Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 55


__ADS_3

Sore hari ini, Elina bersama keluarga tengah duduk menikmati indahnya senja dengan duduk di tepi pantai yang hanya beralaskan karpet sedang, dengan tangan memegang masing-masing makanan dan minuman mereka bercanda gurau penuh suka cita.


Elina bisa merasakan kembali hangatnya sebuah keluarga diantara mereka, apalagi saat tadi dimana mereka bermain air pantai hingga basah kuyup hingga lupa pada waktu membuatnya merasa bahagia. Karna kenangannya bersama orang tuanya kembali terulang bersama keluarga barunya.


saat tengah menikmati indahnya senja sambil bersandar pada bahu suaminya, Elina merasakan mulas yang teramat diperut bawahnya dan babynya pun terus bergerak cepat didalam membuatnya meringis dengan sedikit meremas kuat lengan kokoh suaminya.


"Hai.. kenapa sayang? perutnya sakit?" tanya Alvaro dengan wajah khawatirnya, sementara tangannya mengusap lembut perut buncit Elina, dapat dia rasakan tendangan dari anaknya yang cukup kuat.


"Enggak apa-apa mas. Cuma kontraksi palsu aja kok kaya biasa. Waktu 9 bulan masih ada 1 minggu lagi, jadi gak mungkin kalo anak kita lahir di 8 bulan"jawab Elina pelan dengan mengusap perut bawahnya.


"Tapi bisa aja maju sayang. Dulu saat Mami lahirin Aiden, usia kandungan Mami 8 bulan 1 minggu, sementara Lala dia lahir di usia kandungan 7 bulan 2 minggu. Jadi bisa aja maju kan kaya adik-adik aku. Tapi aku berharap kalo anak kita gak lahir prematur kaya Lala waktu itu, karna lahir pada usia 7 bulan 2 minggu dia harus di inkubator selama 2 bulan lebih untuk pemulihan paru-parunya, itu sebabnya Lala punya penyakit asma sejak kecil"jelas Alvano membuat Elina terdiam, memang benar. Dulu Ibunya juga begitu saat melahirkan Rania yang baru 7 bulan di kandungan karna stress dan berakhir pendarahan.


Alvano POV


aku yang tengah asik menyaksikan Aiden dan yang lain bermain air dipantai sambil menikmati senja bersama istriku, kini aku justru terusik oleh suara rintisan dan remasan kuat di lenganku oleh Elina membuatku menoleh dengan wajah khawatir dan cemas.


aku langsung saja bertanya pada istriku, namun dia menjawab tidak apa-apa hanya kontraksi palsu, kata itu sedikit membuatku lega. Namun, aku khawatir jika nanti tiba-tiba dia mengeluh sakit lagi bahkan lebih sakit dari sekarang dan aku tau jika dia akan melahirkan anak kami, tapi jawabannya seakan sedang menenangkanku yang kelewat khawatir dan cemas tentangnya.


jujur saja, aku adalah tipe orang yang tidak bisa melihat orang lain menangis dan kesakitan, jika aku melihatnya maka aku akan ikut menangis meski harus aku tahan air mata ini jatuh.


Namun. Aku juga tak pernah main-main dengan omongan dan tindakanku, jika ada yang membuat keluargaku terluka maka dia harus membayarnya dengan luka pula bahkan lebih parah dari luka yang keluargaku alami.


Tapi aku takut, justru itu akan berimbas pada anakku kelak. Kata orang, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya dan peribahasa itu memang benar adanya dan aku tak akan membiarkan anak-anakku kelak mengalaminya.


"Kita kerumah sakit aja ya, kita periksa kondisi baby sama kamu, aku khawatir karna tadi kamu lupa makan apa gitu sampai bikin kamu kaya gini"ajakku pada Elina yang tersenyum dengan mengelus rahang tegasku, aku dapat lihat diwajahnya jika tenang-tenang saja, tak sepertiku yang sudah khawatir padanya dan calon anak kami.


"Enggak perlu mas. Aku gak apa-apa kok, baby juga udah baik-baik aja tuh, dia itu nendang-nendang karna happy bisa main dipantai sama keluarganya"jawabnya dengan menarik pelan tanganku dan mengarahkannya pada perutnya yang besar.


dapat aku rasakan pergerakan anakku didalam rahimnya, apalagi saat tendangan-tendangan sedikit kencang yang tiba-tiba membuatku terkejut hingga menjauhkan tanganku dari perutnya dan Elina yang meringis sambil mengatur nafasnya. Namun dia kembali tersenyum seakan menenangkanku yang kembali khawatir padanya.


