Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 11


__ADS_3

Kejadian semalam masih membekas dibenak Alvano, ya saat dimana Elina mencium pipinya membuat Alvano tak. bisa tidur, bahkan rasa hangat bibir Elina masih bisa dirasakan Alvano hingga jam 1 pagi dia baru bisa tidur karna mengingat kejadian semalam


Elina yang seakan melupakan kejadian semalam, dia bersikap biasa saja saat bersama Alvano, bahkan dia dengan asiknya mengobrol riang dan tertawa bersama perempuan keluarga Aditama dan hadirnya Alika menambah suasana ramai diantara mereka semua


"Boy!, kapan kau akan menikahi Elina?"tanya Azam mulai serius menatap Alvano


"Aku tergantung kesiapan Elina saja Pi. Kalo dia belum siap bulan depan aku gak bisa maksa dia, itu hak dia apa keputusan dia Al akan ikut. Papi kan tau kalo Elina merasa berbeda dengan kita, tapi akan Al usahakan metakinkan dia dan inshaallah bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan"balas Alvano dengan menyesap teh hangatnya


"Papi akan mendukung apapun keputusanmu, tapi ingat Al!, jangan menunda hal baik yang akan mengubah hidup kamu kedepannya. Papi hanya bisa berdo'a untukmu dan selalu merestui segala keputusan baik yang kau ambil untuk melanjutkan jalan dalam hidupmu kedepannya"balas Azam memberikan tepukan ringan dibahu Alvano dengan senyumnya menatap putranya yang kini sudah tumbuh dewasa dan akan segera menikah


"Terimakasih banyak Pi. Papi akan selalu menjadi Papi terbaik untuk Al, Love You Pi"ucap Alvano langsung memeluk Azam dan dibalas pelukkan oleh Azam, bahkan air mata Azam turun mendekar kalimat cinta dari putra sulungnya


"I Love you more my prince"balas Azam lalu mengecup dahi Alvano, ya sebentar lagi dia akan ditinggal oleh putranya ini setelah dia menikah Alvano akan tinggal dirumah yang sudah dia beli bersama Elina, meski jarak rumah tidak terlalu jauh dari rumahnya, tapi tatap saja dia akan jaih dari putranya yang manja ini


"Sudahlah, kenapa jadi drama menangis seperti ini. Seperti sinetron ditv itu yang pemeran wanitanya selalu menangis"celetuk Azam bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerjanya, sementara Alvano yang mendengar ucapan Papinya hanya terkekeh


****


didalam kamar yang dominan semuanya berwarna pink, dan tentu saja identik dengan kamar perempuan. Didalam sana terdapat Elvina yang sedang berbalas chat dengan Dimas, ya setelah pertemuan pertama dibutiknya dengan Dimas membuat mereka sekarang menjalin hubungan, ya meski masih teman tapi sikap keduanya menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari teman


Elvina terus berguling ke kanan dan kiri saat membalas chat dari Dimas, bahkan guling serta bantal sudah tergeletak dilantai, dia menggigit selimut dan kukunya saat Dimas meluncurkan kata-kata yang sebenarnya bukan gombal, tapi Elvina yang dasar baperan jadi terbawa perasaan setiap Dimas mengatakan kejujuran tentang dirinya,


kini Elvina sedang duduk didepan meja rias, setelah mandi dan dia sedang menunggu pesan dari Dimas, Dimas mengatakan akan menghubunginya setelah tadi pagi-pagi sekali dia datang kesini hanya untuk mengajak Elvina jogging di sekitar taman kota, dan Elvina berniat menuju buruknya untuk mengecek baju pesanan yang katanya 20% lagi jadi sempurna sesuai pesanan


Ting...


ponsel Elvina berdering, ada pesan masuk dari seseorang membuat gerakan tangan Elina yang sedang melukis alisnya terhenti dan segera membuka ponselnya. Dengan segera Elvina membukanya dan menampilkan nama seseorang yang tadi sempat dia pikirkan dan tunggu-tunggu


...Dimas😋...


