Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 14


__ADS_3

Elina mulai mengerjapkan matanya saat mendengar suara orang berbicara disampingnya, saat nyawanya sudah terkumpul semua dan dia membuka matanya lebar-lebar. Elina melihat adanya Nataza dan Nasyla yang sedang berbicara dan tertawa berdua, dengan segera Elina bangun dan menghampiri mereka berdua


"Eh.. kamu udah bangun sayang?, maaf ya udah ganggu tidur kamu karna suara kita"ucap Nataza dengan mengusap pipi Elina pelan


"Gak papa Mi, gak keganggu kok. Emang udah biasa El jam segini udah bangun Mi"balas Elina dengan senyum manisnya


"Ouh iya, sekarang jam berapa?. Mami harus pulang jam 05.25 untuk siapin keperluan Papi berangkat ke kantor?"tanya Nataza yang mencari hpnya


"Jam 04.30 Mi, masih ada waktu kok"balas Nasyla yang menunjukkan jam dihpnya


"Alhamdulillah masih ada waktu. El kamu bisa kan jaga Alvano sampai nanti siang?, Nanti siang Mami baru bisa kesini antar makan siang buat kalian. Ini Mami udah bawa saparan buat kalian nanti kalo. udah dingin panasin aja di microwave yang baru aja Mami bawa, Maaf ya Mami gak bisa bantu-bantu kamu jaga Al"jelas Nataza dengan menggenggam tangan Elina


"Gak masalah Mi, El juga seneng kok bisa bantu-bantu Mami jaga Al disini, dan ya makasih juga buat makanan El, maaf jadi repotin Mami yang harus bolak-balik antar makanan kesini"balas Elina dengan senyum tulusnya


"Sama-sama sayang, ya udah Mami sama Nas pulang dulu ya. Assalamualaikum"pamit keduanya dan meninggalkan rumah sakit


Elina meletakkan tempat makan tersebut dimeja nakas lalu pergi melangkah menuju kamar mandi untuk mandi, ya biasanya bangun tidur dia langsung mandi tapi justru harus mengobrol dengan calon mertuanya, sungguh memalukan pasti wajahnya ada olehnya, pikir Elina yang langsung masuk ke kamar mandi


saat Elina di kamar mandi. Alvano justru baru membuka matanya dengan mata mengerjap-ngerjap mengumpulkan nyawanya, dia menoleh ke arah kamar mandi karna mendengar suara gemericik air sana


'Mungkin Elina yang sedang mandi' batin Alvano lalu dia mencoba bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran ranjang dengan perlahan


Ceklek..


suara pintu terbuka, dan memperlihatkan Elina yang keluar dengan menggosok rambut basahnya, dia menggunakan kemeja lengan panjang warna putih dengan celana kulot warna hitam kotak-kotak putih yang pas ditubuh mungilnya


"Kenapa mandi jam segini?, emang gak dingin Ay?"tanya Alvano penasaran dengan menatap Elina dari atas dan bawah, sementara Elina hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan Alvano


"Kenapa malah ketawa?"tanyanya lagi dengan wajah cemberut


"Yang sakit kan kamu Ay, yang dingin juga ya kamu. Aku kan gak sakit dan hawanya juga panas kok, makanya aku mandi dan alasan lainnya aku udah terbiasa juga saat bangun tidur pasti langsung mandi, kalo enggak rasanya lengket dan gak nyaman"balas Elina lalu duduk diranjang samping Alvano


"Iya sih. aku yang sakit. Tapi gak papa aku suka saat kamu baru mandi, baunya enak, wangi, dan sekarang akan jadi candu untuk aku"ucap Alvano dengan membenamkan wajahnya dileher Elina dan menghirung dalam aroma lavender dari tubuh Elina


"Mau mandi gak? aku lap pakai air hangat"tanya Elina dan dibalas anggukan oleh Alvano


