
Hujan telah berhenti dan kini hanya tersisa rintik kecil gerimis dan genangan air disekitaran jalan dan depan Villa Indah milik keluarga Aditama, selesai sholat subuh Elina beserta Rania keluar dari Villa untuk berkeliling kebun teh, mereka yang awalnya hanya berdua kini menjadi berlima
Yolanda, Sarah, Nasyla dan Elvina mereka juga menyusul Elina dan Rania untuk berjalan-jalan keliling kebun teh, udara pagi yang sejuk ditambah sehabis hujan dan sekarang tersisa rintikan saja membuat udara semakin sejuk dan dingin, tapi tidak menyurutkan tekat mereka untuk berjalan-jalan keliling kebun teh
Sementara para pria, mereka sedang kelimpungan mencari para kekasih dan adik mereka. bagaimana tidak Alvano yang niatnya mau mengajak Elina sarapan justru yang dicari malah tidak ada sama sekali dikamar, bahkan adik-adiknya juga tidak ada dikamar mereka. Alvano mencari kamar Yolanda dan Sarah tapi juga tidak ada membuat Alvano panik dan membangunkan semua para pria yang masih bergulung dibawah selimut masing-masing
Alvano mencoba menelfon Elina, Rania, Elvina, Nasyla,Yolanda dan juga Sarah, tapi tidak ada yang bisa dihubungi. Alvano lupa jika sevilla tersebut memang susah sinyal terkadang ada terkadang tidak, dan sekarang mereka sial karna tidak ada sinyal disana
"Kak. kita tanya mang Asep aja yuk, siapa tau dia tau dimana para cewek berada?"usul Aiden dan langsung disetujui oleh kakak-kakaknya
sampainya dikebun belakang, ternyata mang Asep sedang membersihkan tanaman dari rumput liar, sementara istrinya bu Marni sedang mencuci peralatan dapur setelah masakan matang, dengan segera mereka mendekati mereka dan bertanya
"Permisi bu Murni"sapa Alvano dengan menyalami bu Murni diikuti oleh sahabat dan adiknya
"Ehh... Den Al ada apa kesini?"tanya bu Murni
"Gini bu, kita mau tanya sama ibu juga malang sebenarnya. tapi memang lagi sibuk jadi kita tanya ibu aja gak papakan?"jelas Alvano dengan bertanya
"Tidak apa-apa Den, Mau tanya apa Aden-aden ini?"tanya bu Murni dengan menuntun mereka menuju ruang tamu rumah mang Asep yang dibuat megah khusus untuk penjaga villa beserta keluarga
"Gini bu, jadi tuh kita kesini mau nanya lihat calon istri, kekasih sahabat saya juga adik-adik saya gak?, soalnya saya keliling villa gak ada sama sekali bu. Kita cemas dan takut dengan mereka yang keluar sendirian tanpa laki-laki bersama mereka"jelas Alvano dengan guritan kekhawatiran terlihat jelas diwajahnya
"Loh memangnya tidak ngasih tau kalo mau pergi keluar villa gitu sama Aden-aden sekalian?"tanya bu Murni terkejut
"Enggak bu, makanya kami tanya sama ibu siapa tau lihat, kita khawatir sama mereka bu"balas Dion dengan wajah cemasnya
"Ibu gak tau kemana non-non pada pergi, yang jelas ibu hanya tau setelah sholat subuh mereka duduk diteras depan"ucap ibu Marni semakin membuat mereka khawatir
"Kak, lebih baik kita cari mereka ke lokasi kebun teh atau ke lokasi air terjun, siapa tau mereka kesana"usul Dimas pada Alvano
"Kita setuju, ayo gaes. Ibu titip villa ya kalo ada mereka udah balik tekan aja tombol merah digelang itu ya. itu akan langsung berhubungan dengan jam tangan saya"jelas Alvano dan dibalas anggukan oleh bu Murni