"Kita masuk yuk, udah hampir gelap ini. Kita sholat maghrib terus makan malam"ajak Elina padaku yang hanya bisa mengangguk, aku tak mungkin menolaknya bukan.


tangan kananku melingkar di pinggangnya, sementara tangan kiriku menggenggam tangan kirinya. Aku tau, pinggangnya sering merasa linu dan nyeri akhir-akhir ini apalagi saat dibawa berjalan. Bukan hanya perutnya yang berubah menjadi buncit, tapi juga tubuhnya yang sedikit melebar dan kaki yang bengkak, membuatku kadang kasihan melihatnya jika harus ditinggal dan melakukan banyak hal sesuai keinginannya sendiri.


kami masuk kedalam kamar kami lalu aku lebih dulu mengambil air wudhu dengan Elina berdiri di samping kiriku sambil mengusap perut buncit nya. Setelahnya kini giliran Elina yang mengambil wudhu.


setelah selesai, kami segera melangkah menuju tempat persholatan yang sudah disediakan didalam kamar masing-masing. Kami segera melaksanakan sholat dengan khusuk,hingga sholat kami selesai.


aku mengubah posisiku menjadi menatap istriku lalu dia mengambil tangan kananku lalu dikecup nya lembut, saat dia melakukan itu, aku mengecup pucuk kkepalanya dan dahinya lama dengan menyentuh ubun-ubun.


rasanya aku begitu bersyukur bisa memiliki dia yang sekarang menjadi istriku dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku beruntung bisa mengenal dirinya dan memilikinya untuk menjadi teman hidupku hingga akhir nanti.


aku melepas kecupan ku dikeningnya lalu aku menatap mata indahnya itu. Senyuman manis terukir dibibirnya saat mata indah itu bertabrakan dengan mataku.


Tanganku terulur untuk mengusap lembut pipinya lalu aku mencondongkan sedikit tubuhku untuk mengecup pipi cubbynya. Setelahnya tanganku kembali bergerak turun dan kini jatuh pada perut besarnya dan ku mengusapnya lembut.


"Hai, assalamu'alaikum sayangnya Ayah. Ciee.. yang sebentar lagi mau lahir nih, udah gak sabar ya pengin lihat dunia hmm? atau udah gak sabar pengin ketemu sama Ayah dan Bunda? Ayah dan Bunda juga gak sabar pengin ketemu kamu sayang,apalagi mereka semua yang selalu menanti kehadiran kamu. Sehat-sehat ya nak diperut Bunda, jangan bikin Bunda susah dan sakit oke, kami akan selalu menantikan kamu dengan penuh suka cita untuk lahir kedunia ini dengan selamat juga sehat. Wassalamu'alaikum baby"bisikku didepan perut besar Elina lalu sebuah kecupan aku berikan berubah kali disana.


aku menatap Elina yang menatapku dengan tersenyum, lalu tiba-tiba dia masuk kedalam pelukanku yang membuatku terkejut, namun aku juga senang.


"I Love you mas"bisiknya tepat ditelinga kananku.


"I Love you too honey"jawabku lalu mengecup pelipisnya dari samping.


tok... tok... tok...

__ADS_1


suara ketukan pintu membuat Elina melepaskan pelukan kami. Aku segara bangkit dan membuka pintu tersebut. Aku melihat Aiden dan Nasyla berdiri didepan pintu seraya tersenyum padaku.


mereka mengatakan. jika setelah sholat isya kami harus langsung ke ruang makan karna ada sesuatu yang ingin Opa katakan. Memangnya Opa ingin mengatakan apa hingga memanggil semuanya datang, pikirku. Lalu kedua adikku pergi kembali ke kamar mereka masing-masing.


setelah kepergian adik-adikku, aku kembali masuk kedalam kamar dan mendapati istriku tengah duduk bersandar di ranjang dengan memainkan ponselnya.


aku naik ke atas ranjang dan merebahkan diriku dengan kepala ku batalkan di pahanya, dia biasa saja tak terusik sedikitpun membuatku santai.


beberapa waktu berlalu, kini adzan isya telah berkumandang kami segera melaksakan sholat isya. Selesai sholat kami segera keluar menuju ruang makan sesuai dengan ucapan adik-adikku tadi.


sampainya disana, kami sudah disambut oleh tatapan orang-orang disana, apakah kami terlambat? ataukah kami berbuat salah hingga ditatap seperti itu?. Entahlah, sulit jika harus menebak mereka.


"Sini nak, kamu duduk disini"ucap Mami kepada Elina yang mengangguk seraya tersenyum.


aku membantunya duduk di bangku samping kiri Mami, sementara aku disebelah kiri Elina dan samping kanan Dimas. Kami semua tengah menggu menu makan malam siap sambil menunggu apa yang ingin Opa sampaikan.