Elina mengambil air panas yang dia rebus tadi, lalu menuangkannya kedalam wadah dengan hati-hati agar tak tumpah. dan menuangkan air dingin kedalam wadah tersebut agar tak terlalu panas dan dicampur dengan sabun mandi Alvano. Setelah selesai dia melangkah menghampiri Alvano dengan membawa handuk kecil lalu dia duduk disamping Alvano


"Emm.. Ay!, gak mau dibuka bajunya?"tanya Elina yang sebenarnya malu


"Ah iya. aku buka dulu"balas Alvano lalu membuka bajunya sendiri dengan memalingkan wajahnya. jujur saja ini untuk pertama kalinya dia membuka baju dihadapan seorang wanita yang bukan makhramnya, bahkan Nataza tak pernah melihat badannya saat dia mulai tumbuh dewasa, tapi sekarang justru calon istrinya yang melihatnya yang belum sah untuknya


"Emm.. Ay aku panggil suster laki-laki aja ya buat lap tubuh kamu. Aku... aku gak bisa lihat karna kita belum sah"ucap Elina yang tiba-tiba berubah pikiran lalu bangun dari duduknya saat mendapat anggukan oleh Alvano sebagai jawaban,sementara Alvano dia menahan senyum memyadari Elina yang malu sama seperti dirinya


dengan cepat Elina keluar dari ruangan Alvano dan memanggil suster laki-laki untuk membantu Alvano. Elina duduk didepan ruangan Alvano dengan memegang wajahnya yang panas saat mengingat saat Alvano membuka bajunya dari kancing bawah bukan dari kancing atas sehingga memperlihatkan perut sixpacknya yang menggoda, sungguh tadi itu tidak aman untuk jantungnya yang langsung berdegup kencang


"Ya Allah El, apa yang kamu pikirin sih?!!,dosa El dia belum halal untuk kamu, gak boleh diingat dosa!... jangan ingat lagi El!,,,jangan ingat!.."gumam Elina dengan menepuk-nepuk pipinya yang panas


"Emm... permisi mba"panggil suster pria yang tadi diminta oleh Elina, dia berdiri didepan Elina dengan tersenyum


"I-iya udah?"tanya Elina dan berdiri dari duduknya


"Sudah mba, kalo begitu saya permisi"balasnya dengan melangkah pergi dari sana,dan Elina segera masuk kedalam ruangan Alvano dengan pelan


Elina melangkah menghampiri ranjang Alvano dan menatapnya yang sedang tertudur dengan tenang. Elina memilih pergi ke kamar mandi saja dari pada harus menatap Alvano pasti akan mengganggu tidurnya. Tapi belum sempat Elina melangkah sebuah tangan memegang erat tangannya dan menariknya membuat Elina jatuh ke pelukkan Alvano

__ADS_1


Elina menatap wajah Alvano yang perlahan mata itu terbuka lebar dengan senyum dibibirnya membuat jantung Elina kembali berdegup kencang. Alvano menatap wajah Elina yang ada diatasnya dengan intens. kini tangannya terulur menyelipkan rambut yang menutupi wajah Elina kebelakang telinga. dengan jahilnya Alvano menarik turunkan alisnya lalu dia meniup wajah Elina membuat Elina sadar dan berdiri dengan tegak


"Mau kemana hmm?"tanya Alvano saat Elina melangkah pergi meninggalkannya


"Mau ke kamar mandi, mau ikut?"balas Elina dan balik bertanya pada Alvano, sementara Alvano langsung membulatkan matanya dan menggelengkan kepala menolak tawaran Elina


sementara Elina ada di kamar mandi. Alvano mengambil hpnya menghubungi sahabat-sahabatnya lewat grup mereka. dengan senang mereka menerima datang ke rumah sakit untuk menjenguk Alvano. tapi nanti agak siangan sebelum makan siang


Ceklek


Elina keluar dari kamar mandi, dan melihat Alvano sedang senyum-senyum sendiri dengan ponsel ditangannya, tak ingin mengganggu Elina memanaskan makanan yang disiapkan oleh Nataza tadi untuk mereka di microwave, setelah menunggu 10 menit makanan kembali dipindahkan dipiring yang dia siapkan tadi dan membawanya menuju Alvano


