Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 36


__ADS_3

Setelah pembahasan soal teror tadi bersama Daren, kini Alvano mulai menyelidiki siapa sebenarnya Jonathan Richard ini, sungguh dia tidak akan tenang membiarkan Elina pergi ke kantornya dengan pengawalan ketat sekalipun jika Jonathan Richard ini belum tertangkap dan menerima hukumannya


Alvano fokus didepan laptopnya sambil menemani istrinya yang tengah memakan salad buahnya, sesekali ia menerima suapan salad tersebut yang menyodorkan untuknya


"Mas!"panggil Elina yang menatap suaminya yang begitu fokus dengan laptopnya


"Kenapa hmm.."jawab Alvano tanpa menoleh pada Elina yang mendengus


"Ihh.. lihat sini dong. Emangnya laptop lebih menarik apa dari pada istri kamu sendiri?'tanya Elina kesal membuat Alvano terkekeh lalu menatap istrinya yang cemberut dengan senyum manisnya


"Ada apa hmm? kenapa?"tanya Alvano dengan menyangga dagunya sambil menunjukkan ekspresi menggodanya


"Gak jadi, lanjut aja sama laptop kesayangan kamu itu"jawab Elina lalu pergi meninggalkan suaminya menuju kamarnya membuat Alvano menghela nafas


"Terlalu sensitif memang kalo lagi hamil, gak dijawab salah, dijawab juga salah"gumam Alvano menyalin filenya lalu menutup laptopnya setelah selesai menuju kamarnya menyusul istrinya


Alvano masuk kedalam kamar dan melihat Elina duduk diayunan dibalkon kamar mareka yang tengah menatap lurus ke arah taman sambil mengayunkan kakinya kelantai, bahkan bibirnya manyun dengan wajah yang murung


Ia menghampiri istrinya dan duduk dibangku sebelah ayunan menatap Elina yang memalingkan wajah darinya, matanya mulai berubah berkaca-kaca menahan tangis


"Kenapa hmm? kok nangis sih cantik? tadi aja happy, tapi sekarang malah sedih? ada apa?"tanya Alvano lembut sambil mengusap pipi Elina yang basah karna air matanya


"Mau disuapin kamu, tapi kamu sibuk terus sama laptop"jawab Elina lirih sambil menundukkan kepalanya, sementara Alvano Ia tersenyum manis saat mendengar jawaban Elina


"Uluuuhh... istri aku ini manja banget sihhh!!. Jadi gemes tau gak"ucap Alvano dengan tangan mencubit pelan pipi Elina yang gembul


"Ya udah yuk, sekarang aku akan suapi istri cantikku ini"lanjutnya lalu bangkit dari duduknya sambil menarik pelan Elina untuk kembali ke meja makan


Elina yang kegirangan langsung berlari kecil kearah bi Minta meminta salad buahnya tadi dan kembali pada Alvano yang menyilangkan tangannya didepan dada sambil menatapnya tajam membuat Elina berhenti dan menundukkan kepalanya


"Siapa yang nyuruh lari tadi? kenapa harus lari? nanti kalo kamu jatuh trus kamu sama baby kenapa-napa gimana?"tanya Alvano sengaja dibuat marah untuk memperingati istrinya


"M-maaf, ta-tadi.. El cuma seneng aja karna mau disuapin sama mas Al. M-maaf.. El salah"jawab Elina lirih membuat Alvano menghela nafasnya


Alvano melihat istrinya yang akan menangis kembali dengan segera dia memeluknya dan mengecup pucuk kepalanya, Ia melepas pelukan mereka menyeka air mata yang jatuh dipipinya dan mengecup kedua matanya beralih pada dahi juga bibinya lalu menariknya kembali kedalam pelukannya


"I'm sorry honey, aku gak bermaksud buat kamu nangis lagi kaya gini. I'm sorry!, aku hanya takut kamu dan baby kenapa-napa, aku gak mau sesuatu hal buruk terjadi pada kalian berdua termasuk kamu. Tolong jangan bahayakan diri kamu sendiri dengan melakukan hal-hal yang membahayakan kamu dan baby sayang. Aku takut! aku takut kamu terluka karna aku gagal menjaga kamu dan anak kita. Aku takut itu terjadi sayang"jelas Alvano dengan berbisik disela pelukan mereka