"Apa yang ingin Ayah katakan hingga harus mengumpulkan kami disini?"tanya Papi pada Opa membuat kami semua menoleh pada Opa.


"Ayah ingin menyampaikan sebuah kabar, terutama untuk Al dan dirimu Zam"jawab Opa membuatku mengernyit.


"Kabar? kabar apa memangnya?"tanyaku pada Opa yang menatapku.


"Tentang Jonathan nak"jawab Opa membuatku menghela nafas. Apalagi yang orang itu perbuat sekarang? pikirku.


"Kau baca ini saja"lanjut Opa dengan menunjukkan sebuah kertas yang dia berikan juga pada Papi.


"Undangan pernikahan? What?!"gumam Papi dan pekikan ku bersamaan.


"Al. Bisa tidak jangan teriak begitu? bikin jantungan Oma saja kamu, kalo Oma kena serangan jantung gimana? mau tanggung jawab kamu?"omel Oma membuatku menyengir dengan menunjukkan dia jariku meminta ampun.


"Gak boleh gitu ih ngomongnya"bisik Elina padaku dengan matanya yang mendelik membuatku merinding takut.


"Maaf sayang. Namanya juga terkejut, ya bisa aja main ceplos"jawabku untuk membela diriku sendiri agar tak kena amuk istriku yang sudah berdecik.


"Sama siapa dia akan menikah?"tanya paman Adam padaku lalu mengambil kertas undangan itu dariku.


"Stefanie Arayabella. Loh, ini bukannya anak perempuan tuan Stevan, yang kabarnya baru pulang dari New York City kan? Mereka dijodohkan apa gimana? setahuku Stefanie sudah punya kekasih seorang Tentara inggris, kenapa malah menikah dengan Jonathan?"tanya Paman Adam membuat kami semua menatap kearahnya.


"Kok paman tau sekali dengan Stefanie ini? Paman kenal?"tanya Aiden membuat tante Karina menatap suaminya itu memincing.


"Ya kenal lah, tuan Stevan ini kan pemilik perusahaan besar disini yang kerja sama dengan kantor Paman dan kami juga teman sekolah waktu SMA dulu, dia itu tipe pria yang periang dan cerewet, dia juga sering curhat dan cerita banyak hal sama Paman soal keluarganya saat kita selesai meeting. maka dari itu Paman tau tentang dia dan keluarganya. Jujur saja, Paman kadang bosan jika harus mendengar curhatannya itu yang menyangkut istrinya yang semakin hari semakin membuatnya gila. Gila bukan dalam artian mentalnya tertanggu, tapi.. kalian pahamlah yang sudah menikah, apalagi istri tuan Stevan ini bodynya masih sama kaya gadis-gadis gitu, makanya taun Stevan gila jika berhadapan setiap hari dengan istrinya yang bohai, bahenol, melebihi gitar spanyol itu"jelas Adam membuat kami tertawa.


"Segitunya Paman?"tanya Dimas dengan sisa tawanya dibalas anggukan oleh Paman Adam.


"Tapi menurut Paman ini sebuah perjodohan atau bukan? aku hanya kasihan pada anak tuan Stevan jika ini benar perjodohan, gadis ini kan sudah punya kekasih yang amat dia cintai, tapi harus dihadapkan dengan perjodohan dan otomatis mereka harus mengakhiri hubungan mereka saat itu juga, pasti sulit untuk menerimanya"ucap Dimas diangguki olehku, benar apa yang Dimas katakan.


"Jangan kasihan pada anak tuan Stevan. Dia itu ular, kasihani saja kekasihnya itu"jawab Paman Adam membuat kami mengernyit.


"Maksud Paman?"tanya Elina yang kurang paham mungkin. Saat Paman akan menjawab seorang pelayan datang membawakan makanan kami semua.


"Terimakasih"ucapku pada pelayan tersebut setelah meletakkan makanan dan minuman ku.


setelah para pelayan itu pergi, kami kembali menatap Paman Adam untuk menceritakan semuanya pada kami yang sudah sangat penasaran.


"Lanjutkan Paman, jawab pertanyaan kakak Ipar"pinta Aiden pada Paman membuat kami terkekeh saat melihat wajah Paman yang tertekan apalagi saat dipaksa oleh Aiden dan Nasyla.

__ADS_1


"Oke. Paman akan ceritakan sebentar"jawab Paman lalu mengambil minumannya untuk dia teguk sedikit.