"Ay, sarapan dulu"ucap Elina dengan meletakkan makanan miliknya dimeja nakas


"Sebentar Ay"balas Alvano fokus pada hpnya, Alvano segera meletakkkan hpnya di nakas setelah selesai bertukar pesan dengan sahabat-sahabatnya


"Aku suapan ya. Aaa..."ucap Elina dengan menyuapi Alvano


"Gimana rasanya?"tanya Elina yang menatap Alvano terus menganggukkan kepalany saat nasi masuk kemulutnya


"He'em.. seperti biasa masakan Mami selalu enak"balas Alvano membuat Elina tersenyum


"Kalo gitu, habisin makanannya"ucap Elina dan diacungi jempol oleh Alvano


"Kamu gak sarapan Ay?"tanya Alvano saat melihat satu piring nasi tergeletak diatas nakas dan bergantian menatap Elina yang sibuk menakarkan makanannya


"Aku nanti aja setelah kamu makan. yang penting kamu makan dulu terus minum obat"balas Elina membuat Alvano menggelengkan kepalanya


"Gak bisa. kamu juga harus makan Ay biar gak sakit"ucap Alvano dengan mengambil piring makanan diatas nakas


"Aku gak mau makan kalo kamu gak makan"balas Alvano dengan menyodorkan piring makanan Elina pada Elina


"Iya.. aku makan"ucap Elina lalu mengambil piring ditangan Alvano dan memakan makanannya


"Nah gitu dong, kan jadi gak nonton aku makan doang"balas Alvano senang dengan merebut piringnya ditangan Elina dan mereka makan bersama pagi ini


****


1 minggu sudah Alvano dirawat dan kini dia sudah bisa pulang ke rumah, dan pernikahan mereka akan dilaksanakan 1 minggu kedepan, besok adalah acara siraman dll untuk mempelai dan semoga kali ini tidak ada halangan lagi


sebelum melewati berbagai acara menjelang pernikahan. Alvano mengajak Elina untuk pergi jalan-jalan ke villa keluarga Aditama yang ada di daerah pegunungan dan tentunya bersama adik-adiknya agar orang tua mereka tidak berfikir yang aneh-aneh pada mereka


Pagi hari pukul 3 subuh selesai sholat tahajut , Elina dan Rania sudah siap dengan koper mereka, meski tak membawa baju banyak dan Alvano bilang akan dibelikan saja disana. tapi Elina tidak mau merepotkan calon suaminya. dia memilih membawa pakaian sendiri dan tidak perlu repot bolak-balik beli baju lagi


Suara klakson mobil membuat mereka bangun dari duduknya dan segera keluar dari rumah, disana mereka sudah melihat jika Alvano bersama adik-adiknya juga sahabat-sahabatnya yang memang selalu ngintil kenan saja Alvano pergi liburan


"Hai kak El, hai kak Rania"sapa Aiden dan Nasyla melambaikan tangan mereka dari dalam mobil Elvina yang dikemudikan Dimas. ya Dimas diminta ikut oleh Nataza untuk menjaga Elvina tentunya


"Hai juga sayang"balas Elina dan Rania dengan ikut melambaikan tangan mereka


"Siap Ay?"tanya Alvano yang berdiri dihadapan Elina dengan menggenggam tangannya



(Style baju Alvano saat ini)

__ADS_1


"Siap"balas Elina dengan menganggukkan kepalanya lalu mereka berjalan menuju mobil Alvano, sementara Rania dia ikut dengan Reza, Riza, Dion dan Yolanda menggunakan mobil Reza



(Style Elina)


Mereka mulai meninggalkan rumah Elina menuju tempat tujuan, mereka begitu menikmati perjalanan mereka kali ini. Ya meski dimobil Alvano hanya mereka berdua, sebenarnya Alvano sengaja menggunakan mobil sportnya karna ingin berduaan dengan Elina saja didalam mobil, tapi tidak mengurangi kebahagiaan mereka, tentu saja dengan candaan dan gombalan receh Alvano membuat mereka tertawa