Alvano dan yang lainnya langsung pergi menuju perkebunan teh yang terletak tak jauh dari villa. Lalu Dimas memberi usul jika mereka berpencar saja 3 orang ke air terjun dan 3 orang ke kebun teh, dan usul itu diterima oleh semuanya
mereka berkeliling menyusuri kebun teh dan dipertengahan kebun teh Alvano menghentikan langkahnya membuat Aiden dan Dimas ikut berhenti. Alvano menemukan gelang tangan Elina yang sama persis seperti miliknya yang dia titipkan pada bu Murni tadi sebelum pergi dan dia justru menemukan milik Elina tergeletak diatas tanah dengan kondisi kotor
"El, semoga kamu gak papa sayang"gumam Alvano menatap gelang tersebut dengan tatapan khawatir juga takut
"Kak, kita cari lagi aja mereka, kita udah nemu petunjuk dari gelang kak Elina disini. Berarti mereka ada disini kak bukan sisir terjun"ucap Aiden memang ada benarnya juga
"Ya kau memang benar bocah, tapi kau mencari disekitar mana lagi?, kebun teh seluas ini dan kita baru mencari belum setengah kebun ini"jawab Dimas dengan memiting kepala Aiden
"Ampun kak sakit.. "ringis Aiden saat telinganya dijewer pelan oleh Dimas
"Dasar lemah"ejek Dimas membuat Aiden mendelik menatapnya
"Ehh.. kak Al tungguin"teriak Aiden saat melihat Alvano sudah berjalan duluan meninggalkan mereka saat Dimas sedang memiting kepala Aiden
mereka segera mengejar Alvano menyusuri kebun teh, dan mereka menemukan lagi syal milik Elvina yang diberikan Dimas sebelum mereka pergi ke villa, perasaan Dimas mulai tak tenang saat melihat syal itu tergantung dipohon teh dengan sedikit robek dibagian tengahnya
"Ini kan punya Elvina. Aku baru aja beliin dia syal sebelum kita kesini kak"ucap Dimas menambah kekhawatiran Alvano dan juga rasa takut akan sebuah kejadian yang menimpa orang-orang tersayangnya
"Kita cari lagi kesana"tunjuk Alvano pada beberapa gubuk ditengah kebun teh, biasanya dipakai oleh para petani teh untuk beristirahat
saat mereka melangkah, jam tangan Alvano menyala dan mereka langsung bernafas lega saat menyadari jika tombol darurat digelang miliknya ditekan oleh ibu Murni sesuai pesannya tadi
__ADS_1
"Berarti mereka udah balik dong kak ke villa?"tanya Aiden membuat Alvano menganggukan kepalanya
"Kita balik ke villa"perintah Alvano lalu melangkah meninggalkan kebun teh dan diikuti oleh Dimas juga Aiden
"Kak Al, tunggu"ucap Dimas, dia melangkah kesebuah gubuk karna melihat sepasang sepatu tergeletak disana
"Ini sepatu punya... "ucapan Dimas terpotong ketika Alvano menyambarnya
"Elina!!"seru Alvano saat menyadari jika Elina tadi memakai sepatu warna putih sama sepertinya
"Kenapa ada disini sepatunya?, terus kak Elina kemana kenapa sepatunya ditinggal disini?"tanya Aiden bertubi-tubi
dengan segera Alvano berlari menuju villa, pasti ada yang telah terjadi kepada Elina sehingga dengan cerobohnya mereka meninggalkan sepatu Elina disana. Alvano sampai di villa dan langsung menerobos masuk kedalam dan langsung berlari ke kamar Elina
benar dugaan dan firasat Alvano, Elina sedang tidak baik-baik saja dan sekarang Elina terbaring diatas ranjang tak sadarkan diri dengan plester didahinya
"Lo kemana aja sih Al?, dicari-cari gak ketemu dan juga jam tangan lo gak berfungsi sampai lo gak balik saat tuh gelang gue teken sampe beberapa kali"ucap Reza kesal pada Alvano, sementara Alvano dia menatap sendu Elina dengan paha dia gunakan sebagai bantal kepala Elina