'*El!, Maaf jika aku mengganggu waktumu pagi ini'


'apakah nanti saat jam makan siang kau ada waktu? . Jika ada apakah boleh aku menjemputmu*?'


'Mamaku ingin bertemu denganmu,katanya dia rindu dan ada hal yang ingin dibicarakan denganmu, apa bisa El?'


pesan dari Dimas, membuat senyum Elina mengembang dan dengan semangat dia membuka pesan tersebut, setelah membacanya dia mulai membalasnya dan mengirimnya pada Dimas, Elvina tak henti-hetinya tersenyum saat mengingat Dimas akan menjemputnya


****


ditempat lain Dimas sedang membaca berkas-berkasnya lalu menandatanganinya seketika menghentikan pergerakannya saat pendeknya berbunyi, dengan segera dia membukanya dan berharap dalam hati jika itu pesan balasan dari Elvina, Dimas membuka pesan tersebut dan senyumnya mengembang dan melihat nama Elvina yang tertera diponselnya telah membalas pesannya


...Elvina Cntk😜...


'Tidak mengganggu sama sekali'


'Tentu, aku ada waktu nanti'


'Boleh Aja Dim, jam 11 siang aku udah dirumah, aku tunggu kamu disana'

__ADS_1


Dimas yang membaca balasan pesan dari Elvina tersenyum bahagia, dengan cepat dia menghubungi Mamanya dan mengatakan jawaban Ekvina barusan, setelah dibalas ole Mamanya, Dimas mengirim pesan kembali pada Elvina


...Elvina Cntk 😜...


'Baiklah tunggu aku nanti siang'


'Semangat bekerja El!!'


Ting..


ponsel Elvina kembali berbunyi dan menampilkan nama Dimas,dengan segera Elvina membukanya dan mulai membalasnya dengan senyum tak luntur dari bibir manisnya


...Dimas😋...


'Selamat bekerja juga untukmu 💪🤗'


balas Elvina kepada Dinas dengan senyum selalu mengembang tak pernah pudar dari bibir keduanya saat saling mengirim pesan


****


Elina duduk termenung dibangku taman rumah Alvano, dia sedang menatap bunga-bunga dan kupu-kupu yang ada disana tapi pikirannya larut memikirkan masalah pernikahannya dengan Alvano, apa dia pantas menikah dengan pria yang terlalu sempurna untuknya?, tapi jika bukan Alvano siapa lagi yang akan menerima gadis yatim piatu dan juga miskin, apakah Alvano hanya kasihan padanya karna dia miskin dan yatim piatu?, pikir Elina


"Tidak!, pasti pikiranmu salah. Seolah El jangan berpikir seperti itu, jangan!!"gumam Elina dengan menangkap jawabnya dengan telapak tangannya


"Ay!"panggil Alvano yang datang dengan membawa secangkir coklat dingin dan kue buatan Maminya


"Kenapa disini Ay?, kau sedang melamun bukan?"tanya Alvano dan dapat menebak apa yang dilakukan tunangannya


"Kau bohong!, kau sedang melihat kearah gerbang itu kan?"sengut Alvano kepada Elina dengan mata memincing curiga


Elina mengikuti arah pandang Alvano dan melihat beberapa pemuda yang sedang duduk dibangku taman dekat dengan gerbang taman rumahnya dengan tubuh yang basah karna keringat, menambah kesan coll dan sexy saat tubuhnya tercetak dibajunya yang basah, sepertinya mereka habis jogging dan mereka seperti sedang beristirahat disana dan ada yang bertelanjang dada karna kaos yang basah, pantas saja Alvano mengatakan bohong padanya ternyata karna melihat mereka


'Kerjain ah'batin Elina dengan menahan rasanya


"Ya sedari tadi aku memang melihat kearah gerbang"balas Elina dengan menahan tawanya


"Ouh... pantas saja sedari tadi kau melamun, rupanya sedang menatap mereka iya?"tanya Alvano dengan memajukan wajahnya ke wajah Elina


