membuat Adam mencibirnya.
"Mulut Paman mau Al colek pake sambal terasi hah?!"tanya Alvano kesal melihat Pamannya yang memonyongkan bibirnya untuk mencibir.
"Tidak perlu. Terimakasih tawarannya"jawab Adam dengan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Siapa tau Paman perlu supaya Paman tidak selalu memonyongkan bibir Paman untuk mencibir Al"sengut Alvano memandang Adam tajam layaknya seorang musuh.
"Hohoho.. Tidak terimakasih. Lebih baik sambal cabai dari pada sambal terasi. Tapi jika kau ingin mengoleskannya juga tak apa, karna nanti bibirku akan lebih sexy apalagi untuk mencibirmu pasti akan lebih hot lagi"jawab Adam lalu menjulurkan lidahnya meledek Alvano yang langsung menatap Ayah Tama berada tepat dibelakang Adam.
"Jangan usil dengan cucuku Adam, jika sampai kau membuat cucuku menangis maka kau yang akan aku hukum"ancam Ayah Tama justru membuat Adam tertawa, untung saja musik yang diputar Dj cukup keras, jadi tamu lain tak mendengar tawa Adam.
Alvano yang berharap mendapat pembelaan dari Opanya justru Opanya ikut menggoda dirinya didepan banyak orang dan istrinya membuatnya semakin kesal dan memilih pergi dari sana meninggalkan Elina yang masih berbincang dengan Nataza, Nasyla, Bunda Ayu,Karina dan Alika.
"Kak Al kenapa?"tanya Nasyla pada Elina yang hanya tersenyum lalu matanya melirik kearah Adam dan Ayah Tama yang masih tertawa membuat mereka paham sekarang.
__ADS_1
"Kak Adam memang benar-benar jahil jika dengan Al, dari dulu sampai sekarang dia selalu mengganggu Alvano sepertinya setelah dia sudah terbiasa menganggu putraku membuatnya sangat sulit untuk tidak menganggunya semenitpun"ucap Nataza diangguki oleh yang lainnya.
"Mami"panggil Elina pada Nataza yang langsung menoleh seraya tersenyum.
"Kenapa sayang?"tanya Nataza sembari menggenggam tangan Elina yang terlihat sedikit malu-malu.
"Aku pengin sesuatu, tapi aku takut kalian akan marah atau terkejut"jawab Elina membuat yang lain bingung.
"Pengin apa nak. Katakan saja pada kami, akan kami usahakan untuk memenuhinya. Kau mau apa?"tanya Karina sembari mengusap pipi Elina.
"Aku mau... Paman Adam menari diatas panggung tapi pake baju balet"jawab Elina pelan namun dapat didengar oleh Adam yang tak jauh dari mereka.
"No.. gak mau.. paman gak mau sayang. Yang lain aja ya?"tawar Adam pada Elina yang menggelengkan kepalanya.
Astaga seorang Adam, ketua Mafia terkenal disuruh menari diatas panggung menggunakan baju balet dan lagi jambang juga kumis tipisnya akan sangat mencolok nanti jika dia mengenakan baju balet. Jika mengenakan pakaian Spider-Man, Batman atau power rangers tak masalah karna wajahnya akan tertutup. Lah ini balet, ketat dan rok mini, membayangkan otot tubuhnya menjiplak jelas dibaju balet tersebut.
"Enggak mau, harus pake baju balet. Ayo Paman.. pake ya.. Ya.. ya.. ya"bujuk Elina dengan menampilkan wajah memelasnya membuat Adam menghela nafasnya pasrah.
"Udah sana turutin aja. Emangnya kamu mau cucu kamu ileran karna gak diturutin keinginannya?"tanya Karina sambil menahan tawanya pada sang suami yang hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas memohon bantuan.
Kirana haya mengangkat tangannya sembari tersenyum, sama dengan yang lain tak bisa membantu Adam lepas dari korban ngidamnya Elina. Jika mereka membantu bisa-bisa mereka ikut kena sasaran, sama seperti para pria lainnya yang hanya angkat tangan tak ikut campur.
tak lama Alvano kembali dengan dua gelas coklat hangat ditangannya, Ia duduk disamping Elina lalu menyodorkan coklat hangat tersebut pada istrinya. Rasa bingung menghampirinya saat Elina yang terlihat menampilkan puppy eyes pada Adam, sementara Adam terlihat tertekan.