"Ekhem... jadi anak tuan Stevan itu, dia seorang wanita malam di New York City sana. Ya dia sudah punya kekasih memang, tapi karna seorang tentara jadi sulit kekasihnya untuk keluar pergi dari markas, jarang pulang dan aktif ponselnya. Hingga membuat Stefanie selalu bergonta-ganti pasangan dengan laki-laki manapun demi memenuhi hasratnya, sang kekasih yang selalu dia bohongi tidak tau tingkahnya diluaran apartemen, dan kekasihnya tidak tau saja jika Stefanie ini hanya memanfaatkannya untuk hasratnya saja, dia tak mencintai kekasihnya itu, bahkan dijodohkan pun Stefanie tak peduli yang penting uang dan hasrat"jelas paman Adam membuat kami jadi kasihan pada Jonathan.


"Kasihan Jonathan"ucapku reflek hingga membuat mereka menatapku.


"Dia itu pria yang baik sebenarnya, namun jika sudah terbawa amarah dan dendam, dia akan berubah jadi monster. Aku hanya kasihan pada Jonathan yang mungkin akan sama saja diperlakukan seperti kekasih Stefanie itu"lanjutku membuat mereka menganggukkan kepala.


"Do'akan saja yang terbaik untuk mereka. Semoga setelah dengan hadirnya Jonathan, Stefanie tak akan mengulangi kesalahan yang sama dan membuat amarah Jonathan meledak, do'akan saja Jonathan selalu sabar menghadapi sikap dan perilaku istrinya kelak"ucap Papi membuat kami mengangguk setuju.


"Baiklah. Mari kita makan malam"perintah Opa dan kami segera makan malam.


tring...


suara ponsel berdering membuat kami menoleh kearah suara yang berasal dari ponsel Rania yang langsung undur diri untuk mengangkatnya. Dia berdiri di luar ruang makan tepat didepan pintu toilet dan terlihat kesal dari nada dan ekspresinya setelah mengangkat telfon tersebut.


Sepertinya ada yang tidak beres dengan adik Iparku, apa yang terjadi padanya sampai dia menghapus air matanya seperti itu, jangan sampai Elina melihat air mata Rania, dia pasti akan ikut sedih.


"Opa,semuanya, Al izin ke toilet sebentar"pamitku lalu bangkit dari duduk setelah mendapatkan anggukan dari Opa dan aku segera menuju jalan kearah toilet.


sampainya didepan pintu toilet aku dapat mendengar dengan jelas suara Rania yang menahan tangisnya membuatku penasaran, aku segera mengambil ponselku dan menghubungi Riza, namun tidak aktif sama sekali bukan dipanggilan lain, berarti bukan dengan Riza Rania bertelfon. Aku segera menghubungi Reza dan menanyakan soal Riza padanya.


...Reza 𐂄...


"Hallo Za. Dimana?"


^^^'Dirumah, kenapa, tumben?'^^^


"Riza lagi sama lo nggak?"


^^^'Iya. Ini lagi bahas cafe sama Iqbal dan gue, ada apa?'^^^


"Boleh kasihin HP lo dia. Gue mau ngomong sebentar"


^^^'Ohh. Oke, bentar. Za, Al mau ngomong sama lo'^^^


^^^'Iya hallo kak Al. Ada apa?^^^


"Lo bikin nangis Nia? lo ada masalah sama Nia? jawab jujur pertanyaan gue"


^^^'Enggak kak. hubungan kita baik-baik aja kok sampai sekarang, tadi baru aja kita telfon dan dia happy-happy aja kak. Pa mungkin karna temannya'^^^


"Temennya? maksud lo dia ada masalah sama temennya?"


^^^'Iya. Tadi Nia cerita pas telfon, katanya temennya kecelakaan terus meninggal. Aku udah coba hibur dan alhamdulillah dia happy lagi, tapi Riza gak tau sekarang, kayaknya masih kepikiran deh kak'^^^


^^^'Nanti coba Riza ngomong ya sama Nia dan berharap setelah ini Nia gak nangis lagi deh, aku juga kasihan sama kak Elina pasti dia kepikiran banget kalo sampai tau Nia nangis terus'^^^


"Baiklah. Makasih banyak infonya Za. tolong hibur Nia ya, gue akan alihkan Elina agar kalian bisa ngobrol berdua"


^^^'Iya siap kak. Nanti Riza kabarin kalo mau kesitu. Udah dulu ya kak, kita masih ada meeting. Assalamu'alaikum'^^^


"Wa'alaikumussalam"


setelah berbicara dengan Riza, aku sedikit tenang soal Rania. Sepertinya dia sangat terpukul atas meninggalnya temannya itu atau justru ada hal lain yang mungkin saja Riza tidak tau dan sengaja Rania sembunyikan. Aku harus tanyakan ini nanti padanya.

__ADS_1


__ADS_2