"Memangnya kenapa hmm?, mereka kan tampan juga jadi gak papa kan buat cuci mata aku yang bosen lihat ketampanan kamu"balas Elina memajukan wajahnya dan Alvano reflek memundurkan wajahnya, mendengar ucapan Elina membuat tangan Alvano mengulur merengkuh pinggang Elina dan mendekatkan tubuh Elina padanya


"Ay!"panggil Elina terkejut akan perlakuan Alvano padanya yang tiba-tiba


"Jadi mereka lebih tampan dari pada aku hmm? dan kau bosan pada ketampananku ini?"tanya Alvano dengan menampilkan senyum smirknya


"Jika iya kenapa?, kan setiap hari aku selalu melihatmu dan tampilanmu yang memperlihatkan ketampananku. tapi aku bosan karna setiap hari harus melihatmu. jadi aku ingin mencuci mataku dengan melihat mereka dan jelas berbeda darimu"balas Elina justru membuat Alvano memeluknya


"Jangan melihat siapapun atau melirik apapun selain aku Ay, aku gak mau, aku gak suka punya aku natap yang lain apalagi ditatap orang lain, kamu cuma punya aku, gak ada yang boleh ambil kamu dari aku, gak boleh pokoknya. Jangan berpaling dari aku Ay, please aku gak mau kehilangan kamu"bisik Alvano dengan nada suara mulai serak, Elina yakin Alvano menangis saat ini dalam pelukkannya, dengan pelan Elina melepas pelukkan mereka


Elina menatap wajah Alvano yang berair dan mata yang menggenang penuh air mata siap tumpah kapan saja, dengan cepat Alvano menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir dari matanya dengan bibir dimajukan membuat Elina gemas, ini dia sisi manja Alvano, dia akan seperti anak kecil dan dia keluarkan ketika bersama dengan orang yang dia cintai dan sayangi seperti keluarga dan Elina

__ADS_1


"Hai kok nangis sih?"tanya Elina dengan mengangkat kepala Alvano yang menunduk untuk menatapnya, bahkan air matanya masih saja mengalir membuat Elina terkekeh


"Kok ketawa sih?, kan aku nangis kenapa malah ketawa?"tanya Alvano kesal menatap Elina yang terkekeh


"Gak papa, lucu aja, kamu udah segede ini masih aja nangis, bikin gemas tau gak"balas Elina dengan menarik hidung mancung Alvano pelan, sementara Alvano masih cemberut


"Jangan liatin mereka Ay, aku gak suka"ucap Alvano dengan suara serak khas habis menangis lalu Alvano memeluk Elina kembali, bahkan menyembunyikan wajahnya dileher Elina


"Gak kok, gak akan aku lakukan itu, aku cuma bercanda tadi. Kalo sampai aku lakukan itu bisa dibunuh aku sama kembaran kamu juga Mami kamu"balas Elina tersenyum menyadari ucapannya


"Mereka gak akan lakukan itu sama kamu, mereka kan sayang sama kamu. Tapi aku yang akan hukum kamu kalo kamu nakal dibelakang aku"ucap Alvano dengan tangan menghapus air matanya, sementara Elina menaikkan sebelah alasnya bingung dengan ucapan Alvano


"Maksudnya hukuman?, emang kamu tega hukum aku?"tanya Elina dengan memincingkan matanya menatap Alvano


"Tega aja, kamu juga bakal tau nanti saat waktunya tiba, yang jelas kamu harus siap saat hukuman kamu tiba sayang"bisik Alvano ditelinga Elina, lalu membenarkan posisi duduknya dengan menyesap coklat dingin yanv sedari tadi menjadi saksi diantara mereka, bahkan dia tersenyum smirk dibalik cangkir yang menutupi bibirnya saat menyesap coklat dingin tersebut


Sementara Elina, pikirannya melayang membayangkan hal-hal kotor yang menjerumus pada kegiatan panas diantara dirinya dan Alvano nanti, bahkan dia juga membayangkan milik Alvano seperti apa dan apakah muat jika masuk pada miliknya nanti, bahkan Elina membayangkan gaya apa saja yang akan mereka lakukan nanti, dengan cepat Elina menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran kotor dalam otaknya lalu menatap Alvano yang dengan santainya memainkan ponselnya