"Ini. Istri kamu nyidam supaya Pamanmu dandan kaya pemain balet, pake baju balet gitu"jawab Alika sambil menahan tawanya melihat wajah Adam yang tertekan.
"Pfftt.. Hahhaha..."tawa Alvano lumayan keras membuat mempelai diatas panggungpun menatap kearah mereka.
"Kak Al kenapa ketawa? kok kaya lucu banget sampai ketawa sekeras itu?tanya Dimas pada Elvina yang menggeleng.
"Aku juga gak tau sayang. Mungkin ada obrolan menarik diantara mereka"jawab Elvina masih menatap kakaknya yang begitu heboh.
"Mungkin aja. Tapi kenapa bisa sebegitu jenisnya coba? dia gak tau kalo dia jadi bahan tontonan para tamu?"tanya Dimas masih menatap Alvano dan para pria dikeluarganya mereka yang ikut tertawa. Sementara Elvina hanya mengadikkan bahunya.
"Biarin aja sayang. Kak Al jarang banget loh ketawa selebar itu didepan umum, kayaknya baru 3 kali ini dia ketawa didepan umum. Tapi kok kamu kaya gak suka gitu nadanya saat Kak Al ketawa gitu?"jawab Elvina lalu bertanya.
"Aku suka aja kok kalo kak Al ketawa, apalagi kalo ketawanya lebar begitu kelihatan kalo dia bahagia banget dan aku juga bahagia. Aku cuma gak mau aja tawa manisnya dia jadi bahan tontonan temen-temen kita yang mata keranjang apalagi ceweknya yang cetil-centil banget, siapa tau a yang jomblo atau udah punya pasangan tiba-tiba suka sama kak Al atau tertarik jadi istri keduanya, kan kasihan kak Elinanya juga yang harus menghadapi para pelakor sampah itu"jelas Dimas membuat Elvina tersenyum, dia cukup terharu atas perhatian Dimas pada kakak dan kakak Iparnya.
"Berdoa aja, semoga sih gak ada yang kaya gitu"jawab Elvina yang diangguki oleh Dimas sebagai jawaban yang tepat.
kembali pada meja Alvano disana Adam terus dipaksa oleh Elina agar menari balet mengenakan kostum balet diatas panggung dengan disaksikan oleh semua tamu, bahkan Elina hampir menangis saat Adam tetap menolak keinginannya atau anaknya, tidak ada yang tau.
"Ayolah paman. Kedepan ya, demi cucumu Paman. Mau ya Paman, Please!!"bujuk Aiden ikut membantu kakak dan Iparnya.
"Iya Paman. Mau ya, demi dedek bayi paman"kali ini Nasyla turun tangan membujuk Adam.
__ADS_1
"Oke.. oke. Hanya demi baby aku akan menari didepan sana mengenakan baju balet"jawab Adam pasrah dan dirinya sudah siap dan ikhlas jika harus ditertawakan oleh semua tamu, Bodo amat dengan julukannya didunia bawah.
Elina yang melihat wajah Adam terlihat terpaksa hanya bisa menahan tangisnya, lalu bangkit dari sana sebelum Adam pergi menuju panggung. Oh astaga, bumil ngambek.
Alvano yang melihat istrinya pergi segera menyusulnya, kepergian Elina pun tak luput dari pandangan Adam yang merasa bersalah sekarang, entah kemana bumil itu akan pergi sekarang. Melihat Elina hendak keluar hotel segera Alvano berlari dan menarik pergelangan tangannya pelan agar berhenti. Setelah Elina berhenti Alvano membawa istrinya kepelukannya dan kini mereka telah berada di loby hotel.
"Mau kemana sayang? udah malam ini, gak baik kalo ibu hamil keluar malam-malam. Masuk lagi yuk"ajak Alvano dibalas gelengan oleh Elina yang semakin menyembunyikan wajahnya didada Alvano dan terisak disana.
"Hai.. kok nangis sih hmm? kenapa? kan tadi keinginan dedek mau diturutin sama Paman, kenapa kok malam nangis?"tanya Alvano dengan membawa Elina duduk disofa loby yang hanya menurut namun tak mau melepas pelukannya.
"Hiks.. M-maaf"satu kata yang keluar dari bibir Elina disela tangisnya membuat Alvano mengernyit lalu menarik kepala Elina pelan agar keduanya saling tatap.
"Kenapa minta maaf? kan kamu gak salah sayang, kenapa kamu minta maaf?"tanya Alvano dengan menatap intens wajah istrinya yang basah karna air mata.