"Ay!, kamu tau gak kalo bintang cuma ada satu dibumi dan juga paling terang diantara bintang yang lain?"tanya Alvano dengan melirik Elina disampingnya


"Enggak, emang ada bintang dibumi. Paling juga nama orang itu kalo ada dibumi"balas Elina


"Salah"ucap Alvano membuat Elina menatapnya


"Terus bintang apa?, gak ada bintang hidup dibumi terus bersinar lagi"tanya Elina dengan wajah penasarannya


"Kamu bintangnya"jawab Alvano menoleh menatap wajah Elina dengan seksama saat mereka berhenti karna lampu merah


"Kok aku?"tanya Elina dengan menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya


"Iya kamu, kamu bintang dihatiku, yang selalu mengisi hari-hariku dengan bersinar terang dan paling terang diantara bintang yang lainnya"balas Alvano membuat Elina blussing lalu tertawa bersama saat mendengar suara klakson dari belakang mereka, siapa lagi jika bukan mobil Reza


"Woy pacaran mulu, lampunya udah hijau tuh"teriak Riza dengan melongokan kepalanya keluar jendela membuat keduanya terkejut dan menoleh pada mobil Reza, pengendara lainpun ikut menatap mereka dengan menahan tawa mendengar ucapan Riza


"Kampret lu Za, Awas nanti lo"teriak Alvano dengan menurunkan kaca mobilnya, sementara Riza dan yang lain tertawa


"Ay udahlah, yuk jalan keburu merah lagi nanti"ucap Elina dibalas anggukan Alvano


perjalanan mereka lalui kembali dengan melewati lembah, perbukitan, juga hutan yang lumayan lebat, banyak penduduk yang sudah berkeliling disepanjang jalan, mereka menggunakan jaket juga sarung dan ada beberapa daei mereka membawa lampu minyak juga senter sebagai penerangan. Tepat pukul 04.35 mereka baru sampai di villa dengan kondisi cuaca yang turun gerimis tiba-tiba mengharuskan mereka berdiam diri di villa hingga hujan reda


"Selamat pagi Den Al"sapa mang Asep penjaga villa


"Pagi juga mang"balas Alvano dengan menurunkan koper Elina


"Den Al teh beneran mau nikah?"tanya mang Asep


"Iya mang inshaallah minggu depan, do'akan saja mang semoga lancar semuanya sampai hari H"balas Alvano dengan tersenyum menatap Elina


"Amin den, pasti atuh. Mamang teh selalu do'ain yang terbaik buat aden sakeluarga. Eh iya, ngomong-ngomong den nang gelis ini calonnya?"balas mang Asep dengan bertanya


"Iya mang, dia calon saya. Namanya Elina"jawab Alvano langsung memeluk pinggang Elina posesif


"Gelis pisan Den, cocok atuh sama aden yang kasep"puji mang asep


"Makasih mang, kalo gitu kami masuk ya mang, turun lagi geriminya"pamit Alvano dengan menuntun Elina masuk


"Mangga den"balas mang Asep dan melangkah mendekati mobil Alvano untuk membawa koper Elina yang ringan


"Mari mang Asep"ucap Elina dengan menganggukkan kepalanya


"Mangga neng El"balas mang Asep dengan sedikit menunduk


"Aden teh pinter pisan cari istri. gelis pisan si emang teh"gumam mang Asep lalu masuk kedalam Villa memasukkan koper Elina kekamarnya


mereka masuk kekamar masing-masing, termasuk Elina yang satu kamar dengan Rania, Yolanda dengan Elvina,dan Nasyla dia tidur dengan Sarah yang baru saja sampai karna terhalang banjir akibat hujan deras dikota. Sementara Alvano bersama Aiden, Reza dan Riza, Dion dan Dimas tentunya dengan salah satu tidur disofa

__ADS_1


__ADS_2