'Gak El, gak boleh pikir hal kotor seperti itu, dosa El astaga gak boleh!!!...Tapi kalo emang maksud Alvano 'Itu'gimana dong?, aku harus gimana?, masa aku harus tanya sama Mami Nataza, kan malu!!..Ahhh.... gara-gara Al otaknya jadi kotor'teriak Elina dalam hati lalu melangkah menuju ayunan ditengah taman dengan tangan membawa cangkir coklat dingin yang Alvano buat untuknya


"Mau kemana Ay?"tanya Alvano yang sadar dengan kepergian Elina


"Disini"balas Elina duduk setelah duduk diayunan dengan menatap sang surya yang mulai naik


Alvano melangkah menghampiri Elina dan duduk diayunan setelahnya dengan menatap wajah Elina dari samping. rambutnya yang diterpa oleh angin hingga beterbangan kemana-mana. bahkan ada yang menutupi wajahnya membuat Elina kesal sendiri, Alvano hanya terkekeh menyaksikan tunangannya yang kesal karna rambutnya tertiup angin


"Sini aku bantu"ucap Alvano menghampiri Elina dan berdiri dibelakangnya


jemari tangan Alvano mengambil rambut Elina dan mengumpulkannya sedikit keatas lalu mengikatnya dengan ikat rambut yang menjadi gelang tangan Elina. Alvano dapat merasakan halusnya rambut Elina dan mencium wanginya yang membuat dia nyaman sekaligus jantungnya maraton, bahkan kini setelah dia berhasil mencepol rambut Elina. Alvano dapat melihat leher jenjang Elina yang putih dan mulus, dalam lubuk paling dalam ingin rasanya Alvano mencicipi itu. tapi takut dosa katanya karna belum halal dan tentu saja akan membuat Elina membencinya


"Kak Al, Kak El, kak Reza sama kak Galang kesini mencari kakak, mereka menunggu kakak diruang kerja kakak dan kak El ditunggu Mami diruang keluarga"ucap Aiden yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan kakaknya


"Ah.. iya kami akan kesana sebentar lagi"balas Alvano membuat Aiden melangkah pergi meninggalkan mereka


"Ayo masuk Ay"ajak Elina dengan tangan membawa gelas coklat dingin yanv sudah kosong daan menggandeng Alvano masuk kerumahnya


"Kita pisah disini. aku masuk dulu"ucap Alvano dengan melepas tautan tangan mereka lalu mengecup dahi Elina


"Elina gak akan ilang kali Al. mau keruang kerja aja pake kecup sana, kecup sini kaya mau keluar negeri aja gayamu"sindir Nataza yang tiba-tiba muncul dibelakang Elina membuat keduanya terkejut


"Ihh.. Mami bikin kaget tau gak kaya hantu"ucap Alvano lalu dengan cepat menutupi mulutnya dan mata melotot menyadari ucapannya barusan


"Ngomong apa tadi Al?"tanya Nataza memulangkan tangannya didepan dada dan menghampiri mereka


"Hehe...maaf Mi keceplosan"balas Alvano cengengesan dan memundurkan langkahnya meninggalkan Elina dan Nataza, tapi sebelum pergi dia sematkan untuk mencium pipi Elina terlebih dahulu


"Bye Ay!!. Bye Mami!!"lanjutnya setelah sampai didepan pintu ruang kerjanya dengan segera Alvano menutup pintunya sebelum singa betinanya mengamuk


sementara Elina hanya terkekeh melihat tingkah Alvano dan Antara hanya geleng-geleng kepala melihat putra sulungnya, apa dia dapat melihat lagi berbagai tingkah konyol putra sulungnya itu nanti setelah dia menikah?, semoga saja masih bisa, batin Nataza

__ADS_1


"Ayo sayang"ajak Nataza kepada Elina dan membawanya menemui para tetua diruang keluarga untuk membahas pernikahan mereka


__ADS_2