"Bisa diam gak!!"sentak Alvano membuat mereka semua terdiam
"Kenapa El bisa kaya gini?"tanya Alvano pada para gadis disana
"Jawab pertanyaan gue kenapa?"uangnya dengan sedikit meninggikan suaranya. namun tidak ada yang menjawab satupun
"JAWAB!!!"bentak Alvano membuat mereka terkejut lalu menunduk salah
"Rania jawab kakak?, kenapa kak El kaya gini?"tanya Alvano dingin pada calon adik iparnya
"Jawab Rania"teriak Alvano membuat Rania kembali terkejut juga takut
"M-maaf kak Al. K-kak El nolongin Rania saat Rania mau jatuh ke jurang dibelakang Rania karna Rania tadi menghindar dari gigitan ular, makannya Rania mundur dan gak sengaja kegelincir dan hampir jatuh ke jurang. Untung aja kak El narik Rania menjauh dari sana dan kita gelinding sampai Rania gak sadar kalo kepala kak El kebentur batu, terus berdarah dengan posisi Rania diatas kak El. Maaf kak Al, Rania salah.. Hiks.. maaf"jelas Rania dengan tangis yang sedari tadi dia tahan akhirnya keluar juga saat Alvano memejamkan matanya
"E-enggak"balas Rania takut dengan mengusap air matanya yang mengalir
"Sini"pinta Alvano dengan merentangkan tangannya meminta Nasyla, Elvina dan Rania memeluknya, mereka melangkah pelan menghampiri Alvano lalu memeluknya
"Maafin kakak ya karna udah bentak kalian, Kalian gak salah kok. yang salah ularnya yang tiba-tiba muncul"ucap Alvano membuat Rania mengangguk
"Kak Al gak marah lagi kan sama kita?"tanya Rania polos denga menatap wajah Alvano
"Enggak sayang, kakak gak marah lagi sama kalian juga sama yang lainnya juga. Maafin saya udah bentak kalian semua"balas Alvano dengan mengucapkan permintaan maaf
"Tidak masalah pak Al, kami tau perasaan anda"balas Sarah dan diangguki oleh Alvano
"Al, kalo gitu kita semua keluar dulu ya, biar nanti sarapan lo sama Lina bu Marni yang anter"ucap Reza dan diangguki oleh Alvano
semuanya telah keluar, kini hanya tinggal Alvano dan Elina yang belum sadarkan diri. Alvano menatap lengan Elina yang memar akibat jatuh merasa ikut sakit, Alvano pergi kedapur mengambil es batu disana untuk mengkompres luka memar dilengan Elina
"Ay!"panggil Elina lirih, melihat Alvano yang sedang merendam kain untuk mengkompres lengan Elina
"Kamu udah sadar Ay?"tanya Alvano antusias dan dibalas anggukan pelan oleh Elina
"Alhamdulilah ya allah. Sebentar aku komores dulu luka memar kamu"ucap Alvano dengan telaten mengkompres luka memar Elina bahkan dengan hati-hati tanpa menekan sidikitpun
"Sssttt..."ringis Elina saat rasa linu bercampur perih dilukanya
__ADS_1
"Maaf Ay, perih ya?"tanya Alvano karna melihat ada sedikit lecet tapi lumayan lebar diluka memar tersebut
"He'em, pelan Ay"jawab Elina lirih dengan menahan perih
"Tahan ya Ay, nanti setelah dekompresi baru lecetnya diobati"ucap Alvano sambil terus menempelkan kain kompres dilengan Elina
Setalah 5 menit, akhirnya Alvano menyudahi mengomoresnya dan dia mengambil kotak p3k didalam tas milik Elina, Elina selalu membawa kemanapun kotak p3k untuk persediaan saat dibutuhkan seperti sekarang
Alvano mengambil sebuah kapas dan menuangkan obat merah pada kapas tersebut, lalu dengan perlahan dia oleskan pada luka terbuka Elina dengan hati-hati dan memandang wajah Elina yang sedang menahan perih dilukannya membuat hati Alvano tercubit sakit