Elina hanya mengangguk sebagai jawaban, dia tak tau harus menjawab apa jika dia menjawab tidak perlu. khawatir justru akan membuat Alvano semakin khawatir, jika dia menjawab aku bisa menjaga diriku sendiri justru Alvano tak akan pernah percaya pada ucapannya


"Baiklah. sekarang aku suapin salad buahnya ya"ucap Alvano setelah melepas pelukan mereka dan mengajak Elina ke arah sofa ruang keluarga dengan tangan kanan memegang sendok dan tangan kiri memegang mangkuk berisi salad buah


suap demi suap masuk kemulut Elina dengan senyum bahagia dibibirnya membuat Alvano ikut bahagia melihat Elina tersenyum bahagia. Suapan terakhir Ia mendapat kecupan ringan dipipinya oleh Elina membuatnya tersenyum


"Apa?"tanya Alvano dengan tatapan menggoda


"Gak papa, pengin cium aja. Suka?"jawab Elina sembari mengusap pipi Alvano yang menganggukan kepala sebagai jawaban pertanyaannya barusan


"Banget, tapi kurang ah"ujar Alvano dengan wajah dibuat cemberut


"Apa yang kurang? ini?"tanya Elina kemudian tangannya terulur menyentuh bibir sexy Alvano yang benar-benar merah terawat


"Jangan menggodaku sayang, atau kita akan berakhir diranjang nanti"bisik Alvano membuat Elina merinding, tapi tak urung. Kini dia mendekatkan wajahnya pada wajah Alvano hingga berhadapan

__ADS_1


"Mau apa?, gak sekarang sayang kamu lagi..."ucapnya terpotong oleh Elina


"Omes otaknya!, aku cuma mau ambil bolpoin kamu ditelinga kanan kok"potong Elina sambil menjulurkan lidahnya pada Alvano yang menatapnya menggelengkan kepalanya


"Sayang, aku ke ruang kerja aku dulu ya, ada yang mau dibahas sama Dion dan Daren"pamit Alvano diangguki oleh Elina yang menatap TV sambil memainkan remot ditangannya


Elina kini sudah tak terlalu takut lagi jika ada yang membahas tentang Daren. Namun, jika bertemu langsung dia masih enggan karna semua bayangan kejahatan Daren dulu padanya masih sering muncul membuatnya sulit untuk menerima bahkan untuk melihatnya sekalipun


Alvano pergi keruang kerjanya untuk mengurus masalah Jonathan Richard dan menyelidiki lagi apakah ada hubungannya dengan Daren ataukah tidak. Sejujurnya tadi Alvano mengatakan akan diskusi dengan Daren hanya untuk mengetes Elina saja, dan untuk masalah Jonathan dia akan meminta bantuan Daren nanti setelah dia tau adakah hubungan antara Daren dan Jonathan atau tidak?


Ia mengambil earphonenya yang terhubung pada laptopnya dan menghubungi Dion juga Papinya, semoga saja Papinya sudah banguh bobo siang karna ini sudah jam 14.25 sudah sore dan sebentar lagi sholat ashar


Tak lama sambungan terhubung memperlihatkan sang Papi dan Dion disana, Dion yang terlihat acak-acakkan seperti terkena angin topan sementara Papinya kusut dengan wajah bantalnya


"Kalian ini kenapa? dan kau Dion kenapa? bukannya dikantor baik-baik saja, tidak ada angin topan kan?"tanya Alvano menahan tawanya melihat Dion yang cemberut sambil menghela nafasnya kasar


"Oh.. Tuan, aku ini habis kena angin topan yang begitu dahsyat kau tau"jawab Dion dari seberang sana dengan lesu


"Benarkah? tapi aku tidur dengan nyenyak tanpa merasa terbang karna angin topan yang kau katakan tadi. Huaaammm... "ucap Azam diseberang sana sambil menguap telihat jika dia masih ngantuk


"Ck.. Bukan angin topan anggujan tuan, tapi angin topan karna ulah karyawan anda"jawab Dion kesal sambil menunjukkan pipi kanannya yang memar seperti habis dipukul