"A-aku udah buat malu.. hiks.. aku.. aku.. udah buat paman marah.. aku..aku salah. Aku lihat kok kalo paman terpaksa untuk nurutin kemauannya aku, aku juga lihat kalo paman marah sam aku. Aku.. aku juga tau kalo paman pasti malu dan paman pasti gak suka lagi sama aku..maaf.. hiks.."tangis Elina dengan mengeluarkan semua apa yang ada dihatinya, terlihat menggemaskan dengan wajah yang basah juga merah karna menangis.
"Husstt.. sayang.. udah ya jangan nangis. Aku jelasin sebentar oke"ucap Alvano menenangkan istrinya didalam pelukan mereka lalu melepasnya dan membersihkan matanya yang basah karna air mata, kemudian kecupan manis Alvano berikan pada seluruh wajah Elina dengan pelan.
"Dengerin aku ya. Paman gak marah sama kamu sayang, paman juga gak mungkin malu karna kamu, Paman cuma lagi capek aja karna kerjaan dan kegiatan pernikahan El sama Dimas. Dan lagi, Paman gak akan nolak ataupun terpaksa atas permintaan keponakan cantiknya ini, apalagi calon baby kita, dia pasti akan turutin kemauan kamu kok. Percaya sama aku, Paman akan buat kamu dan baby selalu happy karna Paman Adam sayang banget sama kamu juga baby"jelas Alvano dengan lembut sembari mengelus pipi juga perut buncit Elina.
Elina yang mendengar penjelasan Alvano langsung tersenyum, meski tipis dia masih merasa belum yakin dengan apa yang diucapkan suaminya barusan.
"Kita kedalam lagi ya. Papi sama Mami pasti udah nunggu dan khawatir sama kita"ajak Alvano sembari melingkarkan tangan kirinya dipinggang Elina dan menuntunnya masuk kedalam.
sampainya didalam, Elina dan Alvano dibuat terbengong bahkan terkejut saat melihat Adam sudah tampil layaknya pemain. balet internasional diatas panggung, meliuk-liuk dengan luasnya bahkan dia sempat memberikan sambutan pada Elina yang sudah meneteskan air matanya terharu dengan apa yang paman Adam lakukan untuknya juga babynya. Tepukan tangan terdengar gemuruh dari para tamu yang melihat itu bahkan ada yang berteriak heboh.
"Khusus ntuk keponakan kesayangan Paman dan calon cucu. Paman ikhlas melakukan ini tanpa terpaksa sayang, hanya untuk kamu dan baby. I love you"ucap Adam disela atraksinya lalu memutarkan tubuhnya sebagai akhir dari permainannya.
"I love you too Uncle"jawab Elina lalu berlari kecil menghampiri Adam dan memeluknya erat.
"Thanks paman. Makasih udah buat Elina dan baby bahagia sekarang. Sayang paman banyak-banyak"ucap Elina dengan tangis harunya disela pelukan mereka membuat semua tamu ikut terharu termasuk Alvano ikut terharu melihatnya.
"Sama-sama sayang. Paman juga sayang Elina banyak-banyak"jawab Adam lalu memberikan satu kecupan didahi Elina.
"Kembalilah ketempatmu. Paman akan ganti baju dulu"bisik Adam dengan terkekeh membuat Elina tertawa kecil lalu menunjukkan jempolnya sebagai tanda oke.
Elina kembali pada Alvano yang mengulurkan tangannya dan disambut uluran tangan olehnya, lalu mereka kembali duduk dibangku mereka kembali.
"Mami udah video atraksi Pamanmu. Jadi untuk bagian yang ketinggalan kamu bisa lihat divideo yang Mami kirim"ucap Nataza setelah mengirimkan video yang dia ambil saat Adam beratraksi dari belum dimulai sampai selesai.
"Makasih banyak Mi"ujar Elina dibalas anggukan serta usapan ditangannya oleh Nataza.
"Sama-sama sayang"jawab Nataza sembari tersenyum.
tak lama Adam kembali dengan wajah tersenyum menatap Elina lalu mengerlingkan matanya membuat Alvano mendelik pada Pamannya itu, namun Pamannya itu hanya tertawa melihat Alvano yang siap untuk mengamuki dirinya, namun Alvano hanya menahan kesalnya saja sekarang saat melihat Pamannya yang masih terus menggodanya dengan mengerlingkan matanya sembari tersenyum jahil.
__ADS_1