"Sebentar, aku kasih plaster dulu"ucap Alvano dengan memulangkan kapas baru lalu ditutup dengan plaster sebagai perekat agar tak jatuh
"Udah, selesai"ucap Alvano setelah selesai
Elina bangun dari rebahannya dan duduk bersandar disandaran ranjang dengan senyum mengembang diwajahnya menatap Alvano, Alvano hanya mengernyitkan alisnya menatap Elina yang menatapnya dengan tersenyum
"Kenapa senyum-senyum gitu hmm?"tanya Alvano ikut tersenyum dengan menopang dagunya menggunakan tangan
"Gak papa, lagi pengin senyum aja"balas Elina dengan ikut menopang dagunya sama persis dengan Alvano membuat wajah mereka begitu dekat
"Bohong, pasti ada sesuatu yang spesial kan?"tanya Alvano dengan selidik
"Iya kamu yang spesial buat aku"balas Elina membuat Alvano salah tingkah dengan menggigit bibir bawahnya menahan senyum bahagianya
"Masa sih?, emang aku martabak pake yang spesial?"tanya Alvano menahan saltingnya
"Kamu lebih dan lebih spesial dari martabak, kamu spesial dihidup aku"balas Elina membuat Alvano tersenyum lebar dan tanpa sadar menarik Elina kepelukannya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah karna blussing
"Aaa.. malu Ay"seru Alvano diceruk leher Elina, sementara Elina hanya tertawa kecil melihat tingkah Alvano
Tok... tok... tok...
suara ketukan pintu mengejutkan keduanya, langsung saja Alvano melepas pelukkannya pada Elina dan duduk seperti biasa, bahkan sekarang Elina yang wajahnya berubah merah karna kutangkap basah oleh bu Marni
"Punten Den, Non. Apa saya mengganggu kalian?"tanya bu Murni merasa tak enak karna anak majikannya sekarang berwajah merah, bahkan calon istrinya menunduk karna malu
"Gak sama sekali bu, ada apa bu?"balas Alvano dengan bertanya
"Ini Den, saya cuma mau nganter sarapan untuk Aden dan Non El. Tadi saya diminta sama non Elvi buat anter ini katanya kalian belum sarapan"jelas bu Marni dengan menunduk merasa tak enak pada Elina yang sama masih menunduk malu
"Ouh iya, masuk aja bu Marni"jawab Alvano dan bu Marni langsung saja masuk
"Sudah Den, kalo gitu ibu permisi Aden, Non"pamit bu Marni, sementara Elina langsung membuang nafasnya pelan saat suara pintu tertutup
"Kenapa nunduk dari tadi?"tanya Alvano memperhatikan wajah Elina yang masih sedikit merah
"Malu tau Ay, ada ibu mana dia lihat lagi tadi"balas Elina dengan memukul pelan lengan Alvano, meski tak terasa sakit
"Biarin aja kali Ay, ibu juga gak akan ngomong kesiapapun, ibu juga pernah muda kan ya pasti dia pernah juga"ucap Alvano membuat Elina diam
"Mau aku suapin ga?"tanya Alvano saat mengambil piring makanan, Elina menatap lengan kanannya, benar dia pasti tidak akan bisa bebas beraktivitas hanya digerakkan sedikit saja sakit dan juga ngilu
"Boleh, maaf ya udah repotin"ucap Elina membuat Alvano menghentikan gerakan tangannya
"Gak ada yang tetoron buat kamu akan aku lakukan segalanya buat kamu sekuat dan sebisa aku, asalkan kamu terus bahagia hidup sama aku"balas Alvano membuat mata Elina berkaca-kaca
__ADS_1
"Aku bahagia kok, sangat bahagia bisa kenal kamu dan akan selamanya hidup semati sama kamu. Love you Ay"ucap Elina membuat Alvano tersenyum bahagia
"Love you more Ay"bisik Alvano lalu mengecup pucuk kepala Elina