"Wait!, karyawan? Siapa?"tanya Azam dan Alvano bersamaan


"Siapa lagi jika bukan Abraham, dia berbuat ulah kembali dengan melakukan penggelapan dana pembangunan jalan di kota xxxx dengan alasan butuh uang, tapi nyatanya dia gunakan untuk memuaskan kekasih barunya yang seorang jal*ng itu, karna dia mengambilnya dirumah bordir"jawab Dion membuat Azam dan Alvano marah


"Dion, tolong kau minta pada orang-orangmu untuk mengambil semua barang-barang dirumah Abraham semuanya untuk ganti rugi uang yang dia gelapkan dan pecat dia, jika kurang biarkan dia bekerja di cabang tanpa bayaran sepeserpun. Untuk anak dan istrinya, kau. biaya saja sesuai kebutuhan mereka, jangan lebih ataupun kurang. Paham!"jelas Alvano tegas membuat Dion menelan ludahnya dan mengangguk cepat, sungguh bosnya ini jika sudah marah mengerikan juga


"Ouh iya, ada apa tuan Al menghubungi kami? ada hal penting kah?"tanya Dion sambil membenarkan dirinya


"Lalu apa hubungannya dengan Elina, kenapa dia mengincar Elina sebagai gantinya? siapa Jonathan sebenarnya?"tanya Azam ikut mencari informasi dilaptopnya


"Seorang pembunuh bayaran yang terkenal sangat sadis, dan dia begitu gesit untuk ditangkap oleh pihak berwajib, sampai kini dia masih berkeliaran diluar sana, entah dimana aku belum tau"jawab Alvano sesekali melirik Papinya dan Dion yang terlihat serius


"Anda belum menjawab pertanyaan tuan besar tuan Al, tentang apa hubungannya dengan nona Elina dan kenapa mengincarnya?"tanya Dion mengulang pertanyaan Azam


"Dia ingin Ayu dibebaskan dan jika tidak dibebaskan juga, maka dia akan mengambil Elina dan menyakitinya sebagai ganti Ayu"jawab Alvano lesu juga cemas


"Astaga!, tunggu dulu boy. Dari mana Jonathan tau jika Ayu kita yang menyekapnya dan dari mana dia tau alamat rumahmu, bukannya rumahmu sudah terpasang alat untuk mengecoh seseorang jika akan melacaknya, bahkan alat tercanggihpun sulit melacak rumahmu, tapi kenapa Jonathan bisa menemukan rumahmu?"tanya Azam menemukan kejanggalan diantara penjelasan. putranya dengan data yang dia temukan sendiri


"Benar kata tuan besar, apa jangan-jangan ada seseorang yang memberi tahu alamat rumah anda dan memberitahukan jika Ayu ada ditangan anda saat ini"tabak Dion membuat Alvano berpikir kembali


"Apa mungkin...."ucapan Alvano terpotong saat ponselnya tiba-tiba berbunyi


"Sebentar Pi, Dion, aku angkat telfon dulu"izin Alvano lalu menyingkir dari layar laptopnya


...*Reza 😑...


...🔊 📞 ❎*...


"Assalamualaikum. Hallo Za, gimana?"


"....."

__ADS_1


"Lo serius? dapet dari mana infonya?"


"......"


"Bukan Daren berarti yang nyuruh ataupun perintah Jonathan untuk bebaskan Ayu?"


"....."


"Oke Thanks Za, infonya. Minta tolong ya sama lo untuk tetap pantau dan awasi Jonathan disana"


"...."


"Bye, Waalaikumsalam"


Alvano kembali lagi kedepan laptopnya dan memberitahukan soal info yang dia dapatkan dari Reza Soal Jonathan Richard ini


"Siapa Al?"tanya Azam


"Reza Pi, kasih tau info tentang Jonathan, aku sempat minta dia yang sekarang ada dinegara sama dengan Jonathan sebagai mata-mata ataupun menggali info darinya langsung ataupun anak buahnya yang tersebar disana"jawab Alvano


"Lalu?"tanya Azam


"Reza mengatakan jika bukan Daren yang mengatakan atau memerintahkan Jonathan untuk melepaskan Ayu, memang Jonathan sendiri yang ingin membebaskan Ayu dari kurungan kita. Soal dia tau dari mana rumah Al, dia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengikuti Al dari saat Al masih dikantor sampai pulang, dia menyamar sebagai OB lalu saat Al pulang dia membuntuti Al tanpa membuat Al ataupun Ben curiga padanya"jelas Alvano membuat keduanya mengangguk paham


"Benar-benar pintar juga licik dia. Lalu apakah Jonathan masih dinegaranya? hanya anak buahnya saja yang ada di indonesia? atau justru dia ada disini?"tanya Azam


"Untuk itu Al dapet dari Reza, kalo Jonathan masih ada dinegaranya sendiri dengan segala info yang didapat dari anak buahnya yang saat ini masih ada di indonesia"jawab Alvano sambil berkabar dengan Reza diluar negeri sana


"Baiklah, untuk sekarang kau lebih waspada dan berhati-hatilah boy. Seorang Jonathan adalah lawan berbahaya bagi dirimu, Papi dan yang lain akan mengirimkan anak buah Papi untuk menjadi dirimu juga Elina disana"ucap Azam diangguki oleh Alvano lalu dia keluar dari sambungan video callnya hanya tersisa Dion saja yang masih terhubung


"Tuan, Aku yakin jika anda membahas ini tidak diluar ruang kerja, dan ruang kerja anda pastinya sudah diberi pengamanan otomatis jadi tak ada orang lain yang bisa masuk kecuali anda dan keluarga terdekat anda bukan?"tanya Dion sedikit curiga


"Iya tentu saja, lalu?"ucap Alvano masih berkirim pesan dengan Reza


"Apakah tuan tidak berfikir jika OB tersebut menyamar sebagai anak buah anda ataupun pekerja dirumah anda? begini. Anda belum tau bagaimana wajah OB tersebut dan siapa tau OB tersebut memanfaatkan ketidaktahuan anda sebagai cara bisa masuk kerumah anda dan memasang alat penyadap atau kamera tersembunyi dirumah anda, pastinya OB itu tak bisa terus bertelfon ataupun mengirim pesan pada Jonathan, dia pasti memasang sesuatu alat agar Jonathan bisa mendengar semua apa yang anda bicarakan"jelas Dion sambil mendeteksi alat penyadap diruang kerjanya


"Kau benar, akan aku cari nanti. Dion! tolong kau cek diruaganmu ataupun diruanganku, aku yakin pasti ada disana karna dia ingin Jonathan mendengar apa yang kita ucapkan"ucap Alvano diangguki oleh Dion lalu mengakhiri sambungannya


Alvano keluar dari ruang kerjanya lalu melangkah menuju kamarnya mememui Elina, saat membuka pintu kamar kosong Elina tak ada dikamar tapi terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, pasti Elina sedang mandi dan Alvano kembali memilih untuk duduk disofa saja menunggu istrinya selesai mandi


tak lama, Elina keluar dari kamar mandi tanpa melihat yang suaminya duduk disofa sambil memakai earphonenya tapi matanya tak lepas dari Elina, bahkan dia tak berkedip sedikitpun saat melihat tubuh istrinya itu, Elina melangkah menuju walk in closet


Alvano menghampiri istri dan memeluknya dari belakang dengan kepala bersandar nyaman dibahu istrinya, dia mengecup kecil tengkuk Elina lalu turun kebahu dan sedikit meninggalkan jejak disana


"Mas.. ng-ngapain sih?"tanya Elina mendorong pelan kepala Alvano yang mengecupi bahunya


"Aku ingin sayang"bisik Alvano dengan tangan meremas mainannya dengan lembut membuat Elina menggelinjang


"Kita lanjut di ranjang"bisiknya kembali sambil menggendong Elina ke ranjang mereka


mereka bermain dengan panasnya, bahkan AC tak dapat mendinginkan tubuh mereka yang tengah dilanda kenikmatan, keringat membasahi tubuh keduanya dengan Alvano mempercepat permainannya namun tetap hati-hati takut calon anaknya terluka tentunya


Elina meremas sprai saat mencapai puncaknya bersama, sementara Alvano menjatuhkan kepalanya dileher Elina menghirup harum tubuh istrinya lalu berguling kesamping dan membawa Elina kepelukannya

__ADS_1


"Terimakasih sayang dan maaf membuatmu lelah. I love you"bisik Alvano sambil mengecup pucuk kepala Elina lembut yang ternyata sudah tertidur kelelahan dan ia ikut memejamkan matanya menyusul kealam mimpi


__ADS_2